Mag-log inRuangan aula TK itu riuh seperti pasar malam; balon warna-warni menggantung bergoyang ringan di langit-langit, pita-pita berkelok menari ditiup angin, sementara puluhan anak kecil berlarian tanpa henti, seperti pasukan semut yang kebanyakan minum energen. Suara tawa mereka pecah di antara jeritan kecil dan dentingan musik anak-anak yang mengalun riang.
Di depan pintu aula, Akira berdiri membeku, tubuhnya kaku seperti patung lilin yang tak bernyawa. Jantungnya berdegup kencang, seolah genderang perang bergaung di dadanya. Keringat dingin menggenang di telapak tangannya, membuatnya harus mengusapnya berulang kali. “Gue benar-benar harus bisa bertahan di tempat kayak gini...” gumamnya lirih, suaranya nyaris pecah. Mata Akira mulai berkaca-kaca saat bayangan pagi tadi kembali menghantam pikirannya, membalik rasa takut yang sudah lama terkunci dalam dada. *** Pagi itu di koridor kampus yang ramai, tiba-tiba tangan Pak Arka mencengkeram lengan Akira dengan erat. Wajahnya datar, tanpa emosi. “Kamu ikut acara sekolah Azka,” ucapnya singkat. Jantung Akira berdegup kencang, napasnya mendadak tercekat. “Eh? Lho? Kenapa saya, Pak?!” suaranya bergetar. Pak Arka menatapnya dingin, tatapannya menusuk sampai membuat bulu kuduk Akira berdiri. “Dia butuh ibunya.” Akira menepis lengan itu dengan gugup. “Aku bukan ibunya, Pak!” Tanpa sedikitpun keraguan, Pak Arka menimpali, “Dia manggil kamu mama, bukan orang lain. Jadi pura-pura saja.” Mulut Akira ternganga, seperti ikan cupang yang kehabisan udara, tidak tahu harus berkata apa, sementara hati kecilnya tercekat menahan kebingungan yang tak terjelaskan. *** Sampai akhirnya… dia benar-benar ada di sini, berdiri di tengah-tengah keramaian pentas seni TK. Sendirian. Terjebak dalam riuh tawa dan tepuk tangan yang membuat dadanya sesak. “MA! Duduk sini, MA!” teriak Azka sambil menarik kuat tangannya. Seketika, ratusan pasang mata orang tua berbalik menatapnya. Akira merasa seolah jiwanya melayang, menjauh dari tubuh yang kaku dan beku. Wajahnya seperti dicubit es batu, dingin dan tegang. Napasnya tersengal, kaki gemetar tak tertahankan. Di sebelahnya, seorang ibu muda dengan make-up tebal, seolah siap menghadapi sidang, mulai menyelidik dari ujung kepala sampai ujung kaki Akira. “Eh… itu siapa, ya?” bisiknya pada ibu lain. “Kayaknya masih kuliah, deh.” “Pakaian santainya nggak cocok sama acara sekolah-sekolahan begini.” “Jangan-jangan… istri muda?” Akira menahan ludahnya yang nyaris keluar, hatinya berdebar kencang. “Is-tri mu-da?!” pikirnya, pipinya memerah sehangat kepiting rebus. Ia ingin bangkit, membela diri. Namun Arka sudah duduk di sampingnya, menatap dingin sambil berkata pelan, tapi menusuk, “Diam. Kamu cuma harus temani Azka.” “Pak, ini beneran ide buruk…” bisik Akira, putus asa. Arka menatapnya sekilas. “Tenang. Mereka cuma suka gosip.” “PAK! Itu bukan solusi!” Tapi dosen itu sudah kembali memasang wajah datar tak terganggu. *** Acara resmi dimulai, dan dari speaker mulai mengalun musik TK itu, entah kenapa di telinga Akira, melodi itu malah seperti lagu duka yang menggantung di udara. Anak-anak berputar-putar dengan riang, suara tawa dan nyanyian bercampur jadi satu. Tapi di sana, satu anak kecil menangis tersedu-sedu karena sayap kostumnya tiba-tiba copot. Akira duduk kaku, matanya hanya bisa