Share

Bab 7

Author: Syaard86
last update Last Updated: 2025-12-06 09:39:55

Sejak kejadian di sekolah kemarin, hidup Akira resmi berubah. Seolah alam semesta setuju untuk menguji seberapa kuat mentalnya sebagai calon guru atau sebagai calon ibu sambung, kalau dengar gosip ibu-ibu kemarin. Astaga, bahkan mengingat itu saja membuat Akira ingin pura-pura pingsan di depan minimarket.

Masalahnya cuma satu: Azka.

Anak kecil itu sekarang seperti stiker. Nempel. Tiap. Saat.

***

Pagi ini, Akira baru ingin berangkat kuliah ketika pintu rumah kontrakannya diketuk cukup keras untuk membangunkan tetangga sebelah.

Tok! Tok! Tok!

“Mama Akiiiiraaa!”

Kening Akira langsung berkerut. “Lho? Ini suara Azka, kan?”

Ia membuka pintu dan benar saja, Azka berdiri sambil membawa tas superhero dua kali lebih besar dari tubuhnya.

“Azka?” Akira membelalakkan mata. “Kamu kok di sini?”

“Papa lagi rapat. Antarin Azka ke sekolah, yaaa.”

Akira menggaruk kepala. “Tunggu, tunggu. Kamu ke sini sendiri?”

“Diantar Pak Satpam kompleks.”

“Terus papa kamu mana?”

Azka mengangkat bahu. “Papa cuma bilang, ‘Temuin Mama Akira, bilang minta antar sekolah.’”

Akira memejamkan mata. Dalam kepalanya hanya ada satu kalimat.

ARKAAAAA!!

***

Akhirnya, dengan rambut belum sempat disisir rapi, Akira mengunci rumah dan menggandeng Azka menuju jalan raya.

“Tante buru-buru kuliah, Nak,” keluh Akira sambil berusaha memasang wajah manis.

“Azka juga buru-buru sekolah! Sama, kan? Kita tim buru-buru!” jawab Azka dengan semangat yang tidak manusiawi untuk pukul tujuh pagi.

“Tapi Tante nggak siap ngurusin kamu pagi-pagi gini, Azkaaa…”

“Tenang aja, Azka mandiri kok!” balas Azka sambil menepuk dadanya.

Tidak sampai lima detik kemudian dia bilang, “Tapi Mama bisa gendong Azka nggak? Azka capek…”

Akira menatap langit. “Ya Allah, ini ujian macam apa…”

***

Sesampainya di sekolah, ibu-ibu di gerbang langsung melihat ke arah mereka seperti radar penggossip profesional yang baru saja mendeteksi bahan cerita segar.

Salah satu ibu-ibu, Bu Mira, langsung mendekat dengan senyum lebar.

“Eh, eh, eh… pagi-pagi dianterin Mama Akira lagi, Nak Azka...”

Ibu lain menambahkan, “Iiiiih, cocok ya. Tinggal akad aja nih!”

Akira tersedak ludahnya sendiri. “Bu, saya cuma nitip...eh, dimintain tolong...eh, maksudnya… bukan… aduh.”

Bu Mira mengangguk-angguk dramatis. “Iya, iya, kami paham… paham banget…”

Mereka jelas tidak paham, tapi senangnya mengasumsikan.

Azka malah bangga. “Mama Akira jago loh, Bu! Dia bisa nyisir rambut Azka… walau sakit dikit.”

“I-itu karena rambut kamu kusut, Azka!” Akira panik.

Ibu-ibu terkekeh puas.

Akira hanya ingin tanah menelannya.

***

Setelah berhasil meloloskan diri dari ibu-ibu gosip, Akira buru-buru menuju kampus. Dia sudah telat 15 menit. Dan kalau sudah berurusan dengan Arka, terlambat berarti hukuman pasti.

Saat sampai di depan kelas, dia menelan ludah. Suara Arka terdengar galak seperti biasa.

“Telat dua puluh menit,” katanya tanpa menoleh ketika Akira masuk.

“Maaf, Pak… saya...”

“Duduk.”

Akira langsung menunduk dan berjalan pelan ke bangku paling belakang.

Tapi sialnya, semua mata melihatnya. Semua.

