Share

Bab 4

Author: Minnie
Mendengar pertanyaan itu, kesadaran Aldrich yang kacau karena mabuk tiba-tiba kembali sesaat.

Dia membuka mata. Yang pertama dilihatnya adalah wajah Cherish yang tampak sangat pucat dan muram.

Hati Aldrich bergetar. Dia langsung tersadar. Dia tahu dirinya baru saja mengucapkan banyak omong kosong saat mabuk, tetapi tidak tahu persis apa yang telah dia katakan.

Karena itu, dia hanya bisa berkata, "Kak, tadi aku mabuk. Apa pun yang kukatakan, jangan dimasukkan ke hati ya."

Detik berikutnya, seseorang memanggil Aldrich dari luar ruang VIP. Aldrich pun mengecup Cherish beberapa kali seolah ingin menenangkan dirinya, lalu berjalan sempoyongan kembali ke ruangan.

Setelah melihat sosoknya menghilang di balik pintu, Cherish perlahan berdiri dan masuk ke toilet. Dia berdiri sendirian di sana cukup lama.

Saat kedua kakinya mulai mati rasa, suara langkah kaki dari luar akhirnya menyadarkannya. Baru saja hendak membuka pintu, dia mendengar namanya disebut.

"Mana Cherish itu? Kenapa tiba-tiba ngilang? Garcia, jangan-jangan dia cemburu karena Kak Aldrich bantu kamu minum begitu banyak tadi?"

"Aku juga nggak tahu. Ngapain peduli sama dia? Aku kenal Kak Aldrich. Nggak mungkin dia suka sama wanita tua seperti itu."

Mendengar nada meremehkan dalam suara Garcia, Cherish mengepalkan tangannya erat-erat.

Orang-orang di luar tidak tahu bahwa dia ada di dalam. Karena itu, mereka terus berbicara tanpa menahan diri.

"Aku juga pernah dengar. Dia nggak cuma sahabat kakaknya Kak Aldrich, tapi juga pacar Kak Aldrich selama beberapa tahun ini. Tapi tenang saja, Garcia. Kak Aldrich sama dia cuma buat nambah pengalaman pacaran, sekadar main-main saja."

"Wanita itu sudah hampir 30 tahun, tapi masih mau ngejar pria yang lebih muda. Benar-benar nggak tahu malu."

"Tentu saja aku tahu. Dulu Kak Aldrich pernah melindungiku sampai ditusuk preman. Dia hampir mati. Setelah sadar, hal pertama yang dia lakukan justru menenangkanku. Dia sangat menyukaiku, sampai rela mempertaruhkan nyawanya. Wanita tua itu memang bukan siapa-siapa."

"Terus, gimana perasaanmu? Aku dengar setelah antar kamu pulang kemarin, Kak Aldrich langsung kumpul semalaman sama teman-temannya buat rencanain pesta ulang tahunmu. Kalau nanti dia menyatakan perasaannya di pesta itu, kamu bakal terima dia nggak?"

Dengan nada manja dan penuh percaya diri, Garcia mendengus. "Huh, aku harus lihat dulu seperti apa usaha dia nanti."

Setelah suara air mengalir terdengar, kedua gadis itu tertawa dan berjalan menjauh.

Cherish menatap bekas kuku yang membekas dalam di telapak tangannya. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman yang pahit dan menyedihkan.

Setelah meninggalkan bar, Cherish naik taksi dan pulang ke rumah.

Keesokan harinya, dia pergi ke kantor untuk mengajukan pengunduran diri. Atasannya tampak terkejut saat membaca alasannya.

"Pulang kampung? Dulu kamu bilang mau menetap di Kota Utara dan nikah dengan pacarmu, 'kan? Kenapa tiba-tiba mutusin pulang?"

Cherish menunduk dan menjawab secara asal untuk menghindari pertanyaan itu.

Pikirannya berantakan. Dia teringat semua yang telah dilaluinya di Kota Utara.

