LOGIN“Gila Robi, aku benar-benar dapat kepuasan kali ini!” ucap Rina sambil menatap wajah sahabatnya yang kini telah menjadi pacar gelapnya itu.
“Heheh...aku juga Rina, selama ini aku cuma bisa maen sendiri aja dan cuma bisa bayangin tubuhmu dari gambar-gambar!” balas Robi sambil membelai wajah Rina yang masih bercucuran keringat setelah pertempuran panas mereka di kamar penginapan itu.
“Aku pikir, kita gak bisa gini terus Rob!” ucap Ria mulai serius.
“Maksudnya?” tanya Robi yang belum paham dengan ucapan Rina.
“Ya selama aku masih jadi istri dari Rudi maka posisi kita jadi selalu salah Rob!” ujar Rina dengan mimik muka serius.
Robi pun tiba-tiba teringat bahwa ia sempat melihat Rudi di penginapan itu.
“Rin, aku aku mau terus terang nih!”
“Terus terang apa nih?” tanya Rina yang gantian bingung.
“Ehmm...tadi saat aku tiba duluan di parkiran motor, aku sempat melihat Rudi suamimu keluar dari penginapan ini!”
“Hahhh...? Yang bener Robi?” tanya Rina dengan wajah terkejut.
“Iya Rina, awalnya aku gak percaya itu Rudi, tapi saya yakin banget itu Rudi suamimu Rin!” balas Robi denga tegas.
Setelah mendengar dari Robi bahwa Rudi, suaminya, sempat terlihat di penginapan yang sama, Rina merasa terkejut dan bingung. Meski Robi belum mengetahui dengan pasti kenapa Rudi berada di sana, ini memberikan Rina secercah harapan. Selama ini, dia merasa tidak memiliki cinta untuk Rudi, dan situasi ini mungkin memberinya alasan yang dia cari untuk berpisah.
Rina dengan nada ragu, “Robi, ini benar-benar aneh. Tapi, mungkin ini adalah kesempatan bagiku.”
Robi bingung, “Kesempatan untuk apa, Rina?”
Rina dengan tegas, “Kesempatan untuk berpisah dari Rudi. Aku tahu ini terdengar egois, tapi selama ini pernikahan kami hanyalah sebuah beban.”
Robi dengan penuh perhatian, “Rina, aku ingin kamu bahagia, tapi sebelum kita mengambil langkah besar seperti itu, mari kita mencari tahu alasan sebenarnya mengapa Rudi berada di penginapan itu. Mungkin ada penjelasan yang masuk akal.”
Rina merasa bersyukur memiliki Robi sebagai sahabat yang selalu mendengarkan dan mendukungnya. Mereka berdua memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang kehadiran Rudi di penginapan itu sebelum mengambil keputusan apa pun tentang pernikahan mereka.
Mereka mulai mengumpulkan informasi. Robi mencoba menghubungi resepsionis penginapan untuk mencari tahu apakah Rudi memiliki reservasi atau jika ada catatan tentang kunjungannya. Sementara itu, Rina berusaha menghubungi Rudi untuk mengetahui apakah dia akan memberikan penjelasan.
Setelah beberapa saat, Robi kembali dengan berita dari resepsionis.
Robi menginformasikan, “Rina, menurut resepsionis, Rudi tidak memiliki reservasi di penginapan ini. Itu semakin aneh.”
Rina dengan nada penasaran, “Rudi belum menjawab panggilanku. Ini semakin mencurigakan.”
Mereka berdua merasa semakin bingung tentang situasi ini. Mereka memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut, dan langkah pertama adalah mengeksplorasi area sekitar penginapan.
Rina dengan tekad kuat, “Robi, mari kita coba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin tahu mengapa Rudi berada di sana.”
Robi mengangguk, “tentu, Rina. Kita akan menemukan jawabannya bersama-sama.”