Dan lebih sial lagi, Arka tiba-tiba berkata, “Mahasiswa yang telat harus menjelaskan ke saya kenapa. Supaya saya tahu apakah alasan Anda layak.”

Akira ingin pingsan. “Eeeh… tadi saya… mengantar anak ke TK.”

“Anak?” Arka mendongak sedikit dan melihat ke arahnya. Tatapannya tajam. “Sejak kapan Anda punya anak, Akira?”

Seluruh kelas menahan tawa.

Akira buru-buru geleng-geleng. “Bukan! Bukan anak saya! Azka.... eh, maksudnya… putranya Pak...”

Dia berhenti.

Karena kalau dia sebut “Azka, anak Bapak”, rahasianyalah yang kebongkar.

Arka menatapnya dengan tatapan “coba ulangi kalimatmu dengan benar”.

Akira menghela napas. “Putranya… tetangga saya.”

Arka menatapnya lama sekali. Lama. Sampai Akira merasa nilai IPK-nya diuji lewat tatapan.

Lalu dengan suara datar, Arka berkata, “Baik. Duduk.”

Tapi setelah Arka kembali menulis di papan, telinga Akira jelas menangkap gerutuan itu…

“Harusnya Azka saya yang antar…”

Akira menegang.

Arka—barusan bilang apa?

Dia mengerjap pelan. Apakah dia salah dengar? Atau Arka hanya ngomel ke udara? Atau… dia memang tidak suka Akira kerepotan mengurus Azka?

Kenapa dia peduli?

Kenapa Akira peduli kenapa dia peduli?

Aduh…

***

Setelah kelas selesai, Akira segera bergegas keluar. Tapi tentu saja, alam semesta tidak mau membiarkannya kabur. Arka muncul tiba-tiba di pintu kelas.

“Akira.”

Deg.

“Ya, Pak?”

“Besok saya minta Anda mengumpulkan jurnal microteaching yang saya tugaskan minggu lalu.”

Akira menghela napas lega. Oh, cuma tugas.

Baiklah. Bisa.

Lalu Arka menambahkan, “Dan… soal Azka.”

Akira langsung tegang lagi. “S-soal Apaaak?”

Arka memasukkan tangan ke saku celananya. “Saya tidak menyuruh dia datang ke rumah kamu pagi-pagi. Dia pergi sendiri.”

“Hah?”

Arka menatapnya serius. “Saya hanya bilang pada Azka kalau dia merindukan kamu, dia bisa menemuimu. Tapi… saya nggak menyangka dia akan benar-benar kabur dari rumah.”

Akira memegang kening. “Oh Tuhan…”

Arka menghela napas kecil. “Maaf kalau itu membuat kamu kerepotan.”

Akira mengangkat kepala, kaget. Ini pertama kalinya dosen killer itu meminta maaf padanya.

“Saya tidak keberatan, Pak. Cuma… ya, saya kaget aja.”

Arka menatapnya, kali ini tanpa ekspresi datar khas dosen killer. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang lembut.

“Azka nyaman denganmu,” katanya pelan. “Dia tidak mudah dekat dengan orang lain.”

Akira tiba-tiba merasa ada yang menghangat di dadanya.

“Tapi… jangan izinkan dia kabur pagi-pagi lagi,” tambah Arka cepat-cepat, kembali ke mode dinginnya. “Bahaya.”

“Lho, saya jelas nggak izin, Pak!”

Mereka saling menatap beberapa detik.

Canggung.

Sangat.

Lalu Arka berkata, “Saya antar kamu ke rumah.”

“Ha?! Nggak usah, Pak! Saya bisa pulang sendiri!”

“Akira.”

“Ya?”

“Kamu kelihatan capek.”

“….”

“Dan saya tahu kenapa.”

“….”

“Kamu berantem dengan ibu-ibu gosip di TK?”

Akira mendelik. “Pak!! Itu bukan berantem! Itu saya… diserang!”

Arka menahan senyum. SENYUM. Bibirnya benar-benar terangkat sedikit.

“Lebih alasan lagi untuk saya antar kamu pulang.”

“Nggak perlu!”

“Terlambat. Mobil saya sudah di depan.”

“Tapi...”

“Jurnal minggu depan akan lebih mudah kalau kamu tidak pingsan karena kelelahan.”

