MasukUsai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.
“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.
Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuka lemari pakaian.
“Pakai baju yang mana ya, biar Mas Agung terpesona sama aku?”
Merasa kebingungan, ia pun memutuskan mengambil 3 helai baju dan ia bawa ke hadapan Agung yang masih rebahan sambil bermain ponsel.
“Mas, bantu pilihin baju dong. Bagusan yang mana?"
“Itu yang di tangan kiri," jawab Agung asal. Ia hanya menunjuk tanpa melihat baju yang dipegang oleh Nayla.
"Huh, selalu aja cuek. Ya udah deh, nanti malam aku pakai ini aja.”
Malam ini, Nayla sudah bersiap-siap di dalam kamarnya. Ia mengenakan gaun tidur berwarna merah menyala, sangat seksi dan pas di tubuhnya.
Gaun menempel sempurna, membentuk lekuk tubuh yang indah. Dadanya membusung sangat menggoda dengan belahan gaun yang rendah. Gaun itu tak seberapa panjang, memperlihatkan paha mulus dan area pinggul yang nyaris terekspose.
"Semoga aja malam ini Mas Agung mau menyentuh aku,” harap Nayla seraya mematut diri di depan cermin.
Ia menyisir rambut panjangnya dan memakai parfum mahal di tubuhnya. Penantian selama 6 bulan lamanya, ia berharap akan dituntaskan malam ini juga.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dari luar. Nayla menoleh cepat. Ia bangkit dari tempat duduk dan melangkah menghampiri Agung yang baru saja masuk kamar. Senyum manis terukir di wajah cantik Nayla. Ia membuat gerakan menggoda dengan memainkan ujung rambutnya.
"Mas Agung, malam ini ….”
"Kamu ngapain sih pakai baju seperti ini?” Agung membentak Nayla tiba-tiba.
Mata Agung memicing, menatap penampilan Nayla dari atas sampai bawah.
“Penampilan kamu tuh norak banget tau gak sih? Mendingan sekarang kamu tidur aja. Aku malah pusing sama bau parfum kamu. Sudahlah, aku juga mau tidur.” Tubuh Nayla terasa membeku saat itu juga. Kakinya mendadak gemetar dan terasa lemas. Kedua matanya berkaca-kaca saat menatap Agung yang buru-buru merebahkan tubuh di atas ranjang. "Oh iya.” Agung menoleh sebentar pada Nayla. "Jangan harap kalau aku akan menggauli kamu selama kamu masih punya penyakit menjijikkan itu ya. Aku gak peduli kamu mau dandan secantik apapun, mau kamu telanjang di depan aku sekali pun, aku gak akan pernah menyentuh kamu. Ingat itu!” Duarr! Kata-kata Agung itu menyambar jantung Nayla sangat keras. Wajahnya terasa panas, menciptakan genangan bening di pelupuk matanya yang sudah nyaris tak terbendung. Kepalan tangannya semakin kuat, hingga membuatnya bergetar. “Udah! Ganti baju sana! Kamu tuh nggak pantas pakai baju seperti itu!” usir Agung seraya mengibaskan tangan dengan maksud mengusir Nayla. Sedangkan ia sendiri kembali asyik bermain ponselnya dengan posisi membelakangi sang istri. Malam itu perasaan Nayla benar-benar hancur. Ia berbalik badan dan pergi keluar kamar. Langkahnya gontai menuruni