mengangguk pelan, seperti mencoba menghilang ke dalam kursi. Tiba-tiba, Azka melesat ke panggung dengan penuh semangat. “Ma! Liat Azka yaaa!” suaranya ceria sambil melambai ke arah Akira. Sorot mata para orang tua mengarah ke Akira, penuh harapan dan haru, seperti sedang menyaksikan sebuah kisah keluarga yang harmonis. Akira merasakan tubuhnya mengeras. “Ma? Lagi? Astaga…” batinnya penuh putus asa. Ketika lagu “Bintang Kecil” mulai berkumandang, Azka berdiri tegap, wajahnya bersinar penuh percaya diri. “Bintang kecil… di langit yang biru…” Nafas Akira tertahan, seolah saat itu ada kehangatan yang menari-nari di ruang itu, manis dan menyenangkan. Tapi kehangatan itu hilang secepat kilat. Azka tiba-tiba berhenti bernyanyi dan berteriak lantang, “Mamaaa! Tepuk tangan dong MAAA!” Semua mata langsung berbelok ke arah Akira. Tangan Akira yang sebelumnya di pangkuan kini menggenggam keras. Arka di sampingnya menutup matanya, memijat pelipis seperti ingin mengusir sakit kepala yang semakin menyesakkan. Jiwa Akira terasa ringan, hampir lenyap dalam diamnya ruang itu. Akira langsung melonjak berdiri, tepuk tangannya menggema seperti orator di tengah keramaian demo. “T-tentu! Waaaah! Hebat Azkaa!!” serunya dengan penuh semangat. Namun, sorot matanya perlahan berubah jadi cemas ketika beberapa ibu muda di dekatnya mulai menahan tawa, menukik pandangannya ke arah ponsel yang mereka angkat untuk memotret. Bisikan kecil bergulir di sekitarnya, seperti jarum halus yang menusuk. “Romantis banget, ya.” “Suaminya dingin, istrinya ceria… cocok banget!” “Ciyeee, pasangan muda.” Kalimat itu bagai pisau berkarat, menusuk hati Akira di tiga sudut berbeda. Dadanya sesak, ingin ia melawan dan berteriak, “Bu… saya itu… BUKAN… istri siapa pun…” Namun yang keluar dari mulutnya cuma suara serak dan sesenggukan, “ihhik…” yang tak mampu membendung rasa sakit di dalamnya. Matanya berkilat menahan air mata yang mengancam tumpah. *** Azka baru saja turun dari panggung, napasnya masih tersengal-sengal. Tanpa basa-basi, dia berlari kecil dan melompat ke pelukan Akira. “Mama hebat! Mama yang tepuk tangannya paling kenceng!” serunya dengan mata berbinar. Akira menatap bocah itu sambil menahan senyum, dadanya terasa meleleh hangat. “Dek… aku bukan mama kamu, sayang,” ucapnya pelan, berharap suara itu terdengar lembut. Azka malah mengerutkan dahi, wajahnya serius, lalu berkata dengan suara kecil tapi penuh keyakinan, “Tapi Azka mau mama Akira…” Akira menoleh ke Arka, yang baru saja masuk, matanya menatap tajam ke arah bocah itu. “Azka…” Bocah kecil itu malah memeluk Akira lebih erat, seolah ingin meyakinkan dunia. “Pa, Azka nggak mau yang lain. Mau mama ini!” Suasana di aula langsung dipenuhi decak gemas serentak, “Aaaawwwww…” Sementara hati Akira bergemuruh dalam diam, berteriak dalam hati, "TOLONG HENTIKAN DRAMANYA…" *** Setelah acara usai, seorang guru TK melangkah mendekat dengan senyum selebar pelangi di wajahnya. "Wah, Azka beruntung banget punya mama muda dan cantik kayak kamu," pujinya dengan nada ringan. Akira tiba-tiba tersedak, napasnya tercekat tanpa sengaja. Di sampingnya, Arka mengeluarkan batuk kecil, entah menahan tawa geli atau menyembunyikan rasa kesal. "Eh… saya… ini… bukan..." Akira berusaha membela diri, tapi sebelum kalimatnya tuntas, guru itu sudah memotong, "Jangan