Share

Bab 35

last update publish date: 18.03.2026 19:10:38

Siska melangkah masuk ke dalam kamar yang luas itu dengan ragu. "Lalu kamu tidur di mana? Ini adalah kamar satu-satunya di sini, kan?"

"Aku akan tidur di sofa ruang tengah. Jangan berpikir aku akan membiarkan diriku tidur di sebelah wanita yang terus-menerus memanggil nama suaminya dalam igauan," Arga menjawab dingin sembari meletakkan sebuah selimut tambahan di ujung ranjang.

"Aku tidak bermaksud begitu, Arga. Hanya saja, tempat ini... tempat ini terlalu asing bagiku," Siska menatap sekeli
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 37

    "Aku tidak akan pernah membiarkanmu memiliki kesempatan untuk menghilang satu detik pun dari pengawasanku, Siska." Kalimat obsesif Arga itu masih terngiang di kepala Siska, namun rasa panik dan sisa harga diri sebagai seorang istri mendadak bangkit kembali. Siska melepaskan diri dari dekapan Arga dengan sentakan kasar. Ia berdiri dengan napas yang memburu, matanya yang sembab menatap ke sekeliling penthouse mewah yang kini terasa seperti penjara kaca baginya. "Aku harus pulang, Arga. Sekarang juga. Berikan kunci mobilku atau panggilkan taksi untukku," ucap Siska dengan suara yang bergetar hebat. Arga tetap duduk di sofa, menatap Siska dengan pandangan dingin yang tidak tergoyahkan. "Pulang ke mana? Ke rumah yang tidak menganggapmu ada? Ke laki-laki yang mungkin sedang sarapan dengan wanita lain sekarang?" "Itu bukan urusanmu! Apa pun yang dia lakukan, aku masih istri sahnya! Aku tidak bisa berada di sini, memakai bajumu, tidur di rumahmu semalaman. Ini salah!" teriak Siska, ai

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 36

    "Tidurlah yang nyenyak, karena mulai besok, kamu bukan lagi Nyonya Hendri Wijaya. Kamu hanya akan menjadi Siska milikku."Kalimat terakhir Arga semalam seolah masih bergetar di telinga Siska saat ia perlahan membuka matanya. Siska mengerjap, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu kristal minimalis yang masih padam. Ia menghirup napas dalam-dalam. Aroma kopi yang sangat kuat dan harum menyusup masuk melalui celah pintu, bercampur dengan wangi kayu manis yang sangat ia kenali."Arga," bisik Siska lirih. Nama itu terasa asing sekaligus akrab di lidahnya.Siska tersentak duduk. Ia menatap selimut abu-abu gelap yang menutupi tubuhnya, lalu melihat kaus hitam besar yang masih melekat di badannya. Rasa malu dan panik mendadak menyerang layaknya badai yang menghantam karang. Ia adalah seorang istri sah, seorang ibu yang seharusnya berada di rumah, tapi ia baru saja menghabiskan malam di ranjang milik pelatih mudanya."Apa yang sudah aku lakukan?" Siska menutup wajahnya dengan ke

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 35

    Siska melangkah masuk ke dalam kamar yang luas itu dengan ragu. "Lalu kamu tidur di mana? Ini adalah kamar satu-satunya di sini, kan?" "Aku akan tidur di sofa ruang tengah. Jangan berpikir aku akan membiarkan diriku tidur di sebelah wanita yang terus-menerus memanggil nama suaminya dalam igauan," Arga menjawab dingin sembari meletakkan sebuah selimut tambahan di ujung ranjang. "Aku tidak bermaksud begitu, Arga. Hanya saja, tempat ini... tempat ini terlalu asing bagiku," Siska menatap sekeliling kamar yang didominasi warna gelap itu. "Aku merasa tidak enak membiarkanmu tidur di luar sementara aku di sini." "Jangan sok baik, Siska. Kamu butuh istirahat lebih dari aku. Besok adalah hari yang panjang," Arga berbalik untuk keluar, namun langkahnya terhenti saat ujung kaosnya ditarik oleh tangan kecil Siska. "Arga, tunggu," panggil Siska lirih. Arga menoleh, menatap Siska dengan alis yang bertaut. "Ada apa lagi? Kamu butuh air? Atau kamu mau aku memanggilkan suamimu agar kamu bisa

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 34

    "Belum, Arga. Ada apa? Kenapa kamu mengetuk pintuku malam-malam begini?" Suara Siska terdengar serak dari balik daun pintu kamar utama yang tertutup rapat. Ia masih meringkuk di bawah selimut, menghirup aroma maskulin Arga yang tertinggal di bantal, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih tidak keruan. "Keluarlah, Siska. Aku dengar perutmu berbunyi dari balik pintu ini. Aku tidak mau investasiku mati kelaparan di atas ranjangku sendiri," jawab Arga dengan nada yang datar namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah. Siska terdiam sejenak. Ia baru tersadar bahwa sejak sore tadi, sejak ia menyiapkan makan malam romantis yang berakhir tragis itu, tidak ada sebutir nasi pun yang masuk ke perutnya. Rasa lapar itu tiba-tiba menyerang dengan hebat begitu Arga mengingatkannya. Siska bangkit dari ranjang, merapikan kaos hitam besar milik Arga yang menutupi tubuhnya, lalu membuka pintu kamar perlahan. Ia melihat Arga sudah berdiri di lorong, membelakanginya sambil berjalan men

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 33

    "Turunlah, Siska. Kita sudah sampai di tempat yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh suamimu." Suara berat Arga memecah keheningan kabin mobil sport itu. Siska mengerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan sisa kesadaran. Ia melangkah keluar dengan ragu, membiarkan Arga menuntunnya masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang sangat kontras dengan rumahnya sendiri. "Tempat ini... sangat berbeda dengan apa yang aku bayangkan," gumam Siska pelan. Pandangan Siska menyapu sekeliling. Apartemen itu didominasi warna abu-abu gelap, marmer hitam, dan pencahayaan yang sangat minimalis. Tidak ada foto keluarga yang hangat, tidak ada hiasan bunga, hanya ada furnitur modern yang kaku dan dingin. Tempat ini terasa seperti wilayah kekuasaan seorang predator yang lebih suka kesendirian. "Apakah tempat ini terlalu gelap untukmu, Siska?" tanya Arga sambil meletakkan kunci mobilnya di atas meja marmer. "Tidak, hanya saja... ini terasa sangat sepi. Sangat maskulin," jawab Siska sambil memeluk bahu

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 32

    Cahaya lampu putih yang sangat terang membelah tirai hujan di jalan tol yang gelap itu. Siska masih meringkuk di kursi penumpang, memeluk lututnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Di belakangnya, deru mesin mobil sport yang berat terdengar mendekat, lalu berhenti dengan suara decitan halus yang menunjukkan kelasnya. Arga tidak menunggu hujan mereda. Pria itu keluar dari mobil sport hitamnya, membiarkan jaket kulit hitamnya basah kuyup dalam sekejap. Ia melangkah lebar, seolah badai di sekelilingnya hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti. Saat pintu mobil Siska dibuka, aroma hujan yang dingin menyeruak masuk, bercampur dengan aroma parfum maskulin Arga yang tajam dan menenangkan. "Pindah ke mobilku, Siska," suara Arga terdengar berat, mengatasi suara guntur yang baru saja menggelegar di kejauhan. Siska mendongak dengan tatapan kosong. Matanya merah dan bengkak. "Arga, aku... aku bisa menyetir sendiri nanti kalau aku sudah tenang." Arga tidak membantah dengan kata-kata. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status