Share

Benda Karet Bu Lilis

Author: Dark_Pen
last update Last Updated: 2026-02-24 16:18:50

Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi.

Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan. Ia tersenyum tipis mengingat kenangan masa kecil bersama ayahnya dulu. Ayahnya meninggal saat Jaka masih berusia delapan tahun, saat Jaka masih duduk di kelas 3 SD. Lalu ia melihat uang 500 ribu peninggalan ibunya.

“Terima kasih, Bu,” gumamnya lirih. Setidaknya dengan uang ini, Jaka bisa memberikan panjar terlebih dahulu kepada Bu Lilis, berharap wanita itu mau menerimanya dan membiarkannya tinggal di sini lagi.

Biaya sewa kontrakan kecil milik Jaka 400 ribu perbulannya. Dia sudah menunggak selama 3 bulan, berarti Jaka membutuhkan uang 1,2 juta untuk melunasi semuanya.

Malam harinya. Bermodalkan uang 500 ribu yang ia kantongi, Jaka pergi ke rumah Pak Kades, ia ingin bertemu dengan Bu Lilis untuk memberikan uang sewa kontrakan.

Tok Tok!

Tidak lama kemudian pintu terbuka, seorang wanita dengan piyama tidur berdiri di ambang pintu.

“Jaka?!”

Itu Bu Lilis, seperti biasa, penampilannya selalu saja berhasil membuat Jaka menelan ludahnya. Piyama tidur yang wanita itu pakai begitu tipis, hingga siluet lekuk tubuhnya terlihat samar di bawah lampu teras yang menyala.

“Ma-malam, Bu, maaf mengganggu,” kata Jaka terbata-bata. Saking seringnya ia dibentak oleh Bu Lilis, membuat mental Jaka selalu ciut saat bertemu dengan istri Pak Kades tersebut.

Namun di luar dugaan, Bu Lilis tidak segarang biasanya.

“Nga-ngapain kamu ke sini malam-malam?” tanya wanita itu, suaranya terdengar sedikit bergetar.

“Anu, Bu.” Jaka mengangkat wajahnya menatap mata si wanita pemilik tubuh aduhai dan wajah yang mempesona.

Deg!

Bu Lilis yang biasanya akan langsung tantrum saat melihat Jaka, malam ini tampak berbeda. Wanita itu merasa ada yang aneh, jantungnya tiba-tiba berdebar saat matanya bertemu dengan mata Jaka. Ia menatap Jaka dari ujung kaki ke ujung kepala, tidak biasanya ia melihat pria itu sedalam ini.

“Ini, Bu.” Jaka menyerahkan uang 400 ratus ribu pada Bu Lilis. “Saya baru punya segini, untuk satu bulan. Sisa dua bulan lagi nanti akan segera saya lunasi, Bu.”

Tangan Jaka gemetar saat memberikan uang tersebut. Ia sudah menyiapkan mental dan telinganya untuk mendengar makian istri Pak Kades itu lagi.

Namun lagi-lagi di luar dugaan. Alih-alih memakii Jaka, Bu Lilis malah tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengambil uang yang diberikan Jaka kepadanya.

“Ya sudah, kali ini kamu saya kasih kesempatan.” Bu Lilis akhirnya bersuara setelah dari tadi ia diam memandangi Jaka.

“Terima kasih banyak, Bu.” Jaka langsung membungkuk, berterima kasih karena diberi keringanan.

Bu Lilis menghela napas panjang, hingga membuat dua bukit kembarnya naik turun seirama. Entah mengapa, Jaka terlihat berbeda malam ini di matanya. Pemuda yang biasanya tampak kusam dan bau sampah, kini terlihat cukup tegap dengan bahu lebar dan garis rahang yang tegas.

“Ya sudah, Bu, saya permisi dulu.” Jaka membungkuk sejenak, lalu ia segera berbalik arah ingin meninggalkan kediaman Bu Lilis.

Namun baru satu langkah ia berjalan, tiba-tiba Bu Lilis kembali memanggil.

“Jaka!”

Ia menoleh kembali. “I-iya, Bu.”

Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, mengatur ritme napasnya yang tiba-tiba saja memburu tanpa ia tahu apa sebabnya. “Besok kamu ke sini, di belakang ada beberapa rongsokan yang udah enggak kepakai lagi,” katanya tegas namun tidak berani menatap mata Jaka.

“Oh, iya, Bu, Baik. Besok pagi saya ke sini lagi,” sahut Jaka sambil tersenyum, ia juga merasa sikap Bu Lilis berbeda kepadanya malam ini.

“Ya sudah, kamu pulang sana. Saya mau tidur,” kata istri Pak Kades itu lagi, lalu ia segera masuk ke dalam dan menutup pintu.

Jaka langsung kembali ke rumahnya. Seharian memulung barang-barang bekas cukup membuatnya lelah dan segera ingin tidur.

