Share

Bab 2

Penulis: Syaard86
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-06 14:38:42

Angin sore di taman kampus tiba-tiba terasa berhenti, seolah ikut menahan napas menyaksikan situasi genting di depan dosen killer itu. Akira berdiri kaku, dadanya sesak, tatapannya tak berani menantang balik sorot tajam Arka. Dosen itu terkenal membuat mahasiswa stres sampai rambut mereka rontok satu per satu. Irit bicara, jarang senyum, dan lebih parah lagi sering memberi nilai rendah tanpa ampun.

"Kamu mau menculik anak saya!" tuduh Arka tiba-tiba, matanya melotot seperti pedang siap menancap di dada Akira.

Tangan Akira mulai basah oleh keringat dingin, jemarinya gemetar meremas ujung bajunya, kepalanya menunduk dalam-dalam.

"Mana berani saya menculik anak kecil. Dia yang nyamperin saya dan ngira kalau saya mamanya, Pak," suaranya bergetar, berusaha tetap tenang. Sekilas ia melirik anak kecil yang digendong Arka, bibirnya menekan keras agar tak meluapkan kekesalan dalam hati.

"Kenapa gue mesti ketiban sial cuma gara-gara anak ini," gumamnya penuh kegeraman.

"Modus," Arka menyeringai sinis, matanya tak pernah lepas dari Akira, seakan menyulut bara yang sudah membara.

Kedua mata Akira melebar, tak percaya mendengar ucapan dosen killer itu. Ia menatapnya dengan susah payah menyembunyikan keraguan. "Beneran, Pak. Saya nggak bohong. Bohong itu dosa, dan dosa itu masuk neraka," jawab Akira dengan muka serius, seolah menegaskan kebenarannya.

Di sisi lain, Azka mendongakkan wajah polosnya, matanya menatap Akira penuh harap. "Azka mau sama mama, Pa," rengeknya lirih, seolah Akira benar-benar adalah sang ibu.

Arka memandang anaknya dengan tajam, suaranya tiba-tiba berubah dingin. "Azka, dia bukan mama kamu," tegasnya.

Wajah Azka langsung suram, seolah langit kelabu yang siap turun hujan kapan saja. "Tapi mama baunya enak..." bisiknya pelan.

Akira terpaku, menatap tangannya, lalu mencium pergelangan tangannya sendiri. “Baunya enak? Dari mana ya...” pikirnya bingung, padahal hanya parfum murahan yang ia beli dari toko serba lima ribu.

Arka menghela napas panjang, gelisah. Ia menoleh ke Dini yang berdiri kaku di sana, tubuhnya seperti orang-orangan sawah yang akan roboh tersapu angin kapan saja.

"Jadi, anak saya tiba-tiba datang sama kamu dan manggil kamu mama begitu?" tanyanya, suaranya penuh tanda tanya sekaligus keheranan.

Akira buru-buru mengangguk, suaranya terbata-bata. "I-iya, Pak. Sumpah demi IPK saya, sama sekali nggak ada niat jahat."

Gugup membuat dadanya sesak, jantungnya berdebar tak karuan.

Arka mendengus sinis, matanya menyipit tajam. "Emang IPK kamu tinggi?" tanya Arka, nada suaranya menusuk.

Akira terdiam sejenak, bingung memilih jawaban. Kalau bilang tinggi, takut langsung dicek oleh dosen killer itu. Kalau bilang rendah, harga dirinya terpukul habis.

Dengan suara datar, ia akhirnya menjawab, "Em, standar saja..."

Arka mengangguk pelan lalu menurunkan Azka dari gendongannya. "Pangasuh Azka tiba-tiba kabur, saya masih ada kelas sebentar lagi," ujarnya singkat.

Pandangannya lalu mengalir ke Akira, yang tengah berdiri dekat situ. Dengan dagu, Arka menunjuknya. "Kamu... bantu jagain Azka."

Mendengar itu, mata Akira membulat sempurna, seakan hampir terlepas dari rongganya. Tubuhnya menegang, dan suara kecilnya tercekat, "Eh, saya...?"

Keheningan sesaat mengambang, kecanggungan jelas terpancar dari wajahnya. Akira pun cuma bisa menatap mereka, jantungnya masih berdegup kencang tanpa bisa berhenti.

