LOGINSuatu hari saat Lisa meminta tolong kepada Dion untuk mengantarnya pake motor menuju sebuah mall tanpa sengaja Lisa melihat Dimas sedang bergandengan tangan dengan seorang cewek cantik dan bertubuh montok.Hati Lisa hancur saat dia melihat Dimas bergandengan tangan dengan seorang cewek cantik di depan mata. Dia tak bisa mempercayai apa yang dia lihat. Rasanya seperti sebuah pukulan yang menyakitkan di dalam hatinya, membuatnya hancur berkeping-keping."Dion, aku minta maaf, aku harus mengikuti mereka," ucap Lisa dengan suara yang gemetar, matanya masih terpaku pada pemandangan di depannya.Dion, yang memahami situasi dengan cepat, mengangguk. "Tentu saja, Lisa. Aku akan menemanimu."Mereka berdua segera mengejar Dimas dan cewek itu yang sudah melaju ke arah sebuah kamar hotel. Lisa merasa dadanya sesak, sulit bernafas, tetapi dia terus mengejar, dipicu oleh keingintahuannya yang mendesak.&nbs
Lisa melangkah dengan langkah yang cepat dan mantap, tas ranselnya bergoyang di punggungnya. Hari itu udara begitu panas di Jakarta, menyengat wajahnya yang masih terlihat segar setelah seharian di kampus. Pikirannya masih terhanyut dalam aroma buku dan catatan kuliahnya. Dalam benaknya, ada bayangan kembali ke rumah, ke Bogor, tempat di mana ia bisa bersantai sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan.Namun, tepat di depannya, pos ronda yang biasanya sepi kini menjadi saksi dari tiga pemuda yang duduk di sana, bermain kartu sambil menenggak minuman keras. Lisa mengernyitkan keningnya. Tak ada yang aman di kota besar ini, termasuk jalanan yang ia lalui setiap hari."Ssst, lihat itu," bisik salah satu dari mereka, sementara mata mereka melirik ke arah Lisa yang berjalan melewati pos ronda.Lisa merasa tidak nyaman, namun dia terus berjalan, berusaha untuk tidak memperhatikan mereka. Tetapi, seakan tak ingin dibiarkan b
Setelah pertemuan di ruang konferensi, atmosfer di kantor TV swasta itu terasa tegang. Medina merasa sedikit cemas dengan beragam reaksi yang mereka terima dari rekan-rekan kerjanya. Namun, dia merasa lega karena sebagian besar dari mereka tampak memahami dan menerima hubungannya dengan Arga.Pak Dharma, sang pimpinan redaksi, memberikan tatapan serius kepada Medina. "Medina, saya harap Anda tetap memahami pentingnya menjaga profesionalitas di tempat kerja. Hubungan pribadi Anda dengan Arga tidak boleh mempengaruhi kinerja Anda di sini."Medina mengangguk dengan serius. "Ya, Pak Dharma. Saya akan memastikan untuk tetap profesional dalam setiap tindakan saya di kantor."Arga memberikan senyuman menguatkan kepada Medina. "Saya akan selalu mendukung Medina dalam menjaga profesionalitasnya di tempat kerja. Anda bisa percayakan padanya, Pak Dharma."Pak Dharma mengangguk, menunjukkan bahwa dia percaya pad
Medina tidak bisa menahan senyum bahagianya. "Saya juga, Arga," jawabnya dengan suara yang bergetar karena emosi.Mereka saling memandang sejenak, sebelum akhirnya merangkul satu sama lain dan beralih ke kasur yang terletak di ujung kamar hotel. Ketika mereka berada di atas kasur, ciuman dan belaian mereka semakin intens. Arga dengan lembut mencumbu bibir, leher, dan seluruh tubuh Medina, sementara Medina menanggapi dengan erangan halus yang memperdalam keintiman mereka."Pakaianmu," bisik Arga di telinga Medina, suaranya dipenuhi dengan desiran gairah.Medina hanya tersenyum tipis, mengetahui apa yang diinginkan Arga. Dengan gerakan gemulai, dia membiarkan Arga melepaskan pakaian satu per satu, membiarkan keintiman antara mereka semakin dalam dan tak terhindarkan.Saat keduanya telanjang bulat di atas kasur, kehangatan tubuh mereka saling bersentuhan, menciptakan sensasi yang tak terlukiskan dengan
"Selamat datang, Medina. Silakan masuk," sambut Arga dengan ramah.Medina mengucapkan terima kasih sambil masuk ke dalam kamar hotelnya. Dia merasa sedikit gugup, tapi juga sangat bahagia karena kesempatan ini."Saya sangat senang bisa memiliki kesempatan untuk mewawancarai Anda, Arga," ucap Medina sambil tersenyum."Saya juga senang bisa berbicara dengan Anda, Medina. Mari duduk dan kita mulai wawancara ini," kata Arga sambil mengajak Medina untuk duduk di sofa yang nyaman di sudut kamar.Wawancara berlangsung selama sekitar satu jam, di mana Medina bertanya tentang berbagai hal terkait karir dan kehidupan pribadi Arga. Setiap jawaban Arga membuat Medina semakin terkesan oleh kepribadian dan kedewasaannya.Namun, yang membuat Medina merasa deg-degan adalah bagaimana Arga terus memperhatikannya dengan tatapan lembutnya. Setiap kali mereka saling berpandangan, Medina bisa merasaka
Medina duduk di meja kerjanya yang berantakan di ruang redaksi stasiun televisi swasta tempatnya bekerja. Dua tumpukan buku dan stapler berserakan di sekitarnya, menambah kekacauan di meja yang seharusnya rapi itu. Matanya terpaku pada layar komputer di depannya, sibuk mengetik berita terbaru tentang kejuaraan Formula 3 yang akan segera digelar."Medina, apa kabar berita yang kamu kerjakan?" suara Manajer Redaksi, Pak Dharma, terdengar dari belakang.Medina mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Sudah hampir selesai, Pak. Saya akan segera mengirimkannya."Pak Dharma mengangguk. "Baik. Tapi jangan lupa, kami butuh laporan yang mendetail tentang pembalap top, termasuk Arga.""Pasti, Pak. Saya akan pastikan untuk menyertakan informasi terbaru tentang Arga dalam berita ini," Medina menjawab dengan yakin.Pak Dharma mengangguk puas sebelum meninggalkan ruangan Medina. Setelah beberapa s







