แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Minnie
Saat mendengar kalimat itu, Cherish merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang hancur berkeping-keping.

Rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang menjalar dari dadanya, membuat bahkan setiap tarikan napas terasa menyakitkan.

Tak lama kemudian, Garcia didorong masuk ke ruang operasi. Aldrich perlahan memejamkan mata. Tangannya terkulai lemas.

Monitor detak jantung mengeluarkan bunyi peringatan yang nyaring dan menusuk telinga. Beberapa temannya langsung panik setengah mati.

Mereka terus mengguncang bahu Cherish dan memintanya memikirkan jalan keluar. Cherish memaksakan dirinya untuk tetap tenang dan segera menelepon teman-temannya di Kota Lugor.

Dia teringat bahwa salah satu dari mereka memiliki paman yang kebetulan menjabat sebagai direktur rumah sakit di Kota Utara. Pria itu sangat berpengalaman, meski sudah lama pensiun.

Begitu mendengar situasinya, temannya langsung meminta agar pasien dipindahkan ke rumah sakit mereka. Dia akan menghubungi pamannya agar bersedia kembali turun tangan melakukan operasi.

Dokter dan perawat segera bergerak. Aldrich kembali dipindahkan ke ambulans. Sambil terus memberikan pertolongan darurat, mereka membawanya ke rumah sakit lain.

Sepuluh menit kemudian, Aldrich didorong masuk ke ruang operasi. Cherish berdiri di luar ruang operasi sepanjang malam.

Pikirannya kosong. Bibir bawahnya bahkan tergigit hingga meninggalkan bekas darah yang kecokelatan.

Baru saat fajar menyingsing, lampu ruang operasi akhirnya padam.

"Operasinya berhasil." Mendengar ucapan direktur rumah sakit itu, seluruh tenaga dalam tubuh Cherish seolah terkuras habis.

Dia mengembuskan napas panjang. Kakinya melemas. Kemudian, dia jatuh pingsan.

Keesokan harinya menjelang siang, begitu terbangun, Cherish melihat seorang perawat sedang mencabut jarum infusnya.

"Operasi pacarmu berhasil. Dia sudah keluar dari ruang ICU, jadi jangan khawatir."

Cherish menekan bekas infus di tangannya, menanyakan nomor kamar rawat Aldrich, lalu turun dari tempat tidur dengan tubuh yang masih lemah.

Baru sampai di depan pintu kamar, dia mendengar suara perdebatan dari dalam.

"Aldrich, kami sudah bilang Garcia baik-baik saja. Kenapa kamu bersikeras pindah ke rumah sakit tempat dia dirawat? Kamu baru saja melewati masa kritis. Gimana kalau kondisi tubuhmu memburuk lagi?"

"Benar! Kemarin Cherish sibuk menelepon ke sana kemari untuk nyelamatin nyawamu! Jangan cari masalah lagi. Kondisi Garcia nggak separah kamu. Beberapa hari lagi baru jenguk dia juga nggak masalah!"

Semua orang berusaha membujuknya dengan sungguh-sungguh. Namun, Aldrich sama sekali tidak mendengarkan.

"Nggak bisa. Saat kecelakaan terjadi, meskipun aku sudah melindungi Garcia, dia tetap terluka cukup parah. Kalau aku nggak lihat sendiri keadaannya, aku nggak akan tenang."

Cherish mendengarkan semua itu dalam diam. Kemudian, dia mengangkat tangan dan mendorong pintu hingga terbuka.

Semua orang di dalam ruangan langsung menoleh ke arahnya. Aldrich juga tertegun sesaat. Ekspresi rumit muncul di wajahnya.

Namun, Cherish tidak memberinya kesempatan untuk berbicara lebih dahulu. "Aku tahu aku bukan keluargamu dan nggak punya hak menentukan kamu boleh pergi atau nggak. Kalau kamu tetap ingin pindah rumah sakit, aku akan telepon Adeline. Dia bisa pulang sore ini kalau langsung dapat tiket. Tunggu saja beberapa jam lagi."

Nada suaranya tenang tanpa gejolak. Namun entah kenapa, mendengarnya justru membuat hati Aldrich terasa tidak nyaman.

