แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Syaard86
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-20 22:16:49

Pagi itu, Akira hanya berniat singgah sebentar, seperti biasanya. Mengantar Azka ke kelas, bilang “hai” sebentar ke gurunya, lalu kabur sebelum para ibu-ibu TK dengan radar gosip setajam satelit NASA menyadari kedekatan mereka. Namun rencana itu hancur dalam hitungan detik.

Begitu melewati gerbang, Azka tiba-tiba merangkul leher Akira erat seperti koala yang menemukan pohon favoritnya setelah sekian lama hilang. “Mama… Azka mau gendong terus,” suara kecil itu menggantung di udara.

Akira terpaku. Matanya mencari-cari cara menjauh tapi tubuh Azka enggan lepas. “Azkaaa… ini mama Kira ya, bukan mama beneran. Kamu nggak boleh panggil aku mama di sini,” ujarnya pelan, berusaha menarik napas agar tidak panik.

Tapi Azka justru mengencangkan pelukannya, wajahnya penuh tekad. “Nggak mau! Mau mama Kira!”

Di seberang halaman, beberapa ibu-ibu yang sedang mengantar anak serempak memutar kepala. Mata mereka membesar, saling bertukar pandang penuh arti, seperti kawanan flamingo yang menangkap momen unik lewat kamera. Bisikan tak terlihat sudah mulai berderai di udara.

Akira menelan ludah, jantungnya berdegup lebih kencang. “Ini awal yang buruk... sangat buruk.”

Arka berdiri di samping Akira, menghela napas panjang yang hampir tak tertahankan. Matanya menatap tajam tanpa sedikit pun rona emosi, seperti dosen yang baru saja menemukan mahasiswanya salah mengumpulkan tugas—untuk ketujuh belas kalinya.

“Sudah. Lepaskan saja,” ucapnya pelan, nada suaranya dingin dan nyaris tak peduli. “Biar dia turun sendiri.”

“Tapi dia nempel banget, Pak! Anak ini lengket kayak lem tikus!” suara Azka memekik sambil menggantungkan seluruh berat tubuhnya pada Akira.

Akira terhuyung ke belakang, berusaha keras menjaga keseimbangan agar tidak menabrak pot bunga di depan gerbang TK. Napasnya memburu, keringat dingin mulai membasahi keningnya.

Di sekitar mereka, ibu-ibu yang sedang berkumpul tiba-tiba serentak menahan napas. “Ya ampun, Bu... eh, Mbak?” seorang ibu tergagap, matanya membesar.

“Lucu banget anaknya, mirip banget sama ibunya,” celetuk yang lain sambil tersenyum penuh bisik.

“Pacarnya Pak Arka, ya, Mbak?” bisik seorang ibu dengan suara serendah mungkin, tapi jelas terdengar sampai ke sudut taman seolah dunia mengatur agar bisikan itu terdengar sampai Bekasi.

Akira menggigit bibir, merasa ingin menjerit sekeras-kerasnya. Kenapa sih, seakan seluruh alam semesta bersepakat membuatnya dianggap istri Arka?

Di sampingnya, Arka tetap dengan sikap tenang, tangan santai masuk saku celana, wajahnya datar tanpa dosa seolah kejadian ini cuma tontonan gratis yang tak perlu ia ambil pusing.

Arka menatap Azka dengan suara tegas, “Azka, turun.”

Namun, bocah itu malah ngambek, pelukannya ke leher Arka makin erat. “Enggak!” gumam Azka, menolak melepaskan diri.

Arka menarik napas panjang, mencoba menenangkan suasana. “Kalau nggak turun, nanti Papa...” ancamnya pelan.

Seketika wajah Azka berubah, matanya membulat ketakutan. “Papa marah?” tanyanya ragu.

Arka mengangkat alis, “Papa sedih.”

Bibir Azka mulai gemetar. Air mata tumpah, menetes hangat di pipinya. Astaga, plot twist tanpa diduga.

