Share

136|

Author: Shanum Belle
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-12 19:00:30

Gendhis membuka pintu yang terbuat dari kayu jati tua berkualitas tinggi. Pintu itu diukir dengan apik dan pada beberapa bagian dilapisi dengan emas.

“Silakan masuk, Kanjeng Putri.” Gendhis menunjuk ke dalam ruangan menggunakan ibu jari.

Muniratri melangkah ke depan. Pandangannya lurus, tak peduli jika di kanan dan kiri terdapat berbagai pajangan mewah yang terbuat dari emas dan permata. Bahkan dindingnya pun berlapis serbuk emas.

“Silakan duduk dahulu,

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   209|

    “Kenapa Wakil Perdana Menteri hanya membawa ini? Di mana tahanannya?” Prabu Bahuwirya mengangkat salah satu alisnya.Lelaki itu melipat tangan di dada saat berdiri di depan sepuluh peti kayu yang dibawa Raden Apta dari Agratampa. Lima peti berisi emas sedangkan sisanya perak.“Hamba pantas mati, Baginda!” Raden Apta berlutut di hadapan sang Prabu.Prabu Bahuwirya balik badan menuju kursinya. Ia tak ingin menyaksikan dari dekat penyesalan formalitas yang dilakukan oleh Raden Apta.“Jelaskan apa yang terjadi!” seru Bahuwirya.“Saat kamu kembali ke Ibu Kota, kami bertemu dengan sekelompok harimau di tengah hutan. Mereka sangat ganas, Baginda,” ucap Raden Apta.Prabu Bahuwirya mengetuk-ngetuk meja menggunakan laporan yang dibungkus dengan kulit kayu tebal. Cukup kuat untuk menjaga supaya kertas yang terbuat dari daun lontar tetap rapi.‘Kenapa Baginda tidak mengucapkan sepatah kata pun

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   208|

    “Semoga sidang berjalan dengan lancar dan yang bersalah mendapat hukuman setimpal,” ucap Damarteja sebelum melepas kepergian Raden Apta dari tanah Agratampa.“Saya juga berhadap demikian, Kanjeng Pangeran.” Raden Apta menundukkan badan.Sang Wakil Perdana Menteri meninggalkan Agratampa bersama dengan sepuluh pengawal. Jumlah pengamanan yang terlalu sedikit untuk ukuran pejabat tinggi.Saat datang ke Agratampa mereka membawa tangan kosong. Namun ketika kembali ke Ibu Kota mereka membawa Raden Tumenggung Yajnayodha dan sepuluh peti berisi emas hasil sitaan dari rumah lelaki itu.“Apa kita perlu mengirim pasukan khusus untuk mengawal orang itu, Paduka?” Senapati Birawa memberikan teropong jarak jauh kepada Damarteja.“Kita lihat dulu situasinya.” Sang Pangeran menggunakan teropong sambil tersenyum tipis.Ketika rombongan Raden Apta memasuki hutan, burung-burung beterbangan secara tak wajar.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   207|

    “Ningsih, ambilkan dua baju hangat di lemariku. Pilih yang terbaik,” perintah sang Putri Hadiwangsa.Dayang itu mengangguk. Ia meninggalkan ruang makan beberapa saat dan saat kembali, ia membawa sepasang mantel yang terbuat dari rubah putih.“Dek Ayu, pakailah ini.” Muniratri mengambil satu mantel dari tangan Ningsih.Kasmirah mengulum bibirnya saat Muniratri memakaikan kain penghangat badan tersebut untuknya.“Kenapa Dek Ayu melihatku seperti melihat hantu?” tanya Muniratri saat Kasmirah menelan ludah hingga suaranya terdengar orang lain.“Tidak apa-apa, Kanjeng Putri.” Kasmirah menggeleng pasrah. Pandangannya kosong.Muniratri tersenyum saja saat Kasmirah bertindak tak sesuai dengan tata krama. Karena sesaat kemudian, wanita itu segera menyadari kesalahannya.“Maafkan saya, Kanjeng Putri. Saya tidak bermaksud membuat Anda tak nyaman,” selir yang mengenakan baju berlapis-lap

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   206|

    “Sudah terlihat seperti orang sakit apa belum?” Kasmirah menengok ke kanan dan kiri sambil memandang wajahnya di cermin.“Sempurna, Raden Ayu,” tutur Sarinem, pelayan pribadi Kasmirah.Untuk menambah kesan dramatis, selir tersebut menyuruh pelayan menjahit baju yang terbuat dari kain yang panas yang akan dia kenakan saat menemani Damarteja menyambut Raden Apta.Sayangnya, belum sempat Kasmirah memamerkan baju itu, dia sudah kepanasan duluan. Keringat deras perlahan mengucur melalui pori-pori kulit. Baju yang ia kenakan mulai basah karena air asin dan kecut itu.“Ambil kipas, cepat!” Kasmirah mengibas-ngibaskan tangan ke wajah supaya riasannya tak luntur.Sarinem mengayunkan kipas tangan yang terbuat dari bambu. Kulit yang basah karena keringat menjadi kering. Suasana hati sang selir pun kembali nyaman.“Raden Ayu, baju ini sangat tebal dan panas. Bagaimana kalau Anda menggantinya dengan kain yang dingin?” tanya pelayan yang sedang mengayunkan kipas.Kasmirah menarik napas dengan perasa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   205|

