MasukLevi tidak pergi. Dia menemukan rumah keluarga Carol dan berjaga di depan rumah semalaman.Malam itu, London yang biasanya jarang turun salju justru diguyur salju.Pagi-pagi sekali, saat Alden sudah berpakaian rapi dan bersiap bermain salju, dia melihat Brad meringkuk di depan pintu dalam keadaan tertidur lelap."Papa?" panggil Alden pelan.Brad berusaha membuka matanya. Dia mengernyit. "Alden?""Papa kenapa datang ke sini?"Brad baru hendak menjawab, tetapi kemudian melihat lengan Alden yang kini kosong. Alden membawa semua mainannya dengan satu tangan, tampak sedikit kesulitan. Dia meletakkan mainan-mainannya di lantai, lalu kembali menatap Brad.Brad mengulurkan tangan hendak menggandengnya, tetapi Alden mundur dua langkah dan menghindarinya."Alden, lenganmu .... Papa minta maaf padamu ...."Betapa inginnya Brad menampar dirinya yang dulu. Kalau saja saat itu dia memberikan pesawatnya kepada Alden, lengan Alden pasti masih bisa disambung kembali.Alden tahu apa yang membuatnya mera
Setelah menempuh perjalanan selama belasan jam dengan transit, Brad akhirnya tiba di London.Sejak melihat berita kemarin hingga sekarang, dia tidak memejamkan mata sedikit pun. Begitu mengetahui teater tempat Carol bekerja, dia langsung menuju ke sana setelah mendarat.Saat ini, London sedang memasuki musim dingin yang menusuk. Karena datang terburu-buru, dia bahkan tidak sempat membawa pakaian untuk musim dingin. Di tubuhnya hanya ada setelan jas hitam yang dikenakannya saat pertunjukan.Dia menunggu tepat lima jam di depan teater hingga tubuhnya kaku karena kedinginan dan ujung hidungnya memerah. Satpam di pintu menyarankannya masuk untuk menunggu, tetapi Brad menggeleng dan menolak.Dia tidak ingin masuk tanpa izin Carol. Dia takut Carol marah.Setelah menunggu dua jam lagi, hari mulai gelap. Akhirnya, dia melihat sosok yang begitu dikenalnya. Hanya saja, di belakang sosok itu kini ada seorang pria yang tubuhnya lebih tinggi dan besar darinya.Pria itu menggenggam tangan kecil Caro
Setelah mengetahui bahwa dirinya telah diceraikan sepihak, Brad mengurung diri di rumah dan menghabiskan hari-harinya dengan minum untuk melupakan kesedihan.Dia sering menatap layar ponselnya sambil termenung.Ibu Brad, Isti, beberapa kali datang. Melihat putranya yang dulu penuh semangat kini terpuruk seperti ini, tentu saja hatinya terasa sangat sakit."Brad, kapan kamu akan melupakan Carol? Pertunjukanmu untuk pensiun dari dunia seni sudah ditunda dua kali. Para penggemarmu menunggu penjelasan darimu.""Pada hari lengan Alden putus, aku pergi ke rumah sakit untuk melihatnya. Aku kira Carol sengaja membiarkan lengan Alden putus agar kamu lebih memusatkan perhatian pada keluarga. Aku bahkan memarahinya, mengatakan dia adalah ibu yang kejam ...."Nada suara Isti dipenuhi penyesalan. "Baru setelah itu aku tahu, ternyata kamu yang menahan pesawatnya dan mengadakan pesta perayaan untuk murid kesayanganmu.""Waktu dia bilang ingin menceraikanmu, aku nggak nyangka Carol benar-benar tega. D
Setelah keluar dari rumah sakit, Carol tanpa sengaja menerima pesan dari pengacaranya.[ Bu Carol, Pak Brad sudah mengambil akta cerainya. Kondisinya terlihat sangat terpuruk. ]Bagaimana mungkin Brad merasa terpuruk? Dia memiliki Prilly yang bisa memberinya gairah dan pengalaman baru, juga karier yang sangat dicintainya.Carol merasa, ada atau tidak adanya dirinya tidak pernah benar-benar penting bagi Brad. Toh dulu saat menikah dengannya, Brad memang dipaksa.Usia mereka sama-sama sudah cukup untuk menikah dan perjodohan itu hanya membuat hubungan mereka terikat lebih erat.Carol menatap layar ponselnya yang dipenuhi panggilan tak terjawab dan pesan. Dia hanya merasa cinta yang datang terlambat itu tak ubahnya kotoran. Dia menarik napas panjang, lalu memblokir semua nomor dan kontak Brad.Belakangan, Brad berkali-kali menelepon Arya dan Zara, tetapi mereka sama sekali tidak mengangkatnya."Untuk apa baru menyesal sekarang?" Zara menggenggam tangan Carol sambil menghiburnya. "Carol, t
Saat semua bukti yang menunjukkan setiap perbuatan yang telah menyakiti Carol terbentang di hadapan Prilly, dia langsung terpaku."Nggak ada penjelasan yang bisa kamu berikan?" kata Brad. Dia merasa dirinya sudah bersikap sebaik mungkin terhadap Prilly. "Aku nggak akan menuntutmu, asal kamu nggak terus menggangguku.""Prilly, kita cuma guru dan murid. Kuharap kamu bisa menjaga diri."Prilly tidak menyangka Brad akan bersikap sedingin ini kepadanya. Kalau begitu, apa arti semua kenangan di antara mereka selama ini?Akal sehatnya perlahan mulai runtuh."Brad! Jadi di hatimu aku cuma seorang murid? Jangan bercanda! Mana ada orang yang pakai foto profil pasangan dengan muridnya? Pakai baju pasangan, bahkan sampai menulis sendiri pidato untuk pertunjukan kecilku yang hanya dihadiri sepuluh orang?""Sekarang Carol menghilang, baru kamu tahu arti menghargainya dan ingin menjauh dariku. Apa nggak terlambat? Semua orang tahu hubungan kita nggak biasa. Walaupun nggak pernah selingkuh secara fisi
"Belum, Pak. Semua pengawal dan detektif swasta yang kita kirim, pulang dengan tangan kosong. Keberadaan Nyonya sepertinya sengaja dihapus.""Satu-satunya petunjuk adalah mobil yang ditumpangi Nyonya saat dibawa pergi."Brad mengambil foto dari tangan asistennya dan melihatnya sekilas. "Selidiki. Istriku sudah hilang lebih dari 24 jam. Laporkan ke polisi."Asisten itu mengangguk, tetapi tampak masih ingin mengatakan sesuatu."Ada apa?""Masih ada beberapa berkas lagi. Ini mengenai Nyonya dan putra Bapak."Begitu mendengar itu, Brad segera merebut berkas itu dan membukanya. Dia menunduk. Sorot matanya dipenuhi ketegangan, bahkan kedua tangannya gemetar."Lengan Tuan Alden nggak pernah ditemukan. Hari itu hujan badai melanda Kota Handir dan memang nggak ada penerbangan kedua menuju Kota Handir.""Selain itu, alasan Tuan Alden melompat dari gedung adalah karena dihasut oleh teman Bu Prilly. Temannya bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Setelah klarifikasi dipublikasikan, dia langsung m