“Tapi... Azka mau sama mama Kiraaa...” suara lirihnya pecah dalam isak.

Tanpa sadar, air mata Azka membasahi bahu Akira yang berdiri tak jauh. Beberapa ibu-ibu di sekitar sigap mengeluarkan tisu, cepat sekali.

“Duh, kasihan banget... anaknya deket banget sama mamanya ya,” salah satu ibu bergumam, wajahnya penuh simpati.

“Ih, beneran mirip, lho! Dari hidungnya...” timpal yang lain sambil senyum manis.

“Udah sah aja deh, Pak Arka sama Mbaknya... manis banget keluarganya,” komentar seorang ibu lagi, suaranya menggambarkan anggapan hangat, walau tanpa diminta.

Arka cuma bisa menutup wajah dengan telapak tangan, setengah meringis. “Bu.. eh, Mbak Akira bukan...” dia terhenti.

Salah satu ibu dengan santai memotong, “Ih, Pak, nggak apa-apa kok! Kita semua ngerti, kok. Anak TK di sini banyak yang orang tuanya nikah muda. Tenang aja, kita open-minded.” Arka terasa sesak, hampir tersedak udara.

Sementara Akira cuma diam membeku, menelan semua komentar itu tanpa bisa berkata apa-apa.

Azka masih menempel erat di tubuh Akira, seperti tas ransel edisi terbatas yang susah dilepas. Butuh waktu lima menit dan bantuan dua guru untuk membebaskan Azka dari pelukan itu. Begitu tubuhnya kembali menginjak lantai, bocah itu langsung meledak dalam tangisan, meraih Akira dengan tangan gemetar.

“Azka mauuu! Mau mama Kiraaa!” teriaknya putus asa, wajahnya merah padam.

Guru kelas A mendekat pelan, suaranya lembut penuh pengertian, “Tenang, Bu… eh, Mbak Akira… nanti kalau sudah mulai pelajaran, dia pasti lupa.”

Arka menghembuskan napas berat, suaranya serak menahan emosi, “Dia bukan...”

“Tenang, Pak Arka, kami paham kok,” sang guru membalas dengan senyum yang seolah menyembunyikan cerita lebih dalam.

Arka hanya bisa terdiam, matanya kosong. Akira di sisi lain, merasa campur aduk ingin tertawa sekaligus menangis terjebak dalam pusaran perasaan yang sulit dijelaskan.

Saat Azka akhirnya melangkah masuk kelas, Akira menarik napas panjang, merasakan kebebasan pertama setelah perjuangan melelahkan selama lima belas menit mempertahankan tulangnya dari amukan pelukan putranya.

Namun ketenangan itu sekejap saja, baru tiga detik Akira berbalik, sudah ada sekumpulan ibu-ibu mengepungnya, berdesakan seperti fans yang mengerubuti idolanya tanpa pengawal.

“Mbak… mbak beneran istrinya Pak Arka?” suara cecilan ibu-ibu itu terdengar tanpa henti.

“Tuh, kok dia manggilnya ‘mamaaa’ gitu, lucu banget sih!” “Kalian nikah di mana, ya? Kok aku nggak pernah denger ceritanya?”

“Dulu kan kayaknya Pak Arka jomblo, ya? Jangan-jangan nikah diam-diam, nih?”

“Wah, romantis banget, sih...”

Akira menahan senyum kaku, menatap anak-anak kecil itu dengan mata yang setengah terpejam. Bibirnya tercekat, mencoba merangkai kata yang tepat.

“Eng… saya… bukan… istri… beliau…” ucapnya pelan, suaranya bergetar sedikit.

Seorang bocah membalas dengan tatapan polos. “Tapi masa sih? Anak kecil nggak mungkin bohong, kan?”

Hati Akira sesak. Ada keinginan besar meluncur keluar, ingin berkata, ANAK KECIL MALAH PALING SERING NGOMONG NGGAK PAKAI FILTER, BU!, tapi suaranya tercekik dalam.

