Share

Bab 39

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-03-24 21:11:42

"Jika dia cukup berani untuk muncul di depanku setelah apa yang dia lakukan padamu, maka dia harus bersiap untuk kehilangan lebih dari sekadar istrinya."

Kalimat Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia menatap kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja marmer. Pagi ini, sebuah mobil derek baru saja mengantar mobil Siska ke depan lobi apartemen. Arga bilang mobil itu sudah diperbaiki dengan cepat oleh mekanik kepercayaannya. Siska menyentuh bibirnya yang masih terasa sedikit bengka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 42

    Alih-alih pulang seperti yang diperintahkan Arga, Siska justru kembali menekan tombol kecepatan pada mesin treadmill di hadapannya. Angka digital itu menunjukkan kecepatan sepuluh, lalu sebelas, dan sekarang dua belas. Siska berlari layaknya dikejar setan, napasnya memburu tersengal-sengal, sementara peluh membanjiri seluruh tubuhnya hingga pakaian olahraganya yang ketat terasa semakin berat. "Aku tidak tua. Aku tidak kalah dari gadis itu," gumam Siska di sela deru napasnya yang mulai terasa panas di kerongkongan. Matanya melirik ke arah cermin besar di depan. Di sana, ia melihat wajahnya sendiri yang mulai pucat pasi. Ia membandingkan dirinya dengan bayangan Bella yang tadi berdiri begitu kencang dan bersinar. Rasa tidak aman itu merayap seperti racun, memaksa kaki Siska untuk terus bergerak meski otot-ototnya sudah menjerit kesakitan. "Siska! Apa yang kamu lakukan? Hentikan sekarang juga!" Suara Arga menggelegar di area latihan yang mulai sepi itu. Siska tidak menjawab. Ia j

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 41

    "Aku ingin kamu berhenti bersikap seperti istri yang setia di depanku, karena malam ini, aku akan menunjukkan padamu bahwa Hendri sudah benar-benar kehilangan haknya atas tubuh dan jiwamu." Kalimat Arga semalam masih terngiang jelas, menciptakan debaran yang tidak kunjung usai di dada Siska. Pagi ini, Siska melangkah masuk ke area VIP Iron-And-Orchid dengan perasaan yang jauh lebih berani. Ia mengenakan pakaian olahraga baru yang lebih ketat, menunjukkan hasil kerja kerasnya selama ini. Namun, keberanian itu mendadak menguap saat ia melihat pemandangan di sudut ruangan. Arga tidak sendirian. Pria itu sedang berdiri sangat dekat dengan seorang gadis muda yang tampak begitu bersinar. Gadis itu mengenakan setelan crop top dan celana pendek yang memperlihatkan kulitnya yang sangat kencang, mulus, dan tanpa cela. "Coach Arga, gerakanku tadi sudah benar, kan? Kok rasanya otot pahaku masih belum terasa panas ya?" tanya gadis itu dengan suara yang sangat manja dan renyah. Siska terpaku di

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 40

    "Kamu terlambat, Mas. Pria itu sudah memilikiku lebih dari yang pernah kamu bayangkan." Siska membisikkan kalimat itu di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara gemericik air shower menjadi satu-satunya penghalang antara dirinya dan teriakan Hendri yang masih menggema di luar kamar. Siska menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia menyentuh bibirnya sendiri. Rasa panas dan tuntutan dari ciuman Arga semalam seolah masih tertinggal di sana, lebih nyata daripada keberadaan suaminya yang sedang mengamuk di balik pintu. Beberapa saat kemudian, suasana di luar mendadak sunyi. Hendri berhenti berteriak. Siska keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya, berharap pria itu sudah pergi. Namun, saat ia membuka pintu kamar mandi, Hendri sudah duduk di tepi ranjang dengan wajah yang lebih tenang, namun matanya memancarkan kebingungan yang sangat dalam. "Siska, kita perlu bicara dengan kepala dingin," ucap Hendri, suaranya kini melunak, mencoba menggunakan te

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 39

    "Jika dia cukup berani untuk muncul di depanku setelah apa yang dia lakukan padamu, maka dia harus bersiap untuk kehilangan lebih dari sekadar istrinya."Kalimat Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia menatap kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja marmer. Pagi ini, sebuah mobil derek baru saja mengantar mobil Siska ke depan lobi apartemen. Arga bilang mobil itu sudah diperbaiki dengan cepat oleh mekanik kepercayaannya. Siska menyentuh bibirnya yang masih terasa sedikit bengkak, sisa-sisa ciuman menuntut Arga semalam yang seolah telah menyegel nasibnya."Apakah aku benar-benar harus pulang ke sana, Arga?" tanya Siska pelan sembari menatap ke luar jendela besar penthouse.Arga yang sedang menyesap kopi hitamnya hanya menoleh sedikit. "Tentu saja. Kamu harus melihat wajahnya yang kebingungan. Kamu harus membiarkan dia bertanya-tanya ke mana perginya istri penurut yang selama dua puluh tahun ini ia miliki.""Aku takut emosiku pecah saat melihatnya, Ga," bisik Siska ragu

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 38

    "Kenapa diam, Siska? Apakah lidahmu masih kaku karena terlalu lama menelan kebohongan suamimu?" bisik Arga, wajahnya hanya terpaut beberapa senti dari bibir Siska. "Aku... aku tidak tahu lagi apa itu cinta, Arga," rintih Siska dengan suara yang hampir menghilang. "Aku hanya merasa sangat kosong. Sangat hampa." "Maka biarkan aku mengisi kehampaan itu dengan caraku sendiri," tegas Arga. Tanpa menunggu persetujuan lagi, Arga bergerak maju. Ia tidak lagi menahan diri. Arga melumat bibir Siska dengan intensitas yang mengejutkan. Ini bukan ciuman romantis yang lembut seperti yang pernah Siska bayangkan dalam drama-drama picisan. Ini adalah ciuman yang menuntut, sedikit kasar, dan penuh dengan aura kepemilikan yang mutlak. Arga menciumnya seolah ingin menghapus setiap jejak bibir Hendri yang pernah hinggap di sana selama dua puluh tahun. Siska terbelalak, tangannya yang tadi terkulai di lantai mendadak kaku. Namun, keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik. Rasa sakit hati karen

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 37

    "Aku tidak akan pernah membiarkanmu memiliki kesempatan untuk menghilang satu detik pun dari pengawasanku, Siska." Kalimat obsesif Arga itu masih terngiang di kepala Siska, namun rasa panik dan sisa harga diri sebagai seorang istri mendadak bangkit kembali. Siska melepaskan diri dari dekapan Arga dengan sentakan kasar. Ia berdiri dengan napas yang memburu, matanya yang sembab menatap ke sekeliling penthouse mewah yang kini terasa seperti penjara kaca baginya. "Aku harus pulang, Arga. Sekarang juga. Berikan kunci mobilku atau panggilkan taksi untukku," ucap Siska dengan suara yang bergetar hebat. Arga tetap duduk di sofa, menatap Siska dengan pandangan dingin yang tidak tergoyahkan. "Pulang ke mana? Ke rumah yang tidak menganggapmu ada? Ke laki-laki yang mungkin sedang sarapan dengan wanita lain sekarang?" "Itu bukan urusanmu! Apa pun yang dia lakukan, aku masih istri sahnya! Aku tidak bisa berada di sini, memakai bajumu, tidur di rumahmu semalaman. Ini salah!" teriak Siska, ai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status