Share

41 - Abu-Abu

Author: BlackDiamond
last update publish date: 2026-08-22 23:34:01

"Maya… apa itu penting? Apa itu bisa mengubah keadaan?"

Suara Julian mengalun rendah, nyaris tanpa riak emosi sewaktu kalimat itu meluncur dari bibirnya.

Pria itu sedikit pun tidak mengalihkan tatapannya dari Maya, seolah keberadaan Pak Gunawan dan pengakuan mengenai keterlibatan keluarga Vane dalam pembunuhan belasan tahun lalu hanyalah tumpukan informasi yang tak memiliki bobot.

Maya menatap Julian dengan mata menyalang, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Tidak penting?" b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   96 - Janji Palsu

    "Jangan membuatku harus naik ke kamar ini dua kali untuk menyeretmu, Maya."Suara Julian yang berat dan tajam itu bergeming di ambang pintu kamar, menghentikan langkah ragu Maya yang baru saja menyentuh kain hitam legam gaun pengantin tersebut.Maya menarik napas dalam-dalam, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya, lalu dengan tangan bergetar meraih gaun itu dari manekin. Tidak ada lagi jalan untuk mengelak. Desakan mual yang masih samar-samar berdenyut di perutnya iaabaikan sekuat tenaga, memaksa dirinya bergerak cepat sebelum Julian kehilangan sisa kesabarannya yang tipis.Beberapa menit kemudian, Maya melangkah keluar dari kamar ganti. Gaun pengantin hitam bergaya minimalist-chic itu membalut tubuhnya dengan sempurna, mempertegas garis pinggang dan kontur tubuhnya yang jenjang, namun sekaligus memberikan aura kelam bagaikan gaun pemaksaan menuju algojo. Wajahnya dipoles tipis, menyamarkan pucat pasinya, meski sorot mata kecut dan ketakutan di balik manik matanya tidak bi

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   95 - Gaun Hitam Sang Pengantin

    Ancaman itu masih menggantung, berpadu dengan kepanikan yang bergemuruh di dada Maya. Namun, Julian tidak memberinya waktu barang sedetik pun untuk memproses ketakutan tersebut. Pria itu berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Maya yang masih mencengkram tepi wastafel dengan napas memburu.Belum genap sepuluh menit ia berusaha menenangkan gejolak mual di lambungnya, pintu kamar utama diketuk dua kali sebelum dibuka dari luar. Sean masuk bersama dua pelayan wanita berwajah kaku, membawa sebuah manekin berbalut kain hitam yang berdiri tegak di atas roda dorong."Gaun ini bukan pilihan, Nona Maya. Ini adalah seragam untuk status baru Anda," suara Sean terdengar datar namun mutlak, memecah keheningan yang menyesakkan.Di atas manekin itu, sebuah gaun pengantin bergaya minimalist-chic berwarna hitam legam tergantung tanpa cela. Tidak ada renda putih, tidak ada kesan suci atau romantis; yang ada hanyalah siluet tegas yang memancarkan aura kematian dan kepemilikan mutl

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   94 - Tidak Mungkin Hamil

    "Tidak... aku tidak mungkin hamil!"Suara serak itu tertahan di dalam tenggorokan, bergetar bersamaan dengan deru air pancuran yang masih menyala di balik pintu kamar mandi kaca. Maya mencengkeram tepi wastafel marmer dengan buku-buku jari yang memutih, sementara isi perutnya teraduk hebat hingga memaksa cairan asam naik ke kerongkongan.Setelah gelombang mual itu mereda, ia menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin besar; wajahnya pucat pasi, matanya menyisakan jejak lelah yang teramat dalam, dan napasnya memburu tidak teratur.Kejadian pagi ini datang beruntun tanpa memberinya ruang untuk sekadar bernapas. Belum selesai kepalanya dipusingkan oleh bayangan pernikahan paksa yang dijadwalkan hari ini, tubuhnya justru mengirimkan sinyal-sinyal asing yang langsung memicu paranoid akut di dalam dadanya.Trauma masa lalu menghantam benaknya seketika. Maya pernah mengalami kehilangan hal serupa di masa lalu, sebuah pengalaman kelam yang meninggalkan luka batin mendalam dan membuat gagasa