Dia menunduk, menelan ludah, berharap cepat-cepat ini berlalu. Akira hanya ingin hidup normal. Dia ingin bebas lewat gerbang TK tanpa harus dikejar ibu-ibu yang cerewet bertanya tentang garis keturunan Azka.

Tangan Arka menyentuh bahunya dengan lembut, diiringi suara berat, “Ayo pulang.”

Pundak Akira terasa turun, lemas menyerah. Dia mengikutinya tanpa berkata apa-apa, melangkah menuju mobil dengan langkah yang berat.

Di dalam mobil, hening. Arka menyetir seperti biasa wajahnya tenang tapi dingin, ekspresinya datar hingga membuat suasana terasa kaku. Terlalu tampan untuk diabaikan, pikir Akira, tapi justru itu yang membuatnya semakin ruwet.

Akira menyilangkan tangan di dada, matanya menatap lurus tapi wajahnya memperlihatkan kegelisahan. “Pak, gara-gara Azka, ibu-ibu itu malah mikir saya istri Bapak…” suaranya terdengar setengah marah, setengah takut.

“Biarkan saja,” Arka menjawab pelan, tanpa menatap Akira.

“BIARKAN?” Akira mengernyit, merasa tak percaya.

Arka melirik sebentar, matanya menatap dengan dingin tapi tenang. “Kalau kamu panik, mereka malah makin curiga.”

“Astaga… Pak Arka, saya ini cuma mahasiswi, bukan cameo drama keluarga sinetron!” keluh Akira sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan diri.

Arka diam, tapi sudut bibirnya naik sedikit hanya sekilas, hampir tidak terlihat. Akira menatapnya dengan heran. Dia… tersenyum?

“Nggak mungkin,” batinnya.

“Apa itu benar-benar senyum?”

“Tapi besok,” Arka menyela tiba-tiba, “kamu yang antar Azka ke sekolah.”

“Hah? Nggak! Ibu-ibu itu udah siap bikin grup gosip baru khusus buat saya!”

Akira mengernyit bingung. “Kamu cuma perlu datang. Biar Azka nggak tantrum,” kata Arka dengan nada datar tapi pasti.

“Lah, kenapa saya harus sendirian? Kan Bapak ayahnya...”

Arka tak lanjut bicara, hanya menatap tajam tanpa berkata apa-apa. Akira menggigit bibir, sadar percakapan ini belum selesai tapi tak punya jawaban lain.

Arka memotong, “Karena kalau aku ikut, ibu-ibu akan makin ribut. Kamu datang sendiri saja. Mereka pasti menganggap kamu ibunya dan berhenti bertanya.”

Akira hampir pingsan.

“PAK ARKA…”

“Ya?”

“Yang bikin masalah itu ya BlAPAK! Kok saya yang disuruh jadi peredam gosip?!”

Arka hanya menjawab dengan kalimat menenangkan yang sama sekali tidak menenangkan:

“Besok pagi jam tujuh, saya jemput.”

Saat mobil berhenti di depan kos Akira, dia membuka seatbelt tanpa tenaga.

“Besok ya,” ulang Arka.

“Pak Arka… saya bukan babysitter…”

“Kamu yang mulai,” jawab Arka santai. “Kamu yang memeluk Azka duluan.”

“Itu dia yang nempel! Azka kayak lem setan! Saya korban!”

Arka tampak berpikir. “Lem setan?”

“Figuratif, Pak!”

Arka mengangguk seolah itu pelajaran baru yang sangat menarik.

Akira turun dengan langkah gontai. Sebelum menutup pintu mobil, Arka sempat berkata:

“Kira.”

Akira tertegun.

Arka jarang sekali menyebut nama depannya.

“Apa…?”

“Terima kasih.”

Kalimat itu sangat sederhana.

