Share

Bab 6

Penulis: Minnie
Kini semuanya sudah jelas. Itu artinya, bagi Aldrich, Garcia adalah seseorang yang bahkan lebih penting daripada nyawanya sendiri.

Cherish akhirnya mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Dia menarik kembali tangannya, menelan semua emosi rumit yang mengganjal di tenggorokannya, lalu memaksakan sebuah senyuman.

"Oke. Kalau kamu memang ingin pindah rumah sakit, pindah saja. Tapi aku tetap akan telepon Adeline dulu. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku takut dia sedih."

Setelah berkata begitu, Cherish berbalik dan meninggalkan ruang rawat.

Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia mendengar suara Aldrich yang terdengar sedikit panik. "Aku nggak jadi pindah rumah sakit! Cherish, jangan bilang ke Kak Adeline. Aku nggak ingin dia tahu."

Apa yang sebenarnya dia takutkan? Dia takut Adeline tahu dia terluka? Atau tahu mereka diam-diam menjalin hubungan?

Cherish tidak tahu dan juga tidak ingin peduli lagi, tetapi pada akhirnya dia tidak menelepon Adeline.

Adeline masih berlibur di luar negeri. Dia tidak ingin mengganggunya dengan urusan seperti ini.

Cherish menyewa dua orang perawat pendamping untuk mengurus kebutuhan sehari-hari Aldrich. Sesekali saat mengantarkan makanan, mereka akan menyampaikan sesuatu kepada Cherish.

"Bu Cherish, hari ini Pak Aldrich tanya keberadaan Ibu lagi. Dia juga tanya apa Ibu marah padanya."

Cherish hanya mengangguk pelan. Setelah makan siang, dia pergi ke kamar rawat Aldrich. Namun saat tiba di sana, dia tidak melihat siapa pun.

Kebetulan seorang perawat baru saja selesai merapikan ruangan dan berkata dengan santai, "Pasien tadi siang sudah urus prosedur pindah rumah sakit. Sekarang dirawat di RS Sejahtera."

Melihat kamar yang kosong, senyum yang mengejek dirinya sendiri muncul di wajah Cherish. Dia membuka ponsel dan melihat pesan-pesan yang dikirim Aldrich selama beberapa hari terakhir.

[ Cherish, aku bosan. Temani aku ngobrol ya? ]

[ Kita sudah tiga hari nggak ketemu. Kamu nggak kangen aku? ]

[ Jangan marah lagi. Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan beliin kamu hadiah, gimana? ]

Jika tidak mengetahui keberadaan Garcia, mungkin Cherish akan mengira semua itu adalah tanda cinta.

Namun, setelah melihat bagaimana Aldrich mencintai seseorang dengan tulus, dia tidak akan lagi salah paham.

Setelah pulang ke rumah sendirian, Cherish menghubungi agen properti dan memasang iklan penjualan apartemennya.

Dalam tiga-empat hari berikutnya, ada enam atau tujuh calon pembeli yang datang melihat. Agar cepat terjual, dia bahkan menurunkan harga hingga serendah mungkin.

Pada hari transaksi selesai dilakukan, baru saja Cherish menandatangani kontrak, Aldrich pulang. Melihat agen yang mengenakan kartu identitas perusahaan properti, ekspresi terkejut muncul di wajahnya.

"Cherish, kamu mau jual rumah ini?"

Cherish tidak berniat menyembunyikannya dan mengangguk.

Aldrich mengangkat alis, lalu melihat sekeliling dengan santai. "Aku juga merasa apartemen ini agak kecil. Pindah saja ke vila di Rich Mount. Aku sudah beli vila itu bertahun-tahun lalu dan selama ini selalu kosong."

Cherish tidak mengatakan setuju maupun tidak. Setelah mengantar agen pergi, dia mengganti topik pembicaraan. "Kamu sudah pulih?"

"Sudah. Kak, aku tahu kamu masih mengkhawatirkanku." Aldrich tersenyum sambil merangkul pinggang Cherish dan menunduk hendak menciumnya.

Saat napas hangat pria itu mendekat, Cherish refleks menghindar. Di tengah tatapan terkejut Aldrich, Cherish pun berbohong tanpa mengubah ekspresi sedikit pun, "Aku lagi mens."

Aldrich menghela napas pelan. "Kak, bukan berarti setiap kali aku mendekat aku selalu mikirin hal seperti itu. Kita sudah lama nggak ketemu. Memangnya nggak boleh kalau aku kangen dan ingin cium?"

