LOGIN**
Beberapa macam penganan dihidangkan di atas meja, berdampingan dengan beberapa gelas minum untuk mereka bertiga.
“Silahkan..,” Ujar sang pramusaji sedikit takut-takut.
Ia rupanya melihat juga ketegangan yang terjadi antara Gending dan Irul beberapa saat yang lalu.
“Terima kasih,” sahut Paman Gimun, yang asyik menggosok kacamata bulat nan klasik miliknya dengan sehelai tisu.
Ia kemudian memakai kacamatanya kembali. Gending lan
**Semua orang yang ada di vila Cipanas menjadi heboh. Mereka tidak mengerti mengapa tiba-tiba Miss Widya berteriak-teriak histeris seperti orang kesurupan.“Cari dia..! Cari..!” Pekik Miss Widya, beri perintah kepada Fredy.“Kejar diaa..!”Fredy masuk ke dalam, mengambil motor dan mengajak Pak Murad. Miss Widya yang tak sabar segera saja berlari ke jalan, tanpa alas kaki, menuju utara, tepatnya ke tepi jalan raya sana.Tak lama kemudian Fredy dan Pak Murad menyusul. Dengan menggunakan motor mereka berdua mencoba mengejar Gending. Akan tetapi, usaha mereka berdua sia-sia. Karena sosok Gending telah benar-benar menghilang dari kawasan vila ini.Sampai di tepi jalan raya kawasan Puncak itu Miss Widya berdiri termangu. Ia memandangi jalanan dengan berurai air mata.Sekejap ia menolah ke kanan dan kiri, seumpama anak kucing yang gamang dan takut mau menyeberang jalan, t
**Miss Widya pun tersadar, bahwa ternyata sejak beberapa menit yang lalu ia berbicara seorang diri.“Gendiiiiiing…!” Pekiknya histeris.Sontak saja putri Wibisono ini merasa kesal karena ditinggal pergi oleh Gending tanpa pamit.Beberapa detik ia ternganga, menatap ambang pintu samping yang tadi dilewati oleh Gending. Kosong melompong, seperti isi hatinya yang kini mendadak hampa.Ada angin yang berembus dari arah situ, angin yang meremangkan bulu romanya. Pikirannya berputar liar, teringat lagi pada kata-kata Gending.Sang ajudan itu meminta untuk dibebaskan dari amanah yang mengikatnya setelah beberapa kali ia menyelamatkan nyawa Miss Widya.Pemikiran itu melahirkan satu firasat buruk pada diri Miss Widya, bahwa Gending akan pergi meninggalkan dirinya.“Gending..,” gumamnya pelan, seakan baru terbangun dari mimpi.Miss Widya kemudian bangkit, berjalan
**“Miss..,” panggil Gending, hentikan langkahnya tiga meter di belakang Miss Widya.“Duduklah di sini,” Miss Widya menyahut, sembari melambaikan tangannya sedikit, menunjuk sebuah kursi lain di dekatnya.“Sini, kita duduk bareng, menikmati pemandangan,” katanya lagi.Gending mendekat dua langkah. Ia tidak mengambil duduk, hanya berdiri dan memandangi Miss Widya dari belakang, dengan rambutnya yang kini mulai bergelombang karena lama tidak dicatok.“Kamu mau es krim, Gending?” Tanya Miss Widya tanpa menoleh.“Kalau mau, biar aku suruh Mbak Puspa mengambilkannya untuk kamu.”Karena tak mendapat sahutan dari Gending, dan karena sang ajudan ini tak kunjung duduk pada kursi di sampingnya, serta merta Miss Wiya pun menoleh.“Kenapa kamu berdiri saja?”Gending diam. Ia mengedarkan pandangannya sebentar pada sembarang arah. Hatinya bergemuruh, dan ia tidak
**Hari ketiga di Cipanas.Siang hari yang sejuk, seperti selalu, dengan sinar matahari yang terang tajam namun diperlembut dengan gumpalan awan.Selaksa kabut yang tidak terlalu tebal menaungi pegunungan. Embusan hawa dinginnya menjangkau lembah-lembah, pepohonan pinus, perkebunan buah dan taman-taman bunga. “Bagaimana perjalanannya, Pak Budi?” Tanya Ibu Suri.Pak Budi yang belum lama tiba di vila Cipanas ini menghela nafas sebentar.