Share

Bab 31

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-03-15 14:44:40

"Dua puluh tahun, Mas. Dua puluh tahun aku menjadi bayangan yang setia di belakangmu, dan inikah hadiah yang kamu berikan?"

Siska bergumam sendiri dengan suara yang pecah di tengah kesunyian ruang makan yang terasa begitu dingin. Ia menatap meja makan yang masih tersaji sempurna, namun kini pemandangan itu tampak seperti kuburan bagi seluruh harapannya. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menyambar kunci mobil serta tasnya, lalu berlari keluar rumah seolah sedang dikejar oleh hantu masa lalu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 41

    "Aku ingin kamu berhenti bersikap seperti istri yang setia di depanku, karena malam ini, aku akan menunjukkan padamu bahwa Hendri sudah benar-benar kehilangan haknya atas tubuh dan jiwamu." Kalimat Arga semalam masih terngiang jelas, menciptakan debaran yang tidak kunjung usai di dada Siska. Pagi ini, Siska melangkah masuk ke area VIP Iron-And-Orchid dengan perasaan yang jauh lebih berani. Ia mengenakan pakaian olahraga baru yang lebih ketat, menunjukkan hasil kerja kerasnya selama ini. Namun, keberanian itu mendadak menguap saat ia melihat pemandangan di sudut ruangan. Arga tidak sendirian. Pria itu sedang berdiri sangat dekat dengan seorang gadis muda yang tampak begitu bersinar. Gadis itu mengenakan setelan crop top dan celana pendek yang memperlihatkan kulitnya yang sangat kencang, mulus, dan tanpa cela. "Coach Arga, gerakanku tadi sudah benar, kan? Kok rasanya otot pahaku masih belum terasa panas ya?" tanya gadis itu dengan suara yang sangat manja dan renyah. Siska terpaku di

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 40

    "Kamu terlambat, Mas. Pria itu sudah memilikiku lebih dari yang pernah kamu bayangkan." Siska membisikkan kalimat itu di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara gemericik air shower menjadi satu-satunya penghalang antara dirinya dan teriakan Hendri yang masih menggema di luar kamar. Siska menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia menyentuh bibirnya sendiri. Rasa panas dan tuntutan dari ciuman Arga semalam seolah masih tertinggal di sana, lebih nyata daripada keberadaan suaminya yang sedang mengamuk di balik pintu. Beberapa saat kemudian, suasana di luar mendadak sunyi. Hendri berhenti berteriak. Siska keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya, berharap pria itu sudah pergi. Namun, saat ia membuka pintu kamar mandi, Hendri sudah duduk di tepi ranjang dengan wajah yang lebih tenang, namun matanya memancarkan kebingungan yang sangat dalam. "Siska, kita perlu bicara dengan kepala dingin," ucap Hendri, suaranya kini melunak, mencoba menggunakan te

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 39

    "Jika dia cukup berani untuk muncul di depanku setelah apa yang dia lakukan padamu, maka dia harus bersiap untuk kehilangan lebih dari sekadar istrinya."Kalimat Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia menatap kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja marmer. Pagi ini, sebuah mobil derek baru saja mengantar mobil Siska ke depan lobi apartemen. Arga bilang mobil itu sudah diperbaiki dengan cepat oleh mekanik kepercayaannya. Siska menyentuh bibirnya yang masih terasa sedikit bengkak, sisa-sisa ciuman menuntut Arga semalam yang seolah telah menyegel nasibnya."Apakah aku benar-benar harus pulang ke sana, Arga?" tanya Siska pelan sembari menatap ke luar jendela besar penthouse.Arga yang sedang menyesap kopi hitamnya hanya menoleh sedikit. "Tentu saja. Kamu harus melihat wajahnya yang kebingungan. Kamu harus membiarkan dia bertanya-tanya ke mana perginya istri penurut yang selama dua puluh tahun ini ia miliki.""Aku takut emosiku pecah saat melihatnya, Ga," bisik Siska ragu

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 38

    "Kenapa diam, Siska? Apakah lidahmu masih kaku karena terlalu lama menelan kebohongan suamimu?" bisik Arga, wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari bibir Siska. "Aku... aku tidak tahu lagi apa itu cinta, Arga," rintih Siska dengan suara yang hampir menghilang. "Aku hanya merasa sangat kosong. Sangat hampa." "Maka biarkan aku mengisi kehampaan itu dengan caraku sendiri," tegas Arga. Tanpa menunggu persetujuan lagi, Arga bergerak maju. Ia tidak lagi menahan diri. Arga melumat bibir Siska dengan intensitas yang mengejutkan. Ini bukan ciuman romantis yang lembut seperti yang pernah Siska bayangkan dalam drama-drama picisan. Ini adalah ciuman yang menuntut, sedikit kasar, dan penuh dengan aura kepemilikan yang mutlak. Arga menciumnya seolah ingin menghapus setiap jejak bibir Hendri yang pernah hinggap di sana selama dua puluh tahun. Siska terbelalak, tangannya yang tadi terkulai di lantai mendadak kaku. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik. Rasa sakit hati karen

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 37

    "Aku tidak akan pernah membiarkanmu memiliki kesempatan untuk menghilang satu detik pun dari pengawasanku, Siska." Kalimat obsesif Arga itu masih terngiang di kepala Siska, namun rasa panik dan sisa harga diri sebagai seorang istri mendadak bangkit kembali. Siska melepaskan diri dari dekapan Arga dengan sentakan kasar. Ia berdiri dengan napas yang memburu, matanya yang sembab menatap ke sekeliling penthouse mewah yang kini terasa seperti penjara kaca baginya. "Aku harus pulang, Arga. Sekarang juga. Berikan kunci mobilku atau panggilkan taksi untukku," ucap Siska dengan suara yang bergetar hebat. Arga tetap duduk di sofa, menatap Siska dengan pandangan dingin yang tidak tergoyahkan. "Pulang ke mana? Ke rumah yang tidak menganggapmu ada? Ke laki-laki yang mungkin sedang sarapan dengan wanita lain sekarang?" "Itu bukan urusanmu! Apa pun yang dia lakukan, aku masih istri sahnya! Aku tidak bisa berada di sini, memakai bajumu, tidur di rumahmu semalaman. Ini salah!" teriak Siska, ai

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 36

    "Tidurlah yang nyenyak, karena mulai besok, kamu bukan lagi Nyonya Hendri Wijaya. Kamu hanya akan menjadi Siska milikku."Kalimat terakhir Arga semalam seolah masih bergetar di telinga Siska saat ia perlahan membuka matanya. Siska mengerjap, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu kristal minimalis yang masih padam. Ia menghirup napas dalam-dalam. Aroma kopi yang sangat kuat dan harum menyusup masuk melalui celah pintu, bercampur dengan wangi kayu manis yang sangat ia kenali."Arga," bisik Siska lirih. Nama itu terasa asing sekaligus akrab di lidahnya.Siska tersentak duduk. Ia menatap selimut abu-abu gelap yang menutupi tubuhnya, lalu melihat kaus hitam besar yang masih melekat di badannya. Rasa malu dan panik mendadak menyerang layaknya badai yang menghantam karang. Ia adalah seorang istri sah, seorang ibu yang seharusnya berada di rumah, tapi ia baru saja menghabiskan malam di ranjang milik pelatih mudanya."Apa yang sudah aku lakukan?" Siska menutup wajahnya dengan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status