Empat tahun kuliah, tiga tahun bekerja, lima tahun menjalin hubungan. Selama itu, dia memiliki banyak kesempatan untuk kembali ke Kota Lugor. Namun, demi tetap berada di sisi Aldrich, dia memilih melepaskan semuanya.

Sekarang sudah waktunya pergi. Posisi sebagai pacar akan dia kembalikan kepada pemilik yang sebenarnya.

Selama tiga hari berikutnya, Aldrich seolah menghilang dari dunia. Tidak ada kabar sama sekali.

Namun, dari foto dan video yang dibagikan teman-temannya, Cherish tahu bahwa Aldrich selalu bersama Garcia.

Mereka menggantung papan doa mungil di kuil untuk mendoakan satu sama lain. Mereka berjalan berdampingan di pantai. Mereka berpegangan tangan erat saat menaiki roller coaster.

Di setiap foto, keduanya tampak dekat. Memang belum semesra sepasang kekasih, tetapi setiap gerakan dipenuhi suasana ambigu dari dua hati yang saling menyukai.

Cherish melihat satu demi satu foto itu sampai habis. Kemudian, dia mematikan ponsel dan mengeluarkan kopernya tanpa ekspresi apa pun.

Setelah mengemasi barang-barang pentingnya, dia hendak keluar untuk makan malam. Saat itulah telepon dari salah satu teman Aldrich masuk.

"Kak Cherish, cepat ke rumah sakit! Aldrich kecelakaan!"

Cherish terdiam cukup lama. Pada akhirnya, dia tetap mengambil kunci mobil. Bagaimanapun juga, Aldrich adalah adik Adeline.

Saat ini Adeline sedang berlibur di luar negeri. Dia tidak bisa berpura-pura tidak peduli.

Setelah bergegas menuju ruang gawat darurat, dia melihat Garcia dan Aldrich terbaring di ranjang dorong dengan tubuh berlumuran darah.

Para dokter sedang berusaha menyelamatkan mereka. Beberapa teman mereka tampak panik dan menjelaskan dengan terbata-bata.

"Malam ini kami awalnya mau pergi ke gunung untuk lihat matahari terbenam. Garcia bilang sudah lama nggak nyetir dan ingin coba, jadi Aldrich kasih dia nyetir. Tapi dia salah injak pedal gas dan mengira itu rem. Mobil langsung kehilangan kendali dan nabrak tebing. Sekarang tubuh mereka tertusuk batang besi dan batang besi itu harus segera dikeluarkan!"

"Masalahnya, batang besi itu berada sangat dekat dengan jantung. Di seluruh kota sekarang cuma ada satu dokter yang bisa melakukan operasi ini. Mau bayar berapa pun nggak akan bisa cari dokter lain."

"Kondisi Aldrich jauh lebih parah karena dia duduk di kursi penumpang. Cedera Garcia lebih ringan dan untuk sementara nyawanya nggak terancam. Kami semua sudah menyuruh Aldrich masuk ruang operasi lebih dulu, tapi dia sama sekali nggak mau. Kak Cherish, tolong bujuk dia ya!"

Mendengar itu, hati Cherish bergetar. Dia berjalan ke sisi Aldrich.

Melihat wajahnya yang pucat dan luka mengerikan yang masih terus mengeluarkan darah, bibirnya gemetar saat berbicara, "Aldrich, sekarang juga masuk ke ruang operasi!"

Aldrich membuka matanya dengan susah payah, lalu menggeleng pelan. Dengan suara yang hampir tak terdengar, dia berkata, "To ... tolong Garcia dulu. Aku nggak mau ... nggak mau dia kenapa-napa."

Cherish tak lagi mampu mengendalikan emosinya. "Kamu sudah gila? Dia nggak akan mati meskipun operasinya ditunda! Tapi kalau kamu nggak segera dioperasi, kamu yang akan mati! Kalau sesuatu terjadi padamu, gimana dengan orang tuamu? Gimana dengan kakakmu?"

