LOGINFiona menatap layar handphone-nya dengan harap-harap cemas. "Sudah seminggu ini Jef, tapi kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Padahal kita harus bersama saat kita berkonsultasi dengan dokter Sandy minggu ini."
Jefri, suaminya, sibuk mengutak-atik laptop di meja kerjanya. "Maaf, sayang. Ini lagi ada proyek besar yang harus segera diselesaikan. Kita kan sudah sering ke dokter, nggak masalah aku absen kali ini, kan?"
Fiona menghela nafas. "Ini bukan masalah sepele, Jef. Kita sudah menikah selama lima tahun, tapi masih belum juga dikaruniai anak. Aku merasa semakin sendirian dalam perjuangan ini."
Jefri mengangkat wajahnya yang kini ditatap tajam oleh mata Fiona. "Kamu tahu kan betapa pentingnya pekerjaan ini. Ini demi masa depan kita juga, sayang."
Fiona menundukkan pandangannya. "Tapi kita bisa melakukannya bersama-sama. Aku butuh dukunganmu, Jef."
Jefri meraih tangan Fiona. "Ok
Seorang wanita cantik bernama Riana usia 28 tahun yang tengah hamil lima bulan sehingga ia sedang menunggu kelahiran anaknya yang pertama hasil buah cintanya bersama sang suami bernama Roy usia 30 tahun. Sayangnya, belakangan ini Riana mendapat kabar yang kurang enak terkait sepak terjang Roy karena Riana mendengar dari teman satu kantor Roy, kalo suaminya itu sering jalan bareng dengan wanita cantik bernama Meisya usia 25 tahun yang merupakan rekan kerjanya di kantor.Hanya saja, sejauh ini Roy masih bisa mengelak dan menutupi perselingkuhan dia dengan Meisya itu. Riana yang sedang hamil pun tak bisa terlalu aktif mengikuti pergerakan Roy karena sementara lebih pentingkan jabang bayi yang dikandungya. Selama hamil, Riana sering berkonsultasi kepada Dokter ahli kandungan bernama dr.Bagas usia 40 tahun.Bagas ini seorang duda yang ditinggal mati sang istri beberapa tahun lalu. Bagas sangat disukai oleh para pasiennya karena sangat ramah dan perhatian kepada para pasien
Mereka berdua saling memeluk dengan penuh kasih sayang, merasakan getaran cinta yang mengalir di antara mereka. Andi merasa hatinya berdebar kencang saat dia merasakan sentuhan lembut Tina di dalam pelukannya.Tanpa kata-kata lagi, Andi dan Tina saling mencumbu dengan penuh gairah dan kehangatan. Suara desahan dan kecupan menggema di dalam kamar mereka, menciptakan suasana yang dipenuhi dengan cinta dan keintiman.Andi merasakan getaran kebahagiaan yang mengalir di seluruh tubuhnya saat dia menyatu dengan Tina. Setiap sentuhan, setiap cumbuan, membawa mereka lebih dekat satu sama lain, mengikat mereka dalam ikatan yang tak terputuskan.Tina merasakan kehangatan dan perlindungan dari pelukan Andi. Dia merasa seperti melayang di awan-awan kebahagiaan, terselimuti oleh cinta suaminya yang hangat dan membara.Di dalam kamar yang remang-remang, Andi dan Tina berada dalam momen keintiman yang penuh gairah.
