Share

Bab 55

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-04-10 20:34:55

Sinar matahari pagi menembus celah gorden ruang makan, menyinari meja marmer yang biasanya terasa sangat dingin dan kaku. Pagi ini, suasana hati Siska sangat kontras dengan ketegangan yang ia alami di Hotel Mulia semalam, ada sebuah getaran lain yang lebih kuat yang sedang menguasai hatinya.

Siska duduk di kursi makannya sambil mengaduk sereal pelan, namun matanya sama sekali tidak tertuju pada piring. Ia terus menatap layar ponselnya yang diletakkan di samping mangkuk. Sebuah pesan baru dari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 56

    Di dalam kamar tidurnya yang luas, Siska masih tenggelam dalam perasaan yang campur aduk. Ia baru saja selesai mandi setelah Grace berangkat sekolah. Siska berdiri di depan lemari besar, memilih pakaian yang akan ia kenakan untuk pergi ke gym sore nanti. Tubuhnya hanya dibalut selembar handuk putih yang melilit kencang. Siska melepas handuknya dan mulai mengenakan pakaian dalam. Saat ia sedang merapikan tali bra hitamnya di depan cermin, pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan suara berdebam yang cukup keras. Siska tersentak kaget dan refleks menyambar kaos tipis di atas tempat tidur untuk menutupi tubuhnya. "Mas Hendri! Bisakah kamu mengetuk pintu dulu? Aku sedang berganti baju!" Hendri masuk dengan wajah yang terlihat sedikit kusut. Ia tidak memedulikan protes istrinya. Tangannya sibuk melonggarkan dasi yang seolah mencekik lehernya. "Ini rumahku, Siska. Aku tidak perlu izin untuk masuk ke kamarku sendiri. Lagipula, apa yang perlu disembunyikan? Aku sudah melihat semuanya selama

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 57

    Siska keluar dari kamar mandi dengan langkah yang gontai. Kepalanya terasa pening setelah membaca pesan ancaman anonim yang menyebut nama Arga Dewantara. Ia melirik ke arah ranjang, Hendri tampak tertidur sangat lelap, atau mungkin hanya pura-pura tidak peduli. Siska segera menyembunyikan ponselnya di dalam laci meja rias yang paling bawah, menumpuknya dengan koleksi selendang sutra miliknya. Pagi harinya, suasana rumah terasa sangat berat. Siska sedang menyiapkan sarapan di dapur saat Hendri turun dengan wajah yang sangat masam. Pria itu tidak memakai setelan jas rapi seperti biasanya, melainkan kaos polo santai dan celana kain. "Mas, kenapa belum bersiap? Kamu ada rapat jam sembilan, kan?" tanya Siska sambil meletakkan piring berisi roti bakar. Hendri mendengus kasar. Ia melempar kunci mobilnya ke atas meja makan hingga menimbulkan suara denting yang cukup keras. "Mobilku mogok. Tadi aku coba nyalakan, mesinnya mati total. Sepertinya akinya bermasalah lagi." Siska tertegun. "Mog

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 55

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden ruang makan, menyinari meja marmer yang biasanya terasa sangat dingin dan kaku. Pagi ini, suasana hati Siska sangat kontras dengan ketegangan yang ia alami di Hotel Mulia semalam, ada sebuah getaran lain yang lebih kuat yang sedang menguasai hatinya. Siska duduk di kursi makannya sambil mengaduk sereal pelan, namun matanya sama sekali tidak tertuju pada piring. Ia terus menatap layar ponselnya yang diletakkan di samping mangkuk. Sebuah pesan baru dari Arga masuk, dan tanpa sadar, sudut bibir Siska terangkat membentuk senyuman kecil yang tulus. Kamu menari dengan sangat baik semalam, Siska. Tapi ingat, setiap detak jantungmu saat tanganku memegang pinggangmu adalah bukti bahwa kamu bukan lagi milik pria itu. Siska merasakan pipinya memanas. Ia segera mengetik balasan singkat dengan jari-jari yang lincah. "Selamat pagi, Mama." Siska tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia segera mematikan layar ponsel dan meno

