LOGINBau kertas dokumen dan aroma kopi hitam pekat langsung menyambut langkah tegap Anton begitu ia mendorong pintu kaca ruang kerjanya di lantai paling atas firma hukum.Pria itu melepas jasnya, melemparnya begitu saja ke atas sofa kulit, lalu mendudukan dirinya di kursi kerja megah berbahan kulit hitam.Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia menekan tombol interkom di atas meja mahoni untuk memanggil asisten pribadinya.Tidak sampai dua menit, pintu ruang kerja berderit pelan. Harry, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaannya, melangkah masuk membawa tablet dan beberapa berkas laporan."Pagi, Pak Anton," sapa Harry sembari berdiri tegak di depan meja kerja. "Ada dokumen penting yang harus ditandatangani pagi ini sebelum jadwal sidang pukul sepuluh."Anton mendongak, manik matanya menatap tajam sang asisten. "Simpan dulu berkas itu, Harry. Ada instruksi lain yang jauh lebih penting untuk kamu kerjakan sekarang."Harry mengernyitkan keningnya, bersiap mendengarkan. "Baik, Pak.
"Apa itu, Om?" desak Maya dengan nada bicara yang tergesa-gesa.Jemari lenturnya meremas tepi meja pualam makin kencang, matanya membelalak lebar memancarkan rasa ingin tahu yang membakar."Sesuatu apa yang disembunyikan Ibu Desi? Apa ada hubungannya sama alasan Riko kecelakaan malam itu?"Namun, bukannya memberikan jawaban, Anton justru kembali bungkam.Pria tegap itu menarik tubuhnya sedikit ke belakang, menyandarkan punggungnya pada kursi makan seraya menatap Maya yang sedang diliputi kecemasan.Manik mata kelamnya menelusuri setiap inci wajah wanita muda itu secara perlahan, sebuah tatapan dalam dan penuh rahasia yang sengaja membiarkan pertanyaan Maya menggantung hampa di udara.Maya yang merasa tak tahan di bawah tatapan itu akhirnya menelan ludahnya pelan. "Om, kenapa diam saja? Cerita sama aku.”Anton menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya, sebuah senyum dingin yang seketika mengalihkan fokus pembicaraan mereka."Daripada kamu pusing memikirkan ucapan Desi..." suara bar
Dentum keras cangkir keramik yang diletakkan kembali ke atas permukaan meja pualam memecah keheningan ruang makan.Kopi hitam di dalamnya terpercik tipis, menciptakan riak hitam yang pekat.Anton menarik napas pendek, namun tatapan matanya sama sekali tidak lepas dari sosok Maya yang duduk tenang di seberangnya.Manik mata kelam pria itu menatap tajam, menguliti setiap detail ekspresi di wajah wanita muda yang mengenakan mini dress ketat tersebut."Sikapmu yang berubah jadi berani dan menantang ini..." suara bariton Anton bergema rendah, dingin, dan sarat akan penekanan yang menusuk, "...terjadi begitu saja setelah saya menolak memberitahu apa isi pembicaraan saya dengan Desi semalam, benar begitu, Maya?"Maya tidak langsung menjawab.Ia menarik napas pelan, menundukkan pandangannya sesaat ke arah jemarinya sendiri sebelum kembali mendongak menatap lurus manik mata sang paman ipar.Wanita muda itu memilih diam, membiarkan asumsi Anton menggantung di udara yang panas.Anton menyungging
Uap hangat dari cangkir keramik putih bergulung tipis di atas meja makan pualam.Anton melangkah keluar dari kamar utama mengenakan kemeja kerja abu-abu arang yang belum dikancingkan sempurna pada bagian kerahnya, memperlihatkan sisa ketegangan yang masih membekas di garis lehernya.Namun, tepat saat ia menuruni anak tangga terakhir dan memasuki area dapur terbuka, langkah kaki pria tegap itu mendadak terhenti kaku.Manik mata kelam Anton menyipit tajam. Pandangannya terpaku sepenuhnya pada sosok Maya yang berdiri di dekat pulau dapur.Wanita muda itu tidak lagi mengenakan gaun katun longgar atau kimono mandi seperti biasanya.Pagi ini, Maya mengenakan sebuah mini dress ketat berwarna hitam pekat berbahan spandex lembut yang memeluk erat setiap lekuk tubuhnya.Panjang gaun itu bahkan berada jauh di atas lutut, mengekspos paha mulusnya secara terang-terangan.Desain bagian atasnya yang berpotongan rendah menonjolkan belahan dada yang begitu penuh dan menggoda di balik kain tipis terseb
Pada pagi harinya, Anton perlahan membuka matanya.Rasa berat menggelayuti kepalanya yang berdenyut tipis, sisa-sisa kelelahan dan ketegangan dari konfrontasinya dengan Desi kemarin.Secara refleks, tangan tegap Anton mengulur ke sisi ranjang di sebelahnya. Kosong.Kasur di sampingnya sudah rapi dan dingin, tak menyisakan sosok wanita yang biasanya terlelap pasrah dalam kungkungannya.Anton melirik jam dinding di dekat meja rias. Baru pukul tujuh pagi."Ke mana dia?" gumam Anton rendah.Anton mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur, memijat pelan keningnya untuk mengusir pening yang menyengat.Pria tegap yang hanya mengenakan celana pendek itu lalu bangkit, melangkah santai mengambil segelas air putih di atas meja kecil, dan menenggaknya hingga kandas.Merasa perlu menyegarkan tubuhnya, Anton melangkah menuju pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.Namun, begitu ia menggeser pintu kaca tersebut, pemandangan di dalam ruangan beraroma aromatherapy lavender itu seketika menghentikan pe
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan, hingga akhirnya Anton melangkah keluar menuju kamar utama.Pria tegap itu hanya mengenakan celana pendek gelap tanpa atasan, membiarkan dada bidang yang kokoh, pahatan otot perut yang padat, serta sisa butiran air yang menempel di kulit bahunya terekspos jelas di bawah pendar lampu kamar yang temaram.Anton mengangkat sebelah alisnya sesaat setelah mendapati Maya masih terjaga di tepi ranjang.Wanita muda itu belum beranjak sedikit pun dari posisinya sejak ia masuk tadi.Maya menoleh cepat.Di dalam dadanya, kecemasan yang tertahan sejak kepulangan sang paman ipar mendesak untuk dikeluarkan.Ia pun bangkit berdiri, menatap lurus ke arah Anton dengan mata yang menyuarakan seribu tanya."Kenapa Om Anton jadi dingin begini padaku?" tanya Maya, suaranya terdengar parau dan bergetar tipis di dalam keheningan kamar."Apa... apa aku ada melakukan kesalahan? Atau atau Om Anton mulai percaya sama ucapan Ibu Desi?"Anton menghentikan langkahnya sejenak.P







