Share

Bab 7

Penulis: Airey
Carol pulang ke rumah dengan tubuh penuh luka. Reaksi Brad dan Prilly sama persis seperti yang sudah diduganya.

"Kak Carol, maaf ya. Aku benar-benar ingin pergi bermain ski. Kalau mau menyalahkan seseorang, salahkan saja aku, jangan salahkan Pak Brad."

"Kakak hanya ibu rumah tangga. Mau punya nama baik atau nggak juga nggak berpengaruh. Tapi aku dan Pak Brad berbeda. Masa depan kami nggak boleh terganggu. Kakak pasti nggak marah, 'kan?"

Apa dia berhak marah? Di mata Brad, dia memang tidak pernah berhak. Selama ini, perannya hanya menjadi pelengkap bagi Prilly, sekaligus kambing hitam.

Sekarang dia sudah tidak peduli lagi. Marah kepada orang yang sudah tidak dipedulikan hanya membuang-buang tenaga.

Sementara mereka berbicara, Brad sudah berjalan mendekat. Di tangannya ada botol antiseptik dan kapas. "Sakit?"

Dia sedikit membungkuk, menggenggam tangan Carol dan hendak mengoleskan obat ke lukanya. Namun, Carol menghindar tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. "Nggak perlu. Langsung mulai latihan piano saja."

Tatapan Brad sedikit membeku. Tangan yang menggantung di udara itu akhirnya ditarik kembali dengan enggan.

Belakangan ini ... apa dia memang sudah terlalu keterlaluan terhadap Carol?

Setelah pertunjukan kedua Prilly selesai, dia akan mengalah sedikit dan membujuk Carol. Dengan begitu, masalah ini pasti akan selesai.

Menatap punggung Carol yang semakin menjauh, Brad merasa ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Namun karena pertunjukan Prilly sudah di depan mata, dia tidak terlalu memikirkannya.

Prilly meletakkan satu tangan di atas tuts piano, lalu berkata dengan nada mengejek, "Kak Carol, sekarang kamu tahu, kan, betapa sulitnya menjadi istri Pak Brad? Pak Brad menyayangiku, makanya dia terus menunda membicarakan perceraian denganmu. Kalau nggak, sejak dulu kamu sudah nggak pantas menduduki posisi itu."

"Tahu nggak? Kami pergi bermain ski bersama, bungee jumping bersama."

Prilly membuka album foto di ponselnya, lalu menunjukkan sebuah gambar. "Kamu belum pernah melihat Pak Brad tersenyum sebahagia ini, 'kan?"

Memang belum pernah.

Namun, Carol tidak peduli.

Karena tidak melihat reaksi marah seperti yang diharapkannya, Prilly justru semakin kesal. Dia menghantam tuts piano dengan keras hingga menghasilkan bunyi berisik yang sumbang.

"Carol, akan kubuat kamu mengerti. Sebenarnya Pak Brad lebih menyukai kehidupan yang tenang ... atau kekasih yang bisa memberinya sensasi dan gairah."

Dalam sekejap, tibalah hari pertunjukan. Carol terpaksa datang bersama Brad.

Sebelum pertunjukan dimulai, dia mengirim salinan tiket pesawat yang sudah dibelinya kepada Levi. Dia membuka aplikasi pemesanan tiket, membeli dua tiket pesawat ke luar negeri, lalu kembali mengirimkan informasinya kepada Levi.

Levi juga mengirimkan informasi tiket penerbangannya.

"Kenapa kamu harus kembali ke Kota Handir?"

"Aku khawatir rencanamu ke luar negeri berubah. Malam ini aku akan pulang untuk menjemputmu dan Alden. Nomor kamar rawat Alden berubah nggak?"

Sudut bibir Carol terangkat membentuk senyum tipis. "Nggak. Terima kasih, Levi."

Tiba-tiba, pertunjukan Prilly dihentikan oleh dewan juri.

"Bu Prilly, partitur ini memiliki kemiripan yang sangat tinggi dengan karya 'Gaung Laut Dalam' milik maestro terkenal Pak Johan. Atas nama dewan juri, kami memutuskan untuk mencabut hak Anda mengikuti kompetisi ini untuk selamanya. Kami juga akan segera memulai proses hukum."

