Share

Bertambah Besar

Penulis: Dark_Pen
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-24 16:19:39

Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya.

“Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi.

“U-udah, Bu,” sahut Jaka sambil mengulum senyum.

Bu Lilis mengernyit, pipinya masih merona. “Kenapa kamu senyam-senyum?”

“Eh, anu… enggak, Bu.” Jaka menunduk, namun pikirannya masih bergerak liar memikirkan benda karet yang ia temukan tadi.

“Ya sudah, pulang sana,” kata Bu Lilis lagi.

“Baik, Bu.”

Jaka langsung berjalan masuk ke dalam mengikuti Bu Lilis untuk keluar dari pintu depan.

“Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu,” ujar Jaka sambil sedikit menunduk.

Bu Lilis hanya mengangguk, tidak menjawab apa-apa.

Namun baru beberapa langkah Jaka berjalan, wanita itu kembali memanggil.

“Jaka!”

Jaka kembali menoleh. “I-iya, Bu.”

“Yang tadi… ka-kamu jangan bilang sama siapa-siapa, ya?” katanya gagap, pipinya benar-benar merona.

Jaka cengengesan mendengar hal itu. “I-iya, Bu, aman kok. Tapi…” Jaka menggantung ucapannya.

“Tapi apa?” tanya Bu Lilis ketus.

“Enggak jadi, deh Bu. Ya sudah saya pamit dulu.”

“Cih! Dasar, enggak jelas,” ketusnya seakan kesal, namun rona merah di pipinya berkata lain.

Selepas dari rumah Bu Lilis, Jaka langsung menuju ke pinggiran kota untuk membawa barang bekasnya ke penadah. Karung besarnya kini terisi penuh, namun anehnya, Jaka sama sekali tidak kesusahan saat memikulnya.

Di tempat penadah, seorang lelaki dengan mata sipit berkacamata duduk di balik meja menatapnya.

“Hayya! Jaka, lu punya banyak balang hari ini?”

Itu Koh Ahong, lelaki paruh baya keturunan Cina. Ia sudah cukup mengenal Jaka.

“Lu bawa apa aja hari ini?” tanya Koh Ahong lagi sambil melihat isi karung yang baru diletakkan oleh Jaka.

“Ini, Koh. Ada beberapa, ada besi, plastik, ada juga aluminium,” jawab Jaka sambil membongkar isi karungnya.

Koh Ahong mengelus janggut tipisnya. “Tumben lu punya banyak balang hari ini.”

“Lagi hoki, Koh,” jawab Jaka sekenanya.

“Ya sudah, owe timbang dulu.”

Jaka berdiri menunggu lelaki keturunan cina itu memilah dan menimbang barang bawaannya.

“Hayya, lu olang benar-benar hoki, ini sangat banyak,” kata Koh Ahong setelah menimbang beberapa barang. Lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Jaka hanya tersenyum, ia cukup senang. Tidak biasanya ia mendapat banyak barang seperti ini. Bukan itu saja, barang ini semua ia ambil gratis di rumah Bu Lilis, wanita yang terkenal galaknya minta ampun.

Setelah selesai menimbang, Koh Ahong langsung merogoh dompetnya. “Nah, ini uangnya,” kata lelaki itu sambil menyerahkan uang 150 ribu kepada Jaka.

“Wah, beneran nih, Koh? Banyak amat?” Jaka seolah tidak percaya dengan uang yang ia dapat.

“Hayya, lu olang aneh banget, dapat dikit salah, dapat banyak juga salah,” gerutu Koh Ahong sambil membetulkan kacamatanya.

Jaka terkekeh, segera menyambar uang 150 ribu itu dan memasukkannya ke saku celana dengan perasaan puas. "Bukannya gitu, Koh. Biasanya kan cuma dapat lima puluh ribu kalau karungnya segini. Makasih ya, Koh!"

Koh Ahong hanya mengibaskan tangan, menyuruh Jaka pergi. Namun, sesaat sebelum Jaka membalikkan badan, mata jeli Koh Ahong menangkap sesuatu yang berkilau di pergelangan tangan pemuda itu.

"Oey, Jaka! Tunggu dulu," panggil Koh Ahong tiba-tiba.

Jaka menoleh, merasa waswas jika Koh Ahong salah hitung timbangan dan ingin meminta uangnya kembali. "Kenapa, Koh?"

"Itu di tangan lu... gelang apa?" Koh Ahong mendekat, menyipitkan matanya yang memang sudah sipit. "Coba owe lihat sebentar."

Jaka sedikit ragu, namun ia mendekatkan tangannya. Koh Ahong tidak menyentuhnya, ia hanya memperhatikan detail karat yang mulai luntur dan memperlihatkan guratan kuno di permukaan gelang tersebut.

"Hayya... lu dapat dari mana ini?" tanya Koh Ahong dengan nada yang berubah serius, tidak ada lagi logat bercandanya.