sungkan! Kalau butuh kelas parenting, ibu siap bantu, lho!" Akira merasa seolah baru saja diludahi oleh malaikat kehinaan yang tak terelakkan. Jantungnya berdebar cepat, suara hatinya berteriak dalam kebingungan. "A-aku bukan..." Guru itu tak berhenti. "Besok ada pertemuan orang tua murid ya," tambahnya santai. Hati Akira seakan copot dan tercecer di lantai. "PAK ARKA!" bisiknya panik, langsung menoleh ke dosen killer di samping. Arka berdiri, menatap sang guru TK dengan anggukan singkat. "Baik, Bu. Mamanya akan hadir." “Mamanya? Hadir??” gemetar suara hati Akira. “PAKKKK!!” bisik paniknya semakin menjadi. Arka menatapnya datar, tatapan dingin yang menyentak. "Kamu mau IPK aman atau nggak?" Lutut Akira bergetar, seolah beban dunia menimpanya. "Gue cuma mau hidup tenang… kenapa malah jadi begini..." Di sela kekalutannya, tangan Azka menarik perlahan. "Mamaaa… abis ini makan es krim yaaa? Mama kan sayang Azkaaa?" Suara kecil itu seketika meredam gelisah Akira, tapi bayang-bayang kata-kata tadi masih terus membayangi pikirannya. Akira merasakan dua hal yang saling berseberangan di dadanya. Pertama, keinginan kuat untuk kabur jauh-jauh, menghindar dari situasi yang makin menyesakkan. Kedua, dorongan untuk mencubit pipi montok Azka yang tak henti membuatnya gemas. “Mama sayang kan?” Azka menatap Akira dengan mata berbinar-binar, senyumnya seperti melelehkan beku. Akira menghela napas panjang, menyerah tanpa daya pada takdir yang menghadangnya. “Iya, sayang…” jawabnya lirih, hampir tak terdengar. Arka menatapnya. L-A-M-A. Tatapan yang seperti ingin membaca sampai ke dasar hati dan mengorek dosa-dosa lama. “Apa liat-liat, Pak?” Akira bergumam pelan dalam hati, sedikit kesal tapi takut terbaca. Arka akhirnya bersuara, pelan namun menusuk hati, “Kamu terlalu cepat terbawa suasana.” Akira reflex membalas, “HEH?!” suaranya hampir pecah. Dengan wajah datar tanpa ekspresi, Arka melanjutkan, “Mulai besok, jaga jarak. Jangan terlalu manis, nanti Azka malah makin nempel.” Mata Akira membulat sebesar-besarnya. “PAK. SAYA. TIDAK. MANIS. SAYA. TERPAKSA.” ucapnya seperti membela diri. Tapi Arka tak bergeming, “Besok jam lima sore. Jangan terlambat.” Akira tercekat, “Apanya yang jam lima?” “Pertemuan orang tua murid,” jawab Arka singkat. Rasa terperangkap langsung menyerang. Akira merasa ingin menjatuhkan diri ke lantai aula TK itu. “GUE TERJEBAK. FIX. GUE DICIDUK TAKDIR,” batinnya panik. Sementara Azka, tanpa sadar, memeluk kaki Akira erat-erat. “Mama Akira, Azka cinta mamaaa!” suaranya penuh kasih sayang, membuat Akira campur aduk antara ingin tersenyum dan ingin menghela napas lagi. Para ibu langsung, “Aaaaaaawwwww..." Akira hanya bisa tersenyum kaku. Dan di dalam kepalanya. “Ya Tuhan… apakah hidupku akan terus begini…?”Pagi itu sinar matahari menyusup lembut melalui jendela, menerangi ruang tamu yang kini dipenuhi suara tawa dan langkah kaki kecil. Rumah yang dulu hening berubah menjadi pusat keramaian yang tak pernah padam sejak kabar kehamilan Akira tersebar. Dari dapur, suara Bu Sari memecah keheningan, tegas namun penuh perhatian, “Akira! Jangan banyak gerak!” Akira, yang baru saja melangkah menuju dapur dengan tangan menggenggam gelas kosong, seketika berhenti. Wajahnya memerah, sedikit cemas namun berusaha tenang. “Bu… aku cuma ambil minum…” suaranya lembut, namun terdengar ragu. Tanpa menoleh, Bu Sari memerintah, “Duduk!” Akira menuruti, menurunkan tubuhnya ke kursi kayu dengan gerakan pelan seperti anak kecil yang baru ketahuan berbuat salah. Matanya menatap ke lantai, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdegup cepat. Di sekelilingnya, suara kendaraan di jalan depan tersamarkan oleh suara percakapan serta langkah kaki yang menyatu, mengisi ruang yang dulu sunyi d
