Share

Bab 140

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-05-13 08:23:11

Siska menoleh ke arah Arga. "Ga, bolehkah aku masuk sendirian?"

Arga mengangguk mengerti. Dia melepaskan genggaman tangannya perlahan. "Aku akan menunggu tepat di depan pintu ini. Kalau kamu butuh aku, panggil saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."

Siska tersenyum tipis. "Aku hanya butuh lima menit."

Siska memegang gagang pintu, dia menatap Arga sekali lagi. Arga memberikan isyarat anggukan yang sangat meyakinkan. Siska pun membuka pintu itu perlahan.

Hendri tidak menoleh saat pintu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 140

    Siska menoleh ke arah Arga. "Ga, bolehkah aku masuk sendirian?" Arga mengangguk mengerti. Dia melepaskan genggaman tangannya perlahan. "Aku akan menunggu tepat di depan pintu ini. Kalau kamu butuh aku, panggil saja. Aku tidak akan pergi ke mana-mana." Siska tersenyum tipis. "Aku hanya butuh lima menit." Siska memegang gagang pintu, dia menatap Arga sekali lagi. Arga memberikan isyarat anggukan yang sangat meyakinkan. Siska pun membuka pintu itu perlahan. Hendri tidak menoleh saat pintu terbuka. Dia tetap menatap keluar jendela ke arah pohon-pohon yang bergoyang tertiup angin. Siska berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti sedang menghancurkan rantai yang selama ini mengikat batinnya. "Mas Hendri," panggil Siska dengan suara yang tenang namun tegas. Pria di kursi roda itu tersentak pelan. Dengan susah payah, dia memutar kursi rodanya. Saat matanya bertemu dengan mata Siska, ada kilatan keterkejutan yang sangat besar. Mulutnya mencoba terbuka untuk bicara, namun h

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 139

    Pagi itu, sinar matahari masuk dengan lembut ke dalam ruang tamu apartemen kecil yang kini terasa sangat hangat. Di atas meja kayu sederhana, tumpukan kartu undangan berwarna putih tulang dengan aksen emas muda tersusun rapi. Tidak ada ukiran mewah atau pita sutra yang mahal, namun setiap kartu itu ditulis tangan oleh Siska dan Arga dengan penuh ketulusan. Pernikahan mereka tinggal menghitung minggu, sebuah acara sederhana yang hanya akan dihadiri oleh orang-orang terdekat di sebuah masjid kecil dekat panti asuhan tempat Arga sering berbagi. Siska memandangi salah satu kartu itu. Jarinya mengusap lembut nama "Arga & Siska" yang tercetak di sana. Cincin emas putih di jari manisnya berkilauan, mengingatkannya pada malam di warung pecel lele yang mengubah segalanya. "Sudah selesai semua, Sayang?" tanya Arga sambil berjalan mendekat. Dia membawa dua cangkir teh hangat dan meletakkannya di meja. Siska mendongak dan tersenyum, meski ada sedikit rona kesedihan di matanya. "Hampir seles

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 138

    Malam ini, Arga mengajaknya keluar untuk merayakan kesembuhannya dan keberhasilan kecil bisnis konsultan barunya yang baru saja mendapatkan klien besar pertama. Tidak ada gaun mewah, Siska hanya mengenakan kemeja flanel favoritnya dan celana jins. Rambutnya diikat kuda dengan sederhana. Baginya, kecantikan bukan lagi soal barang bermerek, tapi soal binar kebahagiaan yang kembali terpancar dari matanya sejak Arga pulih. "Sudah siap, Sayang?" suara Arga terdengar dari ruang tamu. Siska keluar dan mendapati Arga sudah berdiri di sana. Pria itu tampak segar dari sebelumnya. Arga memakai kaos hitam polos dan jaket kain, namun aura ketampanannya justru semakin kuat karena ketulusan yang terpancar dari wajahnya. "Siap. Kita mau makan di mana, Ga?" tanya Siska sambil tersenyum. Arga menggandeng tangan Siska dengan erat. "Tempat paling mewah di Jakarta. Tempat yang punya aroma paling menggoda dan musik alami dari bisingnya jalanan." Siska tertawa kecil. Dia sudah tahu ke mana Arga ak

