LOGINMereka dipaksa bersama dalam ikatan yang tak diinginkan. Awalnya dingin, penuh penolakan, bahkan terasa seperti hukuman. Namun, perlahan keterpaksaan itu berubah jadi sesuatu yang sulit dijelaskan—hangat, membingungkan, sekaligus berbahaya. Saat cinta mulai tumbuh, rahasia masa lalu dan orang-orang yang tak rela melihat mereka bahagia datang mengguncang segalanya. Apakah cinta yang lahir dari keterpaksaan bisa bertahan? Atau justru hancur sebelum sempat mekar?
View More“Apa?”
Nada suara Dara meninggi, matanya melebar tak percaya pada kalimat yang baru saja diucapkan ayahnya. “Pernikahan ini sudah disepakati sejak lama, Nak. Demi bisnis keluarga kita.” Dara ingin protes, tapi lidahnya kelu. Ia bahkan belum lulus kuliah, dan sekarang diminta menikah dengan pria yang bahkan tak pernah ia kenal. “Kenapa harus aku? Kenapa bukan yang lain?” gumamnya pelan. Ayahnya hanya menghela napas. “Karena hanya kamu yang bisa menyelamatkan nama baik keluarga.” Di sisi lain kota, Arga justru sedang bersantai di balkon apartemennya, menikmati kopi. Hidupnya sudah cukup nyaman, apalagi ia adalah pewaris sebuah perusahaan besar. Tapi semua kenyamanan itu seperti runtuh ketika sang ibu datang membawa kabar. “Kamu harus menikah dengan Dara. Bulan depan.” Arga hampir tersedak kopinya. “Menikah? Dengan orang yang bahkan aku nggak kenal?” Ibunya hanya tersenyum tipis. “Kamu akan terbiasa. Anggap saja awalnya kewajiban, nanti… siapa tahu bisa jadi sesuatu yang lebih dari itu.” Arga mendengus, malas menanggapi. Pernikahan? Bukan sesuatu yang pernah masuk dalam rencananya. Hari pertemuan pertama pun tiba. Dara dengan wajah kesal duduk di meja restoran, sementara Arga datang dengan gaya cueknya. “Jadi kamu calon istriku?” Arga membuka percakapan dengan nada datar. Dara mendelik. “Jangan ge-er. Aku pun nggak mau.” Untuk sesaat, keduanya hanya saling menatap. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan. Hanya… keterpaksaan. Tapi entah kenapa, di balik tatapan kesal itu, ada sesuatu yang membuat hati mereka sama-sama bergetar, meski tak ada yang mau mengakuinya. Restoran itu terlalu mewah untuk pertemuan yang terasa hambar. Dara menunduk, memainkan sendok di tangannya, sementara Arga bersandar malas dengan ekspresi jenuh. “Kalau kita menikah,” Dara membuka suara akhirnya, “aku harap kamu tahu, aku melakukan ini hanya karena orang tuaku.” Arga menaikkan satu alis. “Kebetulan. Aku juga sama. Jadi, jangan pernah salah paham.” Dara mendengus. “Percayalah, jatuh cinta sama kamu itu nggak pernah ada di daftar hidupku.” “Bagus,” jawab Arga singkat, lalu meneguk air putihnya. Tak ada senyum, tak ada basa-basi. Hanya percakapan kaku yang lebih mirip perjanjian bisnis ketimbang obrolan calon pasangan hidup. **** Minggu-minggu berikutnya berjalan cepat. Semua persiapan pernikahan diurus keluarga. Dara hanya hadir ketika benar-benar harus, Arga pun tak jauh berbeda. Hari pernikahan tiba. Gaun putih melekat di tubuh Dara, membuatnya tampak anggun meski wajahnya jelas tidak berbahagia. Sementara Arga, dengan jas hitam rapi, terlihat lebih seperti model iklan majalah daripada mempelai yang jatuh cinta. Saat ijab kabul selesai, tepuk tangan menggema. Semua orang tersenyum… kecuali kedua mempelai. Dara hanya menghela napas. “Resmi sudah, aku terikat dengan orang asing,” batinnya. Arga melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali