MasukMuniratri menemui Widuri di kompleks Kusumaswari, kediaman Prameswari Badra. Dalam ruangan yang dindingnya dihias dengan emas itu, dia dipaksa bersujud.
Wanita yang baru saja mengadakan pesta bunga itu berkata pelan, “Apa kamu masih ingat apa yang kamu janjikan padaku, Cah Ayu?”
“Saya ... saya masih mengingatnya, Yang Mulia.” Muniratri menancapkan kukunya ke lantai, masih dalam keadaan bersujud.
Gerakan kecil yang dibuat oleh Muniratri tertangkap oleh Widuri. Dia pun menggunakan isyarat mata, menyuruh Gendhis melakukan pekerjaan untuknya.
“Aah ...,” rintih Muniratri saat tangannya diinjak oleh Gendhis.
“Ini hukuman karena mempermainkan kepercayaan Yang Mulia!” seru Gendhis.
Orang yang sedang marah tidak akan menerima penjelasan. Karena itu, Muniratri mengatupkan bibir. Ia tak bicara sedikit pun untuk membela diri.
Sikap diam yang dipertahankan oleh istri Damarteja membuat Widuri geram. I
Muniratri tak dapat menahan gejolak di dada untuk waktu yang lama. Demi menghindari kecurigaan Ningsih, Muniratri bersikap tenang. Ia bahkan tak membahas tentang Pangeran Adipati sekali pun.Di balik tindak-tanduk yang tampak tenang di permukaan itu, Muniratri menggenggam bara panas yang bisa dia lempar ke dedaunan kering kapan saja, sehingga menimbulkan keributan besar.“Ningsih, aku ingin mandi di sendang,” ucap Muniratri.Masih segar di ingatan Ningsih bagaimana kondisi majikannya saat mereka menaiki anak tangga menuju sumber air di belakang Puri Kacayagra. Kakinya bergetar hebat, bahkan untuk berdiri saja, Muniratri tak bisa tenang.“Saat itu, Kanjeng Putri berkata tidak mau lagi pergi ke sendang. Kenapa sekarang mendadak beliau ingin ke sana?” batin Ningsih.“Kenapa mukamu kecut begitu?” desis Muniratri.“Tenang saja, aku tidak selemah dulu.” Wanita itu mengusap rambutnya seraya melirik ke
Muniratri tak habis pikir dengan ucapan Kasmirah. Ia yakin benar bahwa yang dikatakan oleh perempuan tersebut tidak benar karena dirinya melihat sendiri sang Pangeran kembali ke Paviliun Wetan sekitar pukul delapan malam.Meski demikian, dari cara Kasmirah membagikan pengalamannya, tak terlihat adanya kebohongan. Muniratri pun melempar tubuh ke kursi, lalu memejamkan mata.“Apa yang terjadi sebenarnya?” Muniratri mengetuk-ngetuk jemarinya ke lengan kursi.“Kanjeng Putri ... Kanjeng Putri,” seru Ningsih dari luar pintu.“Kanjeng Putri, hadiah untuk Yang Mulia Putra Mahkota sudah jadi.” Ningsih menaruh kotak kayu di atas meja dan membukanya.Tangan Muniratri yang dari tadi berada di lengan kursi, kini beralih ke kotak yang di bawah Ningsih. Ia mengambil kipas dari dalam sana dan membentangkannya.“Menurutmu, Yang Mulia akan suka?” Muniratri meraba-raba kipas lipat yang dihias dengan lukisan anak-
Sepulang dari Balai Geliat Merah Muda, nyawa Ningsih hanya tinggal setengah. Karena itulah tak mengherankan apabila dayang itu lebih bayang melamun di dalam kereta.Wanita itu berkali-kali menghela napas panjang. Ia sudah tak tahan lagi menyaksikan dayang yang biasanya bersikap profesional, kini malah jadi seperti patung hiasan.Leher Ningsih tak jauh beda seperti pohon yang tertiup angin kencang. Tatapan matanya kosong, dan mulutnya terbuka sepanjang perjalanan.“Mbakyu, sebentar lagi kita sampai,” bisik pak kusir yang duduk di sebelah Ningsih.Lelaki itu sengaja berbisik supaya Muniratri yang berada di dalam kereta tidak mengetahui kelakuan Ningsih. Namun sayang, bisikan itu tak menyadarkan si dayang dari lamunan.“Mbakyu!” Pak kusir menepuk alas duduk saat kereta benar-benar berhenti, supaya Ningsih sadar.“Biarkan saja. Aku bisa turun sendiri,” ucap Muniratri secara pelan dari dalam kereta.Sala