"Ini peninggalan mendiang Bapak, Koh. Kenapa emangnya?" tanya Jaka heran.

Koh Ahong diam sejenak, tampak berpikir keras. "Enggak... kayaknya itu cuma besi tua yang sudah buluk. Tapi, kalau lu mau jual, owe bisa kasih harga tinggi. Bagaimana?"

Jaka tersentak. Tawaran Koh Ahong yang mendadak itu justru membuatnya curiga. Jika seorang penadah pelit seperti Koh Ahong berani menawar barang yang buluk, berarti barang itu punya nilai yang tidak main-main.

"Enggak, Koh. Ini peninggalan orang tua, mau saya simpan saja," tolak Jaka tegas.

Koh Ahong hanya mengangkat bahu, walau matanya masih terus menatap gelang itu sampai Jaka keluar dari gudangnya. "Ya sudah, kalau lu berubah pikiran, datang sama owe ya!”

Akhirnya siang itu, Jaka pulang ke desa dengan perasaan senang. Ia merasa cukup beruntung hari ini. Namun bukan itu saja, di perjalanan menuju rumah ia merasa tatapan para warga mulai berubah kepadanya. Mereka yang biasanya membuang muka dan menutup hidung saat Jaka melintas, kini malah tampak tertegun melihatnya.

“Kenapa ya orang-orang?” gumamnya yang belum sadar jika aura dan kharismanya mulai menguar hebat.

Hingga akhirnya ia berhenti di warung nasi di perempatan, hendak membeli makan siang. Kebetulan di sana ada Marni—si janda kembang simpanan Pak Kades.

Jaka berdiri tepat di sebelahnya. “Eh, Mbak Marni,” sapa Jaka spontan. Bahkan ia sendiri terkejut kenapa ia sepercaya diri ini.

Marni menoleh, matanya terbelalak melihat Jaka di sebelahnya. Ia segera menunduk, malu karena kejadian kemarin di gudang.

“Mau beli nasi juga, Mbak?” tanya Jaka basa-basi.

“I-iya.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut janda kembang itu, namun entah mengapa ada debar aneh di jantungnya yang membuat ia sesekali melirik ke arah Jaka.

“Ini, Mar, nasi kamu,” kata si ibu penjaga warung.

“Iya, Bu. Ini uangnya.” Setelah mengambil pesanannya, Marni langsung beranjak dari sana dengan pipi masih merona merah.

Jaka hanya melirik sekilas ke arah pinggul Marni yang bergoyang kiri kanan saat ia berjalan. Namun suara si ibu penjaga warung segera membuyarkan hayalannya.

“Jaka, kamu mau beli apa mau ngutang hari ini?”

“Beli lah, Bu, hehe.” Jaka cengengesan. “Satu, Bu ya? Mata sapi aja.”

Si ibu sedikit mengernyit menatap Jaka.

“Kenapa, Bu?” tanya Jaka heran.

“Eh, enggak. Kamu agak beda aja hari ini,” jawab si ibu sambil menyiapkan pesanan.

“Beda?” gumamnya sambil mengangkat bahu. Jaka tidak terlalu menghiraukan perkataan si ibu barusan.

Lima menit kemudian, pesanannya siap. “Ini Jaka,” kata si Ibu sambil menyodorkan nasi bungkus kepada Jaka.

“Ini Bu, uangnya.”

Setelah selesai membeli makan siang, Jaka langsung kembali ke rumah. Sebelum makan, ia menyempatkan diri untuk mandi. Cuaca akhir-akhir ini memang cukup terik.

Jaka membuka baju dan celananya, menyisakan celana dalam saja. Namun saat ia hendak melilitkan handuk di pinggangnya, Jaka tersentak melihat gundukan miliknya tampak lebih besar.

“Eh, kok punya gue jadi besar begini, ya?” gumamnya bingung. Ia menarik celana dalamnya untuk melihat miliknya di dalam sana.

“Astaga! Kok bisa begini?”

Betapa terkejutnya Jaka, saat melihat kejantanannya kini lebih besar dari sebelumnya, padahal ia tidak ereksi sama sekali.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Gairah Terpendam

    Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai.“Anu, Bu… saya…”Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggiurkan, lelaki mana yang mampu menolak ajakan hubungan dengan istri Pak Kades yang bohai ini, lagipula Bu Lilis juga menjanjikan kontrakan Jaka yang menunggak dua bulan akan lunas.“Jaka, lihat saya,” kata Bu Lilis lagi, tangannya yang mulus kini mulai memegang pipi Jaka. “Saya rasa kamu orang yang tepat, Jaka. Saya…” Bu Lilis menggantungkan ucapannya. Tangannya kini mulai memegang tangan Jaka dan menuntunnya ke arah dua aset berharga di bawah lehernya.“Saya tahu, selama ini kamu selalu curi-curi pandang ke sini, kan?” katanya lagi yang membuat jantung Jaka berdebar hebat.“Jaka, saya tidak tahu mengapa, akhir-akhir ini kamu cukup menarik,” katanya lagi sambil memegang tengkuk Jaka.Jaka tidak