Suasana di lokasi seketika menjadi sangat sunyi. Kalau sampai masuk proses hukum, bukan tidak mungkin seseorang akan dipenjara.

"Tunggu."

Suara Brad memecah keputusan itu. Dia segera menemukan jalan keluar. Sambil menarik pergelangan tangan Carol, dia membawanya ke hadapan dewan juri.

"Masalah ini nggak ada hubungannya dengan Prilly. Kalian nggak boleh mencabut haknya mengikuti kompetisi untuk selamanya. Pencipta asli partitur ini adalah Carol. Dia yang diduga melakukan plagiarisme. Orang yang seharusnya didiskualifikasi seumur hidup adalah dia."

Carol menghempaskan tangannya dengan sekuat tenaga.

"Nggak mungkin!"

Dia segera naik ke atas panggung dan mengambil partitur yang berada di atas penyangga piano.

Begitu membuka halaman pertama, dia langsung menyadari ada yang tidak beres. Partitur itu jelas telah diubah oleh seseorang!

"Kamu yang mengubahnya?" Carol menatap Prilly sambil bertanya.

"Kak Carol, waktu kamu memberikannya kepadaku, isinya memang sudah seperti itu. Aku nggak mau dijadikan kambing hitam menggantikanmu!"

Lalu nada bicaranya berubah. Dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, dia berbisik, "Memang aku yang mengubahnya, lalu kenapa? Kamu nggak bisa berbuat apa-apa padaku, Carol. Penjara itu sudah pasti menunggumu. Seharusnya sejak dulu kamu sudah angkat kaki dari keluarga Pak Brad."

"Brad itu milikku. Dan dia hanya akan membelaku."

Napasku Carol menjadi tidak teratur. Dia membawa partitur itu ke hadapan dewan juri.

"Benar, partitur ini memang karya asliku. Tapi aku nggak melakukan plagiarisme! Aku punya salinannya. Ada di rumah ...."

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Brad memotong dengan dingin, "Carol, kalau berbuat salah, kamu harus menerima hukumannya, bukan terus menghindar."

"Partitur itu memang hasil plagiatmu. Hari ini kamu sengaja ingin menjebak Prilly supaya dia dikeluarkan dari dunia musik, benar? Hatimu benar-benar kejam."

Carol menatap Brad dengan penuh ketidakpercayaan.

Di dunia mereka, tidak melakukan plagiarisme adalah prinsip paling mendasar. Namun, Brad malah tidak percaya padanya! Demi melindungi Prilly, dia rela membuat dewan juri menjatuhkan hukuman larangan tampil seumur hidup kepadanya!

"Brad, setelah bertahun-tahun kita menikah, ternyata kamu sama sekali nggak pernah percaya padaku, ya? Aku benar-benar menyesal menikah denganmu! Seharusnya dulu aku nggak pernah menikah denganmu!"

Setiap kata yang diucapkannya dipenuhi luka dan keputusasaan.

Saat melihat Carol benar-benar hancur, hati Brad tiba-tiba bergetar. Rasa panik yang tak pernah dia rasakan sebelumnya menyergapnya sesaat.

Namun, dia tetap melanjutkan ucapannya, "Kamu dan aku sama-sama tahu bagaimana partitur ini dibuat."

Lalu dia menoleh kepada dewan juri.

"Sebagai suami Carol, aku gagal mencegah tindakan plagiarisme ini sejak awal. Demi menjaga keadilan di dunia musik, aku akan mengantarnya sendiri ke penjara. Saya harap semua yang hadir dapat menjadi saksi."

Carol menatapnya dengan mata memerah. "Kamu sendiri sudah melihat partitur itu. Jelas Prilly yang mengubahnya. Dia sengaja ingin menjebakku ...."

"Diam!" Brad memotong ucapannya dengan tatapan penuh kekecewaan. "Sampai saat seperti ini pun kamu masih ingin memfitnah Prilly. Aku benar-benar salah menilaimu. Tenang saja. Setelah kamu keluar dari penjara, aku sendiri yang akan menjemputmu pulang."

Carol tersenyum pahit.