memandang lurus ke depan. “Semoga ini cepat berlalu.” Malam pertama pun tak berjalan seperti cerita romansa kebanyakan. Di kamar hotel yang dipenuhi bunga, Dara sibuk membuka koper, sementara Arga sudah mengambil bantal cadangan dan meletakkannya di sofa. “Kamu tidur aja di ranjang. Aku nggak apa-apa di sini,” ucap Arga santai. Dara menoleh, heran sekaligus lega. “Syukurlah kita sepakat dalam satu hal,” katanya dingin, lalu merebahkan diri tanpa banyak kata. Lampu kamar redup, keheningan menyelimuti. Dua orang asing kini sah menjadi suami istri, tapi hati mereka sama-sama jauh, dingin, dan penuh penolakan. Rumah dua lantai bergaya modern itu akhirnya jadi tempat tinggal mereka. Bukan rumah impian Dara, apalagi Arga. Tapi keluarga besar sudah sepakat: setelah menikah, mereka harus tinggal bersama. Dara berdiri di ruang tamu, memeluk lengannya sambil menatap sekeliling. “Lumayan, sih. Cuma terlalu… dingin.” “Cocok sama pemiliknya,” celetuk Arga sambil menjatuhkan jasnya di sofa. Dara menoleh cepat, mendengus. “Tenang aja, aku nggak bakal betah juga lama-lama di sini.” “Bagus,” jawab Arga pendek, lalu langsung naik ke lantai dua tanpa menoleh lagi. Malam pertama di rumah itu jauh dari romantis. Dara sibuk mengatur lemari pakaian, sementara Arga duduk di balkon, main ponsel. “Eh, tolongin ini dong, gantungan baju terlalu tinggi,” pinta Dara tanpa menatap. Arga melirik sebentar, lalu kembali ke ponsel. “Kamu kan bisa naik kursi.” Dara mendengus keras. “Laki-laki macam apa sih kamu?” “Laki-laki yang dipaksa nikah,” balas Arga santai. Hari-hari berikutnya pun penuh kejanggalan. Pagi hari. Dara bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan sederhana. Arga turun dengan wajah setengah ngantuk, lalu melihat meja makan. “Kamu bisa masak juga ternyata?” tanyanya datar. “Kalau nggak suka, jangan makan,” jawab Dara ketus. Arga mengangkat bahu. “Enak sih… cuma jangan GR, aku tetap nggak doyan sama kamu.” Dara menahan diri untuk tidak melempar sendok ke wajahnya. Malam hari. Arga sedang menonton bola di ruang keluarga. Dara lewat, membawa segelas susu. “Bisa kecilin volumenya nggak? Aku mau tidur,” protes Dara. Arga menoleh santai. “Rumah ini milik berdua, jadi jangan merasa kayak kos-kosan kamu aja.” Dara mendelik. “Aku nyesel banget, sumpah.” “Tenang, aku juga,” balas Arga dengan senyum tipis menyebalkan. Meski begitu, tanpa mereka sadari, interaksi dingin itu mulai membentuk kebiasaan. Pertengkaran kecil, sindiran, bahkan keheningan, semuanya jadi bagian dari kehidupan baru mereka. Belum ada cinta. Belum ada kehangatan. Hanya dua orang asing yang terpaksa berbagi atap, berbagi ruang, dan berbagi hidup. Untuk sementara… itu sudah cukup membuat mereka sama-sama lelah.Malam di dalam penjara terasa lebih sempit dari biasanya. Daniel duduk di sudut sel, napasnya tidak beraturan. Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai… rencananya runtuh. Siregar. Fahrul. Reno. Tiga nama itu terus berputar di kepalanya seperti lonceng kematian. Ia tidak lagi punya orang lapangan. Tidak ada mata. Tidak ada telinga. Dan yang paling membuatnya gila, Aluna masih hidup, masih bersama keluarganya, dan belum hancur. Daniel meninju tembok besi. Darah mengalir dari buku jarinya. “Kalian pikir ini selesai?” gumamnya pelan, nyaris berdoa. “Belum… belum.” Di hari kunjungan, Daniel tidak menemui siapa pun dari lingkaran lamanya. Ia menemui satu orang saja, pria berambut perak dengan jas rapi, duduk tenang di balik kaca pembatas. Pria itu tersenyum tipis. “Aku bilang dari awal, Daniel. Kalau kau terpojok… aku hanya membantu jika kau siap membayar harga yang lebih mahal.” Daniel mendekat, tatapannya liar. “Aku tidak butuh kekacauan. Aku butuh satu hal, buat mer
