Share

Bab 90

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-04-19 23:01:34

Layar televisi masih menyala, menampilkan siaran langsung dari depan kantor pusat Wijaya Group. Siska menatap layar itu dengan perasaan campur aduk. Dia melihat puluhan mobil hitam bertuliskan "Kementerian Keuangan" dan "Direktorat Jenderal Pajak" terparkir rapi menutupi pintu masuk.

"Lihat itu, Grace," bisik Siska dengan suara parau. "Kejayaan yang dibangun dengan air mata orang lain tidak akan pernah bertahan lama."

Di dalam siaran berita itu, terlihat petugas pajak sedang mengangkut pulu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 100

    Malam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan opini publik berubah menjadi malam yang paling sibuk di penthouse mewah milik Arga. Tidak ada lagi alunan musik klasik yang lembut atau makan malam romantis di bawah cahaya lilin. Ruang makan yang luas itu telah berubah fungsi menjadi sebuah pusat komando atau ruang perang. Meja kayu jati yang biasanya bersih kini tertutup tumpukan map cokelat, dokumen legal, laptop yang menyala, dan kabel-kabel yang melintang di mana-mana.Siska berdiri di dekat jendela besar, menatap kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Pikirannya masih melayang pada kejadian-kejadian sebelumnya, namun kini matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ada api baru yang menyala di sana, api keberanian untuk mengakhiri semuanya.Arga menghampiri Siska dari belakang. Dia tidak langsung bicara. Pria itu menyampirkan jaket wol lembut ke bahu Siska, lalu melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menghirup aroma lavender dari rambut wa

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 97

    Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden penthouse, membawa kehangatan yang terasa asing bagi Siska. Setelah badai emosi semalam, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih tenang. Kini, masalah internal di antara mereka telah tuntas. Rahasia kotak besi itu telah menjadi jembatan, bukan lagi jurang. Arga duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan Siska yang baru saja terbangun. Tangannya yang hangat mengusap dahi Siska dengan penuh kasih sayang. "Kita tidak bisa terus bersembunyi di sini, Siska," ujar Arga dengan suara yang lembut namun penuh wibawa. Siska menarik selimutnya sedikit lebih tinggi. "Aku takut, Ga. Di luar sana, orang-orang masih menganggapku sebagai istri yang melarikan diri. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi." Arga menggeleng pelan. Dia menggenggam tangan Siska dan mengecup punggung tangannya lama sekali. "Kamu tidak salah, sayang. Kamu adalah pahlawan. Kamu menyelamatkan nyawaku dulu, dan kamu menyelamatkan dirimu serta Grace dari monster sep

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 96

    Di sore yang syahdu itu, Tiba-tiba ada panggilan telepon dari kantor Arga, "Oke, aku akan segera kesana sekarang". "Ada apa, Ga? Selidik siska. "Biasalah, ada teman lama yang datang mampir ke kantor," jawab Arga. Arga berlalu bergegas ke kantor, tak lupa Arga pun memberikan kecupan manis di kening Siska. "Hati-hati dijalan, Ga." Jantung Siska masih berdegup kencang. Selama ini dia merasa terjebak dalam obsesi seorang pria muda yang berbahaya. Dia merasa seperti korban penipuan, atau lebih buruk lagi, seperti wanita simpanan yang hanya dijadikan alat pemuas ego. Namun sekarang, setelah melihat bekas luka yang sama di kulit mereka, segalanya berubah. Dunia Siska yang tadinya gelap dan penuh prasangka mendadak terang benderang. Dia bukan lagi "tante-tante simpanan" seperti yang sering dibisikkan orang-orang di luar sana. Dia adalah alasan Arga bertahan hidup selama lima belas tahun. "Apa aku pantas mendapatkan cinta sehebat ini?" bisik Siska pada kesunyian ruangan. Tiba-tib