"Aku ... nggak penting. Asal Garcia selamat ... aku ... masih bisa bertahan ...."

Lampu ruang operasi menyala. Seorang perawat membawa surat persetujuan penundaan tindakan medis.

Melihat Cherish tak bergerak, Aldrich mengerahkan sisa tenaganya. Dia mengambil pena dan menandatanganinya sendiri.

Demi Garcia ... benarkah Aldrich bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri?

Dengan tidak percaya, Cherish berusaha merebut lembar kertas itu. Namun, Aldrich mengangkat tangannya yang berlumuran darah dan mencengkeram ujung bajunya.

"Kamu ... bukan keluargaku. Kamu nggak punya hak ... mencampuri ... pilihanku ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 22

    Saat Aldrich kembali sadar, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Bau menyengat cairan disinfektan memenuhi rongga hidungnya, sementara lampu putih di atas kepalanya terasa begitu menusuk mata hingga terasa perih.Aldrich mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh badannya terasa seperti telah digilas kendaraan. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tanpa sadar terkesiap."Sudah bangun?" Suara Adeline terdengar dari samping, membawa sedikit nada dingin dan kelelahan.Aldrich menoleh dan melihat Adeline duduk di sisi ranjangnya. Wajahnya tampak begitu suram. Tatapannya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan saat dia menggertakkan gigi."Aldrich, kenapa aku bisa punya adik sepertimu? Apa kamu tahu kalau kamu hampir cacat?! Sekarang karena kamu sudah sadar, nggak perlu lagi mikirin soal penyembuhan. Segera kembali ke Kota Utara! Mulai sekarang kamu dilarang menginjakkan kaki di Kota Lugor lagi!"Namun, Aldrich sama sekali tidak memedulikan amarahnya. Dia langsung bertanya

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 21

    Adeline menatapnya dengan dingin, nadanya penuh rasa meremehkan. "Nggak mungkin? Aldrich, sadarlah! Cherish sudah lama melupakanmu. Orang yang dia cintai sekarang hanya Marvin. Sekalipun kamu berlutut sampai mati di sini, dia nggak akan melirikmu sekali pun."Namun, Aldrich seolah tidak mendengarnya. Dia tetap mencengkeram tangan Adeline dengan erat dan suaranya dipenuhi keputusasaan. "Kak, tolong bantu aku ... Aku benar-benar tahu aku salah. Aku nggak bisa hidup tanpa dia ...."Adeline begitu marah hingga hampir pingsan. Dia langsung melepaskan tangan Aldrich dan berteriak, "Aldrich! Sadar sedikit! Sekarang juga kembali ke Kota Utara! Kalau nggak pulang, aku akan suruh Ayah dan Ibu mengikatmu dan membawamu pulang!"Namun, Aldrich tetap seperti tidak mendengar apa-apa. Tatapannya terus tertuju ke gerbang lokasi pernikahan, penuh dengan permohonan yang menyedihkan.Adeline gemetar karena marah. Dia berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa da

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 20

    Aldrich diseret oleh petugas keamanan hingga ke luar gerbang utama lokasi pernikahan. Pintu besar yang berat menutup di belakangnya dengan suara keras.Brak!Suara itu memisahkannya sepenuhnya dari kemeriahan yang ada di dalam.Dia berdiri di luar pintu. Namun di telinganya, suara-suara dari dalam seolah masih terdengar jelas. Suara pembawa acara yang mengumumkan prosesi pertukaran cincin. Tawa dan sorakan para tamu, serta suara kecupan ringan yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunianya.Jantungnya terasa begitu perih. Saking sakitnya, dia hingga hampir tidak bisa bernapas.Tiba-tiba, dia menerjang ke arah pintu. Tangannya menghantam permukaan pintu dengan keras berulang kali. Suaranya serak dan penuh keputusasaan, "Tolong buka pintunya! Aku mohon, buka pintunya!""Cherish! Jangan menikah dengannya! Aku mohon .... Jangan menikah dengannya ...."Namun, orang-orang di dalam seolah tidak mendengar suaranya. Atau mungkin, memang tidak ada seorang pun yang ingin memedulikannya.Pernikah