Dengan tekad untuk mengungkap misteri di balik kehadiran Rudi di penginapan, Rina dan Robi bersiap untuk menjalani perjalanan yang mungkin akan mengungkapkan kebenaran yang sulit mereka terima. Meskipun masa depan pernikahan Rina dan Rudi masih tak pasti, satu hal yang pasti adalah bahwa persahabatan mereka akan membantu mereka menghadapi semua rintangan yang ada di depan mereka.
Beberapa hari kemudian setelah mendapat informasi bahwa Rudi berada di penginapan dengan seorang perempuan cantik, Robi merasa perlu untuk mengungkap kebenaran di balik kehadiran mereka di sana. Dia segera menghubungi Rina dan mengajaknya untuk melakukan penggerebekan saat Rudi dan wanita itu, yang ternyata adalah Bu Kartika, sedang berada di kamar penginapan.
Robi menghubungi Rina, “Rina, aku mendapatkan informasi bahwa Rudi berada di penginapan ini bersama Bu Kartika. Kita harus mengungkap kebenaran, Rina.”
Rina dengan nada penasaran, “Apa? Bu Kartika? Baiklah, aku setuju. Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Mereka berdua tiba di penginapan dengan cepat dan berusaha menjalankan rencana penggerebekan mereka dengan hati-hati. Mereka tidak ingin Rudi dan Bu Kartika tahu bahwa mereka ada di sana.
Robi mengedipkan mata pada Rina, “Kita harus mencari tahu di kamar mana mereka berada.”
Rina mengangguk, “Baiklah, kita cari tahu.”
Mereka mulai menyelidiki penginapan tersebut, mencoba mencari tahu di kamar mana Rudi dan Bu Kartika menginap. Mereka berdua merasa gugup, tidak tahu apa yang akan mereka temukan.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya menemukan kamar yang dicurigai mereka. Mereka mendekati pintu dengan hati-hati dan mendengarkan percakapan dari balik pintu.
Rudi dalam suara yang berbisik, “Bu Bos, kita harus berhati-hati. Jangan biarkan siapa pun tahu tentang kita.”
Bu Kartika dengan suara lembut, “Tentu, Rudi. Ini adalah rahasia kita.”
Mendengar percakapan itu, Rina merasa hatinya hancur. Dia merasa terkhianati oleh suaminya dan sangat terluka melihat Rudi berselingkuh dengan bosnya sendiri, Bu Kartika.
Robi dengan suara pelan, “Rina, apa yang harus kita lakukan sekarang?
Rina dengan nada yang pelan, “Aku tidak tahu, Robi. Aku merasa ini peluang. Mungkin saatnya aku berbicara dengan Rudi.”
Robi mengangguk, “Aku akan selalu ada untukmu, Rina. Kita akan menghadapi ini bersama-sama.”
Meskipun penggerebekan mereka tidak terlalu menghasilkan jawaban yang diinginkan, Rina dan Robi tahu bahwa mereka harus menghadapi kebenaran yang pahit ini. Hubungan Rudi dan Rina tampaknya akan berakhir, dan mereka harus menemukan cara untuk melanjutkan kehidupan mereka masing-masing setelah semua yang telah terjadi.
Perkembangan berikutnya Rina yang telah menemukan bukti keberadaan Rudi dan Bu Kartika di penginapan kemarin ini, dan dia merasa sudah waktunya untuk membicarakan masalah ini dengan suaminya. Mereka duduk di ruang tamu rumah mereka, ekspresi wajah Rina tampak tegang, sedangkan Rudi nampak cemas menyadari bahwa kebenaran akan terungkap.
Rina dengan suara yang gemetar, “Rudi, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di penginapan itu.”
Rudi berbicara dengan hati-hati, “Apa yang kamu maksud, Rina?”
Rina mengeluarkan bukti-bukti, “Aku tidak butuh lagi penjelasan. Ini bukti keberadaanmu di sana bersama Bu Kartika. Jangan berbohong lagi.” Rina menunjukkan Foto-foto saat Rudi dan bu Kartika ada di sekitaran area penginapan.
Rudi menggigil, “Rina, aku...”
