Masuk"Mobil Tuan Vane... ditabrak truk di persimpangan jalan menuju dermaga barat lima menit yang lalu."Kata-kata pengawal itu menghantam kesadaran Maya bagai hantaman benda tumpul. Seluruh persendiannya mendadak lemas, membuat lembaran foto tua di genggamannya hampir merosot jatuh. Selama beberapa detik, ruangan luas itu terasa begitu hening, menyisakan deru napas pengawal yang masih memburu di dekat pintu lift."Apa..." cicit Maya parau. Tangannya yang memegang pinggiran meja kerja bergetar hebat. "Julian... bagaimana keadaannya?""Kami belum menerima konfirmasi pasti mengenai kondisi beliau, Nona," jawab pengawal itu cepat, matanya gelisah menatap lorong. "Tim pengawal di lapangan sedang berusaha mengamankan lokasi. Saya mendapat perintah untuk membawa Anda ke rumah sakit rujukan sekarang juga. Tempat ini tidak lagi aman."Rasa panik yang teramat sangat seketika membakar seluruh isi kepala Maya. Segala amarah, keputusasaan, dan kekesalannya pada kontrol berlebihan Julian mendadak men
Mata Julian tertuju pada layar ponsel yang menyala terang di dekat kaki ranjang. Pesan singkat dari nomor asing itu terus terpampang di sana, membawa nama ibu Maya yang telah lama terkubur dalam sejarah kelam belasan tahun lalu.Julian menghela napas berat. Pria itu menurunkan pandangannya, menatap Maya yang terbaring pasrah di bawah kukungannya. Napas wanita itu masih memburu pelan, matanya basah oleh sisa air mata kekecewaan akibat rencananya yang berantakan."Julian..." cicit Maya parau, matanya mengikuti arah tatapan Julian. "Ada apa?"Julian tidak menjawab. Pria itu bergeming selama beberapa detik, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya dan turun dari ranjang. Ia meraih ponselnya, memasukkannya ke dalam saku celana, lalu merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Ada perubahan ritme yang jelas dari sikapnya—kejadian gairah beberapa saat lalu mendadak surut, digantikan oleh kesiagaan yang terkendali.Maya perlahan duduk di tepi ranjang, menarik kain gaunnya untuk menutupi bagian dada
"Kamu berusaha kabur dariku?"Suara Julian mengalun sangat pelan, hampir menyerupai bisikan, namun getaran dingin di dalamnya sanggup mematikan seluruh pergerakan di dalam ruangan. Pria itu perlahan menurunkan ponselnya dari telinga, memasukkannya kembali ke saku celana tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah Maya.Maya membeku. Lidahnya mendadak terasa kelu, sementara darah di dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir. Pegangan tangan Julian di bahunya tidak bertambah kencang, tetapi tatapan pria itu mengunci seluruh keberaniannya hingga tak bersisa."Jawab aku, Maya," ulang Julian. Jarinya bergerak naik, mengusap garis rahang Maya yang mengeras ketakutan. "Kamu memesan tiket satu arah ke Zurich untuk besok pagi?"Maya menelan ludah dengan susah payah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketenangannya yang telah tercecer. "Aku... aku bukan mau kabur, Julian.""Lalu apa sebutannya?" Julian tertawa pendek, sebuah tawa kering yang sama sekali tidak tersentuh rasa humor. Pria itu
Deru mesin mobil melaju konstan menembus kegelapan jalanan kota yang sepi. Di dalam kabin baris belakang yang temaram, tidak ada percakapan yang mengalir sejak mereka meninggalkan gedung charity gala. Maya menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin, menatap bayangan lampu jalanan yang membias bergantian di permukaan kaca.Sisa-sisa ketegangan dari ruang VIP tadi masih membakar di antara selangkangannya. Pakaiannya memang sudah rapi kembali, namun rasa lemas pada persendiannya membuat Maya enggan bergerak sedikit pun. Di sampingnya, Julian duduk tegak dengan jemari tangan kirinya yang besar menggenggam erat pergelangan tangan Maya—sebuah genggaman yang tidak menyakitkan, namun cukup kuat untuk memastikan wanita itu tidak menggeser duduknya walau hanya seinci."Kamu terlalu diam sejak tadi," suara Julian memecah keheningan kabin. Nada bicaranya datar, tanpa emosi yang meluap, namun memiliki bobot tekanan yang memaksa lawan bicaranya untuk menjawab.Maya tidak langsung memal
"Ah... Julian... tolong... jangan di sini... di luar banyak orang..."Bisikan parau Maya bergema redup, tertahan di antara napasnya yang patah-patah. Punggungnya menempel rapat pada permukaan dingin pintu kayu mahoni ruang VIP. Di balik pintu itu, alunan musik orkestra dan riuh percakapan para tamu charity gala terdengar samar, menjadi kontras yang sangat kontras dengan situasi panas di dalam ruangan.Julian tidak menghentikan gerakannya sedikit pun. Pria itu justru makin memajukan tubuh tegapnya, mengunci pergerakan pinggul Maya tanpa memberi celah untuk bergeser."Biarkan saja," desis Julian rendah tepat di depan bibir Maya. Suaranya tenang, namun menyimpan dominasi dingin yang tak tersentuh negosiasi. "Biarkan mereka mendengar suara desahanmu jika kamu berani berteriak."Maya menahan napasnya, matanya berembun menatap sepasang iris pekat di hadapannya. Kedua tangannya bertumpu di dada bidang Julian, berniat mendorongnya untuk memberi sedikit jarak, tetapi tenaganya sama sekali tak
Dentang dentingan gelas kristal dan alunan musik klasik memenuhi aula megah charity gala malam itu. Lampu-lampu gantung raksasa memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas gaun-gaun malam para tamu papan atas.Maya berdiri kaku di sudut area koridor VIP yang jauh dari keramaian, membalut tubuhnya dengan gaun malam sutra berwarna hitam pekat. Julian berdiri tepat di sampingnya, satu tangan tegap pria itu melingkar posesif di pinggang Maya, memagari wanita itu dari tatapan asing para tamu undangan.Saat melangkah melewati dinding galeri foto sejarah yayasan di koridor tersebut, langkah Maya mendadak terhenti. Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto dokumentasi lama di dinding. Di foto itu, tampak sudut lapangan sekolah menengah bergaya klasik yang sangat tak asing baginya. Di sudut gambar, berdiri sosok pria jangkung berjas rapi yang sangat mirip dengan Julian beberapa tahun lalu.Aroma parfum kayu milik Julian yang tajam dan menenangkan perlahan memenuhi indra penciuman Maya, m







