Share

03 - Dominasi Pecah!

Author: BlackDiamond
last update publish date: 2026-07-25 16:06:35

"Calon istri?"

Maya menyuarakan kata itu dengan napas tercekat. Matanya melebar, menatap profil samping wajah Julian dengan horor penuh keterkejutan. Saraf-saraf tubuhnya mendadak kaku dalam cengkeraman tangan kokoh Julian yang melingkar erat di pinggangnya. 

Bukannya kesepakatan mereka di dalam tadi hanya sebatas hubungan kerja privat? Kenapa tiba-tiba pria ini melemparkan bom pernyataan gila di hadapan puluhan kamera?

Lampu kilat wartawan makin membabi butal menyambar wajah mereka. Pertanyaan-pertanyaan tajam berhamburan seperti peluru.

"Tuan Julian, apakah Anda serius? Seorang Vane akan menikahi wanita berstatus janda?"

"Apakah ini pengalihan isu untuk proyek akuisisi Vane Group bulan ini?"

"Nona Maya, bagaimana tanggapan Anda?!"

Julian tidak membalas satupun pertanyaan itu. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, seolah kerumunan wartawan yang panik di depannya tak lebih dari serangga yang mengganggu. Tanpa mengendurkan cengkeramannya sedikit pun pada pinggang Maya, Julian terus berjalan menembus barisan wartawan. 

Dua pengawal berbadan tegap berjas hitam segera pasang badan, mendorong mundur para awak media dan membuka jalan menuju mobil Rolls-Royce hitam yang sudah terparkir dengan pintu terbuka.

Dengan gerakan cepat namun tenang, Julian mendorong pelan tubuh Maya masuk ke dalam kabin mobil yang mewah dan kedap suara, sebelum ia sendiri menyusul duduk di sebelahnya. Pintu mobil tertutup rapat dengan dentam berat. Seketika itu juga, kebisingan lampu kilat dan teriakan para wartawan lenyap total, berganti dengan keheningan pekat di dalam kabin.

Maya buru-buru menggeser duduknya menjauh, menempel pada pintu mobil sebelah kanan. Dadanya naik turun tidak teratur, napasnya tersengal akibat kombinasi kepanikan dan kebingungan yang membakar kepalanya.

"Tuan Julian, apa maksud kata-kata Anda tadi?!" suara Maya melengking pelan, matanya menatap Julian menuntut penjelasan. "Kita tidak pernah membicarakan hal ini! Kesepakatan kita tadi cuma... saya cuma bekerja untuk menemani dan menenangkan Anda. Saya bukan calon istri Anda!"

Julian membuka kancing atas kemeja hitamnya dengan santai, menyandarkan punggungnya pada sandaran jok kulit yang empuk. Pria itu menoleh perlahan, menatap Maya yang tampak siap meledak kapan saja.

"Kalau aku bilang ke mereka kamu adalah wanita yang kusewa untuk membantuku tidur, apa yang akan ditulis media besok pagi?" tanya Julian datar, suaranya rendah dan mengintimidasi.

Maya bungkam. Tenggorokannya terasa kering.

"Mereka akan menulis bahwa seorang Julian Vane menyewa janda simpanan dari klub malam," lanjut Julian tanpa belas kasihan. "Stigma 'janda' dan 'penghibur' itu akan melekat padamu seumur hidup. Keluarga mantan suami akan makin leluasa menginjak-injakmu, dan media akan memburumu sampai ke ruang ICU tempat ayahmu dirawat."

Maya mengepalkan jemarinya di atas jas Julian yang masih menutupi tubuhnya. Kata-kata Julian sangat tajam, tapi logika dingin di balik ucapan itu tidak bisa ia bantah.

"Status 'calon istri Julian Vane' adalah perisai paling aman yang bisa kuberikan padamu saat ini," tambah Julian, matanya mengunci Maya sepenuhnya. "Di kota ini, tidak ada yang berani menyentuh milikku. Dengan pernyataan tadi, hukum media berbalik. Kamu bukan lagi mangsa, tapi wanita yang dilindungi oleh Vane Group."

"Tapi... itu kebohongan besar," bisik Maya, suaranya bergetar. "Bagaimana kalau keluarga Anda tahu? Bagaimana kalau media menagih kebenaran tentang pernikahan itu?"

"Itu urusanku, bukan urusanmu," sahut Julian tegas. "Tugasmu tetap sama seperti yang kita sepakati di dalam: atasi insomniaku, patuhi aturanku, dan beraktinglah dengan baik jika ada kamera di sekitar kita. Paham?"

Maya menggigit bibir bawahnya erat-erat, melempar pandangannya keluar jendela memandangi deretan lampu jalanan yang melintas cepat. Suasana di dalam mobil terasa menekan. Julian kembali memejamkan mata, memijat pelipisnya secara berkala—gestur kecil yang memperlihatkan rasa sakit kepala hebat yang ditahannya sejak dari mansion.