Pagi itu sinar matahari menembus tirai jendela dengan lembut, menciptakan garis-garis emas di lantai ruang tamu yang rapi. Udara hangat pagi menyelinap masuk, membawa aroma kopi dan kue panggang dari dapur. Azka, dengan rambut acak-acakan dan mata yang masih setengah mengantuk, berdiri di tengah ruang, suaranya menggema saat ia berteriak, "Ma! Sepatu aku mana?" Akira yang sedang sibuk mengaduk adonan di meja dapur, berhenti sejenak dan menoleh ke arah Azka. Wajahnya yang biasa tenang menampakkan sedikit kelelahan, namun suara balasannya tetap penuh kesabaran, "Di rak! Coba lihat dulu, jangan langsung teriak!" Suasana seketika hening. Azka mengernyit, lalu melangkah menuju rak sepatu di dekat pintu, matanya menyapu setiap pasang sepatu dengan teliti. Senyum kecil terbentuk di bibirnya saat akhirnya menemukan sepatu favoritnya yang berwarna biru tua. "OH IYA ADA," serunya penuh lega, suaranya kini lebih ceria. Di sudut dapur, Akira menghela napas ringan, matanya menatap putranya
Ruang sidang terasa hening, hanya suara langkah hakim yang menggema di antara deretan kursi kayu. Aluna berdiri tegak di depan meja terdakwa, wajahnya yang dulu penuh semangat kini berubah menjadi topeng kosong tanpa ekspresi. Matanya menatap lurus ke depan, seolah menolak untuk menangkap setiap kata yang keluar dari mulut hakim. "Aluna, Anda dinyatakan bersalah atas penculikan berencana, manipulasi data, dan pencemaran nama baik," suara hakim tegas namun dingin, menembus keheningan yang menyesakkan. Detik-detik itu seperti berjalan lambat, menahan nafas seluruh hadirin yang menyaksikan. Tak ada lagi senyum tipis yang dulu sering menghiasi bibir Aluna saat menghadapi masalah. Tidak ada perlawanan, hanya ketenangan yang terasa membeku, seperti seseorang yang telah menyerah pada nasibnya sendiri. Tangan Aluna menggenggam erat, namun tubuhnya tetap diam, menahan segala rasa yang mungkin berkecamuk di dalam. Di antara kerumunan, beberapa orang menahan napas, ada yang menatap iba, tapi
Perjalanan pulang kali ini berbeda. Kabin mobil terasa hampa, sunyi yang memeluk tanpa ampun. Akira duduk di samping jendela, tatapannya kosong menembus pemandangan yang bergerak perlahan, namun pikirannya malah tersesat jauh ke tempat yang tak bisa dijangkau. Bibirnya yang biasa meluncurkan candaan ringan kini terkatup rapat, wajahnya datar tanpa ekspresi. Di sebelahnya, Arka duduk diam. Tak ada kata yang terucap, hanya keheningan yang menekan udara di antara mereka. Namun, tangannya tetap erat menggenggam jari Akira, seolah ingin menyampaikan sesuatu tanpa suara. Sesekali Arka menoleh ke arah Akira, matanya mencari respons, ingin memastikan keberadaan satu sama lain di tengah kesunyian itu. Setiap kali tatapan itu bertemu, Akira membalas dengan anggukan kecil lembut, penuh pengertian seolah ingin mengatakan, “Aku masih di sini. Jangan pergi.” Meski kata-kata tak terucap, kehangatan itu mengisi ruang kosong di antara mereka, menjadi jembatan sunyi yang mengikat hati tanpa perlu sua