tangga. Semua kata-kata hinaan dari Agung barusan, terngiang-ngiang di telinganya. “Apa aku semenjijikkan itu di mata kamu, Mas?" Air mata Nayla tumpah, dan ia tak peduli pandangannya yang kabur karena itu. Setiba di lantai bawah, ia berdiri sangat lama di ambang pintu dapur, sembari menghela napas yang terasa berat di dada. Perlahan ia menutup pintu dapur dan bersandar di baliknya. Tangannya mencengkeram kuat gaun tidur tipisnya yang tadi ia banggakan. "Benar kata kamu, Mas. Percuma aku pakai baju sebagus apapun, itu nggak akan ngaruh di kamu,” isak Nayla. Ia genggam dan tarik gaunnya kuat-kuat. Krak! Gaun merah itu robek. Suara kain yang terkoyak terdengar lirih, seolah menjadi saksi betapa harga dirinya juga ikut terkoyak malam itu. “Kenapa, Tuhan? Kenapa harus aku yang mengalami hal menjijikkan seperti ini?” tangisnya tertahan, meskipun ia ingin berteriak karena frustasi. Isaknya pun pecah tanpa suara. Ia menutup mulutnya sendiri agar suara tangisannya tak terdengar. Bahunya berguncang, ia menangis sesenggukan. Setelah menangis cukup lama, Nayla membasuh wajahnya dan kembali ke kamar. Begitu membuka pintu, dilihatnya Agung masih berbaring dengan ponsel di tangan. “Udah nangisnya?” tanya pria itu tanpa menoleh. Nayla hanya diam dan tak merespon. Ia hanya melangkah mendekati ranjang. Mungkin tidur saja lebih baik, daripada ia harus mendengar kata-kata hinaan entah yang keberapa kali hari ini. “Lagian ini semua tuh salah kamu, Nay. Ibuku itu pingin segera punya cucu, tapi kamunya nggak pernah bisa kasih,” ucap Agung, lalu menoleh sebentar pada Nayla. Hanya sebentar, sebelum ia berfokus pada layar ponselnya lagi. Semua perkataan Agung itu kembali menghantam dada Nayla lebih keras dari sebelumnya. Amarahnya kini sudah sampai di ubun-ubun. Tapi ia hanya mengepalkan tangan di balik punggungnya. Tidak ada tenaga untuk melawan suaminya, dan tidak ada keberanian untuk membalas. Dalam diam, ia hanya mematikan lampu dan berbaring membelakangi suaminya. Nayla memejamkan mata rapat, berharap ia akan tertidur. Namun yang ada, hanya air mata yang menitik jatuh membasahi pipinya. “Sampai kapan rumah tanggaku akan seperti ini terus? Aku juga ingin bahagia seperti wanita lain," batinnya hancur.Tiba-tiba, Nayla teringat satu kalimat.
Kalimat yang benar-benar membuatnya duduk, merenung, dan merasa bahwa itu satu-satunya cara untuk membuktikan apakah bagian kehormatannya memang semenjijikkan itu dan mengandung penyakit.
Ucapan Dokter Naufal kemaren, 'Satu-satunya cara adalah mencobanya dan aku siap menanggung resikonya.' masih terngiang di benak Nayla.
Ini memang kurang etis.
Ini memang menyalahi aturan profesional.
Namun, istri mana yang tidak frustasi selalu dicap menjijikkan oleh suami sendiri, bahkan suami enggan untuk menyentuh.
Ah, apa salahnya juga dicoba, biar sekalian dia punya bukti bahwa suaminya hanya pilih-pilih wanita!
