LOGINLuo Yi menghela nafas. “Ternyata Anda Guru, saya pikir orang lain,” katanya seraya menatap Hua Lianyi yang muncul dari pintu masuk tangga spiral.
“Aku hanya sedang menguji ketenanganmu,” kata Hua Lianyi dengan tenang. “Tetaplah tenang dalam kondisi apa pun, Yi'er.”
“Saya benar-benar tidak menduga kalau Guru akan menguji ketenangan saya lagi.” Luo Yi menatap seruling di tangannya. “Saya rasa, Guru melakukan sesuatu pada seruling ini.”
Hua Lianyi tersenyum tipis. “Kau menyadarinya.”
“Saya merasa Guru memiliki banyak cara untuk menguji ketenangan saya.” Luo beranjak berdiri, pandangan matanya masih tertuju pada sang guru yang berdiri di hadapannya. “Mulai sekarang, saya akan berusaha untuk selalu dalam keadaan tenang. Apa pun kejutan yang akan Guru berikan untuk menguji ketenangan saya, saya siap menghadapinya dengan ketenangan!”
***
Tiga tahun telah berlalu. Di bawah bimbingan Hua Lianyi, Luo Yi tumbuh menjadi sosok yang sangat berbeda. Tidak ada lagi kegugupan atau amarah remaja dalam dirinya. Tatapannya kini dalam dan tenang, langkahnya mantap, dan setiap kata yang ia ucapkan mengandung ketegasan yang menenangkan. Hutan Lianhua bukan hanya tempat latihan, tetapi tempat kelahiran kembali dirinya yang baru.
Siang itu, setelah bermeditasi seorang diri di atas Bunga Lotus Biru, Luo Yi segera menemui gurunya di Paviliun Bunga Persik.
Hanya dalam waktu satu tarikan nafas saja, ia telah tiba di sana, di hadapan Hua Lianyi yang tengah duduk bersandar di bawah pohon bunga persik seraya memainkan seruling.
Tidak mungkin jika Luo Yi datang dari Danau Bunga Lotus ke Paviliun Bunga Persik hanya dalam waktu satu tarikan nafas saja, jika pemuda itu tidak menggunakan Jurus Teleportasi.
Hua Lianyi menghentikan permainan serulingnya dan mengangkat pandangan. Di hadapannya, kini berdiri sosok murid yang telah ia bimbing selama tiga tahun. Dalam diam, ia memperhatikan Luo Yi.
“Begitu banyak yang telah berubah,” batinnya.
Pemuda itu kini berdiri tegap, mengenakan jubah biru kehijauan yang berkibar lembut tertiup angin. Tubuhnya lebih berisi, wajahnya lebih tegas, dan sorot matanya ... tenang, dalam, namun penuh keteguhan. Tak ada lagi kegugupan remaja dalam dirinya. Setiap langkah dan geraknya kini mengandung kesadaran dan kendali.
“Tatapanmu sudah berbeda, Yi’er,” gumam Hua Lianyi dalam hati, bibirnya melengkung tipis membentuk senyum bangga. “Kau bukan lagi anak yang dulu datang ke hutan ini dengan mata penuh dendam.”
Hua Lianyi menatap Luo Yi yang kini berdiri di hadapannya, lalu bertanya dengan tenang, “Ada apa, Yi’er?”
Luo Yi menundukkan kepala dengan hormat. “Guru, aku datang untuk berpamitan,” katanya dengan tenang, dan kini ia tak lagi menggunakan bahasa formal seperti dulu. Karena dalam waktu tiga tahun ini, ikatan dirinya dengan Hua Lianyi menjadi sangat kuat, seolah gurunya itu adalah ibu kedua bagi Luo Yi.
Hua Lianyi terdiam sejenak, menatap dalam sorot mata pemuda itu. Tatapan yang dulu penuh gejolak kini telah menjadi sebening dan setenang danau di pagi hari.
“Aku telah menguasai Teknik Pernafasan Alam dan semua jurus yang Guru ajarkan. Aku merasa … sudah waktunya untuk kembali.”
