Share

Bab 4

Author: Niana
“Jangan!” Hans memelukku erat. Nadanya seketika melunak.

“Maaf. Tadi aku bicara tanpa berpikir panjang.”

“Cin, aku hanya menganggap Sully sebagai adik. Dia terlalu sensitif. Dia takut setelah ayah meninggal, kita akan mengusirnya. Karena itu, dia memberiku obat.”

“Aku bersumpah, itu hanya terjadi sekali. Ke depannya nggak akan pernah terjadi lagi.”

“Pikirkan Jordan. Dia baru saja mendapatkan jantung yang sehat. Kamu tega membuatnya kehilangan keluarga?”

Pada saat itu, hatiku goyah.

Seberapa pun marahnya aku, Jordan tetaplah anak yang kukandung selama sepuluh bulan.

“Aku bisa memberimu satu kesempatan lagi. Tapi, kamu harus mengusir Sully, menggugurkan anak di dalam kandungannya, dan memutuskan hubungan dengannya untuk selamanya.”

Hans terdiam sejenak. Pada akhirnya, dia mengertakkan gigi dan mengangguk.

“Baik, aku berjanji.”

Dia menghapus semua kontak Sully di hadapanku.

Setiap hari dia pulang tepat waktu dan bersikap lembut serta penuh pengertian kepadaku.

Bahkan Jordan pun menahan emosinya dan berubah menjadi anak yang penurut.

Aku mengira kehidupan kami benar-benar bisa perlahan kembali ke jalur semula.

Sampai pada hari ulang tahun Jordan, aku sengaja pulang kerja lebih awal karena ingin mengajaknya ke taman bermain.

Baru sampai di depan pintu, aku mendengar percakapan antara ayah dan anak itu.

“Ayah, kapan kita bisa pergi menemui tante dan adik? Aku sangat merindukan tante.”

Hans merendahkan suaranya untuk berpesan, “Jangan terburu-buru. Setelah ibumu pulang, kita harus cari cara untuk memberinya obat tidur. Setelah dia tertidur pulas, kita diam-diam keluar untuk menemui tantemu.”

Aku berdiri terpaku di luar pintu. Rasanya seolah tubuhku terjatuh ke dalam jurang es.

Malam itu, seperti biasa, aku meminum susu yang diberikan Hans kepadaku.

Setelah ayah dan anak itu diam-diam keluar, aku bangkit dan mengikuti mereka dari belakang.

Mereka akhirnya tiba di sebuah apartemen mewah.

Dari celah pintu yang belum tertutup rapat, aku melihat perut bagian bawah Sully sudah membuncit tinggi. Dia duduk dengan tenang di sofa.

Hans menyuapinya buah dan memijat kakinya dengan lembut.

“Beberapa hari ini aku nggak bisa menemanimu. Kamu pasti sangat kesulitan.”

Jordan bersandar di sisi tubuh Sully sambil menggerutu dengan bibir mengerucut, “Semua gara-gara ibuku yang picik itu. Dia nggak mengizinkan ayah membawamu pulang.”

Aku mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Bibirku bergetar tak terkendali.

“Bukankah kamu bilang sudah menguggurkan anaknya dan mengusirnya keluar?”

“Hans, berapa banyak perkataanmu yang bisa dipercaya?”

Hans berdiri di depan Sully, melindunginya sambil menatapku.

“Cindy, cukup!”

“Lyly nggak pernah berniat merebut apa pun darimu. Dia mengandung anak ini sendirian tanpa status apa pun. Ini sudah cukup menderita. Bisakah kamu berhenti bersikap egois?”

Sully juga berkata dengan nada sewajarnya, “Kakak, usiamu sudah nggak muda lagi dan kamu juga nggak mengerti bagaimana membuat pria bahagia. Kak Hans sudah lama bosan denganmu. Daripada membiarkan pria sebaik dia jatuh ke tangan orang lain, mending biarkan aku ….”

Aku akhirnya tidak mampu menahan diri lagi. Aku meraih vas bunga di atas meja dan melemparkannya ke arah Sully.

Pertengkaran pun seketika meledak.

Dalam keributan dan kekacauan itu, aku dan Sully jatuh dari balkon.