Rina memotong Rudi, “Jangan, Mas Rudi. Jangan bicara. Aku sudah cukup mendengar.”
Pertengkaran itu berlanjut, dengan Rina membuka hatinya dan mengungkapkan betapa terlukanya dia merasa. Rudi mencoba menjelaskan alasan-alasan di balik tindakannya, tetapi ketidaksetiaannya sudah terlalu dalam dan tak termaafkan bagi Rina.
Rina dengan nada penuh emosi, “Rudi, kamu telah menghancurkan pernikahan kita. Aku tidak lagi merasa ada cinta di antara kita.”
Rudi memelas, “ Rina, aku menyesal. Aku sangat menyesal atas apa yang telah aku lakukan.”
Namun, kata-kata penyesalan Rudi tidak lagi bisa mengubah kenyataan. Pertengkaran itu semakin memanas, dan Rina yang telah menemukan alasan yang kuat untuk berpisah dengan Rudi tetap teguh dengan kemauannya untuk berpisah.
Rina dengan tegas, ” Aku ingin kita berpisah, Rudi. Aku ingin mencari kebahagiaanku sendiri.”
Pertengkaran itu meruntuhkan rumah tangga mereka, dan Rina dan Rudi akhirnya memutuskan untuk berpisah. Meskipun pertengkaran itu penuh dengan emosi dan kehancuran, itu adalah langkah pertama menuju pemulihan bagi Rina, yang telah lama merasa tidak bahagia dalam pernikahannya.
Setelah pertemuan di ruang konferensi, atmosfer di kantor TV swasta itu terasa tegang. Medina merasa sedikit cemas dengan beragam reaksi yang mereka terima dari rekan-rekan kerjanya. Namun, dia merasa lega karena sebagian besar dari mereka tampak memahami dan menerima hubungannya dengan Arga.Pak Dharma, sang pimpinan redaksi, memberikan tatapan serius kepada Medina. "Medina, saya harap Anda tetap memahami pentingnya menjaga profesionalitas di tempat kerja. Hubungan pribadi Anda dengan Arga tidak boleh mempengaruhi kinerja Anda di sini."Medina mengangguk dengan serius. "Ya, Pak Dharma. Saya akan memastikan untuk tetap profesional dalam setiap tindakan saya di kantor."Arga memberikan senyuman menguatkan kepada Medina. "Saya akan selalu mendukung Medina dalam menjaga profesionalitasnya di tempat kerja. Anda bisa percayakan padanya, Pak Dharma."Pak Dharma mengangguk, menunjukkan bahwa dia percaya pad
Medina tidak bisa menahan senyum bahagianya. "Saya juga, Arga," jawabnya dengan suara yang bergetar karena emosi.Mereka saling memandang sejenak, sebelum akhirnya merangkul satu sama lain dan beralih ke kasur yang terletak di ujung kamar hotel. Ketika mereka berada di atas kasur, ciuman dan belaian mereka semakin intens. Arga dengan lembut mencumbu bibir, leher, dan seluruh tubuh Medina, sementara Medina menanggapi dengan erangan halus yang memperdalam keintiman mereka."Pakaianmu," bisik Arga di telinga Medina, suaranya dipenuhi dengan desiran gairah.Medina hanya tersenyum tipis, mengetahui apa yang diinginkan Arga. Dengan gerakan gemulai, dia membiarkan Arga melepaskan pakaian satu per satu, membiarkan keintiman antara mereka semakin dalam dan tak terhindarkan.Saat keduanya telanjang bulat di atas kasur, kehangatan tubuh mereka saling bersentuhan, menciptakan sensasi yang tak terlukiskan dengan