Aldrich menyuruh semua orang keluar. Setelah ruangan kosong, dia meraih tangan Cherish dan berusaha keras menjelaskan, "Waktu itu Garcia di mobilku. Kalau sesuatu terjadi padanya, aku nggak akan bisa maafin diriku sendiri seumur hidup. Makanya kemarin aku bersikeras menyelamatkan dia lebih dulu."

"Di hatiku, kamu sama pentingnya dengan Kak Adeline dan kedua orang tuaku. Aku bukan sengaja mengatakan hal seperti itu untuk menyakitimu."

Cherish sudah tidak bisa lagi membedakan mana perkataannya yang tulus dan mana yang bohong. Dia sangat ingin bertanya, kalau memang dirinya sama pentingnya dengan keluarga Aldrich, lalu Garcia itu apa? Seberapa besar tempat yang ditempati Garcia di dalam hatinya?

Namun, dia tidak mengajukannya secara langsung. Sebagai gantinya, dia memilih bertanya dengan cara lain, "Aldrich, kamu masih ingin hidup nggak? Atau lebih tepatnya, menurutmu nyawa itu berharga nggak?"

Aldrich tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba menanyakan hal seperti itu. Setelah terdiam sejenak, dia mengangguk. "Tentu saja berharga."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 22

    Saat Aldrich kembali sadar, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Bau menyengat cairan disinfektan memenuhi rongga hidungnya, sementara lampu putih di atas kepalanya terasa begitu menusuk mata hingga terasa perih.Aldrich mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh badannya terasa seperti telah digilas kendaraan. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tanpa sadar terkesiap."Sudah bangun?" Suara Adeline terdengar dari samping, membawa sedikit nada dingin dan kelelahan.Aldrich menoleh dan melihat Adeline duduk di sisi ranjangnya. Wajahnya tampak begitu suram. Tatapannya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan saat dia menggertakkan gigi."Aldrich, kenapa aku bisa punya adik sepertimu? Apa kamu tahu kalau kamu hampir cacat?! Sekarang karena kamu sudah sadar, nggak perlu lagi mikirin soal penyembuhan. Segera kembali ke Kota Utara! Mulai sekarang kamu dilarang menginjakkan kaki di Kota Lugor lagi!"Namun, Aldrich sama sekali tidak memedulikan amarahnya. Dia langsung bertanya

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 21

    Adeline menatapnya dengan dingin, nadanya penuh rasa meremehkan. "Nggak mungkin? Aldrich, sadarlah! Cherish sudah lama melupakanmu. Orang yang dia cintai sekarang hanya Marvin. Sekalipun kamu berlutut sampai mati di sini, dia nggak akan melirikmu sekali pun."Namun, Aldrich seolah tidak mendengarnya. Dia tetap mencengkeram tangan Adeline dengan erat dan suaranya dipenuhi keputusasaan. "Kak, tolong bantu aku ... Aku benar-benar tahu aku salah. Aku nggak bisa hidup tanpa dia ...."Adeline begitu marah hingga hampir pingsan. Dia langsung melepaskan tangan Aldrich dan berteriak, "Aldrich! Sadar sedikit! Sekarang juga kembali ke Kota Utara! Kalau nggak pulang, aku akan suruh Ayah dan Ibu mengikatmu dan membawamu pulang!"Namun, Aldrich tetap seperti tidak mendengar apa-apa. Tatapannya terus tertuju ke gerbang lokasi pernikahan, penuh dengan permohonan yang menyedihkan.Adeline gemetar karena marah. Dia berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa da

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 20

    Aldrich diseret oleh petugas keamanan hingga ke luar gerbang utama lokasi pernikahan. Pintu besar yang berat menutup di belakangnya dengan suara keras.Brak!Suara itu memisahkannya sepenuhnya dari kemeriahan yang ada di dalam.Dia berdiri di luar pintu. Namun di telinganya, suara-suara dari dalam seolah masih terdengar jelas. Suara pembawa acara yang mengumumkan prosesi pertukaran cincin. Tawa dan sorakan para tamu, serta suara kecupan ringan yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunianya.Jantungnya terasa begitu perih. Saking sakitnya, dia hingga hampir tidak bisa bernapas.Tiba-tiba, dia menerjang ke arah pintu. Tangannya menghantam permukaan pintu dengan keras berulang kali. Suaranya serak dan penuh keputusasaan, "Tolong buka pintunya! Aku mohon, buka pintunya!""Cherish! Jangan menikah dengannya! Aku mohon .... Jangan menikah dengannya ...."Namun, orang-orang di dalam seolah tidak mendengar suaranya. Atau mungkin, memang tidak ada seorang pun yang ingin memedulikannya.Pernikah