Setelah momen intim mereka di kamar hotel, Andi semakin sulit untuk menahan nafsunya. Setiap kesempatan yang dia dapatkan, dia mencoba untuk mencumbu Tina, bahkan kadang-kadang dengan sedikit paksaan. Namun, Tina, meskipun tergoda oleh hasrat yang sama, tetap teguh pada keputusannya untuk menunggu sampai mereka menikah."Andi, aku mengerti bahwa kamu ingin lebih dari ini, tapi aku memohon padamu untuk bersabar," ucap Tina dengan suara lembut, matanya penuh dengan rasa kasih sayang.Andi merasa frustrasi, tetapi dia juga menghargai keputusan Tina. "Tina, aku mencintaimu lebih dari apapun. Tapi aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa menahan nafsu ini."Tina menggenggam tangan Andi dengan lembut, mencoba menenangkan hatinya. "Kita hanya perlu bersabar sedikit lebih lama, Andi. Saya janji akan memenuhi semua kebutuhan hasratmu itu setelah kita menikah."Andi mengangguk, meskipun hatinya masih dipenuhi dengan keinginan yang membara. "Aku percaya padamu, Tina. Aku akan menunggu."***Namu
Suasana di kafe tempat Andi dan Dena duduk terasa tegang, atmosfer yang biasanya penuh canda tawa kini digantikan oleh keheningan yang membeku. Andi duduk di depan Dena, matanya menatap kosong ke meja di depannya, mencoba menemukan kata-kata yang tepat untuk mengakhiri hubungan mereka."Dena, kita harus bicara," ucap Andi akhirnya, suaranya terdengar serak.Dena mengangguk, matanya terlihat berkaca-kaca. Dia tahu apa yang akan diucapkan oleh Andi, tetapi hatinya masih tidak siap menerima kenyataan itu. "Apa yang ingin kamu katakan, Andi?"Andi menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Kita berdua tahu bahwa hubungan kita tidak sehat, Dena. Kamu terlalu over protektif dan over posesif, dan aku sudah kehilangan kesabaran."Dena menutup matanya sejenak, mencoba menahan air mata yang ingin tumpah. "Maafkan aku, Andi. Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu."Andi menggelengkan kepala, tangisnya hampir pecah. "Tapi cinta bukanlah alasan untuk menyakiti satu sama
Seorang wanita cantik dan dewasa usia 35 tahun bernama Tina yang telah menjanda selama 5 tahun karena telah bercerai dengan suaminya karena ketidakcocokan prinsip hidup. Tina adalah pemilik beberapa cabang usaha pengiriman barang.Setiap cabang unita usahanya ada kepala cabangnya. salah satu kepala cabang yang cukup akrab dengannya bernama Andi usia 25 tahun. Andi sebenarnya sebentar lagi akan menikah dengan tunangannya tapi sejak bertunangan malah sering bertengkar dan mulai muncul ketidakcocokan dengan sang kekasih yang bernama Dena itu.Dena belakangan terlalu banyak menuntut kepada Andi sehingga Andi menjadi ragu untuk melanjutkan hubungnnya dengan Dena. Andi yang masih sangat muda itu pun sering cuhat kepada Tina selaku bos sekaligus sahabatnya itu.***Tina duduk di balik meja kerjanya yang luas, menyibukkan diri dengan tumpukan berkas dan laporan. Kepalanya terasa berat, terbebani oleh berbaga
Hari itu, di ruang tamu rumah ortu Tini, Haji Agus duduk di hadapan Haji Tini dengan wajah yang penuh ketegangan. Dia tahu bahwa apa yang akan dia katakan akan mengubah segalanya."Tini, aku harus berbicara denganmu tentang sesuatu yang penting," ucapnya dengan suara serius.Haji Tini menatap suaminya dengan rasa waspada. Dia merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dari ekspresi wajah Haji Agus. "Apa yang terjadi, Agus? Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Bu Haji Tini dengan nada penasaran.Haji Agus menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengungkapkan apa yang telah lama dia simpan di dalam hatinya. "Tini, aku merasa bahwa hubungan kita belakangan ini tidak seperti dulu. Aku merasa bahwa kamu menjauh dariku, terutama dalam hal keintiman. Kamu jarang sekali melayaniku saat aku ingin bercinta, padahal itu adalah kewajiban seorang istri," ucapnya dengan suara yang penuh kekecewaan.Haji Tini