Cherish tidak merasa kemungkinan itu ada. Dia sudah tidak punya tenaga untuk terus memainkan sandiwara cinta yang mendalam seperti ini bersamanya. Karena itu, dia mencari alasan ingin mandi dan beristirahat, lalu pergi ke kamar.

Dua hari berikutnya, Aldrich tidak keluar rumah. Cherish mengeluarkan beberapa kardus dan mulai membereskan semua barang yang berhubungan dengan Aldrich.

Gelas pasangan, alat cukur yang pernah dibelikannya, hadiah-hadiah yang pernah dia terima, foto-foto mereka, perlengkapan sehari-hari. Tidak ada satu pun yang dia sisakan. Semuanya dibuang.

Kebetulan Aldrich keluar dari ruang kerja dan melihat ruangan yang tiba-tiba kosong. Rasa panik langsung muncul di wajahnya.

"Kenapa semua barang ini dibuang?"

"Kamu ingin pindah ke vila di Rich Mount, 'kan? Aku cuma beresin beberapa barang yang sudah nggak diperlukan."

Cherish menjawab dengan alasan seadanya dan berhasil menghilangkan kecurigaan Aldrich.

Aldrich juga menyadari suasana hati Cherish sedang buruk, jadi malam harinya dia mengajak Cherish menghadiri sebuah acara lelang.

Di sana, tujuh hingga delapan perhiasan dipamerkan secara berurutan. Tanpa berpikir panjang, Aldrich menawar dan membeli semuanya.

Semua orang di aula pameran memandang Cherish dengan iri. Namun, Cherish sama sekali tidak tertarik.

Baru saja Cherish hendak berdiri, ponsel Aldrich berdering. Dia melirik sekilas. Nama yang muncul di layar adalah Garcia.

Tanpa mengatakan apa-apa, Cherish berbalik dan berjalan menuju toilet.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 22

    Saat Aldrich kembali sadar, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Bau menyengat cairan disinfektan memenuhi rongga hidungnya, sementara lampu putih di atas kepalanya terasa begitu menusuk mata hingga terasa perih.Aldrich mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi seluruh badannya terasa seperti telah digilas kendaraan. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tanpa sadar terkesiap."Sudah bangun?" Suara Adeline terdengar dari samping, membawa sedikit nada dingin dan kelelahan.Aldrich menoleh dan melihat Adeline duduk di sisi ranjangnya. Wajahnya tampak begitu suram. Tatapannya dipenuhi kemarahan dan kekecewaan saat dia menggertakkan gigi."Aldrich, kenapa aku bisa punya adik sepertimu? Apa kamu tahu kalau kamu hampir cacat?! Sekarang karena kamu sudah sadar, nggak perlu lagi mikirin soal penyembuhan. Segera kembali ke Kota Utara! Mulai sekarang kamu dilarang menginjakkan kaki di Kota Lugor lagi!"Namun, Aldrich sama sekali tidak memedulikan amarahnya. Dia langsung bertanya

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 21

    Adeline menatapnya dengan dingin, nadanya penuh rasa meremehkan. "Nggak mungkin? Aldrich, sadarlah! Cherish sudah lama melupakanmu. Orang yang dia cintai sekarang hanya Marvin. Sekalipun kamu berlutut sampai mati di sini, dia nggak akan melirikmu sekali pun."Namun, Aldrich seolah tidak mendengarnya. Dia tetap mencengkeram tangan Adeline dengan erat dan suaranya dipenuhi keputusasaan. "Kak, tolong bantu aku ... Aku benar-benar tahu aku salah. Aku nggak bisa hidup tanpa dia ...."Adeline begitu marah hingga hampir pingsan. Dia langsung melepaskan tangan Aldrich dan berteriak, "Aldrich! Sadar sedikit! Sekarang juga kembali ke Kota Utara! Kalau nggak pulang, aku akan suruh Ayah dan Ibu mengikatmu dan membawamu pulang!"Namun, Aldrich tetap seperti tidak mendengar apa-apa. Tatapannya terus tertuju ke gerbang lokasi pernikahan, penuh dengan permohonan yang menyedihkan.Adeline gemetar karena marah. Dia berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa da

