Share

Bab 36

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-03-20 00:25:43

"Tidurlah yang nyenyak, karena mulai besok, kamu bukan lagi Nyonya Hendri Wijaya. Kamu hanya akan menjadi Siska milikku."

Kalimat terakhir Arga semalam seolah masih bergetar di telinga Siska saat ia perlahan membuka matanya. Siska mengerjap, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu kristal minimalis yang masih padam. Ia menghirup napas dalam-dalam. Aroma kopi yang sangat kuat dan harum menyusup masuk melalui celah pintu, bercampur dengan wangi kayu manis yang sangat ia kenali.

"Arga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 138

    Malam ini, Arga mengajaknya keluar untuk merayakan kesembuhannya dan keberhasilan kecil bisnis konsultan barunya yang baru saja mendapatkan klien besar pertama. Tidak ada gaun mewah, Siska hanya mengenakan kemeja flanel favoritnya dan celana jins. Rambutnya diikat kuda dengan sederhana. Baginya, kecantikan bukan lagi soal barang bermerek, tapi soal binar kebahagiaan yang kembali terpancar dari matanya sejak Arga pulih. "Sudah siap, Sayang?" suara Arga terdengar dari ruang tamu. Siska keluar dan mendapati Arga sudah berdiri di sana. Pria itu tampak segar dari sebelumnya. Arga memakai kaos hitam polos dan jaket kain, namun aura ketampanannya justru semakin kuat karena ketulusan yang terpancar dari wajahnya. "Siap. Kita mau makan di mana, Ga?" tanya Siska sambil tersenyum. Arga menggandeng tangan Siska dengan erat. "Tempat paling mewah di Jakarta. Tempat yang punya aroma paling menggoda dan musik alami dari bisingnya jalanan." Siska tertawa kecil. Dia sudah tahu ke mana Arga ak

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 137

    "Iya. Dia menunjukkan padaku apa yang tidak pernah aku lihat darimu selama ini. Kebahagiaan," lanjut Pak Arya. Dia terdiam sejenak, seolah sedang menimbang-nimbang keputusan besar yang akan dia ambil. "Dengarkan aku, Arga," Pak Arya menatap mata anaknya dengan tajam. "Papa tidak akan memberikan restu sepenuhnya sekarang. Papa masih merasa bahwa dunia ini terlalu kejam untuk kalian jika kalian tidak punya dasar ekonomi yang kuat." Siska menunduk, hatinya terasa sedikit sakit mendengar kata-kata itu. Namun, kalimat berikutnya dari Pak Arya membuat jantung mereka semua berdetak lebih cepat. "Tapi, Papa juga tidak akan menghalangi jalanmu lagi. Papa akan mencabut semua instruksi pemblokiran investor itu. Kamu bebas mencari modal di mana saja. Papa tidak akan membantumu dengan uang Papa, tapi Papa juga tidak akan menjegalmu lagi." Arga menatap ayahnya dengan binar harapan yang mulai muncul. "Lalu?" "Buktikan pada Papa dalam waktu satu tahun," tegas Pak Arya. "Buktikan kamu bisa s

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 136

    Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar rumah sakit, menyinari wajah Arga yang masih terlihat sangat pucat. Siska masih setia duduk di samping brankar, jemarinya tidak pernah lepas menggenggam tangan pria yang sangat dia cintai itu. Di sudut ruangan, Pak Arya dan Bu Ratna berdiri dalam diam, menciptakan suasana yang terasa sangat canggung sekaligus tegang. Pelukan hangat antara Bu Ratna dan Siska beberapa saat lalu memang telah meruntuhkan tembok permusuhan, namun luka di hati Arga mungkin belum sepenuhnya pulih. Arga perlahan membuka matanya. Dia meringis sedikit saat merasakan denyut di kepalanya, namun hal pertama yang dia cari adalah wajah Siska. "Siska..." suara Arga terdengar sangat serak, hampir seperti bisikan angin. Siska langsung menegakkan duduknya, matanya yang bengkak karena menangis semalaman kini berbinar haru. "Iya, Ga. Aku di sini. Jangan banyak bergerak dulu ya. Kamu masih sangat lemas." Siska dengan cekatan mengambil gelas plast

