Share

Bab 139

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-05-13 08:23:07

Pagi itu, sinar matahari masuk dengan lembut ke dalam ruang tamu apartemen kecil yang kini terasa sangat hangat. Di atas meja kayu sederhana, tumpukan kartu undangan berwarna putih tulang dengan aksen emas muda tersusun rapi. Tidak ada ukiran mewah atau pita sutra yang mahal, namun setiap kartu itu ditulis tangan oleh Siska dan Arga dengan penuh ketulusan. Pernikahan mereka tinggal menghitung minggu, sebuah acara sederhana yang hanya akan dihadiri oleh orang-orang terdekat di sebuah masjid keci
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 140

    Siska menoleh ke arah Arga. "Ga, bolehkah aku masuk sendirian?" Arga mengangguk mengerti. Dia melepaskan genggaman tangannya perlahan. "Aku akan menunggu tepat di depan pintu ini. Kalau kamu butuh aku, panggil saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana." Siska tersenyum tipis. "Aku hanya butuh lima menit." Siska memegang gagang pintu, dia menatap Arga sekali lagi. Arga memberikan isyarat anggukan yang sangat meyakinkan. Siska pun membuka pintu itu perlahan. Hendri tidak menoleh saat pintu terbuka. Dia tetap menatap keluar jendela ke arah pohon-pohon yang bergoyang tertiup angin. Siska berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti sedang menghancurkan rantai yang selama ini mengikat batinnya. "Mas Hendri," panggil Siska dengan suara yang tenang namun tegas. Pria di kursi roda itu tersentak pelan. Dengan susah payah, dia memutar kursi rodanya. Saat matanya bertemu dengan mata Siska, ada kilatan keterkejutan yang sangat besar. Mulutnya mencoba terbuka untuk bicara, namun h

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 139

    Pagi itu, sinar matahari masuk dengan lembut ke dalam ruang tamu apartemen kecil yang kini terasa sangat hangat. Di atas meja kayu sederhana, tumpukan kartu undangan berwarna putih tulang dengan aksen emas muda tersusun rapi. Tidak ada ukiran mewah atau pita sutra yang mahal, namun setiap kartu itu ditulis tangan oleh Siska dan Arga dengan penuh ketulusan. Pernikahan mereka tinggal menghitung minggu, sebuah acara sederhana yang hanya akan dihadiri oleh orang-orang terdekat di sebuah masjid kecil dekat panti asuhan tempat Arga sering berbagi. Siska memandangi salah satu kartu itu. Jarinya mengusap lembut nama "Arga & Siska" yang tercetak di sana. Cincin emas putih di jari manisnya berkilauan, mengingatkannya pada malam di warung pecel lele yang mengubah segalanya. "Sudah selesai semua, Sayang?" tanya Arga sambil berjalan mendekat. Dia membawa dua cangkir teh hangat dan meletakkannya di meja. Siska mendongak dan tersenyum, meski ada sedikit rona kesedihan di matanya. "Hampir seles

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 138

    Malam ini, Arga mengajaknya keluar untuk merayakan kesembuhannya dan keberhasilan kecil bisnis konsultan barunya yang baru saja mendapatkan klien besar pertama. Tidak ada gaun mewah, Siska hanya mengenakan kemeja flanel favoritnya dan celana jins. Rambutnya diikat kuda dengan sederhana. Baginya, kecantikan bukan lagi soal barang bermerek, tapi soal binar kebahagiaan yang kembali terpancar dari matanya sejak Arga pulih. "Sudah siap, Sayang?" suara Arga terdengar dari ruang tamu. Siska keluar dan mendapati Arga sudah berdiri di sana. Pria itu tampak segar dari sebelumnya. Arga memakai kaos hitam polos dan jaket kain, namun aura ketampanannya justru semakin kuat karena ketulusan yang terpancar dari wajahnya. "Siap. Kita mau makan di mana, Ga?" tanya Siska sambil tersenyum. Arga menggandeng tangan Siska dengan erat. "Tempat paling mewah di Jakarta. Tempat yang punya aroma paling menggoda dan musik alami dari bisingnya jalanan." Siska tertawa kecil. Dia sudah tahu ke mana Arga ak