Akira mengerutkan dahi, berusaha menahan rasa cemas yang makin mengganjal. "Tapi, Pak… saya sama sekali nggak punya pengalaman jagain anak kecil," suaranya bergetar, berusaha menjelaskan sebelum dosen killer itu benar-benar menyerahkan anaknya padanya.

Arka memotong tanpa basa-basi, nada suaranya dingin dan tegas. "Belajar, apa susahnya."

Jawaban itu tajam, sampai Akira hampir tersedak ludahnya sendiri karena ketegasan itu. Akira menghela napas panjang, mencoba bersuara lagi, "Tapi, Pak..."

Tatapan Arka menusuk. "Kalau kamu menolak, ingat siapa yang bakal tanda tangan lembar penilaian akhir kamu," ancamnya santai, seolah itu hanya hal sepele.

Namun bagi Akira, kata-kata itu seperti bom yang siap meledakkan masa depannya. Jantungnya berdebar tak karuan, wajahnya memucat. Dia tahu, tolakannya bukan pilihan.

Tiba-tiba, suara polos Azka memecah ketegangan. "Mama, kita main ke sana yuk."

Akira menatap bocah kecil itu, raut polos dan penuh harap. Dadanya sesak, dia menghela napas pelan. "Dek, aku bukan mama kamu. Aku ini cuma mahasiswi dari papa kamu," ucapnya perlahan, mencoba menyampaikan dengan lembut agar Azka mengerti.

Azka tiba-tiba menatap Akira dengan mata berbinar. "Mama baik deh, Azka suka," ujarnya polos.

Akira segera menggeleng, jemarinya menepuk-nepuk jidat sendiri, seolah menahan gejolak dalam hatinya. "Mama lagi?" gumamnya tak percaya, sebelum suara keras dalam benaknya menggema. "Astaga! Gue bukan mama lo! Gue Akira, dan sampai kapan pun gue nggak bakal jadi mama lo!"

Arka, dengan langkah tegap, merapikan kemejanya lalu menyerahkan tas kecil milik Azka ke tangan Akira. "Cuma setengah jam. Jaga dia baik-baik, jangan sampai kenapa-kenapa. Jangan kasih makanan manis berlebihan," perintahnya tegas sambil berlalu tanpa menoleh.

Akira terpaku, matanya menatap punggung Arka yang menjauh, sementara kedua tangannya mencengkeram tas kecil itu seolah mencari pegangan di tengah kekacauan pikirannya.

"Gimana ceritanya gue harus ngasuh anak orang? Gue sama sekali belum pernah ngasuh anak, bahkan pacaran aja gue belum pernah!" pikirnya panik.

Rasanya dunia berputar makin kencang, menghantamnya dengan kenyataan yang tak pernah ia bayangkan. "Ya Tuhan, kenapa hidup gue jadi segedebag gedebug gini!" gumamnya getir, menelan rasa takut dan bingung yang membuncah. Ingin rasanya ia menangis sambil guling-guling di tengah taman.

Tapi apalah daya, di sampingnya ada anak kecil yang tengah menatapnya penuh harap. Apalagi kedua matanya yang bulat berbinar serta pipinya yang tembam membuatnya gemas ingin menciumnya.

“Mama,” panggil Azka sambil menggoyangkan tangan Akira dengan lembut.

Mata Akira membelalak, berkedip pelan seolah ingin memastikan ini bukan mimpi. Tapi kenyataannya memang nyata anak dosennya benar-benar memanggilnya mama.

Azka menarik tangan Akira dengan penuh semangat sambil menunjuk ke ayunan besar di bawah pohon rindang tak jauh dari mereka. “Main ayunan sama Azka, yuk, Ma. Mama mau kan?”

Tubuh Akira membeku sesaat, dadanya berdebar. Ia menatap wajah mungil Azka yang penuh harap, lalu melirik ayunan yang bergoyang pelan, seolah memanggilnya. Sebuah jebakan manis dari si kecil yang mustahil untuk ditolak.

Akira menghela napas panjang, dadanya naik turun menahan beban yang terasa semakin berat. "Oke... ini demi IPK," bisiknya lirih, seolah membujuk dirinya sendiri agar kuat menjalani tantangan yang akan datang.