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 135

    Siska duduk di sudut ruang tamu apartemen yang remang-remang, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi. Arga belum juga pulang. Arga selalu bekerja dua kali lebih keras. Pria itu seolah sedang berlomba dengan waktu yang terus berdetak di kepalanya. Dia ingin memastikan Siska dan Grace terpenuhi kebutuhannya, meskipun Siska sudah berkali-kali memohon agar dia beristirahat. "Ga, kenapa kamu keras kepala sekali?" bisik Siska sambil mendekap kedua lututnya. Tiba-tiba, ponsel di atas meja bergetar. Siska menyambarnya dengan cepat. Nama Arga yang muncul, tapi di hatinya ada firasat buruk yang sangat kuat. "Halo? Arga?" sapa Siska dengan suara serak. "Halo, apakah ini dengan Ibu Siska? Saya dari pengelola coworking space di Jakarta Selatan. Kami baru saja memanggil ambulans untuk Pak Arga. Beliau pingsan di mejanya dan sepertinya tidak sadarkan diri cukup lama." Dunia Siska seolah runtuh saat itu juga. Dia segera berlari keluar mencari taksi di tengah sunyinya mala

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 134

    Grace berdiri di depan gedung pencakar langit milik keluarga Arga dengan tangan yang mengepal kuat. Gadis remaja itu memakai jaket denim kesayangannya dan celana kargo, penampilannya sangat kontras dengan orang-orang berpakaian formal yang keluar masuk gedung mewah itu. Setelah mendengar cerita ibunya tentang kunjungan Nyonya Ratna yang kejam, Grace tidak bisa diam saja. Baginya, Arga bukan sekadar pria yang mencintai ibunya, tapi sosok kakak dan pelindung yang selama ini tidak pernah dia miliki. "Maaf, Dek. Sudah punya janji dengan Pak Arya?" tanya satpam di lobi dengan nada curiga. Grace menatap satpam itu dengan berani. "Bilang saja, ada utusan dari kebahagiaan anaknya yang ingin bicara. Kalau dia tidak mau ketemu, dia akan menyesal seumur hidup." "Tapi tidak bisa begitu, Dek..." "Minggir!" Grace menerobos barisan satpam dengan kelincahan khas anak muda. Dia berlari menuju lift eksekutif yang kebetulan sedang terbuka. Sebelum para petugas bisa menangkapnya, pintu lift sudah

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 133

    Siska mengambil cek itu dengan tangan yang kini sudah tidak gemetar lagi. Dia menatap mata Bu Ratna yang sedang tersenyum penuh kemenangan, mengira bahwa Siska telah tergoda oleh uangnya. "Apakah ini cukup untuk membayar rasa malu Anda karena memiliki anak yang mencintai rakyat jelata seperti saya, Ibu Ratna yang terhormat?" tanya Siska pelan. "Jangan banyak bicara. Isi saja angkanya, ambil uangnya, dan pergilah sejauh mungkin," jawab Bu Ratna dengan angkuh. Siska menatap cek itu sekali lagi, lalu dengan satu gerakan yang pasti, dia merobek cek itu menjadi dua. Tidak berhenti di situ, dia merobeknya lagi menjadi potongan-potongan kecil hingga menjadi serpihan kertas yang tidak berarti. Mata Bu Ratna terbelalak, wajahnya yang tadi tenang kini memerah karena marah. "Apa yang kamu lakukan, hah?! Kamu tahu berapa nilai yang bisa kamu dapatkan dari kertas itu?" "Maaf, Ibu Ratna. Arga bukan barang dagangan yang bisa saya jual kepada Anda," ucap Siska dengan nada yang sangat tegas.

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 39

    "Jika dia cukup berani untuk muncul di depanku setelah apa yang dia lakukan padamu, maka dia harus bersiap untuk kehilangan lebih dari sekadar istrinya."Kalimat Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia menatap kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja marmer. Pagi ini, sebuah mobil d

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 37

    "Aku tidak akan pernah membiarkanmu memiliki kesempatan untuk menghilang satu detik pun dari pengawasanku, Siska." Kalimat obsesif Arga itu masih terngiang di kepala Siska, namun rasa panik dan sisa harga diri sebagai seorang istri mendadak bangkit kembali. Siska melepaskan diri dari dekapan Arga

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 34

    "Belum, Arga. Ada apa? Kenapa kamu mengetuk pintuku malam-malam begini?" Suara Siska terdengar serak dari balik daun pintu kamar utama yang tertutup rapat. Ia masih meringkuk di bawah selimut, menghirup aroma maskulin Arga yang tertinggal di bantal, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masi

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 8

    Pagi itu Siska terbangun dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Bayangan mobil sport hitam Arga yang terparkir di seberang jalan restoran tadi malam terus menghantuinya. Pesan singkat pria itu tentang air matanya seolah menjadi bukti bahwa tidak ada satu inci pun dari hidupnya yang luput dari pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status