Share

Rahim Rini

Penulis: Dark_Pen
last update Tanggal publikasi: 2026-09-08 18:08:17

Plop!

Jaka mencabut batangnya yang basah kuyup dari rahim Rina dengan satu sentakan mantap. Rina terkulai lemas di atas peraduan, membuang napas tersengal-sengal dengan tubuh yang bergetar halus setelah dihantam klimaks dahsyat.

Tanpa membiarkan hawa gairah di dalam kamar berkanopi itu meredup sedikit pun, Jaka langsung menyambar pinggul Rini. Ia menarik tubuh molek sang adik, membalikkan posisinya hingga Rini terlentang pasrah di samping kakaknya. Sepasang paha mulus Rini direnggangkan lebar-l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Malam Terakhir dan Ramalan Leluhur

    Jaka sengaja menahan dorongan pinggulnya, membiarkan ujung kejantanannya yang tebal membara hanya menggesek bibir kewanitaan Tia yang sudah licin membasah. Gesekan yang tak kunjung menancap itu membuat Tia meliuk pasrah, matanya terpejam rapat seraya jemarinya mencengkeram lengan berotot Jaka dengan sangat erat. "Katakan dulu padaku, Tia... Ramalan apa?" desak Jaka dengan suara berat yang dipenuhi daya pikat gaib. Ia menunduk, melumat leher mulus Tia seraya memilin salah satu gundukan kenyalnya dengan tekanan yang pas. "Ahnnggg! Jakaaa... jangan siksa aku..." jerit Tia melengking pelan, tubuhnya membusur menagih kepenuhan. "R-ramalan leluhur Cakrawana... ahhh! Bahwa... wanita terpilih yang mengandung benih dari pemilik tiga pusaka... anaknya kelak akan menjadi penguasa agung yang memimpin seluruh daratan ini..." Jaka tersentak pelan di dalam hatinya, kini memahami alasan mendasar di balik gairah dan kepasrahan para wanita sakti di tanah ini. Seringai dominan kian terukir di wajah t

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Ramalan

    Pemilik sepasang mata di balik celah pintu itu menyapukan jemarinya yang gemetar ke bibirnya yang basah dan memerah. Dadanya naik-turun memburu, menahan detak jantung yang berdegup kencang selaras dengan gejolak aneh yang kian membakar area intimnya. Menyaksikan keperkasaan Jaka memanjakan dan membuahi si kembar secara bergantian benar-benar meruntuhkan seluruh dinding pertahanan dirinya. Di atas ranjang berkanopi, Jaka yang memiliki kepekaan indra luar biasa akibat gejolak tiga pusaka di dalam darahnya perlahan membuka mata. Ia melirik samar ke arah celah pintu yang terbuka sedikit. Seringai tipis penuh dominasi terukir di sudut bibirnya. Ia tahu betul siapa yang sedang mengintip dan terbuai oleh hawa gairah yang memenuhi ruangan tersebut. Tanpa melepaskan dekapan hangatnya pada Rina dan Rini yang masih terkulai lemas di dadanya, Jaka berbisik berat, suaranya menggelegar halus menembus keheningan kamar. "Kalau cuma menonton dari luar... rasa hausmu tidak akan pernah terobati..."

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Benar-Benar Perkasa

    Rini terkulai lemas di bawah kungkungan Jaka, matanya terpejam rapat dengan napas yang memburu pasrah. Seluruh dinding kewanitaannya berkedut ketat, memeras kejantanan Jaka seolah mengunci rapat setiap tetes benih yang membanjiri rahimnya. Sensasi hangat yang melimpah ruah di dasar kewanitaannya membuat tubuh Rini bergetar halus dalam kepuasan hebat.Jaka menahan posisinya selama beberapa saat, membiarkan benihnya meresap sempurna ke dalam tubuh Rini. Setelah memeluk dan mencium kening gadis itu dengan penuh kelembutan, Jaka perlahan menarik keluar batangnya.Plop!Semburan benih yang begitu pekat tampak meluap perlahan dari celah intim Rini yang merona merah, membasahi peraduan sutra keemasan. Rina yang berada di sisinya langsung mendekap adiknya yang sudah tak berdaya, mengusap peluh di dahi Rini seraya tersenyum bangga."Kamu hebat, Rini..." bisik Rina lembut, mengelus pipi adiknya yang masih memerah.Rini hanya tersenyum seraya memegang tangan kakaknya yang sedang mengusap keningn