* Pagi ini, suara keras seseorang di ruang tamu membuat Nayla terbangun. Ia beranjak, dan melihat Agung yang sudah tak ada di ranjang. Bergegas ia mencuci muka dan pergi ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Seketika matanya membulat saat melihat sosok wanita paruh baya di sana. “Ibu?” Ia terperanjat melihat Bu Tami-mertuanya-yang sudah duduk manis di sofa, lengkap dengan tas tangan mewahnya. Nayla keheranan, karena tak biasanya ibu mertuanya itu datang ke rumah mereka, apalagi pagi-pagi sekali seperti ini. "Ibu, sudah lama datangnya?” tanya Nayla dengan sopan, dan mencium tangan mertuanya itu. “Baru saja. Oh iya, bagus karena kamu sudah bangun, Nay. Ibu mau bicara.” "Mau bicara apa sih, Bu?” tanya Agung yang berdiri di samping ibunya dengan wajah datar. “Agung, Nayla itu harus periksa lagi ke dokter. Dia nggak bisa begini terus,” ujar Bu Tami tegas. “Percuma, Bu,” potong Agung dingin. “Dia itu mandul. Nggak bakalan bisa punya anak.” Degh! Detak jantung Nayla rasanya berhenti. Kata itu diucapkan Agung dengan sangat ringan, seolah sedang membicarakan sebuah barang rusak. Nayla refleks menunduk. Matanya bergetar. Ia ingin menangis saat ini juga. Bu Tami menghela napas panjang, seraya menatap Agung dan Nayla secara bergantian. “Makanya itu harus diperiksa. Ibu nggak mau pernikahan ini cuma jalan di tempat. Sudah enam bulan kalian menikah, tapi belum ada kabar baik. Lihat itu teman-temanmu, Agung. Baru nikah tujuh bulan, tapi sudah pada punya anak.” "Itu mah hamil duluan, Bu.” Agung memutar bola matanya malas. "Tapi kan jelas mereka bisa punya anak. Nggak harus nunggu lama seperti kalian.” “Oh iya, Ibu punya rekomendasi dokter yang cocok buat kalian berdua,” ujar Bu Tami tiba-tiba. “Siapa?" tanya Nayla lirih. "Dokter Naufal Mahendra.”Reza sudah menunggu di salah satu sudut kafe ketika Nayla tiba. Sejak tadi, ia terus meremas jemarinya sendiri yang berkeringat dingin. Kedua kakinya terus gelisah mengetuk lantai, dan sesekali ia tampak salah tingkah ketika membetulkan kerah kemeja dan lengan panjangnya."Mm, kenapa Nayla belum datang juga ya?" gumam Reza gugup, sambil sesekali melirik jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.Beberapa menit berlalu, akhirnya Nayla pun masuk ke cafe. Ia mengenakan pakaian casual, berupa dress sebatas lutut berwarna biru muda. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja, tapi tetap rapi dengan sebuah bando kucing yang menghiasi kepalanya.Begitu melihat perempuan itu masuk, Reza terperanjat. Matanya terpana dan nyaris tak berkedip saat menatap penampilan Nayla yang begitu memukau.Namun, pria itu cepat-cepat menggeleng. Ia pun segera berdiri dan menyambutnya dengan senyuman ramah dan bersahabat.“Nayla, kamu benar-benar datang? Aku sudah pesan minum untuk ….”“Dokter Reza, aku m
“Halo, Dokter Reza.” Nayla menarik nafas panjang.Sebenarnya ia ingin menelfon Dokter Adrian, tetapi karena tak punya kontaknya, akhirnya ia hanya menghubungi Reza.“Halo, Nayla? Ada apa?” suara Reza terdengar sedikit terkejut di seberang telepon. “Aku mau bicara sama kamu. Bisa kita bertemu?”Reza terdiam sesaat. Rasanya ia masih tak percaya jika Nayla akan menelfonnya setelah sekian lama.“Bertemu? Kapan?”“Nanti aku kabari tempat dan waktunya. Aku cuma ingin membicarakan sesuatu secara langsung.”Reza tidak langsung menjawab. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Namun, setelah menarik napas, dia akhirnya menyetujui permintaan Nayla.“Baiklah. Kabari aku saja nanti.”“Terima kasih, Dokter Reza.”“Sama-sama, Nayla." Panggilan berakhir. Reza masih memandangi ponselnya, kemudian mengusap dadanya yang berdebar tidak karuan. Sudah lama dia berusaha mengubur perasaan yang pernah tumbuh untuk Nayla. Dia tahu perempuan itu adalah istri sahabatnya sendiri, sehingga perasaan