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 20

    Aldrich diseret oleh petugas keamanan hingga ke luar gerbang utama lokasi pernikahan. Pintu besar yang berat menutup di belakangnya dengan suara keras.Brak!Suara itu memisahkannya sepenuhnya dari kemeriahan yang ada di dalam.Dia berdiri di luar pintu. Namun di telinganya, suara-suara dari dalam seolah masih terdengar jelas. Suara pembawa acara yang mengumumkan prosesi pertukaran cincin. Tawa dan sorakan para tamu, serta suara kecupan ringan yang cukup untuk menghancurkan seluruh dunianya.Jantungnya terasa begitu perih. Saking sakitnya, dia hingga hampir tidak bisa bernapas.Tiba-tiba, dia menerjang ke arah pintu. Tangannya menghantam permukaan pintu dengan keras berulang kali. Suaranya serak dan penuh keputusasaan, "Tolong buka pintunya! Aku mohon, buka pintunya!""Cherish! Jangan menikah dengannya! Aku mohon .... Jangan menikah dengannya ...."Namun, orang-orang di dalam seolah tidak mendengar suaranya. Atau mungkin, memang tidak ada seorang pun yang ingin memedulikannya.Pernikah

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 19

    Aldrich seolah disambar petir. Seluruh tubuhnya mematung di tempat. Rasanya seperti ada seember air es yang disiramkan dari kepala hingga kaki, membuat tubuhnya gemetar kedinginan.Tatapannya terpaku pada Cherish yang berdiri di atas panggung. Dia melihat Cherish mengenakan gaun pengantin putih yang suci. Senyum lembut menghiasi wajahnya saat berdiri di samping pria lain.Di sisi mereka, Adeline mengenakan gaun pendamping pengantin. Wajahnya penuh kebahagiaan, seolah sedang menyaksikan upacara terindah di dunia. Semua pemandangan itu dengan jelas memberitahunya satu hal.Ini adalah pernikahan Cherish.Pikiran Aldrich kosong dan telinganya berdengung. Seluruh dunianya seolah-olah sedang runtuh. Hingga suara pembawa acara kembali terdengar, barulah dia tersadar."Bu Cherish, apakah Anda bersedia menikah dengan Pak Marvin, mencintainya, menghormatinya, dan mendampinginya selamanya, baik dalam kemiskinan maupun kekayaan, dalam kesehatan maupun penyakit, hingga akhir hayat?"Cherish sedikit

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 18

    Begitu pesan itu terkirim, grup langsung meledak.[ Sial, Aldrich, akhirnya kamu sadar juga? Benar-benar sudah nggak suka Garcia lagi? ][ Memang sudah seharusnya begitu! Wanita seperti Garcia sama sekali nggak pantas membuatmu membuang-buang waktu! ][ Tapi soal Cherish ... kamu sudah menyakitinya sedalam itu. Apa dia masih bisa memaafkanmu? ]Aldrich menatap pesan-pesan di grup itu, lalu jarinya bergerak cepat di layar.[ Aku sudah lama nggak suka sama Garcia. Mungkin itu hanya obsesi. Selama beberapa hari bersama dia, yang ada di pikiranku justru Cherish. Dulu aku nggak mengerti, sekarang aku mengerti. ]Grup itu sempat hening beberapa detik.Kemudian kembali ramai.[ Bagus kalau kamu akhirnya sadar! Wanita seperti Garcia memang nggak layak mendapatkan pengorbananmu. Kamu mungkin belum tahu, setelah foto-foto ranjangnya tersebar, saham keluarganya anjlok drastis. Sekarang perusahaan mereka sudah bangkrut. ][ Garcia juga setiap hari dimarahi dan dipukuli orang tuanya. Kudengar selur

  • Jalinan Cinta Ini Hanya Alat Pemuas Gairahnya   Bab 17

    Di sisi lain, di Kota Lugor.Cherish bangun pagi-pagi sekali dan mulai bersiap dengan riasan serta penampilannya. Gaun pengantin itu dibuat khusus sesuai ukuran tubuhnya. Warnanya putih bersih, mempertegas pinggangnya yang ramping dan garis bahunya yang anggun.Saat dia mengenakan gaun pengantin itu, semua orang di dalam ruangan menunjukkan ekspresi kagum."Ya ampun, Cherish, kamu cantik sekali!"Teman-temannya mengelilinginya sambil terus memuji tanpa henti.Cherish tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya ke cermin. Di dalam pantulan cermin, wajahnya tampak begitu indah, dengan senyum bahagia yang samar menghiasi bibirnya."Pengantinnya datang!" seru seseorang tiba-tiba.Cherish berbalik dan melihat Marvin berjalan masuk. Dia mengenakan setelan jas hitam yang dijahit sempurna sesuai bentuk tubuhnya. Sosoknya tinggi dan ramping, dengan aura elegan dan berkelas.Tatapannya tertuju pada Cherish. Kekaguman yang tidak disembunyikan sedikit pun terlihat jelas di matanya."Cherish canti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status