Tapi disampaikan dengan suara datar Arka, kalimat itu justru terasa… tulus.

Akira menutup pintu pelan, bingung dengan rasa aneh di dadanya.

Deg-degan?

Kesal?

Capek?

Semua?

Yang jelas, besok akan menjadi hari yang kacau lagi.

Dan Akira belum siap sama sekali.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 51

    Arka menatap layar ponselnya, napasnya tercekat saat nama ibunya tertera jelas. Bukan pesan biasa yang dia harapkan, “Arka, pulang ya.” Kali ini hanya tertulis singkat, penuh perintah. “Datang ke rumah sekarang.” Nada pesan itu dingin dan tanpa kompromi, seolah menutup ruang untuk alasan apa pun. Baru saja selesai mengoreksi tumpukan tugas mahasiswa, ponselnya kembali bergetar. Pesan selanjutnya muncul, membuat dadanya semakin berat. "Sore ini keluarga Aluna datang. Kita akan makan malam bersama." Arka menutup mata sejenak, menahan desah yang enggan keluar. Udara di ruang kerja mendadak terasa sesak, seperti dinding ikut menekan dan merekam beban di dadanya. Makan malam itu bukan sekadar acara biasa. Arka tahu benar, itu adalah langkah yang sudah lama direncanakan orang tuanya sebuah keputusan yang siap dipaksakan padanya. Pikirannya melayang pada Azka, putranya. Ingatan tentang tawa ceria Azka kemarin, cerita-cerita kecil tentang “Mama Akira”, serta wajah cerah anak itu yang

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 50

    Akira baru menyadari ada yang aneh ketika senyumnya mengembang sendiri saat menyeduh kopi pagi itu. Bukan karena ada yang lucu, bukan juga dari notifikasi yang masuk. Matanya terpaku pada bayangan Arka yang kemarin menatap Azka dengan tatapan hangat di mobil, tenang, penuh arti, seperti menemukan rumah. Dada Akira tiba-tiba terasa sesak, seperti ditekan sesuatu. “Gue nggak boleh sejauh ini,” bisiknya pelan, suara nyaris tenggelam dalam keheningan pagi Minggu yang seharusnya santai. Tapi hatinya berat, penuh perasaan yang sulit ia tempatkan. Ia pun kabur ke kafe langganan, ditemani Naya dan Lintang. Lintang datang lebih dulu, tangannya sibuk mengaduk es kopi tanpa ekspresi. Tak lama, Naya datang dengan mata mengamati Akira penuh rasa ingin tahu. “Ekspresi lo tuh,” kata Naya tajam, menatap Akira, “ekspresi orang yang baru jatuh… tapi masih ngotot ngelawan.” Akira mendengus, menjatuhkan tas ke kursi tanpa semangat. “Gue cuma capek.” Lintang mengangkat alis, senyum nakal te

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 49

    Perjalanan ke mal baru saja dimulai, tapi Akira sudah merasakan gelisah. Ia duduk di kursi depan, posisi yang langsung ia sesali setelah lima menit berlalu. Dari kursi belakang, suara Azka memecah keheningan. “Papa,” suara kecil itu terdengar penuh tanya, “Mama Akira duduknya kok di depan?” Akira spontan menoleh, menahan napas. “Supaya nggak pusing,” jawabnya cepat. Azka mengerutkan dahi, raut wajahnya serius. “Tapi Mama itu harus di belakang. Sama Azka.” Arka menatap spion dengan dingin. “Mama Akira bukan mama kamu,” ucapnya singkat. Azka tak segera menjawab, malah menatap ayahnya dalam-dalam, penuh makna. “Belum,” katanya mantap, tanpa ragu. Akira nyaris tercekik, buru-buru menoleh ke belakang. “Azka,” suaranya terbata, “kata ‘belum’ itu berbahaya.” Azka malah tersenyum polos, seperti sedang mengutip pelajaran dari Oma. “Kata Oma juga gitu.” Arka menarik napas panjang, batuk kecil pecah di udara yang tiba-tiba hening. Akira menunduk, matanya tertuju pada jendela, b

