Beranda / Lainnya / Jagoan Kampung Merantau Ke Kota / Bab 186: Setengah Meter Reload

Share

Bab 186: Setengah Meter Reload

Penulis: Ayusqie
last update Tanggal publikasi: 2025-11-19 23:54:44

**

Beberapa macam penganan dihidangkan di atas meja, berdampingan dengan beberapa gelas minum untuk mereka bertiga.

“Silahkan..,” Ujar sang pramusaji sedikit takut-takut.

Ia rupanya melihat juga ketegangan yang terjadi antara Gending dan Irul beberapa saat yang  lalu.

“Terima kasih,” sahut Paman Gimun, yang asyik menggosok kacamata bulat nan klasik miliknya dengan sehelai tisu.

Ia kemudian memakai kacamatanya kembali. Gending lan

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 436: Tugas Berat

    **“Anak saya dulu punya perusahaan di sekitar Priok situ. Akibat suatu kecelakaan dia meninggal dunia, kemudian perusahaannya dipimpin oleh.., ”Aku menaruh perhatian lebih, tapi tiba-tiba Pak Bisma berbelok dengan melemparkan pertanyaan yang sama sekali di luar konteks.“Oh ya, apa kamu punya paspor?” Tanya Pak Bisma.Aku tersenyum sebentar, mengangguk sopan dan menjawab.“Kebetulan saya punya, Pak.”“Baguslah kalau begitu.” Pak Bisma mengangguk-angguk. Ia lalu menoleh kanan kiri, mencari sosok yang kemudian ia panggil.“Rahmat..!” Lelaki empat puluhan tadi, sesuai dugaanku memang benar adalah pekerja di rumah ini. Ia menghampiri kami berdua di teras.“Tolong bilang ke Bik Endah, bikinkan teh untuk tamu saya ini.”“Enjih, Pak.” Sahut Pak Rahmat itu dengan bahasa Jawa yang halus.Pada saat i

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab: 435 Kaktus

    **Tanpa kusadari ada sepasang mata yang juga sedang mengamati aku!Orang itu, yang rupanya sedang membersihkan rumput di pojok halaman segera bangkit dan menghampiri aku.“Cari siapa, Mas?”Aku terkejut. Cepat aku menoleh. Ternyata dia adalah.., emm, aku perhatikan pakaiannya sekilas, sedikit kumal dan kotor, membuatku menduga dia adalah pekerja di rumah besar ini.“Oh, maaf. Permisi, Pak. Apakah betul ini rumahnya Pak Bisma?”Lelaki berusia empat puluhan itu mengangguk.“Iya, betul. Mas siapa?”“Saya Adi Jaya. Saya dari Bali. Saya disuruh Mang Demang untuk datang ke sini. Pak Bisma ada keperluan dengan saya.”“Sebentar ya, Mas.”Lelaki itu kemudian berjalan menuju ke rumah. Ia masuk tidak melewati pintu depan, tapi pintu samping yang terletak jauh dari bagian depan. Selang tak berapa lama kemudian, lelaki empat puluhan itu keluar lagi.&nbs

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 434: Gunung Yang Cemburu

    **Seandainya waktu bisa dilipat, maka beginilah perjalananku menuju ke Magelang.Whuussss..! Pesawat menderu dan lepas landas dari bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.Satu seperempat jam kemudian ..,Whuusss..! Pesawat pun mendarat di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta.Sembari menggendong ransel dan menarik sebuah koper berukuran sedang aku pun melangkah keluar dari bandara, berhenti di lobi kedatangan dan mencari taksi.Taksi yang kutumpangi ini mengantarkan aku pada sebuah loket travel antar kota. Lalu menggunakan mobil travel itu aku pun melanjutkan perjalananku menuju Magelang.Sampai di kota Magelang, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Udara sejuk menyambutku, dalam lambaian angin sejuk nan semilir yang mungkin berasal dari arah gunung Merbabu.Aku meneruskan perjalananku sedikit lagi dengan berjalan kaki, menapaki sebuah jalan kecil hingga beberapa puluh meter kemudian masuk ke sebuah penginapan yang

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 433: Antara Semarang dan Magelang