    Sebagai pejabat sipil, Raden Apta tak memiliki kuasa untuk memasuki barak militer tanpa membawa dekret keraton. Apalagi alasan lelaki itu datang ke sana untuk menjemput Raden Tumenggung Yajnayodha yang statusnya adalah tahanan militer.Namun atas izin Pangeran Adipati Agung, Raden Apta diizinkan pergi ke tempat suram tersebut dengan satu syarat. Ia harus didampingi oleh sang Pangeran langsung.“Silakan tunggu di sini, Raden.” Damarteja menunjuk kursi besi yang berada di ruang interogasi.“Baik, Kanjeng Pangeran.” Raden Apta mengangguk. Ia tersenyum canggung.Setelah berkuda siang dan malam selama beberapa hari membuat badan lelaki itu terasa remuk. Ia perlu istirahat, walau hanya sekadar duduk santai.Namun saat Raden Apta melihat kursi besi yang berkarat bahkan sampai berwarna coklat kehitaman, ia lebih memilih untuk berdiri saja. Lelaki itu tak mau perhiasan emas yang ia kenakan berkurang kadar karatnya karena bersentuhan dengan besi yang bau darah itu.BRAK!Raden Apta tersentak saa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   204|

    “Mereka pasti sedang menjadi cacing kepanasan sekarang.” Damarteja tersenyum menyeringai setelah membaca laporan dari mata-mata yang ia tanam di Ibu Kota.“Apa yang tertulis di sana sampai bisa membuat gigi Paduka kering?” ledek Muniratri yang hari itu sedang berkunjung ke Balai Adipati.Damarteja refleks menutup mulut dan membasahi gigi serinya menggunakan lidah. Ia rela menjadi badut komedi istrinya, hanya demi mendapatkan senyuman wanita itu.“Putri baca saja sendiri.” Damarteja memberikan gulungan kertas kecil kepada Muniratri.Wanita itu memeriksa surat tersebut kata per kata. Di sana disebutkan bahwa Prabu Bahuwirya menyetujui pemeriksaan menyeluruh terhadap kejahatan Raden Tumenggung Yajnayodha.Setiap orang yang terlibat dengan kejahatannya akan dijatuhi hukuman berat. Sang Prabu bahkan tak segan-segan akan menyita harta mereka serta menghukum keluarga terdakwa.“Apa informasi ini bisa dipercaya?” Muniratri menatap Damarteja seraya mengangkat kertas kecil di tangannya.“Tentu s

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   42| Cangkang Lama Harus Dimusnahkan

    Meski kapasitasnya di ranah sipil sudah dikerdilkan oleh Putra Mahkota, Damarteja tetaplah seorang adipati yang memiliki kuasa paling tinggi di Agratampa.Kedudukan dan statusnya yang mulia membuat pria itu disegani oleh berbagai kalangan. Mereka tak berani mengusik sang Adipati maupun ora

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   35| Siasat Putra Mahkota

    Orang yang menimbulkan masalah, tak akan betah terlalu lama bersembunyi dalam gelap. Cepat atau lambat, mereka akan muncul juga, seperti bayangan yang tak bisa lepas dari cahaya.Mustika merapatkan kursinya ke sisi Muniratri. “Kanjeng Putri, bagaimana semalam?”“Apa kalian sempat ...?” Perempuan itu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   33| Garam Memainkan Peran

    Damarteja mengetuk-ngetuk meja menggunakan ujung jari. Bibirnya mengerucut dan sorot matanya lurus ke depan dengan tatapan hampa, setelah membaca surat rahasia dari Ningsih.Dalam surat tersebut, Ningsih memberi tahu Pangeran Adipati tentang apa yang dilakukan oleh Muniratri setelah ia pergi dari ba

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   32| Gelora Putra Mahkota

    Putra Mahkota Badra tiba di Agratampa tanpa pemberitahuan resmi dan hanya membawa sedikit pengawal. Karena itu, Muniratri membawanya ke Puri Kacayagra demi keamanan.“Silakan duduk, Yang Mulia,” tutur Muniratri dengan takzim saat mengantar Putra Mahkota ke ruang tamu.“Terima kasih, Raden Ayu.” Lela

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status