Share

Bab 142

Author: Itsmoore
last update Last Updated: 2026-03-06 12:15:19

Argan langsung menginjak pedal rem dengan sangat kuat dan juga mendadak. Ban mobil kami bergesekan keras dengan permukaan aspal jalanan pada siang hari ini. Suara decitan ban terdengar sangat nyaring memekakkan telingaku sesaat sebelum mobil ini berhenti.

"Sialan, mereka sudah merencanakan pencegatan ini, dengan sangat matang." Argan memukul setir kemudi menggunakan kedua telapak tangannya secara bersamaan.

Jarak antara bagian depan mobil kami dan mobil van itu sangatlah dekat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 143

    Tanpa menunggu jawaban dariku lagi, Argan langsung menarik tuas pembuka pintu pengemudi. Pria tinggi berotot itu keluar dari dalam mobil dan berdiri tegak di jalanan. Dia langsung menutup pintu logam mobilnya dengan bantingan dorongan yang sangat keras.Aku melihat pria tampan itu berdiri gagah menghadapi dua orang berbadan besar. Argan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada otot wajahnya siang ini. Padahal, dua pria di depannya sedang memegang erat tongkat kayu pemukul kasti."Kamu sangat berani, melawan kami berdua, tanpa menggunakan senjata." Preman berjaket hitam itu tersenyum mengejek lurus ke arah wajah Argan."Aku hanya butuh kedua tanganku, untuk menghancurkan susunan tulang rahang kalian." Argan membalas ejekan lisan pria itu dengan nada suara sangat merendahkan.Sebab amarahnya terpancing ejekan, preman itu langsung mengayunkan tongkat kayunya tinggi-tinggi. Pria berbadan besar tersebut memukul lurus ke arah kepala dosen pembimbingku. Nam

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 142

    Argan langsung menginjak pedal rem dengan sangat kuat dan juga mendadak. Ban mobil kami bergesekan keras dengan permukaan aspal jalanan pada siang hari ini. Suara decitan ban terdengar sangat nyaring memekakkan telingaku sesaat sebelum mobil ini berhenti."Sialan, mereka sudah merencanakan pencegatan ini, dengan sangat matang." Argan memukul setir kemudi menggunakan kedua telapak tangannya secara bersamaan.Jarak antara bagian depan mobil kami dan mobil van itu sangatlah dekat. Kami benar-benar terjebak karena jalanan ini cukup sempit untuk memutar balik badan mobil. Aku menoleh ke arah belakang untuk mencari celah jalan keluar dari sana."Mobil suruhan Felicia yang lain, juga sudah menutup jalan, dari arah belakang." Aku melaporkan kondisi jalan di belakang kami dengan suara yang bergetar hebat."Mereka sengaja menjebak kita berdua, tepat di tengah jalan sempit ini, Nara."Kondisi kami berdua saat ini benar-benar terkepung dari arah depan maupun b

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 141

    Argan membuka selot pintu besi itu menggunakan gerakan tangan yang cekatan. Pintu tersebut langsung terbuka dan menampilkan susunan anak tangga berkarat di luarnya. Udara panas siang hari kembali menyentuh kulit wajahku seketika.Tiba-tiba, dobrakan sangat keras menghancurkan pintu kayu kamarku sepenuhnya. Daun pintu itu jatuh menabrak lantai keramik dengan suara yang sangat bising. Aku menoleh sedikit dan melihat beberapa pria berbadan besar masuk ke kamarku."Itu mereka berdua, sedang mencoba kabur, lewat pintu belakang!" teriak Dokter Hadi sambil menunjuk lurus ke arah kami berdua."Tangkap mahasiswi miskin itu, dan seret dia, ke hadapanku sekarang!"Felicia memberikan perintah langsung dari arah lorong luar kamar kosku. Mendengar teriakan wanita itu, rasa takutku kembali membesar memenuhi dadaku. Argan langsung mendorong punggungku keluar menuju tangga besi dengan cepat."Turun lewat tangga ini, dan jangan melihat ke belakang lagi, Nara." Pria

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 140

    "Iya, wanita itu datang, dan memberikan ancaman langsung."Aku menjawab pertanyaannya sambil berjalan pelan mendekati letak kasur."Bagaimana Bapak bisa tahu, kejadian di dalam perpustakaan itu?" tanyaku meminta penjelasan darinya."Aku menyuruh penjaga perpustakaan, untuk terus memantau pergerakanmu," jelas Argan sambil berdiri dari atas kursi kayunya.Argan melangkah mendekati posisiku berdiri di tengah ruangan sempit ini. Pria itu menatap wajahku dengan tatapan mata yang sangat serius. Rahang bawahnya kembali mengeras untuk menahan emosi yang sangat besar."Felicia sudah bertindak terlalu jauh, dari batas kesabaranku." Argan mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat kuat."Wanita itu menunjukkan foto kita, saat berada di lorong kampus." Aku melaporkan bukti yang Felicia bawa kepadanya siang ini."Foto gelang perak itu, bisa menjadi masalah besar, bagi kita berdua.""Aku sudah melihat, rekaman kamera keamanan, tentang

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 139

    Fika berjalan pergi meninggalkanku sendirian di depan ruang kelas. Aku langsung melangkah menuju gedung perpustakaan pusat yang ada di sebelah fakultas. Suasana perpustakaan selalu sepi sehingga sangat cocok untuk berkonsentrasi menulis.Aku masuk ke perpustakaan dan mencari tempat duduk kosong di sudut ruangan. Setelah menemukan meja yang pas, aku segera mengeluarkan laptopku. Tanganku menekan tombol daya untuk menyalakan perangkat elektronik tersebut.Layar laptopku menyala dan menampilkan dokumen skripsi yang belum selesai. Aku mulai mengetik lanjutan bab dua yang sempat tertunda tadi malam. Jari-jariku bergerak menekan tombol papan ketik dengan ritme yang stabil."Aku harus menyelesaikan, lima halaman skripsi ini, siang ini juga." Aku memberikan target kerja pada diriku sendiri.Sekitar satu jam berlalu, aku berhasil mengetik tiga halaman penuh berisi teori. Penjelasan Argan tentang kondisi medisnya sangat membantuku menyusun analisis ini. Aku bisa me

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 138

    Saat terbangun, tanganku langsung meraba bagian samping bantal tidur. Aku mencari keberadaan ponsel pintar milikku di atas kasur tipis ini. Jari-jariku berhasil menyentuh benda elektronik tersebut dengan cepat.Aku menghidupkan layar ponsel untuk melihat penunjuk waktu. Angka di layar menunjukkan pukul tujuh pagi lewat tiga puluh menit. Lalu, mataku melihat sebuah pemberitahuan dari aplikasi bank di layar utama."Uang royaltiku sudah masuk, ke dalam rekening bank, pagi ini." Aku berbicara sendiri sambil tersenyum sangat lebar."Jumlah uang ini sangat cukup, untuk melunasi biaya kuliahku, semester ini."Perasaan lega langsung memenuhi seluruh bagian dadaku seketika. Ancaman putus kuliah akhirnya benar-benar hilang dari hidupku. Aku segera beranjak bangun dari atas kasur untuk bersiap pergi ke kampus.Kemudian, aku mandi dan memakai pakaian rapi untuk pergi kuliah. Kemeja putih dan celana kain hitam menjadi pilihanku pagi ini. Aku juga memasukkan lap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status