    **“Kok aku balas ‘bersedia’ sih??”Aku merasa kesal pada diri sendiri karena menyatakan kesediaanku menerima penawaran dari Pak Bisma, yang bahkan aku tidak tahu apa jenis pekerjaannya.Berarti, sewaktu membalas pesan Paman Gimun tadi pagi aku masih dalam keadaan setengah sadar. Sempat terpikir olehku membatalkan penawaran ini.“Apa aku telepon Paman Gimun sekarang?”“Lalu bilang padanya bahwa aku tidak bisa dikarenakan suatu hal?”Paman Gimun sekarang sedang bertolak ke Jakarta, dengan penerbangan pertama dari Bali tadi pagi.“Apa dia sudah sampai di Jakarta sana dan sudah mengaktifkan ponselnya?”Aku mengangkat tangan kiri dan melihat arlojiku. Sudah pukul sepuluh, Paman Gimun pasti sudah sampai.Akhirnya aku keluar dari losmen untuk mencari sarapan. Aku tidak ingin memesan makanan online karena aku memang sedang ingin keluar, melihat-liha

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 432: Seperti Pangeran Zuko

    **“Bersedia.”Setelah membalas pesan itu aku pun tertidur lagi. Kali ini lebih pulas dari tidurku sebelum diganggu chat Paman Gimun.Sudah lama aku tidak merasakan ini. Tidurku bahkan jauh lebih pulas dari tidurku yang sebelum-sebelumnya.Sedikit ganjil, aku tidak mengalami mimpi buruk lagi!Biasanya aku selalu mengalami mimpi buruk dan itu berasal dari rasa depresiku yang dulu. Penggalan momen, satu atau dua, ketika aku menghabisi orang di Cilegon dulu kerap hadir di dalam mimpi.Apakah ini ada kaitannya dengan balasan chatku ‘bersedia’ tadi? Seperti ada sensasi rasa lega untuk sesuatu yang tak kumengerti. Entahlah.Saking pulasnya, aku baru bangun ketika jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku menggeliat-geliat sebentar di atas kasur, lalu bangkit dan berjalan ke kamar mandi.Aku mencuci muka, menggosok gigi, lalu mandi. Usai membersihkan tubuh aku keluar. Masih memakai handuk aku

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 431: Bersedia

    **“Bagaimana, apanya Paman?” Tanyaku pula.“Apa kamu bersedia dengan penawaran yang tadi? Pak Bisma?”Aku sontak terdiam. Sementara Paman Gimun dan Irul menunggu dalam keremangan cahaya lampu yang sampai dari kafe terdekat.Kebimbangan segera saja mengisi hatiku. Kebimbangan yang berakar dari rasa jenuh dan bosan dengan pekerjaan semacam ini. Kawal-mengawal, jaga-menjaga, damping-mendamping.Sepertinya aku sudah kehilangan ‘passion’ dengan jenis pekerjaan yang dulu cukup aku nikmati. Dan jika aku tidak salah mengingat, hal ini terjadi sejak aku kehilangan Iroh dan menyelamatkan Widya.Sekarang ini hanya ada satu keinginan pada diriku dan itu berasal dari lubuk hatiku yang terdalam. Terkait kawal-jaga-damping tadi, aku hanya ingin melakukannya kepada pasangan hidupku. “Heh, Adi, kamu bersedia tidak?” Tanya Paman Gimun lagi.Aku menggaruk-garuk kepalaku y

  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 263: Harapan Yang Sirna

    **Ibu Suri pun terkejut lagi ketika Gending melanjutkan kata-katanya.“Dan sekarang, mereka mengincar Miss Widya karena mereka meyakini bahwa Miss Widya mengetahui perihal meth itu, Bu.”“Mereka ingin barang mereka bisa kembali, Bu. Sejujurnya, saya sempat

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 271: Harus Hati-hati

    **Gending tercekat beberapa saat. Ia melirik lagi ke belakang lewat kaca spion tengah.“Memilikinya.., maksud Miss memiliki siapa?”Miss Widya terkejut ketika ia menyadari telah keceplosan dalam berbicara. Cepat ia memalingkan wajahnya yang memerah ke arah kanan,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 252: Aduh Sakitnya

    **Hemm, sepertinya menarik. Sangat menarik!Aku terus mengangguk-anggukkan kepalaku, terbayang dengan banyaknya uang yang bisa masuk ke dalam pundi-pundiku.Namun, “Apakah memang demikian seseorang yang bernama Gending Atma Jaya ini?” Batinku bertanya pada

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
  • Jagoan Kampung Merantau Ke Kota   Bab 239: Roti Isi Daging Tuna

    **“Lalu yang kedua, saya sedang gugup.”“Gugup? Gugup kenapa?” Tanya Miss Widya penasaran.Gending tak segera menjawab. Jujur, perintah Miss Widya tadi untuk mengantarkan sebuah dokumen kepada Pak Charles membuat ia tiba-tiba merasa gelisah, dan ya, g

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status