Share

Mendapatkan Restu

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-07-17 17:44:27

"Ma... ini calon istri Tara."

Kalimat pendek yang diucapkan Tara begitu mereka melangkah melewati pintu jati ruang tamu langsung membuat suasana hening seketika.

Seorang wanita paruh baya dengan penampilan anggun yang sedang bersandar di sofa langsung menegakkan tubuhnya. Itu ibu Tara.

Ibu Tara meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan dengan denting halus yang terdengar jelas di ruangan yang luas itu. Matanya menyipit, menatap bergantian antara putranya yang tampak begitu tenang dan Bening yan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Batal Melepas, Enggan Mengalah

    “Mas Banyu mau ke mana?”Tanya Larasati, ia menatap Banyu yang mendadak menegakkan tubuhnya, melepaskan sandaran punggungnya dari dinding dingin rumah sakit. Kedua tangan Banyu masih mengepal rapat di dalam saku celananya, dengan rahang yang mengeras menahan beban emosi yang bergulat hebat di balik dadanya.Banyu tidak langsung menjawab. Matanya kembali melirik celah tirai ruangan tempat Bening masih berdiri tertunduk di samping brankar Tara. Ia menyaksikan bagaimana tangis Bening pecah dan bagaimana jemari lemas sepupunya mencengkeram kain kemeja wanita itu.“Aku butuh udara segar,” jawab Banyu singkat dan dingin.Tanpa menunggu respon dari Larasati atau Nawang yang baru kembali membawa kantong obat, Banyu membalikkan badan dan melangkah lebar menelusuri koridor panjang rumah sakit. Derap langkah kakinya terdengar berat dan tergesa, seolah ia sedang berusaha melarikan diri dari pemandangan yang meremukkan rasionalitasnya.Sementara itu, di dalam ruang ICU, Bening perlahan melepaskan

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Aku Masih Mencintaimu

    “Aku... masih... mencintaimu...”Empat kata tanpa suara itu terbaca begitu jelas dari gerak bibir Tara yang pucat dan pecah-pecah. Tatapan matanya yang redup terkunci lurus pada Bening di balik dinding kaca tembus pandang, seolah di dalam ruangan serba putih itu hanya ada dia seorang.Bening mematung. Seluruh persendian tubuhnya seketika terasa meloloskan diri, membiarkan dadanya dihantam kepedihan yang luar biasa besar. Di saat ia berharap Tara akan terbangun dengan kesadaran baru untuk merelakan, pria itu justru membawa perasaan terlarang itu menembus gerbang kematian dan membawanya kembali ke alam sadar.“Ning? Kamu kenapa?”Suara Banyu menyentak Bening dari kebekuan. Pria itu menyentuh lembut siku Bening, menatap raut wajah Bening yang mendadak pucat pasi bagai kehilangan seluruh darah.Bening dengan cepat mengalihkan pandangannya, menggeleng pelan seraya menelan ludah yang terasa sepahit empedu. “T-tidak apa-apa, Mas... Aku cuma... kaget dan lega Dokter Tara sudah sadar.”Pintu

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Di Antara Hidup dan Mati

    “Lakukan apa saja, Dok! Tolong selamatkan sepupu saya!”Ucap Banyu menggema samar di sepanjang koridor setengah memohon kepada dokter. Banyu mencengkeram lengan baju sang dokter dengan mata yang sudah memerah menahan guncangan hebat. Dunia di sekeliling Bening seolah mendadak kehilangan suara. Kalimat 'masa kritis' dan 'harapan mukjizat' yang diucapkan dokter terus berputar tanpa henti, meremukkan sisa-sisa ketahanannya hingga kakinya melemas total.Bening hampir tersungkur ke lantai dingin karbol jika saja Banyu tidak cepat-cepat berbalik dan menahan tubuhnya.“Ning... Ning, berdiri dulu,” bisik Banyu serak. Tangannya yang gemetar merengkuh bahu Bening, memapahnya menuju kursi tunggu terdekat.Larasati menatap Bening dengan pandangan tajam penuh kebencian, lalu berbalik mengabaikan mereka untuk mengikuti brankar yang kini didorong keluar dari ruang tindakan. Di atas kasur roda itu, raga Tara terbujur kaku. Selang respirator menancap di mulutnya, dihubungkan ke kantong udara yang di

