LOGIN**
Beberapa macam penganan dihidangkan di atas meja, berdampingan dengan beberapa gelas minum untuk mereka bertiga.
“Silahkan..,” Ujar sang pramusaji sedikit takut-takut.
Ia rupanya melihat juga ketegangan yang terjadi antara Gending dan Irul beberapa saat yang lalu.
“Terima kasih,” sahut Paman Gimun, yang asyik menggosok kacamata bulat nan klasik miliknya dengan sehelai tisu.
Ia kemudian memakai kacamatanya kembali. Gending lan
**Tok, tok, tok!Suara ketukan di pintu kamarnya itu membuat Pak Murad terbangun dari tidur. Ia membuka mata, tapi masih berada di antara sadar dan jaga.Ia menunggu, untuk memastikan bahwa suara ketukan di pintu kamarnya itu bukanlah berasal dari dalam mimpinya barusan.Tok, tok, tok! Terdengar lagi ketukan di pintu kamar. Kali ini suaranya lebih keras.“Siapa?” Tanya Pak Murad sembari mengucek-ucek mata.“Saya Pak, Ratih.”Ratih adalah asisten di rumah Acropolis yang bertugas sebagai juru masak. Pak Murad pun sontak merasa heran. Ratih mengetuk pintu kamarnya di jam 2 dini hari seperti ini?“Ratih?” Pak Murad bertanya ingin memastikan pendengarannya.“Iya.”Pak Murad, lelaki yang usianya hampir mencapai lima puluhan ini pun bangkit dari ranjangnya. Dengan langkah yang sedikit gontai ia berjalan dan membuka pintu kamar.“Ada apa, Ratih?” Tanya Pa
**Dor!Dor..!Dorr..!!Widya terpana menyaksikan itu semua. Mobil yang mengurungnya ini dengan seluruh kaca-kaca yang bagaikan kerangkeng transparan tidak menghalangi semua pemandangan yang amat mengerikan itu.Malam tidak menabir, gelap pun tidak menyungkup. Bulan pucat dan bintang gemintang di langit kota Jakarta ikut menyaksikan.Gending alias Mojo, ajudan dan pendampingnya selama ini telah dihabisi oleh para penjahat di mana salah satunya cukup ia kenal—Charles.Sungguh Widya tidak bisa menerima kenyataan ini. Oh, betapa memilukannya.Gending Atma Jaya, lelaki yang diam-diam ia cintai itu telah pergi meninggalkan dirinya dengan cara yang sangat menyayat hati.Tanpa pamit, tanpa salam, bahkan tanpa satu pun kata perpisahan.Detik demi detik yang berlalu di kawasan ini terasa demikian menyiksa bagi sang CEO muda ini. Begitu lambatnya perputaran waktu hingga setiap momennya Widya rasakan bagai langkah ulat
**“Kalian berdua, lepaskan akuu!!”Dua lelaki itu memegangi Miss Widya dari kanan dan kiri, lalu menyeretnya menuju salah satu mobil fortuner yang ada.Miss Widya berontak dengan sekuat tenaga yang tersisa. Namun, itu masih belum cukup untuk melawan dua lelaki kekar yang menangkapnya itu.Hingga beberapa saat kemudian ia pun berhasil dimasukkan dan disekap di dalam mobil fortuner.Menyaksikan itu amarahku membubung semakin tinggi. Aku bertarung dengan segenap kekuatan dan spiritku sebagai pendekar Giri Lodaya.Akan tetapi, sayangnya, hal-hal yang bersifat manusiawi juga tidak lepas dari diriku ini. Kondisiku yang kian payah membuatku tidak bisa membebaskan diri dari segala hantaman lawan.Hidung, bibir, dan pelipisku berdarah. Isi rongga dada dan perutku seakan mau meledak karena saking sakitnya.Tenagaku telah terkuras dengan pertarungan sebelumnya melawan Niko dan dua lelaki lain. Maka di sini aku tidak berhasil
**Aku masih berfokus mengeluarkan Miss Widya ketika tiba-tiba saja ada sebuah serangan ke arahku!Bugg..! Telak sekali.Aku sampai terlempar ke samping. Aku mesti bergulingan di aspal untuk meredam impact dari tendangan yang barusan aku terima.Aku cepat bangkit. Masih di posisi berlutut aku menyempatkan diri