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 48

    Hari Minggu datang tanpa pemberitahuan, seperti tamu yang mengetuk pintu di waktu yang belum semestinya, lalu duduk tanpa pamit. Azka duduk terpaku di karpet ruang keluarga, dikelilingi mainan yang biasanya bisa menghibur, tapi hari ini terasa hampa. Deretan mobil-mobil kecil tersusun rapi di lantai, buku gambar terbuka di meja, televisi menayangkan kartun favoritnya, tapi matanya kosong, tak satu pun menarik perhatian. Napasnya tertahan, lalu menghembus perlahan, terdengar desah kecil, kemudian makin berat. Ia menoleh ke jam dinding, masih pagi. Terlalu pagi untuk merasakan kebosanan, tapi sepi yang menghimpit membuatnya gelisah. “Papa,” suara kecilnya memecah sunyi. Arka yang tengah fokus pada tablet menoleh, matanya menyiratkan kesabaran. “Kenapa?” tanyanya. Azka menggeser badan, merapat ke kaki ayahnya, bersandar seolah mencari sandaran lebih dari sekedar tubuh. “Hari ini… kok lama banget, ya?” gumamnya dengan nada ragu. Arka tersenyum tipis, meletakkan tablet

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 47

    Sore menyusup perlahan, membawa pulang Azka dengan langkah ringan yang tak lagi berat seperti pagi tadi. Akira duduk bersandar pada motor listriknya di depan sekolah, helm tergantung santai di lengan. Ketika Azka muncul di gerbang, bocah itu langsung berlari kecil, tasnya berguncang tak beraturan. “Mama Akira!” teriak Azka, tubuh kecilnya menubruk Akira dalam pelukan penuh semangat. Akira berjongkok, membuka tangan lebar-lebar, merasakan kehangatan dan energi yang membanjiri. “Gimana sekolahnya?” tanyanya lembut sambil merapikan rambut Azka yang berantakan karena lari. “Baik!” jawab Azka mantap, mata berbinar. “Azka bilang ke Bu Guru kalau Mama Akira yang antar.” Akira terkekeh pelan, wajahnya memerah tipis. “Terus Bu Guru bilang apa?” “Dia senyum. Terus bilang, ‘wah’,” kata Azka sambil menirukan ekspresi guru mereka. Akira mengangguk serius, merasa bangga. “Berarti itu respon positif.” Azka melompat naik ke motor dengan wajah puas, sementara di kaca spion, tanpa

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 46

    Pagi itu dimulai dengan keributan kecil yang bikin Arka terus melirik jam dinding, kali kelima dalam dua menit. Azka duduk di tepi ranjang, seragam TK sudah rapi, tas sudah nyangkut di pundak, tapi wajahnya tetap muram, muram kayak bilang, “Aku nggak akan keluar rumah kalau Mama Akira nggak yang nganterin.” “Azka,” suara Arka bergetar sabar, “Papa telat, ya.” Azka menggeleng kuat. “Azka mau Mama Akira yang antar.” Arka mencoba meyakinkan. “Papa bisa kok.” “Nggak mau,” jawab Azka dengan nada yang sama tegasnya. Napas Arka pelan-pelan meluncur panjang, rasa capeknya bukan main. Jauh lebih melelahkan daripada rapat panjang di fakultas. Dengan berat hati, dia meraih ponsel dan memanggil satu nama yang sebenarnya ingin ia hindari pagi-pagi. Nada sambung berdering. Satu... dua... “Halo?” suara Akira terdengar berat, masih beratkan kantuk. “Maaf,” Arka buru-buru bilang, “Aku... butuh bantuan.” Di ujung sana, Akira terdiam sesaat lalu tertawa pelan. “Azka?” “Ngambek.”

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status