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Rahim Rini

    Plop!Jaka mencabut batangnya yang basah kuyup dari rahim Rina dengan satu sentakan mantap. Rina terkulai lemas di atas peraduan, membuang napas tersengal-sengal dengan tubuh yang bergetar halus setelah dihantam klimaks dahsyat.Tanpa membiarkan hawa gairah di dalam kamar berkanopi itu meredup sedikit pun, Jaka langsung menyambar pinggul Rini. Ia menarik tubuh molek sang adik, membalikkan posisinya hingga Rini terlentang pasrah di samping kakaknya. Sepasang paha mulus Rini direnggangkan lebar-lebar, mengekspos liang senggamanya yang sudah sangat basah akibat remasan, kocokan jari, serta permainan lidah Rina sebelumnya.“Sekarang giliranmu, Rini...” bisik Jaka serak, sepasang matanya berkilat penuh dominasi.“T-Tuan... masukin... Aku udah enggak tahan...” rintih Rini parau, sepasang tangannya meremas kain seprai sutra dengan amat erat.Jaka mengarahkan ujung kejantanannya yang tebal dan membara tepat di bibir kewanitaan Rini yang merona merah. Tanpa ragu, Jaka menekan pinggulnya, mengh

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Threesome

    Rina dan Rini saling pandang dengan sepasang mata yang sayup-sayup dipenuhi luapan gairah. Pipi halus mereka merona merah padam, napas mereka berhembus memburu, naik-turun selaras dengan berguncangnya dua pasang gunung kembar yang ranum di atas dada mereka.Rina, yang baru saja melepaskan kehangatan batang perkasa Jaka dari mulutnya, menyapu sisa liur di bibir meronanya dengan ujung jemari. Dengan tatapan pasrah yang amat manja, ia menengadah menatap sepasang mata tajam Jaka.“Aku... aku dulu, Tuan,” bisik Rina parau, suaranya bergetar penuh gairah seraya memegang lembut paha kekar Jaka. “Jadikan aku milikmu lebih dulu...”Rini yang masih terkulai lemas akibat klimaks jari-jari Jaka hanya tersenyum tipis, mengangguk setuju seraya mengelus lembut jemari saudaranya. “Iya, Tuan... utamakan Kak Rina dulu. Aku akan menyusul...”Jaka menyeringai penuh kemenangan. Tanpa menunggu lebih lama, ia menarik tubuh Rina mendekat, membimbing gadis itu terlentang di atas seprai sutra keemasan. Jaka me

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Siapa Duluan?

    Jaka mendaratkan ciuman panas secara bergantian di bibir Rina dan Rini, melumatnya dengan kelembutan yang membakar. Desahan pasrah serempak lolos dari tenggorokan si kembar saat gaun tidur sutra tipis yang mereka kenakan perlahan meluncur jatuh ke lantai batu, mengekspos keindahan bentuk tubuh polos mereka yang ranum, mulus, dan sempurna di bawah pendar cahaya kamar.Tanpa membuang waktu, Jaka membimbing Rina dan Rini menuju ranjang berkanopi mewah. Ia membaringkan kedua gadis itu berdampingan. Pemandangan sepasang tubuh molek yang saling melengkapi di atas seprai sutra keemasan membuat hawa gaib tiga pusaka di dalam darah Jaka bergejolak kian liar.Jaka berlutut di antara sepasang tungkai mulus si kembar. Dengan jemarinya yang hangat dan mantap, ia memanjakan area sensitif Rina dan Rini secara bersamaan. Sentuhan,usapan, dan pijatan lincah yang ia berikan langsung memicu gelombang kenikmatan mendalam, membuat tubuh si kembar mengejang halus seraya meremas kain seprai rapat-rapat.Jak

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bertambah Besar

    Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” s

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Desahan di Dalam Gudang

    “Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.” Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut d

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Gairah di Dalam Basement

    Jaka terkesiap sesaat saat bibir ranum Sinta yang dilapisi lipstik mendarat di bibirnya. Aroma parfum Sinta yang sensual berpadu dengan bau khas barang-barang kuno di dalam basement, menciptakan sensasi gairah yang begitu kontras dan memabukkan.Meskipun pikiran Jaka masih dipenuhi tanda tanya besa

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Benda Karet Bu Lilis

    Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status