“Hemm, beginilah, Bu. Cukup melelahkan.”“Itu karena ada kendala di jalan kan?”“Betul, Bu, seperti yang sudah saya kabarkan sebelumnya di telepon.”“Jadi, bagaimana ketika Pak Budi sampai di padepokan Giri Lodaya? Kemarin di telepon Bapak bilang sudah ketemu dengan Ceu Lena kan?”“Betul, Bu. Oh ya, Ceu Lena itu titip salam ke Ibu.” “Salamnya saya terima. Mudah-mudahan Ceu L
**Bagaimana kalau Gending ia nikahkan saja dengan Widya??“Aih, aih, kenapa aku bisa sampai pada pemikiran itu?” Pikir Ibu Suri pula.Kendati pun ia menyukai Gending dengan segala sikapnya, namun harapannya pada anak Setya Mukti masih membatu di dasar hatinya.“Lagi pula.., Gending itu hanya seorang ajudan.” Batinnya lagi.“Latar pendidikannya tidak terlalu mencolok.”“Latar belakang keluarganya juga tidak jelas.”“Kalau Widya menikah dengannya, lalu bagaimana dengan Arung Bahari Corp?”“Nah, terus, terus.., kalau anak Setya Mukti yang aku harapkan itu datang, lalu ternyata dia hanya seorang kurir paket, misalnya, bagaimana?”“Atau hanya seorang driver ojek, sopir bus, atau..,”“Ah, Widya.., laki-laki bagaimana sih yang pantas untuk kamu, Nak?” Sampai keesokan harinya, Ibu Suri terus berkutat dengan pemik
**“Maka.., apakah aku boleh menjadi istri kamu?”Dari atas ranjangnya Miss Widya menatap Gending begitu lekat. Ia menunggu jawaban dari sang ajudan itu dengan hati yang berdebar.Satu detik menunggu, dan jantungnya berdegup lima kali lebih cepat. Detik demi detik hingga berlalu menit, Gending tidak juga menjawab pertanyaan Miss Widya barusan.“Gending..,” panggil Miss Widya pelan.“Kalau cara menatapku ini sama seperti cara menatapnya seorang istri, apakah aku boleh menjadi istri kamu?”Miss Widya terus memandangi Gending yang tampak anteng dalam posisi berbaringnya di sofa. Ia memeluk selimut yang tadi ia gulung, seakan sedang memeluk seseorang.Jujur, malam ini Miss Widya ingin berada di dalam pelukan tangan Gending yang kukuh itu. Iya, tangan yang penuh dengan luka memar dan luka lecet itu.“Gending..,”Di saat menunggu jawaban itu tiba-tiba Miss Widya mendengar suara d
**“Apaaa..??” Pekik Widya terkejut.“Tenang saja, Miss. Jangan marah.”Widya langsung mencak-mencak kesetanan. Cup es krim yang masih berisi setengah ia campakkan ke tong sampah di pojok mobil.“Bagaimana saya tidak marah?? Hahh..?? Apa-a
**“Iya? Kisah nyata?” Tanya Miss Widya lagi, sambil tersenyum-senyum menahan geli.“Kalau iya, kenapa? Dan kalau tidak, kenapa?” Tanyaku pula.“Kalau iya, saya jadi penasaran sama yang setengah meter di rumah itu, hahaha..!”Aku man
**Dari dalam mobilnya, Widya terus melihat dan memperhatikan pembicaraan yang terjadi antara Mojo dan para preman itu.Ia tak habis pikir, heran setengah mati, ketika melihat para preman yang garang dan galak itu tiba-tiba berubah menjadi ramah dan menyalami Gending pula.&l
**Angin semilir yang berembus aku nikmati bersamaan dengan celotehan stand up comedian di atas panggung itu.Aku ikut tertawa bersama ratusan orang sambil sesekali melirik ke arah Miss Widya.Sekitar tujuh menit kemudian peserta stand up mengakhiri materinya. Tepuk tangan ya