"Selamat datang, Medina. Silakan masuk," sambut Arga dengan ramah.Medina mengucapkan terima kasih sambil masuk ke dalam kamar hotelnya. Dia merasa sedikit gugup, tapi juga sangat bahagia karena kesempatan ini."Saya sangat senang bisa memiliki kesempatan untuk mewawancarai Anda, Arga," ucap Medina sambil tersenyum."Saya juga senang bisa berbicara dengan Anda, Medina. Mari duduk dan kita mulai wawancara ini," kata Arga sambil mengajak Medina untuk duduk di sofa yang nyaman di sudut kamar.Wawancara berlangsung selama sekitar satu jam, di mana Medina bertanya tentang berbagai hal terkait karir dan kehidupan pribadi Arga. Setiap jawaban Arga membuat Medina semakin terkesan oleh kepribadian dan kedewasaannya.Namun, yang membuat Medina merasa deg-degan adalah bagaimana Arga terus memperhatikannya dengan tatapan lembutnya. Setiap kali mereka saling berpandangan, Medina bisa merasaka
Medina duduk di meja kerjanya yang berantakan di ruang redaksi stasiun televisi swasta tempatnya bekerja. Dua tumpukan buku dan stapler berserakan di sekitarnya, menambah kekacauan di meja yang seharusnya rapi itu. Matanya terpaku pada layar komputer di depannya, sibuk mengetik berita terbaru tentang kejuaraan Formula 3 yang akan segera digelar."Medina, apa kabar berita yang kamu kerjakan?" suara Manajer Redaksi, Pak Dharma, terdengar dari belakang.Medina mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Sudah hampir selesai, Pak. Saya akan segera mengirimkannya."Pak Dharma mengangguk. "Baik. Tapi jangan lupa, kami butuh laporan yang mendetail tentang pembalap top, termasuk Arga.""Pasti, Pak. Saya akan pastikan untuk menyertakan informasi terbaru tentang Arga dalam berita ini," Medina menjawab dengan yakin.Pak Dharma mengangguk puas sebelum meninggalkan ruangan Medina. Setelah beberapa s
Suatu hari giliran Tania yang mulai nekat menggoda Beni untuk mau bercinta dengannya. Saat itu rumah sedang sepi karena pak sastro dan bu sandra sedang pergi keluar kota dibantu bu parti menginap selama 2 malam di luar kota di rumah kerabat pak sastro. saat itu Tania yang sudah cukup lama menunggu momen itu mencoba menggoda Beni dengan siasat jitunya.Tania duduk di sofa dengan pose yang menggoda, mengenakan lingerie merah marun yang melengkapi lekuk tubuhnya yang indah. Dia sengaja memilih baju tersebut, mengetahui bahwa malam itu rumah akan sepi, tanpa kehadiran orang tua atau pun pembantu. Tania merasa waktunya telah tiba untuk melakukan langkah yang telah lama dia rencanakan.Saat Beni keluar dari kamar mandi, dia terkejut melihat Tania duduk di sofa dengan pakaian yang sangat seksi. Tatapan mereka bertemu di tengah ruangan yang sunyi, dan Tania bisa melihat kejutan yang melintas di mata Beni."Tania, apa yang kau la
Bu Parti menjelaskan bahwa dia perlu memindahkan lemari di kamarnya karena menduga adanya tikus yang masuk ke dalamnya. Meskipun sedikit ragu, Beni setuju untuk membantunya. Dia mengikuti Bu Parti ke kamarnya yang tidak jauh dari kamarnya sendiri.Setibanya di kamarnya Bu Parti, Beni membantu menggeser lemari sebagaimana permintaan Bu Parti. Mereka mencari-cari tanda-tanda keberadaan tikus, tetapi tidak ada yang ditemukan. Beni merasa lega, tapi di dalam hatinya ada sesuatu yang lain yang mengganggu pikirannya.Saat itulah, Bu Parti mulai melancarkan rayuannya. Dengan senyum yang menggoda, dia mendekati Beni dengan langkah yang gemulai. "Beni, kamu tahu, sebenarnya saya merasa kesepian di sini," bisiknya dengan suara yang lembut.Beni merasa jantungnya berdebar kencang. Dia merasa terpikat oleh keanggunan dan pesona Bu Parti yang begitu memikat. Dalam kamar yang diterangi oleh cahaya remang-re