“Pak Arkaaaaa…”

Arka melangkah duluan dengan santai, sambil menoleh dan berkata, “Ayo, Azka pasti nunggu kamu video call nanti.”

Akira berdiri membeku, matanya membelalak. “Lho! Kok Pak Arka yakin Azka mau video call sama saya?” tanyanya, suara bergetar.

Arka berhenti, lalu tersenyum tipis sebelum melontarkan kalimat yang langsung membuat jantung Akira seperti berloncatan tanpa ritme.

“Karena dia selalu cerita tentang kamu… bahkan waktu kita makan malam berdua.”

Akira tercekat, bibirnya terkatup rapat. “...Berdua?” gumamnya tak percaya.

“Ya, saya dan Azka.” Arka mengangkat bahu santai, tapi matanya penuh arti.

Akira menelan ludah berat, keringat dingin merayap di dahinya. Ia ingin menjerit, tapi yang keluar malah suara parau, “A-A-Y-A-H!”

Arka hanya mengangguk santai, seakan itu hal biasa saja. “Iya, ayahnya.”

Denyut di dada Akira terasa semakin cepat. Ini bukan sekadar dosen killer. Ini dosen pembunuh jantung, pikirnya dengan ngeri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 96

    Malam itu, kamar kos Akira terasa lebih sunyi dari biasanya. Amplop putih tergeletak tak bergerak di sampingnya, sementara brosur S2 terbuka setengah dengan kertas yang bergetar pelan oleh angin kipas tua yang berdengung lirih. Ponselnya bergetar lagi, menampilkan nama Arka. “Udah dibuka?” Akira menatap layar dengan jari berhenti sejenak, lalu membalas. “Kamu sengaja ya bikin aku mikir semalaman?” Balasan cepat menyusul. “Iya.” Senyum tipis mengembang di wajah Akira, seolah menemukan kenyamanan dalam lelucon kecil itu. Beberapa menit kemudian, ketukan pelan mengganggu keheningan kamarnya. Alisnya mengernyit penuh tanya saat dia berdiri, mendekati pintu. Dia membuka pintu dan di sana, Arka berdiri dengan hoodie sederhana, wajahnya santai tanpa beban, tak seperti seseorang yang baru saja mengguncang masa depan orang yang ia sayangi. “Kamu kan bilang buka di kos,” katanya ringan, suaranya hangat. “Aku mau lihat ekspresinya langsung.” Akira menggenggam map S2 itu era

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 95

    Seminggu setelah badai itu benar-benar mereda, hidup Akira mulai terasa seperti dulu lagi. Bukan sekadar biasa, tapi normal yang dulu sempat ia anggap mewah dan sulit diraih. Di depan cermin kamar kos yang sederhana, ia mengenakan kebaya warna soft sage hasil jahitan ulang, pas menempel di tubuhnya yang sudah tak sesak oleh beban skandal kampus. Di kasur, Naya mengunyah keripik dengan santai, matanya penuh geli saat menatap Akira. “Ya ampun, Ra. Lo tuh ya. Habis diterpa skandal nasional, masih aja glowing,” goda Naya. Lintang yang tengah menyetrika selempang wisuda ikut nimbrung dengan suara serak karena gosokan setrikaan, “Glow-nya bukan karena skincare. Ini glow calon istri orang, nih.” Akira menahan tawa sambil melempar bantal kecil ke arah mereka, “Stop. Wisuda dulu, nikah belakangan.” Naya cuma bisa menyeringai jahil, “Iya, Bu Akademik.” Tawa kecil Akira mengisi ruangan yang selama ini terlalu penuh keruwetan dan gosip. Beberapa hari terakhir, ia memilih untuk fo