Matanya menatap tajam ke arah Azka yang sedang berdiri di depannya, wajah mungil bocah itu penuh kepercayaan dan harapan. Akira mengangguk pelan, berusaha menanamkan keberanian di dalam dirinya.

“Jadi mama bohongan, siapa takut!” gumamnya dengan senyum tipis yang berusaha menyembunyikan kegelisahan. Perlahan, ia menggenggam tangan kecil Azka dan menggandengnya erat.

Keduanya melangkah menuju ayunan di sudut taman, langkah mereka serasi meski hati Akira masih diliputi keraguan. Angin sore yang sejuk mengibarkan rambut mereka, namun tekad Akira tetap membara. Dalam hatinya, ia berjanji akan melakukan yang terbaik demi masa depan akademiknya, walau harus berperan sebagai “mama bohongan” sekalipun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 51

    Arka menatap layar ponselnya, napasnya tercekat saat nama ibunya tertera jelas. Bukan pesan biasa yang dia harapkan, “Arka, pulang ya.” Kali ini hanya tertulis singkat, penuh perintah. “Datang ke rumah sekarang.” Nada pesan itu dingin dan tanpa kompromi, seolah menutup ruang untuk alasan apa pun. Baru saja selesai mengoreksi tumpukan tugas mahasiswa, ponselnya kembali bergetar. Pesan selanjutnya muncul, membuat dadanya semakin berat. "Sore ini keluarga Aluna datang. Kita akan makan malam bersama." Arka menutup mata sejenak, menahan desah yang enggan keluar. Udara di ruang kerja mendadak terasa sesak, seperti dinding ikut menekan dan merekam beban di dadanya. Makan malam itu bukan sekadar acara biasa. Arka tahu benar, itu adalah langkah yang sudah lama direncanakan orang tuanya sebuah keputusan yang siap dipaksakan padanya. Pikirannya melayang pada Azka, putranya. Ingatan tentang tawa ceria Azka kemarin, cerita-cerita kecil tentang “Mama Akira”, serta wajah cerah anak itu yang

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 50

    Akira baru menyadari ada yang aneh ketika senyumnya mengembang sendiri saat menyeduh kopi pagi itu. Bukan karena ada yang lucu, bukan juga dari notifikasi yang masuk. Matanya terpaku pada bayangan Arka yang kemarin menatap Azka dengan tatapan hangat di mobil, tenang, penuh arti, seperti menemukan rumah. Dada Akira tiba-tiba terasa sesak, seperti ditekan sesuatu. “Gue nggak boleh sejauh ini,” bisiknya pelan, suara nyaris tenggelam dalam keheningan pagi Minggu yang seharusnya santai. Tapi hatinya berat, penuh perasaan yang sulit ia tempatkan. Ia pun kabur ke kafe langganan, ditemani Naya dan Lintang. Lintang datang lebih dulu, tangannya sibuk mengaduk es kopi tanpa ekspresi. Tak lama, Naya datang dengan mata mengamati Akira penuh rasa ingin tahu. “Ekspresi lo tuh,” kata Naya tajam, menatap Akira, “ekspresi orang yang baru jatuh… tapi masih ngotot ngelawan.” Akira mendengus, menjatuhkan tas ke kursi tanpa semangat. “Gue cuma capek.” Lintang mengangkat alis, senyum nakal te

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 49

    Perjalanan ke mal baru saja dimulai, tapi Akira sudah merasakan gelisah. Ia duduk di kursi depan, posisi yang langsung ia sesali setelah lima menit berlalu. Dari kursi belakang, suara Azka memecah keheningan. “Papa,” suara kecil itu terdengar penuh tanya, “Mama Akira duduknya kok di depan?” Akira spontan menoleh, menahan napas. “Supaya nggak pusing,” jawabnya cepat. Azka mengerutkan dahi, raut wajahnya serius. “Tapi Mama itu harus di belakang. Sama Azka.” Arka menatap spion dengan dingin. “Mama Akira bukan mama kamu,” ucapnya singkat. Azka tak segera menjawab, malah menatap ayahnya dalam-dalam, penuh makna. “Belum,” katanya mantap, tanpa ragu. Akira nyaris tercekik, buru-buru menoleh ke belakang. “Azka,” suaranya terbata, “kata ‘belum’ itu berbahaya.” Azka malah tersenyum polos, seperti sedang mengutip pelajaran dari Oma. “Kata Oma juga gitu.” Arka menarik napas panjang, batuk kecil pecah di udara yang tiba-tiba hening. Akira menunduk, matanya tertuju pada jendela, b

