Se connecterDi sore yang syahdu itu, Tiba-tiba ada panggilan telepon dari kantor Arga, "Oke, aku akan segera kesana sekarang". "Ada apa, Ga? Selidik siska. "Biasalah, ada teman lama yang datang mampir ke kantor," jawab Arga. Arga berlalu bergegas ke kantor, tak lupa Arga pun memberikan kecupan manis di kening Siska. "Hati-hati dijalan, Ga." Jantung Siska masih berdegup kencang. Selama ini dia merasa terjebak dalam obsesi seorang pria muda yang berbahaya. Dia merasa seperti korban penipuan, atau lebih buruk lagi, seperti wanita simpanan yang hanya dijadikan alat pemuas ego. Namun sekarang, setelah melihat bekas luka yang sama di kulit mereka, segalanya berubah. Dunia Siska yang tadinya gelap dan penuh prasangka mendadak terang benderang. Dia bukan lagi "tante-tante simpanan" seperti yang sering dibisikkan orang-orang di luar sana. Dia adalah alasan Arga bertahan hidup selama lima belas tahun. "Apa aku pantas mendapatkan cinta sehebat ini?" bisik Siska pada kesunyian ruangan. Tiba-tib
Keheningan kembali menyergap ruang kerja itu setelah badai pengakuan Arga mereda. Siska masih berdiri mematung, menatap pria di depannya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, hatinya bergetar melihat pengabdian Arga yang begitu luar biasa selama belasan tahun. Namun di sisi lain, ada sebuah tembok besar yang menghalangi logikanya. Perbedaan usia mereka, masa lalu yang kelam, dan kenyataan bahwa Arga telah mengawasinya seperti sebuah objek selama ini membuat Siska merasa hubungan ini terasa salah. "Ga, ini terlalu berat untukku," bisik Siska sambil memalingkan wajah. "Kita berbeda. Aku adalah wanita yang sudah hancur oleh pernikahan yang gagal. Aku jauh lebih tua darimu. Masa laluku penuh dengan noda, sementara kamu... kamu punya masa depan yang begitu gemilang. Kenapa harus aku yang menjadi tujuan hidupmu?" Arga tidak menjawab dengan kata-kata kasar atau bantahan yang keras. Dia memper erat pelukannya, lalu Dia berlutut di depan Siska, bukan untuk memohon, melainkan untu
Suara napas Arga terdengar berat di ruangan yang kini terasa semakin sempit bagi Siska. Pengakuan tentang kebakaran itu masih terngiang di telinganya, namun Arga belum selesai. Pria itu menatap foto-foto yang berhamburan seolah setiap lembarannya adalah potongan nyawa yang ia kumpulkan selama belasan tahun. "Setelah malam itu, Siska... setelah kebakaran, Satu-satunya hal yang aku ingat adalah wajahmu. Wanita yang menerobos api hanya untuk anak kecil yang tidak dikenal. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk mencarimu." Siska mundur selangkah, namun matanya tetap tertuju pada Arga. Dia melihat luka yang jauh lebih dalam dari sekadar bekas luka bakar di punggung pria itu. "Aku belajar seperti orang gila. Aku merangkak, tertatih hanya untuk bisa masuk ke lingkaran sosial yang sama denganmu," lanjut Arga. Matanya kini berkaca-kaca. "Dan saat aku akhirnya menemukanmu sepuluh tahun yang lalu, aku pikir aku akan datang padamu, memeluk kakimu, dan mengucapkan terima kasih. Ta
Keheningan di dalam ruang kerja itu terasa begitu tebal, seolah-olah udara telah membeku di sekitar mereka. Siska masih berdiri mematung, jemarinya yang dingin mencengkeram erat foto candid dirinya yang diambil bertahun-tahun lalu. Di depannya, Arga berdiri tegak. "Apa yang kamu mau, Arga?" suara Siska pecah, terdengar seperti bisikan yang penuh luka. "Kenapa kamu punya foto-foto ini? Kenapa kamu mengikutiku selama bertahun-tahun tanpa aku sadari? Kamu... kamu penguntit?" Siska merasa terjebak. Pria yang selama ini dia anggap sebagai tempat berlabuh paling aman, kini terlihat seperti orang asing yang menyimpan ribuan rahasia gelap di balik matanya. Arga tidak langsung membela diri. Dia tidak tampak marah atau tersinggung. Pria itu justru melangkah mendekat secara perlahan. Setiap ketukan langkah kaki Arga di lantai kayu terasa seperti detak jantung kematian bagi Siska. "Jangan mendekat!" teriak Siska, meskipun suaranya tidak memiliki kekuatan. Arga berhenti tepat di hadapan