Ambulans segera tiba. Setelah memeriksa kami dengan tergesa-gesa, para tenaga medis berkata dengan wajah serba salah, “Keduanya mengalami luka berat. Peralatan yang tersedia hanya memungkinkan kami memprioritaskan satu pasien. Pak Hans, siapa yang harus kami selamatkan dulu?”

Hans bahkan tidak melirik ke arahku. Dia langsung menjawab, “Selamatkan Sully.”

Aku terbaring di lantai yang dingin, memandangi lampu ambulans yang semakin menjauh.

Sisa harapan terakhir di mataku pun padam.

Dengan tangan gemetar, aku menelepon nomor yang telah terkubur selama bertahun-tahun.

“Kalau kali ini aku masih bisa hidup, bantu aku rencanakan kematian palsu.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 9

    Hans masih belum mau berhenti.Seperti orang gila, dia terus menyelidiki siapa yang dulu membantuku memalsukan kematian. Seolah-olah begitu dia menemukan orang itu, waktu bisa diputar kembali dan aku bisa hidup lagi.Pada akhirnya, usahanya membuahkan hasil.Dengan mengikuti sedikit demi sedikit petunjuk yang tersisa, dia akhirnya sampai ke perbatasan barat daya.Dia terbang ke sana semalaman.Namun, apa yang ditemuinya bukanlah seorang dukun atau ahli ilmu gaib, melainkan seorang lelaki tua yang mengenakan seragam militer.Hans langsung berlutut.“Mohon beri tahu saya, di mana dia?”Pria tua itu menggeleng pelan. Nadanya tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah.“Dulu aku membantunya karena berhutang nyawa kepada ibunya. Karena itu, aku memalsukan surat kematiannya dan membantunya melarikan diri.”Mata Hans langsung berbinar. “Kalau begitu, kali ini ….”“Nggak bisa.”Pria tua itu memotong ucapannya dengan nada datar.“Dulu dia masih hidup, jadi aku bisa membantunya bersembuny

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 8

    Hans tidak percaya bahwa aku sudah mati.Meskipun para tenaga medis sudah berkali-kali mengonfirmasi kematianku, meskipun tubuhku telah lama kehilangan suhu dan menjadi kaku, dia tetap mengangkat tubuhku dengan hati-hati dan mata memerah, lalu menaruhku ke dalam ruang pendingin yang diperintahkannya untuk dibuat dalam waktu satu malam.Hans mulai gila-gilaan mencari bukti.Dia memeriksa seluruh rekaman CCTV di rumah dan menelusuri semua catatan rumah sakit.Dia bersikeras percaya bahwa aku belum mati.“Tiga tahun lalu dia bisa memalsukan kematiannya sekali, artinya dia juga bisa melakukannya untuk kedua kalinya.”Pada hari ketiga, dia mengemudikan mobil sendiri menuju rumah perawatan.Dia ingin membawa ibuku pulang ke Keluarga Slemiz.Namun, ketika pintu kamar dibuka, tempat tidur di dalamnya sudah kosong.Hans tertegun.“Di mana orangnya?”Kepala perawat menundukkan kepala.“Nyonya Yenny … sudah meninggal tiga hari yang lalu.”“Nggak mungkin!”“Aku memberinya fasilitas medis terbaik!

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 7

    Sirene ambulans semakin menjauh, sementara jejak darah di taman bermain segera dibersihkan.Sully menepuk-nepuk rok yang dikenakannya, lalu berbalik menuju tempat parkir.Jordan masih berdiri di tempat, menatap kosong permukaan tanah yang baru saja disiram hingga bersih.“Tante … kita nggak ikut pergi ke rumah sakit?”Sully bahkan tidak menoleh.“Di rumah sakit penuh virus, sementara aku sedang hamil. Kalau aku pergi ke tempat seperti itu, bagaimana kalau sampai memengaruhi bayiku?”Jordan menatap perutnya, lalu mengangguk seolah mengerti.Tante tidak pergi ke rumah sakit karena takut melukai adik.Ibu pernah bilang bahwa bayi itu sangat rapuh.“Kalau begitu … kita tunggu ayah pulang dulu, baru nanti kita pergi melihat ibu?”Sully tidak menjawab. Dia sudah membuka pintu mobil dan langsung duduk di kursi penumpang depan.Jordan membuka pintu belakang. Saat melihat kursi kosong di sana, dia merasa sedikit takut.Dia pun berkata dengan suara pelan, “Tante, bisakah Tante menemaniku duduk d