Seharusnya sejak dulu dia sudah tahu. Brad tidak pernah percaya padanya.

Dia dipaksa pergi oleh para pengawal. Tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Apa pun hasil akhirnya, dia sudah pasrah.

Para pengawal mendorongnya masuk ke dalam mobil. Baru saat itulah dia menyadari bahwa Alden juga berada di dalam mobil.

"Mama, cepat masuk! Om Levi akan bawa kita pergi!"

Carol sama sekali tidak menyangka rencana Levi akan disusun sebaik ini.

Dengan mata yang dipenuhi air mata, dia menoleh untuk terakhir kalinya ke kota yang telah mengurungnya selama tiga tahun.

Kali ini, tidak ada lagi sedikit pun rasa enggan. Dia masuk ke dalam mobil dengan mantap. Mobil itu pun melaju pergi, meninggalkan semuanya dalam kepulan debu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 19

    Levi tidak pergi. Dia menemukan rumah keluarga Carol dan berjaga di depan rumah semalaman.Malam itu, London yang biasanya jarang turun salju justru diguyur salju.Pagi-pagi sekali, saat Alden sudah berpakaian rapi dan bersiap bermain salju, dia melihat Brad meringkuk di depan pintu dalam keadaan tertidur lelap."Papa?" panggil Alden pelan.Brad berusaha membuka matanya. Dia mengernyit. "Alden?""Papa kenapa datang ke sini?"Brad baru hendak menjawab, tetapi kemudian melihat lengan Alden yang kini kosong. Alden membawa semua mainannya dengan satu tangan, tampak sedikit kesulitan. Dia meletakkan mainan-mainannya di lantai, lalu kembali menatap Brad.Brad mengulurkan tangan hendak menggandengnya, tetapi Alden mundur dua langkah dan menghindarinya."Alden, lenganmu .... Papa minta maaf padamu ...."Betapa inginnya Brad menampar dirinya yang dulu. Kalau saja saat itu dia memberikan pesawatnya kepada Alden, lengan Alden pasti masih bisa disambung kembali.Alden tahu apa yang membuatnya mera

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 18

    Setelah menempuh perjalanan selama belasan jam dengan transit, Brad akhirnya tiba di London.Sejak melihat berita kemarin hingga sekarang, dia tidak memejamkan mata sedikit pun. Begitu mengetahui teater tempat Carol bekerja, dia langsung menuju ke sana setelah mendarat.Saat ini, London sedang memasuki musim dingin yang menusuk. Karena datang terburu-buru, dia bahkan tidak sempat membawa pakaian untuk musim dingin. Di tubuhnya hanya ada setelan jas hitam yang dikenakannya saat pertunjukan.Dia menunggu tepat lima jam di depan teater hingga tubuhnya kaku karena kedinginan dan ujung hidungnya memerah. Satpam di pintu menyarankannya masuk untuk menunggu, tetapi Brad menggeleng dan menolak.Dia tidak ingin masuk tanpa izin Carol. Dia takut Carol marah.Setelah menunggu dua jam lagi, hari mulai gelap. Akhirnya, dia melihat sosok yang begitu dikenalnya. Hanya saja, di belakang sosok itu kini ada seorang pria yang tubuhnya lebih tinggi dan besar darinya.Pria itu menggenggam tangan kecil Caro

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 17

    Setelah mengetahui bahwa dirinya telah diceraikan sepihak, Brad mengurung diri di rumah dan menghabiskan hari-harinya dengan minum untuk melupakan kesedihan.Dia sering menatap layar ponselnya sambil termenung.Ibu Brad, Isti, beberapa kali datang. Melihat putranya yang dulu penuh semangat kini terpuruk seperti ini, tentu saja hatinya terasa sangat sakit."Brad, kapan kamu akan melupakan Carol? Pertunjukanmu untuk pensiun dari dunia seni sudah ditunda dua kali. Para penggemarmu menunggu penjelasan darimu.""Pada hari lengan Alden putus, aku pergi ke rumah sakit untuk melihatnya. Aku kira Carol sengaja membiarkan lengan Alden putus agar kamu lebih memusatkan perhatian pada keluarga. Aku bahkan memarahinya, mengatakan dia adalah ibu yang kejam ...."Nada suara Isti dipenuhi penyesalan. "Baru setelah itu aku tahu, ternyata kamu yang menahan pesawatnya dan mengadakan pesta perayaan untuk murid kesayanganmu.""Waktu dia bilang ingin menceraikanmu, aku nggak nyangka Carol benar-benar tega. D