Mobil terus melaju hingga akhirnya melambat dan memasuki basement bangunan pencakar langit yang paling menjulang: Vane Tower. Lift privat berkecepatan tinggi membawa mereka meluncur langsung ke lantai teratas—penthouse pribadi milik Julian.

Saat pintu lift terbuka, Maya mendapati dirinya berada di ruangan raksasa berdinding kaca yang memperlihatkan gumpalan awan malam dan gemerlap kota dari ketinggian. Interiornya elegan dengan dominasi marmer hitam dan abu-abu, namun terasa sepi dan dingin.

"Kamar tamu ada di koridor kiri," ucap Julian sembari melepas jam tangan mewahnya dan meletakkannya di atas meja konsol. "Mandi dan ganti pakaianmu. Setengah jam lagi, masuk ke kamarku. Kepalaku mulai berisik lagi."

Tanpa menunggu balasan Maya, Julian melangkah masuk ke kamarnya di koridor kanan dan menutup pintu.

Maya menarik napas panjang. Ia melangkah menuju kamar tamu, menemukan piyama sutra polos berwarna krem yang sudah disediakan di dalam lemari. Usai membersihkan diri di kamar mandi marmer dan mematangkan mentalnya, Maya melangkah keluar dari kamar tamu. Langkah kakinya yang bertelanjang kaki terasa begitu pelan menapak karpet tebal koridor, menuju pintu kamar utama Julian yang dibiarkan sedikit terbuka.

Maya mengetuk daun pintu kayu tebal itu dengan buku jarinya. "Tuan Julian... saya sudah selesai."

"Masuk..." suara berat dan serak Julian terdengar dari dalam.

Maya mendorong pintu pelan-pelan dan melangkah masuk.

Julian duduk di tepi ranjang raksasa. Kemeja hitamnya sudah bertengger di lantai, meninggalkan dada bidang dan bahu kokohnya yang bertelanjang di bawah temaram lampu. Kepala pria itu menunduk, jemarinya cemas meremas rambutnya sendiri—tercekik oleh sakit kepala yang tak tertahankan.

Namun suara gesekan halus piyama sutra Maya di atas karpet membuat Julian mendadak terhenti.

Pria itu menengadah. Matanya yang memerah dan sayu perlahan menyisir Maya dari ujung kaki hingga leher mulusnya. Piyama krem berbahan tipis itu jatuh melekat di tubuh Maya, mencetak siluet lekuk tubuhnya tanpa cela di tengah remangnya kamar.

Suasana kamar yang dingin seketika mending.

Julian terpaku. Jakunnya bergerak naik turun secara perlahan, menelan ludah yang mendadak terasa berat di tenggorokannya. Kilat kesakitan di matanya tersapu bersih— berganti menjadi tatapan lapar, gelap, dan berbahaya.

Dominasi dingin pria itu pecah total.

"Maya..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   55 - Kebenaran yang Diragukan

    Julian langsung meraih tetikus dan mematikan layar komputer tersebut dengan satu gerakan kasar. Ia bahkan menarik kabel daya dari balik meja hingga layar monitor itu padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan tipis di sudut ruang kerja.Pria itu terkeh rendah, sebuah cibiran penuh nada meremehkan terpancar dari wajahnya. "Siapa pun yang menyiapkan jebakan ini, aku tidak akan percaya," gumamnya datar. "Aku, Julian Vane, hanya percaya dengan bukti."Maya menahan napas, menatap Julian yang masih berdiri sangat dekat dengannya. Pesan berwarna merah di layar tadi masih terbayang jelas di benaknya. Kalimat itu terngiang-ngiang, menanamkan benih keraguan yang makin membesar di dalam dadanya."Julian..." suara Maya bergetar pelan. "Pesan itu... apa maksudnya? Ayahku membunuh ayahmu?"Julian bergeming sejenak. Pria itu menunduk, menatap wajah Maya yang kini diliputi rasa cemas dan kebingungan. Jemari Julian yang panjang terulur, mengusap lembut rahang Maya, mengunci pandangan wanita itu agar hanya

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   54 - Benang-Benang Jebakan

    "Apa itu?" tanya Julian dan Sean hampir bersamaan, menoleh lurus ke arah suster yang berdiri di ambang pintu medis.Suster itu menyerahkan kantung plastik bening tersebut kepada Julian. "Kami menemukannya di saku gaun anak ini saat melepas pakaian luarnya, Tuan. Ada bekas cairan racun di dalamnya."Julian menerima kantung itu, matanya terpaku pada botol kaca mini serta selembar kertas kecil bertulisan tangan yang terikat di leher botol. Huruf-huruf di kertas itu membentuk inisial yang teramat dikenal Julian—inisial nama almarhumah ibu Maya. Segalanya tersusun begitu rapi, seolah menunjuk dengan telunjuk lurus bahwa Maya adalah dalang di balik semua ini.Evelyn mendongak pelan dari bangku tunggu, matanya terbelalak menatap botol itu. "Itu... botol apa, Julian? Jangan katakan kalau..."Maya menahan napasnya. Rasa takut dan cemas membeku di dadanya saat melihat raut wajah Julian yang mengeras. Seluruh bukti fisik seolah dirancang untuk menghancurkannya, dan Maya sudah bersiap menghadapi