Siska merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Kotak besi itu seolah-olah berubah menjadi lubang hitam yang siap menelan seluruh kewarasannya. Fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada lembaran-lembaran kertas yang dia temukan. Siska memeriksa tanggal di balik foto-foto itu. Lima tahun lalu. Delapan tahun lalu. Sepuluh tahun lalu. Arga tidak pernah jauh darinya. Arga ada di sana, di bayang-bayang, memperhatikan setiap gerak-geriknya, setiap air matanya, dan setiap luka yang diberikan Hendri padanya. Pikiran Siska langsung melayang ke pertemuan "tidak sengaja" mereka di Bali. Pertemuan yang dia kira adalah takdir Tuhan yang indah. Cara Arga menatapnya, cara Arga seolah-olah langsung mengenalnya dan memahaminya. Kini semuanya masuk akal, namun dengan cara yang sangat mengerikan. "Ini bukan cinta pandangan pertama," bisik Siska. "Ini bukan kebetulan." Siska mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur rak buku. Foto-foto itu berhamburan di atas meja kerja Arga. Rasa aman y
Hari ini langit di luar jendela penthouse terlihat sangat cerah. Seolah alam sedang ikut berbahagia bersama mereka. Arga juga menghadapi serbuan media yang masih lapar akan berita jatuhnya Wijaya Group. "Aku akan kembali sebelum makan malam, Siska," pesan Arga sebelum pergi tadi. "Jangan terlalu banyak berpikir. Cobalah untuk beristirahat. Semua dokumen sedang diproses oleh tim pengacara kita." Siska mulai bosan dengan hanya berdiam diri, Dia mulai berjalan mengitari ruangan, membetulkan letak bantal kursi, dan menyeka debu-debu halus yang menempel di meja kaca. Entah mengapa, langkah kakinya membawa Siska menuju sebuah ruangan yang jarang dia masuki. Ruang kerja pribadi Arga. Ruangan itu sangat rapi, sangat mencerminkan kepribadian Arga yang teratur dan penuh rahasia. Siska masuk perlahan. Dia mencium aroma kayu cendana dan wangi kopi yang masih tertinggal di sana. Siska melihat tumpukan buku di rak yang sedikit miring. Dia berniat merapikannya. "Arga terlalu sibuk memikirkan
"Halo. Saya Coach Arga, pelatih pribadi ibu kamu. Dan kamu pasti Grace, kan? Kebetulan sekali kamu mendaftar hari ini, karena mulai besok saya yang akan mengurus kalian berdua di tempat ini." Darah di sekujur tubuh Siska terasa membeku seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat sebelum a
Siska menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi dengan tatapan kosong. Kantung matanya terlihat menghitam karena kurang tidur. Sentuhan hangat bibir Arga pada bekas luka bakarnya kemarin seolah masih menempel di kulit betisnya. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan fisik biasa. Bagi Siska, ciuman
"Lari, Siska! Jangan seperti mayat hidup yang hanya membuang buang oksigen di sini!" Teriakan Arga menggelegar di seluruh penjuru area VIP, memecah kesunyian pagi yang dingin. Siska tersentak, mencoba memacu kakinya lebih cepat di atas karpet treadmill yang terus berputar tanpa ampun. Napas wanita
Pagi itu Siska terbangun dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Bayangan mobil sport hitam Arga yang terparkir di seberang jalan restoran tadi malam terus menghantuinya. Pesan singkat pria itu tentang air matanya seolah menjadi bukti bahwa tidak ada satu inci pun dari hidupnya yang luput dari pe