Ruang keamanan itu sesak bukan oleh dindingnya, melainkan oleh ketegangan yang menyelimuti udara. Lampu neon yang redup memantulkan bayangan samar di wajah Akira, yang duduk kaku di kursi logam dengan mata yang sesekali menatap kosong ke depan. Tangannya gemetar halus, seolah berusaha menahan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Di sampingnya, Arka berdiri tegak, tubuhnya membentuk benteng pelindung yang tak terlihat. Jemarinya menggenggam tangan Akira dengan kuat, memberi sinyal bahwa dia tak akan melepasnya dalam keadaan apapun. Suaranya lembut, hampir seperti bisikan yang berusaha menembus keheningan, "Sayang, kamu yakin nggak kenapa-kenapa?" "Iya..." Akira mengangguk, tapi napasnya yang tersengal mengkhianati kepura-puraannya. Dalam ruang itu, waktu seolah melambat, dan ketakutan yang tersembunyi di balik ketenangan membuat ruang itu terasa semakin sempit, menekan dada tanpa ampun. Arka menatap Akira dengan tatapan yang begitu dalam, seolah berusaha menyimpan seti
Pagi merayap masuk pelan lewat celah tirai kamar hotel. Cahaya hangat menerpa lantai, menciptakan suasana yang tenang, seolah semua akan berjalan biasa saja. Tapi tiba-tiba, suara kecil pecah, “Aduuhh…” Akira terbangun dan duduk di tepi ranjang, wajahnya mengerut penuh sakit. Tangannya otomatis memegang pinggang, dipijit pelan. “Pinggang gue... rasanya kayak mau copot,” keluhnya, suaranya hampir berbisik. Dia mencoba berdiri, tapi langsung berhenti, meringis lagi. Matanya melirik ke arah ranjang, di mana Arka masih terlelap, napasnya tenang seperti tak punya beban. Akira menghela napas, ada sedikit iri yang tak tersampaikan. Akira menyipitkan mata, alisnya mengerut menahan kesal. “Gara-gara pak dosen…” gumamnya dengan suara pelan, nyaris tak terdengar, “badan berasa remuk semua.” Bahunya yang biasanya tegap tampak sedikit membungkuk, tanda lelah yang ia rasakan sejak semalam. Namun, beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah perlahan. Senyum kecil merekah di bibirnya, m
Dua hari berlalu sejak keluarga Aluna datang, tapi rumah Pak Surya malah jadi riuh tak karuan. Telepon berdering tanpa henti, notifikasi pesan terus berdatangan di layar ponsel. Diana duduk terpaku di sofa, wajahnya berubah pucat saat membaca satu per satu isi pesan yang berisi pertanyaan penuh
Pagi menyusup tanpa permisi, cahaya matahari merambat lewat celah tirai, menyelimuti rumah dengan dingin yang bukan berasal dari AC. Akira terjaga lebih dulu, duduk di tepi ranjang tamu. Matanya menatap tas kecil yang tergeletak di lantai, bukan koper besar, bukan tanda pergi permanen, tapi cukup
Azka akhirnya terlelap, napasnya yang tenang membelah keheningan malam. Tangannya yang mungil masih erat mencengkeram ujung lengan baju Akira, seolah takut terbangun dan mendapati dirinya sendirian. Akira duduk terpaku di sofa, punggungnya kaku, matanya menatap kosong ke depan tanpa fokus. Rumah
Akira menggeleng, nyaris menangis. "Dengan tidak membuat dia berharap terlalu tinggi," ucapnya patah-patah. "Kalau suatu hari aku harus pergi..." Kalimat itu menggantung berat di udara, menandai retaknya yang mulai membekas. Arka melangkah mendekat satu langkah. “Jadi kamu sudah mempertimbangkann