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 137

    "Iya. Dia menunjukkan padaku apa yang tidak pernah aku lihat darimu selama ini. Kebahagiaan," lanjut Pak Arya. Dia terdiam sejenak, seolah sedang menimbang-nimbang keputusan besar yang akan dia ambil. "Dengarkan aku, Arga," Pak Arya menatap mata anaknya dengan tajam. "Papa tidak akan memberikan restu sepenuhnya sekarang. Papa masih merasa bahwa dunia ini terlalu kejam untuk kalian jika kalian tidak punya dasar ekonomi yang kuat." Siska menunduk, hatinya terasa sedikit sakit mendengar kata-kata itu. Namun, kalimat berikutnya dari Pak Arya membuat jantung mereka semua berdetak lebih cepat. "Tapi, Papa juga tidak akan menghalangi jalanmu lagi. Papa akan mencabut semua instruksi pemblokiran investor itu. Kamu bebas mencari modal di mana saja. Papa tidak akan membantumu dengan uang Papa, tapi Papa juga tidak akan menjegalmu lagi." Arga menatap ayahnya dengan binar harapan yang mulai muncul. "Lalu?" "Buktikan pada Papa dalam waktu satu tahun," tegas Pak Arya. "Buktikan kamu bisa s

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 136

    Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar rumah sakit, menyinari wajah Arga yang masih terlihat sangat pucat. Siska masih setia duduk di samping brankar, jemarinya tidak pernah lepas menggenggam tangan pria yang sangat dia cintai itu. Di sudut ruangan, Pak Arya dan Bu Ratna berdiri dalam diam, menciptakan suasana yang terasa sangat canggung sekaligus tegang. Pelukan hangat antara Bu Ratna dan Siska beberapa saat lalu memang telah meruntuhkan tembok permusuhan, namun luka di hati Arga mungkin belum sepenuhnya pulih. Arga perlahan membuka matanya. Dia meringis sedikit saat merasakan denyut di kepalanya, namun hal pertama yang dia cari adalah wajah Siska. "Siska..." suara Arga terdengar sangat serak, hampir seperti bisikan angin. Siska langsung menegakkan duduknya, matanya yang bengkak karena menangis semalaman kini berbinar haru. "Iya, Ga. Aku di sini. Jangan banyak bergerak dulu ya. Kamu masih sangat lemas." Siska dengan cekatan mengambil gelas plast

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 135

    Siska duduk di sudut ruang tamu apartemen yang remang-remang, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Arga belum juga pulang. Arga selalu bekerja dua kali lebih keras. Pria itu seolah sedang berlomba dengan waktu yang terus berdetak di kepalanya. Dia ingin memastikan Siska dan Grace terpenuhi kebutuhannya, meskipun Siska sudah berkali-kali memohon agar dia beristirahat. "Ga, kenapa kamu keras kepala sekali?" bisik Siska sambil mendekap kedua lututnya. Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar. Siska menyambarnya dengan cepat. Nama Arga yang muncul, tapi di hatinya ada firasat buruk yang sangat kuat. "Halo? Arga?" sapa Siska dengan suara serak. "Halo, apakah ini dengan Ibu Siska? Saya dari pengelola coworking space di Jakarta Selatan. Kami baru saja memanggil ambulans untuk Pak Arga. Beliau pingsan di mejanya dan sepertinya tidak sadarkan diri cukup lama." Dunia Siska seolah runtuh saat itu juga. Dia segera berlari keluar mencari taksi di tengah sunyinya mala

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 23

    Pagi ini, Siska tidak hanya membawa beban sakit punggung yang mulai memudar, tetapi juga membawa luka baru yang jauh lebih perih di dalam dadanya. Mata wanita itu tampak sangat sembab, bengkak, dan memerah, menceritakan kehancuran hatinya tanpa perlu satu kata pun terucap. Kehancuran itu bermula b

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 22

    "Jadi, menurutmu ke mana perginya kalung berlian senilai tiga ratus juta itu jika tidak ada di dalam tas suamimu semalam, Siska?" Pertanyaan Arga itu masih menggema di telinga Siska seperti lonceng kematian. Siska tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap lantai matras dengan pandangan kosong sementar

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 20

    Kalimat dingin dan menusuk dari Arga itu membuat suasana lobi utama Iron & Orchid Wellness Center mendadak hening. Siska menahan napasnya. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga terasa sakit di dada. Ia menatap pria berondong di sampingnya itu dengan perasaan campur aduk. Veni membelalakkan mat

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 18

    Sepanjang sore, Siska mengemudikan mobilnya menuju Iron & Orchid Wellness Center bukan untuk berlatih gym dengan Arga, tapi rutinitas menjemput grace setelah gym. Dengan perasaan yang sangat kacau. Jantungnya berdebar gelisah. Perlakuan Arga yang kasar lalu tiba tiba berubah menjadi sangat lembut b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status