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Di Ujung Penyesalan

    “Mas, tunggu apa lagi?! Ayo ke rumah sakit sekarang!”Jemarinya yang gemetar cemas mencengkeram lengan Banyu, mencabut pria itu dari lingkaran kaget yang sempat membekukannya. Bening bahkan tidak peduli lagi pada tas atau barang-barangnya yang masih berantakan di atas meja kerja. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah bayangan tubuh Tara yang terbujur kaku tak berdaya.Banyu tersadar, menelan ludahnya yang terasa pahit. “I-iya, Ning. Kita berangkat sekarang.”Mereka berlari keluar ruko. Banyu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus padatnya lalu lintas sore menuju Rumah Sakit. Di dalam kabin kendaraan yang dingin, tak ada percakapan yang mampu terjalin. Suasana terasa hening.Bening duduk kaku di kursi penumpang. Pandangannya lurus mengarah ke jalanan di depan, namun matanya kosong. Pikirannya melayang jauh, terbang ke lorong-lorong rumah sakit tempat Tara kini tengah diperjuangkan nyawanya.Air mata Bening menetes satu per satu, dia menangis tanpa suara. Ia menginga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Bayang-Bayang Luka

    “Kehilangan segalanya... itu kata-kata yang tidak bisa aku hapus dari kepalaku, Mas.”Bening memagut lengannya sendiri saat berdiri mematung di balik kaca pintu butik, menatap punggung Tara yang perlahan menghilang di balik keramaian jalanan. Langkah Tara tampak gontai, seolah tiap pijakannya memikul beban ribuan ton yang tak sanggup lagi ditopang raga rapuhnya.Banyu melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Bening tanpa berani merengkuh Bening seperti biasanya. Kalimat terakhir Tara tadi seolah menjadi tamparan tak kasat mata yang menghantam mereka berdua tepat di dada.“Tara cuma sedang kalut, Ning,” ujar Banyu serak, berusaha menyalurkan ketenangan yang ia sendiri ragukan keberadaannya. “Dia tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa.”“Tapi ucapan Dokter Tara benar, Mas,” potong Bening pelan, membalikkan badan hingga matanya yang sembap langsung bersatupadu dengan pandangan Banyu. “Ibu yang mencintainya telah tiada, dan wanita yang dia impikan jadi istrinya justru memilih pria la

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Kehilangan Segalanya

    “Mas Banyu, besok aku harus kembali ke ruko,” ucap Bening pelan, jemarinya merapikan ujung kemeja Banyu yang sedikit kusut.Banyu menunduk, menatap wajah Bening yang kini sudah memancarkan sedikit rona segar. “Kamu yakin sudah cukup kuat? Istirahat di sini satu hari lagi juga tidak apa-apa, Ning.”“Aku sudah sehat, Mas, lagipula ada beberapa barang dan berkas yang harus kuperiksa,” balas Bening mantap, memberikan senyuman tipis untuk meyakinkan pria di depannya.Banyu menghela napas panjang lalu mengangguk pasrah. “Ya sudah. Tapi besok aku yang antar dan aku temani di sana.”“Aku sudah sehat, Mas. Kasihan pegawai-pegawaiku kalau aku tinggalkan terus. Lagipula ada beberapa barang dan berkas yang harus kuperiksa,” balas Bening mantap, memberikan senyuman tipis untuk meyakinkan pria di depannya.Banyu menghela napas panjang lalu mengangguk pasrah. “Ya sudah. Tapi besok aku yang antar dan aku temani di sana.”Keesokan paginya, Banyu mengantarkan Bening kembali ke rukonya. Suasana di sekit

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Sama, Kecuali Dia

    Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Pria Sama

    Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jangan Dengar Apa Kata Orang!

    Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tolong...

    "Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status