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 95

    Keheningan kembali menyergap ruang kerja itu setelah badai pengakuan Arga mereda. Siska masih berdiri mematung, menatap pria di depannya dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, hatinya bergetar melihat pengabdian Arga yang begitu luar biasa selama belasan tahun. Namun di sisi lain, ada sebuah tembok besar yang menghalangi logikanya. Perbedaan usia mereka, masa lalu yang kelam, dan kenyataan bahwa Arga telah mengawasinya seperti sebuah objek selama ini membuat Siska merasa hubungan ini terasa salah. "Ga, ini terlalu berat untukku," bisik Siska sambil memalingkan wajah. "Kita berbeda. Aku adalah wanita yang sudah hancur oleh pernikahan yang gagal. Aku jauh lebih tua darimu. Masa laluku penuh dengan noda, sementara kamu... kamu punya masa depan yang begitu gemilang. Kenapa harus aku yang menjadi tujuan hidupmu?" Arga tidak menjawab dengan kata-kata kasar atau bantahan yang keras. Dia memper erat pelukannya, lalu Dia berlutut di depan Siska, bukan untuk memohon, melainkan untu

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 94

    Suara napas Arga terdengar berat di ruangan yang kini terasa semakin sempit bagi Siska. Pengakuan tentang kebakaran itu masih terngiang di telinganya, namun Arga belum selesai. Pria itu menatap foto-foto yang berhamburan seolah setiap lembarannya adalah potongan nyawa yang ia kumpulkan selama belasan tahun. "Setelah malam itu, Siska... setelah kebakaran, Satu-satunya hal yang aku ingat adalah wajahmu. Wanita yang menerobos api hanya untuk anak kecil yang tidak dikenal. Aku menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk mencarimu." Siska mundur selangkah, namun matanya tetap tertuju pada Arga. Dia melihat luka yang jauh lebih dalam dari sekadar bekas luka bakar di punggung pria itu. "Aku belajar seperti orang gila. Aku merangkak, tertatih hanya untuk bisa masuk ke lingkaran sosial yang sama denganmu," lanjut Arga. Matanya kini berkaca-kaca. "Dan saat aku akhirnya menemukanmu sepuluh tahun yang lalu, aku pikir aku akan datang padamu, memeluk kakimu, dan mengucapkan terima kasih. Ta

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 93

    Keheningan di dalam ruang kerja itu terasa begitu tebal, seolah-olah udara telah membeku di sekitar mereka. Siska masih berdiri mematung, jemarinya yang dingin mencengkeram erat foto candid dirinya yang diambil bertahun-tahun lalu. Di depannya, Arga berdiri tegak. "Apa yang kamu mau, Arga?" suara Siska pecah, terdengar seperti bisikan yang penuh luka. "Kenapa kamu punya foto-foto ini? Kenapa kamu mengikutiku selama bertahun-tahun tanpa aku sadari? Kamu... kamu penguntit?" Siska merasa terjebak. Pria yang selama ini dia anggap sebagai tempat berlabuh paling aman, kini terlihat seperti orang asing yang menyimpan ribuan rahasia gelap di balik matanya. Arga tidak langsung membela diri. Dia tidak tampak marah atau tersinggung. Pria itu justru melangkah mendekat secara perlahan. Setiap ketukan langkah kaki Arga di lantai kayu terasa seperti detak jantung kematian bagi Siska. "Jangan mendekat!" teriak Siska, meskipun suaranya tidak memiliki kekuatan. Arga berhenti tepat di hadapan

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 42

    Alih-alih pulang seperti yang diperintahkan Arga, Siska justru kembali menekan tombol kecepatan pada mesin treadmill di hadapannya. Angka digital itu menunjukkan kecepatan sepuluh, lalu sebelas, dan sekarang dua belas. Siska berlari layaknya dikejar setan, napasnya memburu tersengal-sengal, sementa

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 39

    "Jika dia cukup berani untuk muncul di depanku setelah apa yang dia lakukan padamu, maka dia harus bersiap untuk kehilangan lebih dari sekadar istrinya."Kalimat Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia menatap kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja marmer. Pagi ini, sebuah mobil d

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 37

    "Aku tidak akan pernah membiarkanmu memiliki kesempatan untuk menghilang satu detik pun dari pengawasanku, Siska." Kalimat obsesif Arga itu masih terngiang di kepala Siska, namun rasa panik dan sisa harga diri sebagai seorang istri mendadak bangkit kembali. Siska melepaskan diri dari dekapan Arga

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 36

    "Tidurlah yang nyenyak, karena mulai besok, kamu bukan lagi Nyonya Hendri Wijaya. Kamu hanya akan menjadi Siska milikku."Kalimat terakhir Arga semalam seolah masih bergetar di telinga Siska saat ia perlahan membuka matanya. Siska mengerjap, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu kris

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status