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 137

    "Iya. Dia menunjukkan padaku apa yang tidak pernah aku lihat darimu selama ini. Kebahagiaan," lanjut Pak Arya. Dia terdiam sejenak, seolah sedang menimbang-nimbang keputusan besar yang akan dia ambil. "Dengarkan aku, Arga," Pak Arya menatap mata anaknya dengan tajam. "Papa tidak akan memberikan restu sepenuhnya sekarang. Papa masih merasa bahwa dunia ini terlalu kejam untuk kalian jika kalian tidak punya dasar ekonomi yang kuat." Siska menunduk, hatinya terasa sedikit sakit mendengar kata-kata itu. Namun, kalimat berikutnya dari Pak Arya membuat jantung mereka semua berdetak lebih cepat. "Tapi, Papa juga tidak akan menghalangi jalanmu lagi. Papa akan mencabut semua instruksi pemblokiran investor itu. Kamu bebas mencari modal di mana saja. Papa tidak akan membantumu dengan uang Papa, tapi Papa juga tidak akan menjegalmu lagi." Arga menatap ayahnya dengan binar harapan yang mulai muncul. "Lalu?" "Buktikan pada Papa dalam waktu satu tahun," tegas Pak Arya. "Buktikan kamu bisa s

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 136

    Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar rumah sakit, menyinari wajah Arga yang masih terlihat sangat pucat. Siska masih setia duduk di samping brankar, jemarinya tidak pernah lepas menggenggam tangan pria yang sangat dia cintai itu. Di sudut ruangan, Pak Arya dan Bu Ratna berdiri dalam diam, menciptakan suasana yang terasa sangat canggung sekaligus tegang. Pelukan hangat antara Bu Ratna dan Siska beberapa saat lalu memang telah meruntuhkan tembok permusuhan, namun luka di hati Arga mungkin belum sepenuhnya pulih. Arga perlahan membuka matanya. Dia meringis sedikit saat merasakan denyut di kepalanya, namun hal pertama yang dia cari adalah wajah Siska. "Siska..." suara Arga terdengar sangat serak, hampir seperti bisikan angin. Siska langsung menegakkan duduknya, matanya yang bengkak karena menangis semalaman kini berbinar haru. "Iya, Ga. Aku di sini. Jangan banyak bergerak dulu ya. Kamu masih sangat lemas." Siska dengan cekatan mengambil gelas plast

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 135

    Siska duduk di sudut ruang tamu apartemen yang remang-remang, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Arga belum juga pulang. Arga selalu bekerja dua kali lebih keras. Pria itu seolah sedang berlomba dengan waktu yang terus berdetak di kepalanya. Dia ingin memastikan Siska dan Grace terpenuhi kebutuhannya, meskipun Siska sudah berkali-kali memohon agar dia beristirahat. "Ga, kenapa kamu keras kepala sekali?" bisik Siska sambil mendekap kedua lututnya. Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar. Siska menyambarnya dengan cepat. Nama Arga yang muncul, tapi di hatinya ada firasat buruk yang sangat kuat. "Halo? Arga?" sapa Siska dengan suara serak. "Halo, apakah ini dengan Ibu Siska? Saya dari pengelola coworking space di Jakarta Selatan. Kami baru saja memanggil ambulans untuk Pak Arga. Beliau pingsan di mejanya dan sepertinya tidak sadarkan diri cukup lama." Dunia Siska seolah runtuh saat itu juga. Dia segera berlari keluar mencari taksi di tengah sunyinya mala

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 17

    Udara pagi yang dingin dan segar, seakan membawa ketenangan, tapi nafas Siska tersengal sengal saat ia berlari tergesa gesa menyusuri lorong lobi Iron & Orchid. Jam di dinding lobi sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Keringat dingin membasahi pelipis Siska. Jantungnya berdebar sang

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 16

    Dua minggu telah berlalu sejak kejadian memalukan di atas matras tersebut. Dua minggu yang dipenuhi dengan siksaan fisik, aturan makan yang ketat, dan tatapan mata Arga yang terus menerus menguliti sisa pertahanan batinnya. Malam ini, Siska berdiri di depan cermin besar di dalam kamar tidurnya yan

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 15

    "Aku sudah berjanji akan menagih setiap kalori dari daging mahal itu langsung dari tubuhmu pagi ini, Siska. Bersiaplah." Suara Arga menggema di ruang VIP yang tertutup rapat. Siska menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangguk pelan. Daging steak super lezat yang dikirimkan Arga kemarin siang ki

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 14

    "Buka tirai jendelamu sekarang, Siska." Siska menggumamkan deretan kata dari pesan singkat di layar ponselnya itu dengan bibir yang bergetar. Jantungnya berpacu seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Dengan tangan yang berkeringat dingin, Siska merangkak ke arah jendela kamarnya. Ia menyibakka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status