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 6

    Saat mata pisau menembus dadaku, darah langsung menyembur deras.Jantung buatan sepenuhnya berhenti berdetak.Tubuhku tiba-tiba kehilangan berat dan perlahan melayang ke atas.Dalam pandanganku yang kabur, wajah Hans tampak terdistorsi. Dia berteriak sekuat tenaga, “Cindy!”Jiwaku terasa semakin ringan. Kemudian, aku melihat diriku yang lain terkulai lemas dalam pelukan Hans. Darah terus mengalir deras dari luka di dadaku.Hans menekan lukaku kuat-kuat dengan kedua tangannya, berusaha menghentikan aliran darah.Namun, semakin kuat dia menekan, semakin deras pula darahku mengalir, sampai merembes melalui sela-sela jarinya dan tak kunjung berhenti.“Cindy! Cindy!”Dia memanggil namaku berkali-kali dengan suara bergetar.“Lihat aku! Jangan tidur! Kamu nggak boleh tidur!”Jordan terpaku di tempat. Mulutnya terbuka, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Dengan mata memerah, Hans berteriak histeris ke orang-orang di sekitarnya, “Dokter! Panggil ambulans! Cepat!”Kerumunan langsu

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 5

    “Lyly! Lyly!”Teriakan Hans menarik kembali kesadaranku yang mulai buyar.Dia membantuku bangkit, lalu memasukkan obat darurat ke dalam mulutku dengan tangan gemetar. Efek obat perlahan mulai bekerja. Rasa nyeri yang mencengkeram jantungku pun sedikit mereda.Begitu menoleh, aku melihat Jordan berdiri dengan leher tertegak. Wajahnya penuh ketidakpuasan.Hans menamparnya dengan keras.“Berengsek! Siapa yang menyuruhmu membuang obat ibumu?”Jordan langsung menangis terisak-isak.Sully segera menariknya ke dalam pelukan dan menenangkannya.“Kak Hans, jangan terlalu keras pada anak. Dia masih kecil, nggak mengerti hal-hal seperti ini.”Sambil berkata begitu, dia mengeluarkan sebuah rekam medis operasi yang telah dipalsukan.“Aku sebenarnya nggak mau mengatakannya, tetapi kakak sudah keterlaluan.”“Dia sudah lama menjalani transplantasi jantung. Kondisi tubuhnya sebenarnya nggak selemah itu.”Hans membaca rekam medis itu dengan cepat. Tatapannya seketika berubah dingin.“Kamu sudah lama se

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 4

    “Jangan!” Hans memelukku erat. Nadanya seketika melunak.“Maaf. Tadi aku bicara tanpa berpikir panjang.”“Cin, aku hanya menganggap Sully sebagai adik. Dia terlalu sensitif. Dia takut setelah ayah meninggal, kita akan mengusirnya. Karena itu, dia memberiku obat.”“Aku bersumpah, itu hanya terjadi sekali. Ke depannya nggak akan pernah terjadi lagi.”“Pikirkan Jordan. Dia baru saja mendapatkan jantung yang sehat. Kamu tega membuatnya kehilangan keluarga?”Pada saat itu, hatiku goyah.Seberapa pun marahnya aku, Jordan tetaplah anak yang kukandung selama sepuluh bulan.“Aku bisa memberimu satu kesempatan lagi. Tapi, kamu harus mengusir Sully, menggugurkan anak di dalam kandungannya, dan memutuskan hubungan dengannya untuk selamanya.”Hans terdiam sejenak. Pada akhirnya, dia mengertakkan gigi dan mengangguk.“Baik, aku berjanji.”Dia menghapus semua kontak Sully di hadapanku.Setiap hari dia pulang tepat waktu dan bersikap lembut serta penuh pengertian kepadaku.Bahkan Jordan pun menahan em

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status