***

Keesokan paginya. Jaka terjaga cukup pagi seperti biasanya. Hidup seorang diri memaksanya untuk melakukan semuanya sendirian, ia harus mencuci pakaiannya pagi buta lalu menjemurnya, baru setelah itu ia keluar untuk mengais barang-barang bekas guna menyambung hidupnya.

Sesuai janjinya kepada Bu Lilis semalam, sekitar jam sembilan pagi, Jaka sudah berada di depan rumah wanita itu.

Tok Tok!

Bu Lilis membuka pintu dan mendapati Jaka sudah berdiri di depan dengan sebuah karung kosong yang ia sampirkan di bahu.

“Oh kamu sudah datang rupanya,” ujar Bu Lilis. Wanita itu hanya mengenakan daster tanpa lengan dan kerah cukup rendah, hingga samar belahan bukit kembarnya mengintip keluar membuat Jaka sedikit salah tingkah karenanya.

“Ayo masuk, rongsokannya ada di belakang,” kata wanita itu lagi.

“Baik, Bu.”

Jaka langsung melangkah ke dalam mengikuti Bu Lilis yang berjalan di depannya. Goyangan pinggul wanita itu cukup membuat Jaka betah berlama-lama di belakangnya.

“Ma-maaf, Bu. Pak Kades enggak ada di rumah?” Jaka memberanikan diri untuk bertanya.

“Enggak,” jawab wanita itu singkat. “Pagi-pagi tadi udah berangkat dia,” lanjutnya. Ada nada yang tidak mengenakkan dari suaranya. Sepertinya hubungan mereka kurang baik.

Di belakang rumah, terlihat tumpukan rongsokan di dekat dinding.

“Itu rongsokannya, ambil aja semuanya,” kata Bu Lilis.

“Baik, Bu.” Jaka langsung mendekat ke arah tumpukan rongsokan di belakang. Sementara Bu Lilis mengambil kursi plastik dan ikut duduk di sana melihat Jaka yang sedang sibuk memilah-milah rongsokan ke dalam karung.

Bu Lilis duduk menyilangkan kakinya hingga dasternya tersingkap memperlihatkan betisnya yang putih mulus. Ia sesekali mengulum senyum sambil melihat lengan Jaka yang tampak kekar saat memindahkan beberapa rongsokan. Entah mengapa, ia cukup betah menatap pemuda itu hari ini.

Sementara Jaka, ia mulai memasukkan beberapa rongsokan ke dalam karung, ia tampak sangat fokus, hingga sebuah benda yang ia temukan di sana membuat fokusnya buyar.

“Eh, ini?” Kening Jaka mengerut, ia melihat benda karet hitam panjang, persis seperti alat kelamin pria.

Jaka mengambilnya, lalu ia menoleh ke arah Bu Lilis yang masih duduk di sana. “Bu… i-ini.”

Bu Lilis yang sedang asik memandangi Jaka tiba-tiba tersentak kaget saat melihat benda yang pemuda itu pegang.

“Ehh, itu?!”

Bu Lilis langsung bangkit dan dengan cepat merebut benda itu dari tangan Jaka. Pipinya langsung merah merona.

“Ihh, dasar! Pantesan aku cari-cari enggak ada, pasti si bapak yang buang,” gumamnya yang masih terdengar jelas di telinga Jaka.

Jaka cengengesan, ia tahu apa kegunaan benda itu. Apalagi saat melihat Bu Lilis menggenggam benda itu dengan erat, pikirannya langsung melayang kemana-mana.

“Apa kamu senyam-senyum?” tanya Bu Lilis gugup sambil menyembunyikan benda itu di balik punggungnya.

“A-anu, itu Bu—”

“Bukan urusan kamu,” potong Bu Lilis cepat, pipinya merah padam karena malu. Lalu tanpa menunggu jawaban Jaka lagi ia langsung bergegas masuk ke dalam untuk menyimpan benda kesayangannya itu.

Jaka menggeleng pelan sambil terkekeh. “Apa punya Pak Kades enggak cukup, ya? Sampe Bu Lilis harus pake benda gituan,” gumamnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Gairah Terpendam

    Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai.“Anu, Bu… saya…”Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggiurkan, lelaki mana yang mampu menolak ajakan hubungan dengan istri Pak Kades yang bohai ini, lagipula Bu Lilis juga menjanjikan kontrakan Jaka yang menunggak dua bulan akan lunas.“Jaka, lihat saya,” kata Bu Lilis lagi, tangannya yang mulus kini mulai memegang pipi Jaka. “Saya rasa kamu orang yang tepat, Jaka. Saya…” Bu Lilis menggantungkan ucapannya. Tangannya kini mulai memegang tangan Jaka dan menuntunnya ke arah dua aset berharga di bawah lehernya.“Saya tahu, selama ini kamu selalu curi-curi pandang ke sini, kan?” katanya lagi yang membuat jantung Jaka berdebar hebat.“Jaka, saya tidak tahu mengapa, akhir-akhir ini kamu cukup menarik,” katanya lagi sambil memegang tengkuk Jaka.Jaka tidak