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 16

    Setelah keluar dari rumah sakit, Carol tanpa sengaja menerima pesan dari pengacaranya.[ Bu Carol, Pak Brad sudah mengambil akta cerainya. Kondisinya terlihat sangat terpuruk. ]Bagaimana mungkin Brad merasa terpuruk? Dia memiliki Prilly yang bisa memberinya gairah dan pengalaman baru, juga karier yang sangat dicintainya.Carol merasa, ada atau tidak adanya dirinya tidak pernah benar-benar penting bagi Brad. Toh dulu saat menikah dengannya, Brad memang dipaksa.Usia mereka sama-sama sudah cukup untuk menikah dan perjodohan itu hanya membuat hubungan mereka terikat lebih erat.Carol menatap layar ponselnya yang dipenuhi panggilan tak terjawab dan pesan. Dia hanya merasa cinta yang datang terlambat itu tak ubahnya kotoran. Dia menarik napas panjang, lalu memblokir semua nomor dan kontak Brad.Belakangan, Brad berkali-kali menelepon Arya dan Zara, tetapi mereka sama sekali tidak mengangkatnya."Untuk apa baru menyesal sekarang?" Zara menggenggam tangan Carol sambil menghiburnya. "Carol, t

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 15

    Saat semua bukti yang menunjukkan setiap perbuatan yang telah menyakiti Carol terbentang di hadapan Prilly, dia langsung terpaku."Nggak ada penjelasan yang bisa kamu berikan?" kata Brad. Dia merasa dirinya sudah bersikap sebaik mungkin terhadap Prilly. "Aku nggak akan menuntutmu, asal kamu nggak terus menggangguku.""Prilly, kita cuma guru dan murid. Kuharap kamu bisa menjaga diri."Prilly tidak menyangka Brad akan bersikap sedingin ini kepadanya. Kalau begitu, apa arti semua kenangan di antara mereka selama ini?Akal sehatnya perlahan mulai runtuh."Brad! Jadi di hatimu aku cuma seorang murid? Jangan bercanda! Mana ada orang yang pakai foto profil pasangan dengan muridnya? Pakai baju pasangan, bahkan sampai menulis sendiri pidato untuk pertunjukan kecilku yang hanya dihadiri sepuluh orang?""Sekarang Carol menghilang, baru kamu tahu arti menghargainya dan ingin menjauh dariku. Apa nggak terlambat? Semua orang tahu hubungan kita nggak biasa. Walaupun nggak pernah selingkuh secara fisi

  • Jalinan Cinta Dan Benci yang Akhirnya Harus Diputus   Bab 14

    "Belum, Pak. Semua pengawal dan detektif swasta yang kita kirim, pulang dengan tangan kosong. Keberadaan Nyonya sepertinya sengaja dihapus.""Satu-satunya petunjuk adalah mobil yang ditumpangi Nyonya saat dibawa pergi."Brad mengambil foto dari tangan asistennya dan melihatnya sekilas. "Selidiki. Istriku sudah hilang lebih dari 24 jam. Laporkan ke polisi."Asisten itu mengangguk, tetapi tampak masih ingin mengatakan sesuatu."Ada apa?""Masih ada beberapa berkas lagi. Ini mengenai Nyonya dan putra Bapak."Begitu mendengar itu, Brad segera merebut berkas itu dan membukanya. Dia menunduk. Sorot matanya dipenuhi ketegangan, bahkan kedua tangannya gemetar."Lengan Tuan Alden nggak pernah ditemukan. Hari itu hujan badai melanda Kota Handir dan memang nggak ada penerbangan kedua menuju Kota Handir.""Selain itu, alasan Tuan Alden melompat dari gedung adalah karena dihasut oleh teman Bu Prilly. Temannya bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Setelah klarifikasi dipublikasikan, dia langsung m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status