Setibanya di Indonesia, Arga dan Dara langsung merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dara merengkuh Aluna yang terlihat ketakutan dan pucat. “Dara.… kamu tidak boleh melawan ini sendirian. Kamu sekarang dalam perlindungan kami.” Arga menatap Adrian dan Freddy. “Kita hentikan Daniel sekali untuk selamanya. Caranya bukan hanya mengejar kaki tangannya, tapi memutus pola komunikasi yang ia gunakan dari penjara.” Di sinilah Arga mulai memimpin investigasi, menelusuri siapa saja orang yang pernah bekerja dengan Daniel, memeriksa rekaman CCTV sekitar rumah, menghubungi teman-temannya di bidang keamanan digital, dan mencari pola dari pesan-pesan yang diterima Aluna. Dara membantu Riana yang mulai kelelahan mental. Sementara anak kedua mereka membantu Adric menjadi penahan emosi, sehingga Adric tidak ikut terpuruk. Kehadiran mereka membuat keseimbangan keluarga kembali perlahan-lahan. Di malam hari, Aluna menerima pesan suara dari nomor tak dikenal. Suara itu pelan… serak
Tapi senyum itu membuatnya terbangun sambil memegang dada. Ia berusaha menepis semuanya, tapi suara Daniel selalu muncul, “Kamu percaya aku… karena aku yang paling mengerti kamu.” Dan yang paling mengusik, perasaan bersalah karena ia sempat mempercayai Daniel lebih dari ibunya sendiri. Ia takut dilihat sebagai gadis bodoh. Ia takut jadi beban. Jadi ia memilih diam. Dan diamnya itu… jauh lebih menyakitkan bagi semua orang. Riana memperhatikan semua tanda, Aluna kurang tidur. Makan sedikit. Tidak fokus. Dan sering menatap kosong. Yang membuat Riana paling patah hati adalah Aluna mulai menarik diri dari pelukan. Jika Riana ingin memeluknya, Aluna tersenyum… tapi kaku. Dan Riana tahu betul bahwa itu bukan karena benci. Itu karena trauma. Namun malam-malam tertentu, saat Aluna tertidur, Riana duduk di tepi ranjang dan mengelus rambut putrinya perlahan. “Maafkan Mama… kalau Mama terlambat menyadari semuanya…” Air matanya jatuh diam-diam. Riana bukan ibu sempurna. Tapi ia
Adrian tidak menunggu komando. Ia langsung menerobos hutan. Freddy menyusul dengan nafas berat, tapi semangatnya membara. Rasa bersalahnya pada masa lalu berubah menjadi tenaga. “Daniel harus berhenti malam ini!" Adrian berseru. Petugas berteriak, “Pak Adrian! Hati-hati, jalannya licin!” Adrian tidak peduli. Ia hanya memikirkan satu hal, Daniel tidak boleh mendekati Aluna lagi. Freddy, di sampingnya, berkata dengan suara rendah namun tegas," Kita lakukan ini bersama.” Untuk pertama kalinya, dua laki-laki yang sempat bermusuhan itu, berlari sebagai satu tim. Sementara itu, di dalam penginapan, Aluna duduk di kursi kayu sambil dipeluk Riana erat-erat. Adric berdiri di samping kakaknya, seperti penjaga kecil yang siap melawan siapa pun. “Ma… Daniel… dia bukan orang baik…" Aluna suaranya bergetar. Riana menyentuh pipinya lembut, “Iya, Kak… sekarang kamu sudah aman. Papa Adrian dan papa Freddy lagi kejar dia.” Aluna menunduk. “Aku… aku ikut dia karena aku bodoh…” Ri






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.