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 94

    Pagi itu, arus opini di media sosial bergeser cepat tak terduga. Versi audio lengkap yang sebelumnya hilang selama dua belas detik kini tersebar, menarik perhatian banyak orang. Notifikasi berhamburan di layar ponsel Aluna, masing-masing membawa komentar beragam, dari yang menuduh. “Kok dipotong sih?” hingga yang merasakan keadilan, “Kasihan Arka kalau begini.” Di ruang tengah rumah keluarga Aluna, suasana mencekam membungkus udara. Ayah Aluna berdiri tegap dengan wajah serius yang jarang tampak. “Kita harus selesaikan ini sekarang,” suaranya berat, penuh tekad. Ibu Weni menggigit bibirnya, matanya berkeliling cemas. “Ini kan cuma salah paham yang dibesar-besarkan...” “Salah paham nggak dibuat dengan editan,” potong sang ayah, nadanya tajam dan tegas. Aluna berdiri di sudut ruangan, tubuhnya kaku. Matanya tak berkaca-kaca, tapi genggaman di ponselnya erat sekali, seolah menahan badai yang ingin meledak dari dalam. Beberapa menit kemudian, suara bel rumah memecah keheningan

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 93

    Malam itu, setelah suara rekaman itu terkirim, Akira menatap ponsel di tangannya. Arka menunggu di sampingnya, siap mengantar pulang seperti biasa. Namun Akira menggeleng pelan, suaranya serak saat berkata, "Aku mau sendiri dulu." Arka hanya mengangguk, tak berkata apa-apa. "Aku tunggu di sini," ujarnya singkat. Kalimat itu malah membuat dada Akira sesak. Ia menghela napas panjang, pandangannya menatap kosong ke lantai, berharap beban di hatinya lekas hilang meski tahu itu mustahil. *** Akira duduk terlentang di lantai kamar kosnya, punggung bersandar keras pada sisi ranjang. Lampu sengaja dimatikan, hanya cahaya redup dari layar ponselnya yang menerangi wajah pucat itu. Jarinya menekan tombol putar ulang, audio yang sama berkali-kali diperdengarkan. Suara Arka terdengar tegas, tanpa ragu, “Kalau memang harus nikah demi keluarga, aku nggak masalah.” Klik. Hening. Tidak ada tawa, tidak ada kelanjutan, hanya kalimat itu saja yang mengisi ruang hampa di telinganya. A

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 92

    Ruang rapat fakultas terasa lebih dingin dari biasanya, seolah dinginnya udara masuk menyusup ke dalam hati Akira. Dia duduk tegak di kursi depan meja panjang, jari-jari rapinya mengepal perlahan. Di seberangnya, dua dosen dan satu staf administrasi membuka laptop dengan wajah serius namun tetap menjaga sikap profesional. “Kami tidak ingin mencampuri urusan pribadi,” suara salah satu dosen pelan, hampir seperti bisikan, “tapi isu ini sudah menyentuh nama kampus. Apalagi menjelang wisuda.” Akira mengangguk pelan, bibirnya tipis tertutup rapat. “Saya mengerti, Pak,” jawabnya dengan suara tenang, meski ada ketegangan terselip di balik kalimat itu. Layar laptop diputar menghadapnya, memancarkan cahaya dingin yang menyorot ke wajahnya. Tangkapan layar itu terpampang jelas, foto Arka dan Aluna, disertai potongan chat yang sudah tersebar luas. “Apakah ini benar?” tanya staf administrasi, suaranya pelan dan hati-hati, seolah takut mengguncang suasana. Akira menghela napas panja

  • Jadi Mama Bohongan? Siapa Takut!   Bab 91

    Pagi baru saja menyingkap tirai saat Akira mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar tanpa henti, membuat jarinya terpaku sejenak. Grup kampus, grup angkatan, DM berdatangan bertubi-tubi. Namanya terus disebut dengan nada yang bukan cuma penasaran. Jantungnya berdegup lebih cepat, tangan gemetar saat akhirnya membuka salah satu pesan yang sudah diberi tanda puluhan kali. Di layar, tampak tangkapan layar foto Arka dan Aluna di acara keluarga. Di bawahnya, potongan chat antara Arka dan seseorang bernama "A". "Kalau memang harus nikah demi keluarga, aku nggak masalah." "Cinta bisa nyusul." Tanggalnya tertulis empat bulan lalu. Caption unggahan anonim itu tajam menyerang: “Semoga yang sekarang sadar, jangan bangga dulu jadi pilihan terakhir.” Darahnya seolah mengalir ke kaki, berat yang tak terucap memenuhi dadanya. Akira terdiam lama, matanya menempel di layar, menelan setiap kata dengan perih yang menusuk. Naya buru-buru mengangkat telepon, suaranya hampir berter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status