untuk menggoyang-goyangkan kepalaku yang masih pusing.Aku menoleh dan tercekat melihat keberadaan Charles, Kenzo, Barok dan beberapa orang lainnya yang tidak aku kenal. Mereka semua keluar dari mobil fortuner hitam.Nah! Itu adalah mobil yang mengejar kami di jalan raya tadi, juga mobil yang menabrak barusan. Dalam waktu bersamaan, mobil yang tadi kulihat menyalahi jalur pun tiba dan berhenti tidak jauh dari mobil fortuner hitam. Di dalamnya ada Dirga Dwipa! Bersama orang lain yang juga tidak aku kenal. Maka ditambah dengan mobil fortuner tipa lama bersama Kenzo yang t
**Apalagi dalam waktu bersamaan, tiba-tiba saja.., flasssh..!Ada sorot cahaya yang sangat terang dari belakang mobil kami. Dengan spontan aku melihat ke belakang lewat kaca spion.Ternyata di belakang kami juga ada sebuah mobil lain. Pantas aku tidak menyadarinya karena tadi mobil itu sengaja tidak menyalakan lampunya.Setelah cukup dekat barulah ia menyalakan lampu jauh sehingga cahayanya yang terpantul di kaca spion mobil mercy membuat aku silau.Beberapa detik kemudian, flash..!Mobil yang jalurnya ngaco dari depan itu pun menembakkan lampu jauhnya. Oh, aku langsung sadar, bahwa kami berdua masih belum sepenuhnya terlepas dari bahaya.Flash lagi! Kedua mobil dari depan dan belakang saling memainkan lampu dimnya. Seakan saling memberi kode, sekaligus memberikan teror kepada kami.“Apa-apaan sih itu?” Cetus Miss Widya mulai ketakutan lagi.Aku ingin ngebut, tapi sayang mobil mercy ini memang tidak bisa dig
**“Ada apa, Gending?”Pertanyaan Miss Widya itu tidak segera aku jawab. Aku berusaha mempertahankan konsentrasiku, karena pada saat bersamaan aku tengah menunduk.Aku memperhatikan panel indikator pada mobil mercy yang mewah ini. Selain speedometer dan takometer di situ aku menemukan ada beberapa lampu indikator yang menyala.Artinya, sensor mobil ini telah mendeteksi kerusakan. Pantas saja, mobil ini tidak bisa aku gas, walaupun aku telah menginjak pedal gasnya sampai mentok ke lantai.Kecepatannya hanya mampu bertahan di dua puluh kilometer perjam saja. Pelan sekali. Itulah yang membuat jarak ke rumah Acropolis yang sudah dekat menjadi terasa jauh.“Gending, ada apa?” Ulang Miss Widya bertanya.“Mobil ini rusak, Miss.”“Iya, aku tahu. Tuh, bodi depannya ringsek tak keruan begitu.”“Tapi, Mis..,” Kalimatku terpotong sebab aku mesti memperhatikan sebuah perempa
**"Miss..,” kata Gending dengan lembut.“Ayo kita pulang, Miss. Hari sudah semakin sore.”Miss Widya tidak menyahut. Ia masih mendekam di dalam pelukan sang ajudan. Benar-benar merasakan kedamaian dan pengayoman dari pelukan satu tangannya yang kukuh.
**“Maaf, ada keperluan apa Miss mau ke pemakaman itu?”Miss Widya tidak segera menjawab. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Gending yang tengah asyik mengemudi. Sampai sang ajudan ini merasa sedikit grogi.“Menurut kamu?” Tanya dia pula, kian mendekatkan
**Sore yang sejuk di seantero kota Jakarta. Langit sedang berselimut dengan mendung tipis. Tidak ada hujan atau gerimis. Hanya angin yang bertiup semilir dari arah timur menuju ke barat.“Aku baru ngeh lho. Kamu sekarang jarang keluar malam ya? Hang out, gitu. Dugem-dugeman,
**“Papa.., laki-laki inikah yang Papa pilihkan untuk menjadi suamiku?” Batin Miss Widya seakan tengah bertanya langsung kepada almarhum ayahnya.Hati sang CEO muda ini terus menggemuruh, seiring lesatan kilat di dalam memorinya, berisi semua kenangan manis bersama almar