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Hasrat Bu Lilis

    Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka jika Bu Susi akan memberikannya uang sebanyak itu. “Emang orang kaya mah beda, ngasih 500 ribuan kayak ngasih dua rebu ke tukang parkir,” gumamnya senang. Jaka memegang uang tersebut dengan mata berbinar. “Bisa buat tunggakan kontrakan ini,” gumamnya sambil menyimpan uang tersebut di bawah bantal. Jaka langsung bersiap-siap untuk mandi karena nanti malam ia akan mengunjungi rumah Bu Lilis untuk menyetor uang kontrakan satu bulan lagi. Jaka begitu antusias kali ini, ia merasa seperti ada sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. Sejak semalam orang-orang seolah mulai bersikap baik kepadanya. Setelah mandi, Jaka berdiri di depan cermin kecil di dalam kamarnya, memastikan pakaiannya rapi dan

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Godaan Si Guru Cantik

    Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jaka yang lumayan sempit membuat dua aset kembar itu tercetak jelas. “Anu, Bu, kok ibu bisa di sekolah sore-sore begini sendirian?” tanya Jaka membuka obrolan. Bus Susi menunduk, kejadian tadi cukup membuat mentalnya terguncang. “Tadi saya telat pulang, ngerjain laporan murid karena ini hampir ujian,” jawab guru cantik itu dengan suara bergetar. “Tapi… pas saya mau keluar, tiba-tiba orang itu ada di sana dan langsung nyeret saya ke dalam.” Bu Susi menoleh ke arah Jaka. “Untung aja ada kamu, Jaka,” katanya dengan mata berbinar. “Makasih, ya?” Jaka menelan ludah, “i-iya, Bu. Sama-sama.” Bu Susi sendiri adalah seorang guru pindahan dari kota, baru sekitar enam bulan lalu ia tinggal di desa in

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bu Susi dan Kelas Kosong

    Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot lengannya yang terasa lebih kekar, perutnya juga mulai tampak sixpack layaknya orang yang rutin nge-gym di tempat kebugaran. Dan yang lebih membagongkan ukuran kejantanannya yang bertambah besar hampir dua kali lipat dari sebelumnya. “Apa gara-gara gelang ini, ya?” gumamnya sambil memperhatikan gelang di tangan kirinya. “Ah! Mana mungkin,” gumamnya lagi. Jaka yang cukup skeptis pada hal-hal berbau supranatural tentu saja tidak percaya jika sebuah benda seperti gelang ini bisa memberikan perubahan yang signifikan dalam hidupnya. “Ya udahlah ya, yang penting gue enggak kenapa-napa,” gumamnya lagi tidak terlalu peduli dengan perubahan aneh tersebut. Setelah cukup beristirahat di rumah, Jaka

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bertambah Besar

    Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” sahut Jaka sambil mengulum senyum. Bu Lilis mengernyit, pipinya masih merona. “Kenapa kamu senyam-senyum?” “Eh, anu… enggak, Bu.” Jaka menunduk, namun pikirannya masih bergerak liar memikirkan benda karet yang ia temukan tadi. “Ya sudah, pulang sana,” kata Bu Lilis lagi. “Baik, Bu.” Jaka langsung berjalan masuk ke dalam mengikuti Bu Lilis untuk keluar dari pintu depan. “Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu,” ujar Jaka sambil sedikit menunduk. Bu Lilis hanya mengangguk, tidak menjawab apa-apa. Namun baru beberapa langkah Jaka berjalan, wanita itu kembali memanggil. “Jaka!” Jaka kembali menoleh. “I-iya, Bu.” “Yang tadi… ka-kamu jangan bilang sama siapa-siapa, ya?” katanya gagap, pipinya ben

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Benda Karet Bu Lilis

    Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan. Ia tersenyum tipis mengingat kenangan masa kecil bersama ayahnya dulu. Ayahnya meninggal saat Jaka masih berusia delapan tahun, saat Jaka masih duduk di kelas 3 SD. Lalu ia melihat uang 500 ribu peninggalan ibunya. “Terima kasih, Bu,” gumamnya lirih. Setidaknya dengan uang ini, Jaka bisa memberikan panjar terlebih dahulu kepada Bu Lilis, berharap wanita itu mau menerimanya dan membiarkannya tinggal di sini lagi. Biaya sewa kontrakan kecil milik Jaka 400 ribu perbulannya. Dia sudah menunggak selama 3 bulan, berarti Jaka membutuhkan uang 1,2 juta untuk melunasi semuanya. Malam harinya. Bermodalkan uang 500 ribu yang ia kantongi, Jaka pergi ke rumah Pak Kades, ia ingin bertemu dengan Bu Lil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status