Angin berembus pelan, menggerakkan daun-daun Bunga Persik yang berguguran di sekitar mereka. Hua Lianyi tersenyum tipis, tetapi ada sedikit bias emosi dalam pandangannya.
Hua Lianyi beranjak berdiri, lalu melangkah dengan tenang mendekati Luo Yi. Setelah berada di hadapannya, ia menyodorkan seruling perak kesayangannya. “Bawalah ini, Yi'er. Hanya ini yang bisa kuberikan sebagai kenang-kenangan,” ucapnya lembut.
Hati Luo Yi tersentuh, namun wajahnya tetap tampak tenang, karena sekarang ia tak lagi mudah dikendalikan oleh emosi. Jika bukan karena ketenangannya yang luar biasa, sekarang ini ia pasti menitihkan air mata. “Terima kasih, Guru,” ucapnya tenang. “Tapi bagiku, tidak hanya seruling ini yang akan menjadi kenang-kenangan, tetapi semua yang telah Guru ajarkan padaku adalah kenangan terindah yang takkan pernah kulupakan.”
“Sebelum kau pergi, aku ingin berpesan padamu.” Hua Lianyi menatap wajah Luo Yi dengan tenang. “Gunakanlah kekuatanmu untuk menolong yang lemah dan membela diri dari orang yang berusaha mencelakaimu. Jangan pernah kau gunakan kekuatanmu dengan niat untuk balas dendam dan kesombongan.”
“Baik, Guru,” jawab Luo Yi dengan tenang, lalu ia menangkupkan tinju di depan dada dan sedikit membungkukkan badannya seraya berkata, “Kalau begitu, saya pamit undur diri.”
“Pergilah, dan jaga dirimu baik-baik,” kata Hua Lianyi dengan tenang.
Luo Yi menutup matanya sejenak, lalu mengaktifkan Jurus Teleportasi. Dalam sekejap, tubuhnya memudar seperti kabut tertiup angin, meninggalkan serpihan cahaya samar yang perlahan menghilang di udara.
Hua Lianyi berdiri diam menatap tempat muridnya tadi berdiri. Angin berembus pelan, menggoyangkan ujung jubah dan daun-daun Bunga Persik yang gugur di sekitarnya. Tak ada kata, hanya tatapan kosong penuh makna.
“Selamat jalan, Yi’er,” gumamnya tenang. “Semoga kau menemukan jalanmu sendiri.”
***
Hutan Lianhua terletak di sebelah tenggara dari Ibukota Ningzou. Namun, dengan Jurus Teleportasi-nya, Luo Yi tidak langsung berpindah ke rumahnya, melainkan berpindah ke Gunung Cangwu yang terletak di sebelah timur laut dari Ibukota Ningzou. Hal tersebut ia lakukan agar orang-orang mengira kalau ia datang dari gunung itu, bukan dari Hutan Lianhua.
Bagaimanapun juga, Hua Lianyi berpesan padanya untuk selalu merahasiakan tentang hutan itu kepada siapa pun. Selain itu, ia juga tidak ingin terlihat seperti Kultivator Ranah Legenda karena bisa melakukan Jurus Teleportasi dengan energi alam.
Dari Puncak Gunung Cangwu, Luo Yi melihat tidak ada siapa pun di sini, tempat ini sepi, ia tidak melihat manusia maupun hewan di sini. Heningnya tempat ini hanya dipecah oleh desiran suara angin yang bergemuruh. Meski dingin, ia tidak menggigil dan tetap terlihat sangat tenang, seolah tidak kedinginan sedikit pun.
Merasa tidak ada seorang pun yang melihatnya, ia pun menuruni gunung ini dengan Jurus Langkah Angin, membuat dirinya bergerak secepat angin bertiup.
Dalam beberapa tarikan nafas saja, ia tiba di kaki Gunung Cangwu. Dari sini ia bisa melihat Ibukota Ningzou sudah tak jauh lagi, kurang lebih sekitar empat li.
Dari sini pun ia memutuskan menuju ke Ibukota Ningzou dengan jalan santai. Meski ia punya Jurus Teleportasi dan Jurus Langkah Angin, tetapi ia tidak ingin terlihat terlalu mencolok di mata masyarakat. Namun tetap saja, ada yang tidak bisa ia sembunyikan, yaitu fisik tubuhnya yang sekarang terlihat lebih tinggi dan lebih kekar berkat latihan keras dan rutin mengonsumsi sumber daya langka yang hanya ada di Hutan Lianhua.