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 19

    Aldrich seolah disambar petir. Seluruh tubuhnya mematung di tempat. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan dari kepala hingga kaki, membuat tubuhnya gemetar kedinginan.Tatapannya terpaku pada Cherish yang berdiri di atas panggung. Dia melihat Cherish mengenakan gaun pengantin putih yang suci. Senyum lembut menghiasi wajahnya saat berdiri di samping pria lain.Di sisi mereka, Adeline mengenakan gaun pendamping pengantin. Wajahnya penuh kebahagiaan, seolah sedang menyaksikan upacara terindah di dunia. Semua pemandangan itu dengan jelas memberitahunya satu hal.Ini adalah pernikahan Cherish.Pikiran Aldrich kosong dan telinganya berdengung. Seluruh dunianya seolah-olah sedang runtuh. Hingga suara pembawa acara kembali terdengar, barulah dia tersadar."Bu Cherish, apakah Anda bersedia menikah dengan Pak Marvin, mencintainya, menghormatinya, dan mendampinginya selamanya, baik dalam kemiskinan maupun kekayaan, dalam kesehatan maupun penyakit, hingga akhir hayat?"Cherish sedikit

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 18

    Begitu pesan itu terkirim, grup langsung meledak.[ Sial, Aldrich, akhirnya kamu sadar juga? Benar-benar sudah nggak suka Garcia lagi? ][ Memang sudah seharusnya begitu! Wanita seperti Garcia sama sekali nggak pantas membuatmu membuang-buang waktu! ][ Tapi soal Cherish ... kamu sudah menyakitinya sedalam itu. Apa dia masih bisa memaafkanmu? ]Aldrich menatap pesan-pesan di grup itu, lalu jarinya bergerak cepat di layar.[ Aku sudah lama nggak suka sama Garcia. Mungkin itu hanya obsesi. Selama beberapa hari bersama dia, yang ada di pikiranku justru Cherish. Dulu aku nggak mengerti, sekarang aku mengerti. ]Grup itu sempat hening beberapa detik.Kemudian kembali ramai.[ Bagus kalau kamu akhirnya sadar! Wanita seperti Garcia memang nggak layak mendapatkan pengorbananmu. Kamu mungkin belum tahu, setelah foto-foto ranjangnya tersebar, saham keluarganya anjlok drastis. Sekarang perusahaan mereka sudah bangkrut. ][ Garcia juga setiap hari dimarahi dan dipukuli orang tuanya. Kudengar selur

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 17

    Di sisi lain, di Kota Lugor.Cherish bangun pagi-pagi sekali dan mulai bersiap dengan riasan serta penampilannya. Gaun pengantin itu dibuat khusus sesuai ukuran tubuhnya. Warnanya putih bersih, mempertegas pinggangnya yang ramping dan garis bahunya yang anggun.Saat dia mengenakan gaun pengantin itu, semua orang di dalam ruangan menunjukkan ekspresi kagum."Ya ampun, Cherish, kamu cantik sekali!"Teman-temannya mengelilinginya sambil terus memuji tanpa henti.Cherish tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke cermin. Di dalam pantulan cermin, wajahnya tampak begitu indah, dengan senyum bahagia yang samar menghiasi bibirnya."Pengantinnya datang!" seru seseorang tiba-tiba.Cherish berbalik dan melihat Marvin berjalan masuk. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna sesuai bentuk tubuhnya. Sosoknya tinggi dan ramping, dengan aura elegan dan berkelas.Tatapannya tertuju pada Cherish. Kekaguman yang tidak disembunyikan sedikit pun terlihat jelas di matanya."Cherish canti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status