Di dunia ini selalu ada manusia kompor. Mereka membawa bahan bakar dan menyembunyikannya di balik punggung. Dan saat prahara menyala, mereka menyiramkannya di atas api.“Kanjeng Putri, saya dengar semalam Gusti Pangeran menghabiskan malam di tempat Selir Ratnawangi,” celetuk Ningsih.“Katanya mereka tidak berhenti sampai pagi.” Ningsih menekankan suara.Beberapa orang mengatakan bahwa semakin pelan suara, makin akurat informasi. Namun Muniratri tidak peduli dengan apa dikatakan oleh Ningsih. Bagi wanita itu, apa pun yang dilakukan oleh sang Pangeran, bukanlah urusannya.“Apa saja yang mereka lakukan?” Muniratri menggoyang pundak Ningsih dengan emosi.Meski ucapan Ningsih tak membuat Muniratri tertarik, ia harus mengacuhkan wanita itu. Karena Muniratri tahu bahwa apa yang dia lakukan maupun pikirkan, akan sampai ke telinga Damarteja.“Ah! Itu ....” Ningsih menundukkan kepala seraya m
Manusia tak bisa membaca isi hati orang lain. Mereka hanya bisa memperkirakan apa yang dipikirkan seseorang dari gerak-gerik yang bersangkutan.Kemampuan membaca bahasa tubuh orang lain merupakan hal yang penting. Namun ada satu hal yang lebih penting yang harus ada di dalam diri setiap manusia, yakni respons yang baik. Sayangnya tak semua orang memiliki kemampuan ini.“Paduka, Anda yakin melakukan ini?” bisik Endra.Ajudan itu berusaha mengubah pandangan sang tuan yang ingin bermalam di tempat Selir Ratnawangi. Padahal Ningsih sudah memberi tahunya bahwa Muniratri berusaha menarik perhatian Damarteja menggunakan buku penghangat malam.Damarteja menghentikah langkah di depan paviliun tempat tinggal Ratnawangi. “Apa aku terlihat seperti orang linglung yang tidak tahu apa yang harus dilakukan?”Endra menggeleng. Bagaimana mungkin ia berani meragukan keputusan Damarteja setelah melihat keseriusan di wajah sang Pangeran?
Kepergian Pangeran Adipati ke Ibu Kota beberapa minggu yang lalu, membuat Damarteja dan Muniratri tak bisa meninggalkan Agratampa, dengan alasan apa pun, termasuk menghadiri pernikahan Putra Mahkota Badra.Tidak masalah jika mereka absen dari acara tersebut, keluarga kerajaan dan para pejabat tidak akan membuat tanggapan yang macam-macam terhadap pasangan Hadiwangsa.Meski demikian, orang-orang akan menilai bagaimana niat baik sang Penguasa Agratampa. Demi mencegah omongan tidak menyenangkan, Muniratri memutuskan untuk mengirim para penari ke keraton.“Bagaimana menurut Anda, Kanjeng Putri?” tanya Endang, instruktur tari di Balai Geliat Merah Muda.Muniratri mengangguk-angguk. Dia cukup puas dengan tarian yang mereka siapkan khusus untuk hari pernikahan sang Pangeran Mahkota.“Bisakah mereka menari menggunakan kipas?” Muniratri menatap Endang. Ia menginginkan jawaban yang memuaskan.“Tentu saja, bisa.” End