Setelah satu batang dupa terbakar melakukan perjalanan dengan jalan santai, akhirnya ia tiba di Klan Qiau yang merupakan Ibukota Ningzou bagian timur.
Ya. Ibukota Ningzou terdiri dari empat klan, yaitu: Klan Qiau bagian timur, Klan Yu barat, Klan Su Utara, Klan Luo tenggara dan bagian tengah adalah pusat ibukota.
Ketika Luo Yi memasuki Klan Qiau, dari arah lain ia mendengar suara seseorang menyebut namanya.
“Luo Yi, kaukah itu?”
Setelah Luo Yi selesai memainkan seruling, Yun Xiao bertanya pada bocah di hadapannya. "Apakah sekarang kau sudah bisa mendengar, Jia'er?" Dalam satu tarikan nafas, mata Chen Jia seketika berbinar-binar. "Aku bisa mendengar!" Ia kemudian menoleh ke arah Chen Lao. "Paman, aku bisa mendengar lagi.""Benar ... kah?" tanya Chen Lao, rasa syukur dan haru tersirat dalam sorot matanya. "Hump." Chen Jia mengangguk-angguk seraya tersenyum. Chen Lao langsung maju dan memeluk keponakannya yang duduk di tepi ranjang itu. "Syukurlah, Nak! Akhirnya ada yang bisa menyembuhkanmu!" Ia kemudian menoleh ke arah Yun Xiao. "Terima kasih banyak."Yun Xiao mengangkat kedua tangannya, lalu ia menoleh ke arah Luo Yi seraya berkata, "Berterima kasihlah pada Luo Yi, tanpa bantuannya, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa."Chen Lao beralih menoleh ke arah Luo Yi. "Terima kasih banyak telah menyembuhkan keponakanku. Berapa biaya pengobatan yang harus kubayar untuk kesembuhan keponakanku?"Luo Yi menggeleng pe
DUAR!"Aaaargh!"Tiba-tiba ada sebuah penghalang tak kasat mata yang membuat Ting Ting Xir terpental. Meski rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya, ia tetap berusaha mengeluarkan energi hitamnya untuk menahan tekanan udara, agar dirinya tidak terpelanting semakin jauh.Setelah berhasil mendaratkan tubuhnya dengan aman di atas tanah padang rumput, sesuatu yang mengganjal naik ke tenggorokannya, membuatnya merasa mual, ada rasa anyir yang aneh. Tak tahan dengan semua perasaan asing itu, ia mengeluarkan seteguk darah, ini membuatnya lega dan rasa sakit di dadanya berkurang, meski nafasnya tersengal-sengal setelah itu.Ting Ting Xir mengeluarkan pil pemulih luka dari cincin penyimpanan dan menelannya, kemudian ia duduk bersila dan membuat segel pemulih sebelum memejamkan mata.Beberapa saat kemudian, ia kembali membuka mata dengan pandangan yang lebih cerah, menandakan bahwa tubuhnya telah kembali pulih. Namun, dalam sorot mata yang cerah itu, ada bara api yang menyala.Ting Ting Xir be
"Tidak mungkin!" gumam Yun Xiao lirih. Ia tidak menyangka Teknik Pelepas Energinya akan gagal. Luo Yi merasa ada sesuatu yang janggal. Ia pun langsung mengaktifkan Teknik Mata Cakrawala, dan yang ia lihat, ternyata ada aliran energi hitam sangat halus dari arah barat laut, yang terus-menerus merangsak masuk ke dalam indera pendengaran Chen Jia. Sehingga, ketika Yun Xiao melepas energi hitam pada indera pendengaran Chen Jia dengan tekniknya, Chen Jia tetap tidak mendengar apa-apa, karena ada energi hitam baru yang langsung mengikat indera pendengaran Chen Jia lagi. "Jia'er akan sembuh, kan?" tanya Chen Lao dengan penuh harap. "Tentu," jawab Luo Yi dengan tenang. "Tenang dan bersabarlah. Keponakan Anda sebentar lagi akan sembuh." Luo Yi kemudian menatatap Yun Xiao. "Sepuluh tarikan nafas setelah aku memainkan seruling, gunakan Teknik Pelepas Energi lagi." Mendengar kata 'seruling', Yun Xiao mengerutkan kening, dan seketika ia teringat dengan seruling iblis yang digunakan Ting