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   53 - Fitnah

    "Sejam yang lalu? Artinya dia keracunan di rumahku?" tanya Julian. Suaranya rendah namun penuh penekanan yang menuntut kejelasan.Dokter itu mengangguk pelan, memperlihatkan papan data medis di tangannya. "Benar, Tuan Vane. Racun ini memperburuk penyakit dasarnya dan memicu kejang hebat yang baru saja terjadi. Jika terlambat sepuluh menit saja dibawa ke sini, nyawanya tidak akan tertolong."Evelyn menjerit histeris, menutup mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. "Julian... apa yang diminum anakku? Dia tidak pernah asal mengambil makanan atau minuman. Dia selalu meminta izin padaku jika ingin meminum sesuatu!"Suara Evelyn terdengar sumbang di koridor rumah sakit yang lengang, dipenuhi tangis penyesalan yang pecah. Wanita itu menoleh perlahan ke arah Maya yang berdiri di samping Julian, menatapnya dengan raut wajah hancur namun tanpa nada menuduh yang vulgar."Hari ini... dia hanya minum minuman yang diberikan Nona Maya," lanjut Evelyn lirih, air matanya menetes makin deras.

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   52 - Apa Jenis Perasaan ini?

    "Tuan Julian! Buka pintunya! Anak kecil itu... dia mendadak kejang! Apa yang harus kami lakukan"Kepanikan dalam suara Sean langsung menghancurkan keheningan kamar. Julian beranjak dari kasur dengan gerakan cepat, menarik celana dan kemeja hitamnya tanpa sempat mengancingkan bagian dada sepenuhnya. Maya menyambar piyama sutranya, mengikuti langkah lebar Julian yang memutar kunci pintu dan berhambur keluar.“Bodoh, kenapa gak langsung ke rumah sakit! Ayo!”Di lorong depan kamar sebelah, Evelyn berlutut di lantai sambil memeluk tubuh kecil putrinya yang gemetar dan tidak sadarkan diri. Busa tipis muncul di sudut bibir anak itu, sementara pecahan gelas kaca berserakan di sekitar mereka."Julian! Tolong aku! Dia tidak bernapas dengan benar!" jerit Evelyn histeris saat melihat keberadaan Julian.Julian tak membuang waktu untuk bertanya. Pria itu menyambar tubuh anak kecil itu ke dalam dekapannya, melangkah lebar menuju tangga tanpa memperdulikan hal lain. "Sean, siapkan mobil sekarang!" p

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   51 - Pengakuan di Atas Kasur

    Pilihan yang ditawarkan Julian menggantung di udara, terasa tebal di antara deru napas mereka yang saling beradu. Maya menatap pria di atasnya dengan mata bersabut gairah. Pertanyaan itu terdengar begitu arogan, khas seorang Julian Vane yang selalu menuntut kepasrahan total tanpa celah sedikit pun.Maya mencoba menarik napas, mencari sisa kekuatan untuk melawan dominasi pria itu. Namun, pergerakan jemari Julian yang bergerak perlahan di titik sensitifnya membuat tubuhnya justru mengkhianati pikirannya sendiri. Sebuah desahan halus lolos begitu saja dari bibir Maya yang memerah basah."Kamu... selalu memaksaku..." bisik Maya parau, jemarinya yang gemetar tertanam di antara helaian rambut hitam Julian."Aku tidak memaksamu, Maya," balas Julian rendah. Pria itu menyusupkan wajahnya ke leher Maya, memberikan kecupan-kecupan menuntut yang membuat tubuh wanita itu merinding hebat. "Aku hanya memberimu kenyataan. Kamu tidak bisa pergi dariku, dan tubuhmu tahu itu."Julian tidak menunggu jawa

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   50 - Raya Yang Mulai Tumbuh

    "Lepaskann…. aku tidak akan cemburu pada lelaki yang tidak bertanggung jawab pada anaknya!"Ucap Maya seraya menghentakkan badannya, menepis cengkeraman tangan Julian yang melingkari pinggangnya. Matanya menatap Julian dengan luapan emosi yang membara.Julian bergeming, menatap wanita di depannya dengan kilat mata yang tak tertebak. Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibirnya."Hey.. kenapa kamu marah-marah kalau memang tidak cemburu?"Maya terdiam. Tenggorokannya mendadak mengering. Ucapan Julian barusan memukul telak pertahanan batinnya. Ia memalingkan wajah, enggan menatap binar keangkuhan dari pria yang selalu berhasil membalikkan keadaannya itu."Kamu bahkan tidak bertanya dulu, langsung main tuduh dan marah-marah," lanjut Julian dengan suara beratnya yang mengalun tenang. Pria itu melangkah maju satu tapak, mengikis kembali jarak yang baru saja Maya buat."Bagaimana aku tidak menuduh?!" potong Maya parau, suaranya gemetar menahan gejolak di dadanya. "Wajah anak itu... dan ucap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status