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 19

    Aldrich seolah disambar petir. Seluruh tubuhnya mematung di tempat. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan dari kepala hingga kaki, membuat tubuhnya gemetar kedinginan.Tatapannya terpaku pada Cherish yang berdiri di atas panggung. Dia melihat Cherish mengenakan gaun pengantin putih yang suci. Senyum lembut menghiasi wajahnya saat berdiri di samping pria lain.Di sisi mereka, Adeline mengenakan gaun pendamping pengantin. Wajahnya penuh kebahagiaan, seolah sedang menyaksikan upacara terindah di dunia. Semua pemandangan itu dengan jelas memberitahunya satu hal.Ini adalah pernikahan Cherish.Pikiran Aldrich kosong dan telinganya berdengung. Seluruh dunianya seolah-olah sedang runtuh. Hingga suara pembawa acara kembali terdengar, barulah dia tersadar."Bu Cherish, apakah Anda bersedia menikah dengan Pak Marvin, mencintainya, menghormatinya, dan mendampinginya selamanya, baik dalam kemiskinan maupun kekayaan, dalam kesehatan maupun penyakit, hingga akhir hayat?"Cherish sedikit

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 18

    Begitu pesan itu terkirim, grup langsung meledak.[ Sial, Aldrich, akhirnya kamu sadar juga? Benar-benar sudah nggak suka Garcia lagi? ][ Memang sudah seharusnya begitu! Wanita seperti Garcia sama sekali nggak pantas membuatmu membuang-buang waktu! ][ Tapi soal Cherish ... kamu sudah menyakitinya sedalam itu. Apa dia masih bisa memaafkanmu? ]Aldrich menatap pesan-pesan di grup itu, lalu jarinya bergerak cepat di layar.[ Aku sudah lama nggak suka sama Garcia. Mungkin itu hanya obsesi. Selama beberapa hari bersama dia, yang ada di pikiranku justru Cherish. Dulu aku nggak mengerti, sekarang aku mengerti. ]Grup itu sempat hening beberapa detik.Kemudian kembali ramai.[ Bagus kalau kamu akhirnya sadar! Wanita seperti Garcia memang nggak layak mendapatkan pengorbananmu. Kamu mungkin belum tahu, setelah foto-foto ranjangnya tersebar, saham keluarganya anjlok drastis. Sekarang perusahaan mereka sudah bangkrut. ][ Garcia juga setiap hari dimarahi dan dipukuli orang tuanya. Kudengar selur

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 17

    Di sisi lain, di Kota Lugor.Cherish bangun pagi-pagi sekali dan mulai bersiap dengan riasan serta penampilannya. Gaun pengantin itu dibuat khusus sesuai ukuran tubuhnya. Warnanya putih bersih, mempertegas pinggangnya yang ramping dan garis bahunya yang anggun.Saat dia mengenakan gaun pengantin itu, semua orang di dalam ruangan menunjukkan ekspresi kagum."Ya ampun, Cherish, kamu cantik sekali!"Teman-temannya mengelilinginya sambil terus memuji tanpa henti.Cherish tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke cermin. Di dalam pantulan cermin, wajahnya tampak begitu indah, dengan senyum bahagia yang samar menghiasi bibirnya."Pengantinnya datang!" seru seseorang tiba-tiba.Cherish berbalik dan melihat Marvin berjalan masuk. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna sesuai bentuk tubuhnya. Sosoknya tinggi dan ramping, dengan aura elegan dan berkelas.Tatapannya tertuju pada Cherish. Kekaguman yang tidak disembunyikan sedikit pun terlihat jelas di matanya."Cherish canti

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status