LOGINBening perlahan menurunkan tangannya. Napasnya masih terasa sedikit tertahan saat tatapannya mengunci raut wajah Hanung. Senyum tipis yang terukir di bibir pria di hadapannya memang terasa familier—mirip dengan bayangan pemuda penolong empat belas tahun silam di desa Lurih.Namun, keterkejutan Bening buru-buru menyusut, berganti dengan rasa canggung yang makin tak tertahankan.“Om... Om Hanung serius?” bisik Bening, suaranya terdengar sangsi. “Soal... kejadian empat belas tahun lalu itu?”Hanung menyandarkan punggungnya di sandaran bangku taman, menyilangkan kaki seraya menatap lurus ke arah dedaunan yang berguguran. “Menurutmu aku kelihatan sedang bercanda?”Bening terkekeh kalau ingat dulu, ah…malu sekali kalau diingat. “Aduh,,,saya malu jadinya, ternyata orang itu Om-nya Mas Banyu”“Kok malu? Lucu, lho… ternyata gadis kecil yang manis itu sekarang menjadi calon istri keponakanku. Malah sempat diperebutkan kedua keponakanku lagi!” celotehnya “Kamu tahu tidak, di antara semua anak-an
“Bening... namamu sangat indah. Ingat padaku, tidak?”Suara berat yang mendadak muncul di belakangnya membuat Bening terperanjat kaget. Hanung sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Gunting tanaman di tangan Bening hampir saja terlepas dari genggaman.“Hati-hati, itu bisa membuatmu terluka,” ucap Hanung pelan dengan nada datar. Tangannya hendak mengambil gunting dari tangan Bening tapi Bening tak memberikannya, tindakan reflek karena terkejut.“Ti-tidak perlu. Terima kasih” ucap Bening.Sepulang dari rumah sakit tadi, Banyu mendadak harus bergegas ke kantor kabupaten untuk mengurus berkas administrasi terkait skorsing jabatannya. Hanung memilih pulang lebih dulu menggunakan taksi. Begitu sampai di rumah dan melihat Bening sedang sendirian merapikan tanaman di taman samping, pria itu langsung melangkah menghampirinya.“Om Hanung... mana Mas Banyu?” tanya Bening pelan seraya menetralkan rasa terkejutnya, pandangannya mencari ke segala arah.“Banyu pergi ke kantor kabupaten. Ada uru
“Apa maksud Om dengan ingat siapa dia?” Banyu bertanya tanpa bisa lagi menahan rasa penasarannya. Tangannya mencengkeram kemudi dengan erat saat mobil mulai bergerak membelah jalanan pagi.Namun, Hanung hanya tersenyum tipis. Ia membuang pandangannya keluar jendela, enggan bersuara begitu roda mobil makin jauh meninggalkan pekarangan rumah keluarga Sardjono seolah sengaja meninggalkan teka-teki di benak Banyu.Melihat pamannya memilih bungkam, Banyu menghembuskan napas pendek. Ia memusatkan fokus pada jalanan di depannya sebelum kembali membuka suara.Dia paling tidak suka ketenangannya diusik, ahkan oleh Hanung.“Kalau Om berniat membahas masa lalu ibu Bening dengan Papa... kami semua sudah menyelesaikannya,” ucap Banyu tiba-tiba, suaranya terdengar datar namun menuntut.“Semua hanya salah paham.”Hanung menyeringai tipis tanpa mengubah posisinya yang menatap ke luar jendela. “Baguslah kalau salah paham itu sudah terselesaikan,” gumamnya pelan. “Kamu tidak perlu repot menjelaskannya
Bening langsung mendorong dada Banyu pelan, berusaha menarik diri meski tenaganya tak seberapa. Mukanya terasa membakar hingga ke belakang telinga. Ia buru-buru merapikan dress-nya dan pura-pura sibuk membetulkan letak sisir di atas meja rias.Banyu sendiri hanya menghembuskan napas pendek. Ia menoleh santai ke arah pintu, sama sekali tidak terlihat panik atau merasa bersalah meski tertangkap basah. Tangannya masih bertengger santai di pinggang Bening, seolah sengaja memamerkan hak kepemilikannya di depan sang om.“Lupa mengunci pintu,?” sindir Hanung dingin. Ia berdiri menyilangkan dada, tatapannya menyapu Banyu dan Bening bergantian dengan raut yang sukar ditebak.Usia Hanung hanya selisih beberapa tahun lebih tua dari Banyu, jadi mereka cukup dekat dulunya.Nawang yang berdiri di samping Hanung cuma bisa menggigit bibir bawahnya, menahan tawa sekaligus canggung.“Mbak Bening... aduh, maaf ya. Nawang sudah bilang sama Om Hanung buat ngetuk pintu dulu, tapi Om langsung dorong pintunya
“Lupakan saja, Banyu. Om cuma kecapekan,” ucap Hanung singkat sebelum mengalihkan pembicaraan dan beranjak ke teras depan untuk melepas rindu bersama Nawang.Namun bagi Banyu, kata lupakan justru terasa seperti pengait teka-teki baru yang memancing rasa ingin tahunya. Ia tahu betul karakter pamannya. Hanung bukan tipe pria yang gampang salah mengenali wajah orang, apalagi sampai menunjukkan reaksi yang nyata. Ia yakin pasti ada sesuatu di masa lalunya yang bersinggungan dengan Bening meskipun Banyu tidak tahu itu baik atau buruk.Setelah selesai mandi dan berganti pakaian rapi, Banyu melangkah menyusuri koridor menuju kamar Nawang. Pintu kamar itu terbuka sedikit. Di dalam, Bening tampak berdiri di depan cermin rias, sibuk merapikan helai rambutnya yang masih agak lembab.Tanpa bersuara, Banyu masuk dan merapatkan pintu. Langkah kakinya yang tenang membawanya mendekat dari belakang.Sret.Banyu melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang ramping Bening, menarik tubuh wanita itu m
“Dia Bening, calon istriku, Om.”Banyu menyela dengan suara tenang namun tegas, seraya merengkuh Bening makin rapat ke sisinya. Sentuhan hangat tangan Banyu di pinggangnya memberi sedikit rasa aman, meski tatapan tajam pria di hadapannya masih membuat Bening merasa cemas. Hanung memicingkan mata, menatap Bening dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu menggeleng pelan dengan raut wajah sukar diartikan. Banyu dan Nawang saling melempar pandang sejenak. Keduanya sama sekali tidak paham apa arti reaksi dari om mereka tersebut.Memberanikan diri, Bening mengulurkan tangannya pelan seraya mengulas senyum tipis yang sopan. “Saya Bening, Om...”Hanung tak menyambut uluran tangan itu. Wajahnya yang semula ramah berubah dingin, menatap Bening dengan sorot ketidaksukaan yang begitu kentara. Uluran tangan Bening menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia tarik kembali dengan canggung. Suasana di ruang tamu yang tadi sempat hangat mendadak berubah kaku dan tidak nyaman.Sa
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan
"Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te
"Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat