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   93 - Mati Itu Mudah

    "Jangan pernah berpikir kamu bisa bernapas lega di tempat ini, Maya."Kalimat itu masih terngiang-ngiang di telibga Maya, berpadu dengan dinginnya sinar matahari pagi yang merangsek masuk melalui celah tirai otomatis yang belum sempat tertutup sempurna, menyoroti lantai marmer kamar utama dengan garis-garis cahaya yang tajam. Udara di dalam ruangan masih menyisakan aroma khas malam sebelumnya—campuran parfum maskulin yang pekat, keringat, dan sisa ketegangan yang menguap lambat.Maya membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat, sementara sekujur tubuhnya linu seolah habis dihantam truk beban berat. Ia mendengus pelan saat mencoba menggerakkan lengan, menyadari ada beban hangat di pinggangnya. Julian sedang berbaring di sampingnya, sebelah tangannya melingkar erat di perut Maya, mengunci wanita itu dalam dekapan posesif yang tidak memberi ruang untuk beranjak.Julian sudah bangun. Manik matanya yang tajam menatap lurus ke arah langit-langit kamar, seolah sedang merencanakan sesu

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   92 - Hasrat Gelap

    Suara dentuman pintu besi ruang bawah tanah yang menutup kembali meninggalkan gema berat di rongga dada, memantul di dinding semen dingin sebelum perlahan mati. Udara lembab bercampur sisa ketegangan masih melekat di kulit, namun atmosfer di antara mereka berdua bergeser dengan cepat menjadi sesuatu yang jauh lebih menekan dan menyesakkan. Di luar sana, malam merayap semakin pekat, membawa serta kebisuan yang mematikan di sekeliling menara pengawas penthouse.Julian tidak langsung melepaskan cengkraman tangannya dari rahang Maya. Julian menatap lurus ke dalam manik mata Maya yang ada di hadapannya, membaca sisa-sisa kepatuhan yang mulai runtuh secara perlahan akibat pemandangan barusan. Clara telah disingkirkan dengan dingin tanpa perlawanan berarti, dan kini tidak ada lagi celah pelarian, tidak ada lagi kartu akses rahasia, serta tidak ada lagi harapan palsu yang tersisa untuk Maya."Pelajaran yang bagus, bukan?" bisik Julian rendah, suaranya menguliti pertahanan mental Maya yang

  • Janda Kembang Penghibur Tuan   91 - Sebuah Hukuman

    Bau lembap dan logam berkarat menyergap indra penciuman begitu pintu besi ruang bawah tanah terbuka. Udara di ruangan itu terasa dingin, jauh lebih dingin daripada suhu di lantai atas penthouse, seolah sengaja dibiarkan membeku untuk mematikan nyali siapa pun yang menginjakan kaki di sana.Maya berjalan di belakang Julian, langkah kakinya terasa berat dan gamang di atas lantai semen kasar. Bayangan tentang kebodohannya sendiri masih berputar di kepala. Selama ini ia mengira Clara adalah sekutu yang memberinya jalan keluar, pelita di tengah kegelapan sangkar besi Julian. Namun kenyataan terbukti jauh lebih kotor; Clara hanya menggunakan kepolosannya sebagai umpan untuk memancing amarah Julian dan merusak sistem dari dalam.Di ujung ruangan, di bawah sorot satu-satunya lampu gantung kuning yang berkedip lemah, Clara terikat di sebuah kursi kayu tua. Rambut pendek wanita itu tampak berantakan, dan sudut bibirnya sedikit membiru. Tidak ada lagi sisa-sisa kesan elegan dari seorang wanita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status