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 48

    Hari Minggu datang tanpa pemberitahuan, seperti tamu yang mengetuk pintu di waktu yang belum semestinya, lalu duduk tanpa pamit. Azka duduk terpaku di karpet ruang keluarga, dikelilingi mainan yang biasanya bisa menghibur, tapi hari ini terasa hampa. Deretan mobil-mobil kecil tersusun rapi di lantai, buku gambar terbuka di meja, televisi menayangkan kartun favoritnya, tapi matanya kosong, tak satu pun menarik perhatian. Napasnya tertahan, lalu menghembus perlahan, terdengar desah kecil, kemudian makin berat. Ia menoleh ke jam dinding, masih pagi. Terlalu pagi untuk merasakan kebosanan, tapi sepi yang menghimpit membuatnya gelisah. “Papa,” suara kecilnya memecah sunyi. Arka yang tengah fokus pada tablet menoleh, matanya menyiratkan kesabaran. “Kenapa?” tanyanya. Azka menggeser badan, merapat ke kaki ayahnya, bersandar seolah mencari sandaran lebih dari sekedar tubuh. “Hari ini… kok lama banget, ya?” gumamnya dengan nada ragu. Arka tersenyum tipis, meletakkan tablet

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 47

    Sore menyusup perlahan, membawa pulang Azka dengan langkah ringan yang tak lagi berat seperti pagi tadi. Akira duduk bersandar pada motor listriknya di depan sekolah, helm tergantung santai di lengan. Ketika Azka muncul di gerbang, bocah itu langsung berlari kecil, tasnya berguncang tak beraturan. “Mama Akira!” teriak Azka, tubuh kecilnya menubruk Akira dalam pelukan penuh semangat. Akira berjongkok, membuka tangan lebar-lebar, merasakan kehangatan dan energi yang membanjiri. “Gimana sekolahnya?” tanyanya lembut sambil merapikan rambut Azka yang berantakan karena lari. “Baik!” jawab Azka mantap, mata berbinar. “Azka bilang ke Bu Guru kalau Mama Akira yang antar.” Akira terkekeh pelan, wajahnya memerah tipis. “Terus Bu Guru bilang apa?” “Dia senyum. Terus bilang, ‘wah’,” kata Azka sambil menirukan ekspresi guru mereka. Akira mengangguk serius, merasa bangga. “Berarti itu respon positif.” Azka melompat naik ke motor dengan wajah puas, sementara di kaca spion, tanpa

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 46

    Pagi itu dimulai dengan keributan kecil yang bikin Arka terus melirik jam dinding, kali kelima dalam dua menit. Azka duduk di tepi ranjang, seragam TK sudah rapi, tas sudah nyangkut di pundak, tapi wajahnya tetap muram, muram kayak bilang, “Aku nggak akan keluar rumah kalau Mama Akira nggak yang nganterin.” “Azka,” suara Arka bergetar sabar, “Papa telat, ya.” Azka menggeleng kuat. “Azka mau Mama Akira yang antar.” Arka mencoba meyakinkan. “Papa bisa kok.” “Nggak mau,” jawab Azka dengan nada yang sama tegasnya. Napas Arka pelan-pelan meluncur panjang, rasa capeknya bukan main. Jauh lebih melelahkan daripada rapat panjang di fakultas. Dengan berat hati, dia meraih ponsel dan memanggil satu nama yang sebenarnya ingin ia hindari pagi-pagi. Nada sambung berdering. Satu... dua... “Halo?” suara Akira terdengar berat, masih beratkan kantuk. “Maaf,” Arka buru-buru bilang, “Aku... butuh bantuan.” Di ujung sana, Akira terdiam sesaat lalu tertawa pelan. “Azka?” “Ngambek.”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status