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 54

    Kalimat Arga itu terasa seperti sembilu yang menyayat kesadaran Siska. Ia hanya bisa menundukkan kepala, membiarkan rambut panjangnya sedikit menutupi wajahnya yang kini pasti sudah sewarna kepiting rebus. Hendri, yang sama sekali tidak menangkap nada provokasi dalam suara Arga, justru tergelak puas. "Tentu saja! Siska ini memang murid yang penurut. Kalau tidak, mana mungkin badannya bisa sebagus ini di usia kepala empat," sahut Hendri sambil menepuk bahu Arga dengan akrab. Tepat saat itu, pembawa acara mengumumkan bahwa sesi dansa akan segera dimulai. Lampu kristal besar di tengah ballroom meredup perlahan, digantikan oleh sorot lampu kekuningan yang temaram dan romantis. Alunan musik waltz yang lambat mulai memenuhi ruangan, mengundang pasangan-pasangan untuk turun ke lantai dansa. "Wah, Pak Hendri, sepertinya kolega kita dari Singapura sudah menunggu di meja pojok sana. Mereka ingin membahas kelanjutan proyek lahan di Serpong," sela Veni dengan nada manja, sambil menyentuh le

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 53

    Siska mencoba mengatur napasnya yang terasa pendek. Ia menggenggam tas kecilnya erat-erat, membiarkan jemarinya yang dingin mencari kekuatan di sana. Ballroom itu bermandikan cahaya lampu kristal yang menyilaukan, dipenuhi aroma parfum mahal dan denting gelas kaca yang beradu. "Aku hanya merasa sedikit gugup, Mas. Sudah lama aku tidak menghadiri acara sebesar ini," jawab Siska dengan nada yang diusahakan tetap tenang. "Gugup itu wajar, tapi jangan memalukan aku. Berdirilah dengan tegak, buat wanita-wanita di sini iri melihat betapa awet mudanya istri Hendri Wijaya," perintah Hendri tanpa menoleh. Pria itu langsung menyambar gelas sampanye dari pelayan yang lewat dan mulai menebar senyum pada rekan-rekan bisnisnya. Siska hanya bisa tersenyum kaku. Ia merasa seperti sebuah pajangan mahal yang baru saja dipoles dan dipamerkan di tengah galeri yang asing. Hendri mulai melakukan apa yang paling ia sukai: pamer. Pria itu sibuk mengobrol dengan Pak Gunawan dan beberapa pengusaha lainny

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 52

    "Kenapa kamu masih melamun di sana, Siska? Cepat dandan! Kita tidak punya banyak waktu," teriak Hendri dari arah ruang kerja, suaranya terdengar tidak sabar. Siska menarik napas panjang. Ia mengambil gaun hitam itu. Saat kain sutra itu menyentuh kulitnya, ia teringat bagaimana Arga memujinya di vila kemarin. Arga bilang dia adalah wanita yang berkelas, bukan sekadar pajangan. Kepercayaan diri yang baru saja tumbuh itu membuatnya nekat mengenakan gaun tersebut. "Aku bukan lagi wanita yang bisa kamu atur sesukamu, Mas," bisik Siska pada pantulannya di cermin. Ia memoleskan riasan yang sedikit lebih tajam. Lipstik merah menyala menghiasi bibirnya. Ia terlihat segar, jauh lebih cantik daripada biasanya. Namun, di balik kecantikan itu, jantungnya berdegup tidak karuan. Ia merogoh tas tangannya, mencari ponselnya. Begitu layar menyala, Siska segera mengetik sebuah pesan untuk Arga. Tangannya sedikit gemetar saat menekan tombol huruf di layar. "Malam ini aku ikut Hendri ke Gala Din

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 51

    Jantung Siska berdebar sangat kencang, seolah ada genderang yang dipukul bertalu-talu di dalam dadanya. Siska meremas tali tas tangannya, mencoba mengatur napas agar terlihat tenang. Ia merasa seolah ada tulisan "Pengkhianat" yang tercetak jelas di dahinya. Begitu ia melewati ruang tamu, langkahn

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 50

    Cahaya matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui celah gorden vila, menelanjangi setiap jengkal dosa yang terjadi di balik pintu kamar itu semalam. Siska perlahan membuka matanya, merasakan berat yang hangat di pinggangnya. Ia masih berada di dalam pelukan Arga. Aroma tubuh pria itu, campur

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 49

    Siska terbaring dengan napas yang masih tersengal. Rambutnya yang panjang dan basah tergerai berantakan di atas bantal. Di bawah cahaya lampu tidur yang redup dan kekuningan, Siska menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang tidak menentu. Jantungnya berpacu begitu liar, seolah-olah ingin me

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 48

    Udara malam di pegunungan semakin menusuk, namun pikirannya jauh lebih dingin. Ia menatap hamparan kabut yang menyelimuti hutan pinus di bawah sana, merasa seolah hidupnya pun sedang tertutup kabut yang sama pekatnya. Siska memegang lengan bajunya, mencoba mencari kehangatan, sampai sebuah ketukan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status