LOGINRuang tengah rumah Rianti sudah berubah seperti pusat pencarian. Naufal mondar-mandir sambil terus memegang ponselnya, sementara Rianti duduk dengan wajah pucat dan Nayla berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sejak tadi tidak ada satu pun kabar mengenai Dimas. Ponselnya tidak bisa dihubungi, mobilnya tidak terlihat di sekitar rumah, dan tempat-tempat yang biasa didatangi Dimas juga tidak memberikan jawaban.Naufal akhirnya berhenti berjalan. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum membuka daftar kontak di ponselnya.“Udah. Aku nggak bisa cuma nunggu.”Nayla menatap suaminya. “Kamu mau ngapain?”“Aku akan hubungi semua orang yang mungkin tahu keberadaan Dimas.”Naufal mulai menelepon satu per satu. Bukan hanya teman sesama dokter, tetapi juga anak buah Dimas, orang-orang yang biasa bekerja dengannya, relasi bisnis keluarga, kenalan di rumah sakit, bahkan beberapa orang yang pernah berhubungan dengan Dimas dalam urusan pekerjaan.“Coba kamu cek apakah Dokter Dimas datang ke sana.”“Belum ad
Perjalanan dari desa menuju kota berlangsung cukup tenang. Nayla masih beberapa kali terdiam sambil memandang keluar jendela. Pikirannya masih tertuju pada Laras dan Hendra yang harus kehilangan ibu tepat setelah pernikahan mereka.“Masih kepikiran Laras?” tanya Naufal.Nayla mengangguk. “Iya. Kasihan Laras. Kemarin dia menikah, hari ini harus kehilangan ibunya.”Naufal menggenggam tangan istrinya. “Setidaknya ibunya sempat melihat Laras menikah. Itu yang paling dia inginkan.”“Aku juga merasa sedikit lega karena itu.” Nayla menarik napas panjang sebelum menyandarkan kepalanya di bahu Naufal. “Semoga mereka benar-benar bisa bahagia.”“Mereka akan baik-baik saja. Laras punya Hendra.”Nayla tersenyum kecil. “Benar juga.”Beberapa saat kemudian, mobil mulai memasuki kawasan kota. Pemandangan pedesaan perlahan berganti menjadi jalan yang lebih ramai. Toko, kendaraan, dan gedung-gedung mulai memenuhi pandangan. Begitu sampai di rumah, Nayla langsung meletakkan tasnya di sofa dan menghela n
Beberapa detik berlalu, tetapi ibu Laras tetap tidak memberikan respons.“Bu...?” Suara Laras bergetar. Tangannya menggenggam tangan ibunya semakin erat.Naufal kembali memeriksa denyut nadi dan pernapasan wanita itu. Wajahnya yang semula serius kini terlihat semakin muram.“Laras, tenang dulu.”“Dok...” Laras menatap Naufal dengan mata penuh air mata. “Ibu kenapa?”Naufal tidak segera menjawab. Ia kembali melakukan pemeriksaan, memastikan kondisi wanita tua itu.Namun, beberapa saat kemudian, Naufal hanya bisa menggeleng pelan.“Laras... Ibu kamu sudah pergi.”Kalimat itu seolah menghentikan seluruh suara di sekitar mereka.Laras terdiam. Matanya menatap wajah ibunya yang kini terlihat begitu tenang.“Enggak...” bisiknya.Hendra segera merangkul tubuh istrinya.“Laras...”“Enggak mungkin, Mas.” Air mata Laras jatuh semakin deras.“Tadi Ibu masih bicara sama aku. Tadi Ibu masih senyum.”Ia mengguncang tangan ibunya perlahan.“Bu... bangun, Bu.”Tidak ada jawaban.“Bu, aku sudah menika
Nayla masih menatap Laras dengan penuh perhatian. Ia bisa melihat jelas bahwa wanita itu sedang berusaha menahan tangis.“Apa maksudnya ada hubungannya dengan Ibu? Jelaskan sama kami, Laras. Mungkin kami bisa bantu,” desak Nayla agi.Laras mengusap tangan ibunya yang kurus dan penuh keriput. “Ibu sudah semakin tua, Kak Nay. Beberapa bulan terakhir kondisinya juga semakin menurun. Kadang masih terlihat sehat, tapi tiba-tiba lemas dan harus berbaring seharian.”Nayla memandang wanita renta itu. Sekarang ia bisa melihat betapa lemah tubuh tersebut. Bahkan untuk sekadar duduk saja, wanita itu harus dibantu oleh Laras.“Dokter sudah pernah memeriksa kondisi Ibu?” tanya Naufal.“Sudah, Dok. Katanya Ibu memang harus banyak istirahat dan rutin kontrol. Tapi Ibu juga sudah nggak sekuat dulu.”“Ya ampun, Laras." Wanita itu tiba-tiba tersenyum tipis sembari mengusap rambut putrinya itu. “Jangan bicara seolah-olah Ibu sebentar lagi mati,” ucapnya lirih."Bukan begitu, Bu.” Laras menunduk. “Tapi
“Hah? Ini ... serius?”Naufal masih menatap layar ponselnya dengan mata melebar. Nayla yang duduk di sampingnya ikut penasaran.“Kenapa, Sayang? Siapa yang kirim pesan?”Naufal tidak menjawab. Ia membaca pesan itu sekali lagi, lalu sebuah senyum perlahan muncul di wajahnya.“Sayang, lihat ini.” Naufal menyerahkan ponselnya kepada Nayla.Nayla pun ikut membaca pesan tersebut. Beberapa detik kemudian, matanya ikut membesar.Undangan Pernikahan Laras & Hendra.“Laras sama Hendra mau nikah?”“Iya.” Naufal mengangguk."Wah!" Nayla langsung tersenyum lebar. “Serius mereka?”“Sepertinya begitu.”Nayla kembali membaca pesan itu, lalu menatap Naufal dengan wajah tidak percaya. “Kok mereka nggak bilang apa-apa sama kita?”Naufal terkekeh. “Aku juga nggak tahu.”“Padahal mereka kerja di florist aku. Masa aku malah dapat undangan dari pesan seperti ini?”“Berarti ini kejutan, Sayang," kata Naufal menenangkan sang istri.“Bukan kejutan lagi. Aku malah kaget.”Keduanya tertawa kecil. Nayla terlihat
Dimas masih duduk di sofa dengan ponsel di tangannya. Sejak tadi sudut bibirnya terus terangkat setiap kali melihat layar. Nayla yang duduk di sebelah Naufal mulai merasa penasaran, apalagi Dimas terlihat seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.“Kak Dimas,” panggil Nayla.“Apa?” sahut Dimas datar.“Siapa yang kamu chat sampai senyum-senyum begitu?”Dimas segera menurunkan ponselnya dan menggeleng cepat. “Nggak ada.”Nayla menahan senyum. “Ah masa?”“Iya.”“Boleh aku lihat?”“Nggak boleh. Jauh-jauh sana, dan urusanmu sendiri.”Jawaban Dimas yang terlalu cepat justru membuat rasa penasaran Nayla semakin besar. Ia bangkit dari sofa dan menghampiri Dimas.“Aku cuma mau lihat sebentar.”“Nggak boleh."“Aku cuma penasaran, Kak.”“Penasaran boleh. Tapi jangan kepo urusan orang.”"Pokoknya aku mau lihat!"Nayla malah tertawa dan berusaha mengambil ponsel Dimas. Pria itu segera mengangkat tangannya lebih tinggi sehingga ponsel tersebut tidak bisa dijangkau.“Kak, sini lihat!”“Nggak
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b