Di Lembah Batu Hitam yang sepi, seorang pria yang tampak berusia dua puluh tujuh tahun, mengenakan jubah merah, sedang berjalan-jalan dengan santai. Dinamakan Lembah Batu Hitam karena terdapat banyak sekali batu-batu berwarna hitam pekat di daerah ini. Batu-batu tersebut dipercaya memiliki energi negatif. Suasana di lembah ini sangat sepi, karena jarang ada orang yang berani datang ke tempat ini, kecuali untuk melakukan ritual gelap. Bahkan langit di tempat ini tak pernah cerah meski di siang hari, menjadikan atmosfer tempat ini menjadi suram dan mengerikan. Langkah pria berjubah merah itu membawanya sampai pada sebuah goa. Sambil tersenyum tipis, ia memasuki goa itu, melangkah ke arah sebuah batu besar dan duduk di atasnya. "Tumbalnya sudah cukup, dan sudah saatnya aku melakukan ritual," ucapnya disertai senyum penuh kepuasan. Pria itu kemudian duduk bersila dan memejamkan mata. Namun, baru beberapa saat ia memejamkan mata, ia langsung membuka matanya dengan cepat. "Apa?
Luo Yi tetap membuka pintu rumah kayu itu dan melangkah masuk ke dalam seraya berkata, "Kau tenang saja. Ketujuh bayangan cahayaku masih aktif dan masih berjaga di setiap sudut hutan. Jika salah satu bayanganku ada yang melihat musuh, maka aku akan langsung mengetahuinya. Sebab, antara aku dan bayanganku itu satu dan terhubung.""Oh, jadi begitu, ya," kata Yun Xiao seraya menutup pintu. Setelah mendengar penjelasan Luo Yi, ia jadi merasa tenang sekarang.Sementara itu, di Kota Xianglu, orang-orang sana dibuat bingung dengan munculnya cahaya yang berasal dari arah Hutan Xuanyan. Banyak yang menebak bahwa di hutan tersebut sedang terjadi pertarungan. Fenomena datangnya cahaya tersebuut menjadi perbincangan orang-orang di Kota Xianglu, karena kota tersebut merupakan daerah yang paling dekat dengan Hutan Xuanyan. Namun, meskipun di Kota Xianglu ada banyak kultivator, tak satupun di antara mereka yang berani mengecek keadaan di hutan itu. Karena, menurut prediksi mereka, cahaya seterang
Karena penasaran, Yun Xiao pun langsung berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari rumah kayu itu. Setelah Yun Xiao keluar, Luo Yi membuat segel tangan, mengaktifkan suatu teknik, dan seketika itu juga, tujuh cahaya muncul mengelilingi Luo Yi.Cahaya itu membentuk persis seperti replika tubuh Luo Yi, membuat Yun Xiao mengerutkan keningnya, pasalnya ia tidak pernah melihat teknik semacam itu.“Teknik apa yang kau aktifkan itu?” tanya Yun Xiao.“Teknik Tujuh Bayangan Cahaya,” jawab Luo Yi dengan tenang.“Hmmm ....” Yun Xiao menatap satu persatu tujuh bayangan itu dan membandingkannya dengan Luo Yi asli sebelum bergumam, “Benar-benar mirip.”Tujuh Bayangan itu kemudian menyebar ke berbagai sudut hutan dengan Ilmu Meringankan Tubuh masing-masing, sementara Luo Yi asli pergi ke titik tengah hutan. Yun Xiao yang penasaran pun langsung mengikuti Luo Yi asli. Setelah tiba di titik tengah hutan. Ia memperhatikan Luo Yi membuat segel tangan yang rumit. Semua bayangan Luo Yi pun melakukan