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Hasrat Bu Lilis

    Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka jika Bu Susi akan memberikannya uang sebanyak itu. “Emang orang kaya mah beda, ngasih 500 ribuan kayak ngasih dua rebu ke tukang parkir,” gumamnya senang. Jaka memegang uang tersebut dengan mata berbinar. “Bisa buat tunggakan kontrakan ini,” gumamnya sambil menyimpan uang tersebut di bawah bantal. Jaka langsung bersiap-siap untuk mandi karena nanti malam ia akan mengunjungi rumah Bu Lilis untuk menyetor uang kontrakan satu bulan lagi. Jaka begitu antusias kali ini, ia merasa seperti ada sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. Sejak semalam orang-orang seolah mulai bersikap baik kepadanya. Setelah mandi, Jaka berdiri di depan cermin kecil di dalam kamarnya, memastikan pakaiannya rapi dan

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Godaan Si Guru Cantik

    Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jaka yang lumayan sempit membuat dua aset kembar itu tercetak jelas. “Anu, Bu, kok ibu bisa di sekolah sore-sore begini sendirian?” tanya Jaka membuka obrolan. Bus Susi menunduk, kejadian tadi cukup membuat mentalnya terguncang. “Tadi saya telat pulang, ngerjain laporan murid karena ini hampir ujian,” jawab guru cantik itu dengan suara bergetar. “Tapi… pas saya mau keluar, tiba-tiba orang itu ada di sana dan langsung nyeret saya ke dalam.” Bu Susi menoleh ke arah Jaka. “Untung aja ada kamu, Jaka,” katanya dengan mata berbinar. “Makasih, ya?” Jaka menelan ludah, “i-iya, Bu. Sama-sama.” Bu Susi sendiri adalah seorang guru pindahan dari kota, baru sekitar enam bulan lalu ia tinggal di desa in

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bu Susi dan Kelas Kosong

    Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot lengannya yang terasa lebih kekar, perutnya juga mulai tampak sixpack layaknya orang yang rutin nge-gym di tempat kebugaran. Dan yang lebih membagongkan ukuran kejantanannya yang bertambah besar hampir dua kali lipat dari sebelumnya. “Apa gara-gara gelang ini, ya?” gumamnya sambil memperhatikan gelang di tangan kirinya. “Ah! Mana mungkin,” gumamnya lagi. Jaka yang cukup skeptis pada hal-hal berbau supranatural tentu saja tidak percaya jika sebuah benda seperti gelang ini bisa memberikan perubahan yang signifikan dalam hidupnya. “Ya udahlah ya, yang penting gue enggak kenapa-napa,” gumamnya lagi tidak terlalu peduli dengan perubahan aneh tersebut. Setelah cukup beristirahat di rumah, Jaka

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bertambah Besar

    Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” sahut Jaka sambil mengulum senyum. Bu Lilis mengernyit, pipinya masih merona. “Kenapa kamu senyam-senyum?” “Eh, anu… enggak, Bu.” Jaka menunduk, namun pikirannya masih bergerak liar memikirkan benda karet yang ia temukan tadi. “Ya sudah, pulang sana,” kata Bu Lilis lagi. “Baik, Bu.” Jaka langsung berjalan masuk ke dalam mengikuti Bu Lilis untuk keluar dari pintu depan. “Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu,” ujar Jaka sambil sedikit menunduk. Bu Lilis hanya mengangguk, tidak menjawab apa-apa. Namun baru beberapa langkah Jaka berjalan, wanita itu kembali memanggil. “Jaka!” Jaka kembali menoleh. “I-iya, Bu.” “Yang tadi… ka-kamu jangan bilang sama siapa-siapa, ya?” katanya gagap, pipinya ben

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Benda Karet Bu Lilis

    Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan. Ia tersenyum tipis mengingat kenangan masa kecil bersama ayahnya dulu. Ayahnya meninggal saat Jaka masih berusia delapan tahun, saat Jaka masih duduk di kelas 3 SD. Lalu ia melihat uang 500 ribu peninggalan ibunya. “Terima kasih, Bu,” gumamnya lirih. Setidaknya dengan uang ini, Jaka bisa memberikan panjar terlebih dahulu kepada Bu Lilis, berharap wanita itu mau menerimanya dan membiarkannya tinggal di sini lagi. Biaya sewa kontrakan kecil milik Jaka 400 ribu perbulannya. Dia sudah menunggak selama 3 bulan, berarti Jaka membutuhkan uang 1,2 juta untuk melunasi semuanya. Malam harinya. Bermodalkan uang 500 ribu yang ia kantongi, Jaka pergi ke rumah Pak Kades, ia ingin bertemu dengan Bu Lil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status