Tangan Nayla gemetar saat kembali membaca lembaran pemeriksaan yang ditemukan di bawah bantal Naufal. Matanya menyusuri setiap baris tulisan di atas kertas itu, berharap dirinya salah memahami sesuatu. Namun, semakin lama dia membaca, semakin sesak pula dadanya. Air matanya jatuh tanpa disadari. Nayla segera mengusap pipinya, tetapi air mata berikutnya kembali mengalir. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, dia ingin membangunkan Naufal dan meminta penjelasan. Namun, di sisi lain, dia takut mendengar jawaban yang mungkin akan menghancurkan ketenangannya. Selama ini, Naufal selalu berusaha terlihat kuat di hadapannya. Bahkan setelah pingsan di rumah sakit, pria itu masih sempat bercanda dan meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Nayla sempat percaya, meskipun jauh di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa janggal. Sekarang, keberadaan kertas itu membuatnya semakin yakin bahwa suaminya memang sedang menyembunyikan sesuatu. Tiba-tiba, Naufal menggeliat di atas ran
“Astaga! Naufal!”Nayla langsung berlari menghampiri suaminya begitu melihat jari Naufal berdarah dan pisau tergeletak di lantai. Tanpa berpikir panjang, dia meraih tangan Naufal, lalu mengisap darah yang keluar dari luka di jarinya.“Aduh, Sayang!” Naufal meringis kesakitan. “Pelan-pelan. Itu jariku, bukan permen!”Nayla segera menjauhkan wajahnya, kemudian menatap Naufal dengan mata membulat. “Kamu masih sempat bercanda? Lihat, tangan kamu berdarah begini!”“Cuma kegores sedikit, kok. Nggak perlu panik begitu.”“Sedikit apanya? Darahnya sampai keluar begitu!”Naufal mengangkat tangannya, memperhatikan luka kecil di jari telunjuknya. “Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu nggak perlu khawatir.”“Mulai sekarang, kamu nggak boleh masak lagi!”Naufal langsung menoleh. “Lho, kenapa?”“Kenapa? Kamu masih tanya kenapa?” Nayla menunjuk jari suaminya. “Tadi di rumah sakit kamu sampai pingsan, sekarang malah melukai diri sendiri saat memasak. Kalau begini terus, aku bisa gila karena khawatir!”“Ak
Adrian mengatupkan rahang begitu mendapat peringatan dari Naufal. Dia benar-benar ingin menjewer telinga sahabatnya itu, tetapi tentu saja tidak mungkin melakukannya di depan Nayla.Akhirnya, pria itu hanya bisa menarik napas panjang.“Baiklah. Kamu boleh pulang, tetapi dengan beberapa syarat.”Naufal langsung tersenyum puas mendengar itu. “Apa saja syaratnya?”“Kamu harus beristirahat. Jangan bekerja, jangan melakukan aktivitas berat, dan jangan mengabaikan keluhan sekecil apa pun. Kalau kamu merasa pusing, nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar tidak biasa, atau merasa akan pingsan lagi, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu sampai keadaanmu memburuk!” tegas Adrian dengan nada sungguh-sungguh.“Siap, Dokter." Naufal mengangguk dengan tertawa kecil.“Dan pemeriksaan lanjutan tetap harus dilakukan. Secepatnya. Aku tidak mau mendengar alasan apa pun darimu.”“Iya, Dokter Adrian yang terhormat.”“Jangan menyindirku!”"Astaga!” Reza menghela napas. “Aku akan memastikan dia t
“Aku mau pulang.”Naufal mengucapkan kalimat itu begitu Adrian selesai memeriksa hasil pemeriksaan awalnya. Dokter spesialis jantung tersebut langsung mengernyit, sementara Reza yang berdiri di dekat ranjang hanya mengembuskan napas panjang.“Pulang ke mana? Kamu masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan, Fal,” tegas Adrian.“Aku sudah merasa lebih baik. Kepalaku juga nggak pusing lagi. Jadi, buat apa aku terus berada di rumah sakit?” Naufal angkat bahunya.“Karena kamu tadi pingsan, Naufal!” Adrian menatapnya tajam. “Kamu pikir kejadian seperti itu bisa dianggap sepele hanya karena sekarang kamu merasa baik-baik saja?”Naufal menyandarkan punggungnya ke ranjang. “Aku nggak bilang kejadian tadi sepele. Aku cuma bilang ingin pulang.”“Dan aku bilang kamu belum boleh pulang.”“Adrian.”“Naufal.”Keduanya saling menatap dengan ekspresi tidak mau mengalah. Reza yang menyaksikan perdebatan itu akhirnya mengusap wajahnya sendiri. Dia sudah mengenal Naufal selama bertahun-tahun. Kalau sahab
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny







