Início / Romansa Dewasa / Jangan Dikeluarin Dulu, Dok! / 3. Dokter Rekomendasi Ibu Mertua

Compartilhar

3. Dokter Rekomendasi Ibu Mertua

Autor: Mas Author
last update Última atualização: 2026-03-02 07:27:44

Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.

“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.

Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuka lemari pakaian.

“Pakai baju yang mana ya, biar Mas Agung terpesona sama aku?”

Merasa kebingungan, ia pun memutuskan mengambil 3 helai baju dan ia bawa ke hadapan Agung yang masih rebahan sambil bermain ponsel.

“Mas, bantu pilihin baju dong. Bagusan yang mana?"

“Itu yang di tangan kiri," jawab Agung asal. Ia hanya menunjuk tanpa melihat baju yang dipegang oleh Nayla.

"Huh, selalu aja cuek. Ya udah deh, nanti malam aku pakai ini aja.”

Malam ini, Nayla sudah bersiap-siap di dalam kamarnya. Ia mengenakan gaun tidur berwarna merah menyala, sangat seksi dan pas di tubuhnya.

Gaun menempel sempurna, membentuk lekuk tubuh yang indah. Dadanya membusung sangat menggoda dengan belahan gaun yang rendah. Gaun itu tak seberapa panjang, memperlihatkan paha mulus dan area pinggul yang nyaris terekspose.

"Semoga aja malam ini Mas Agung mau menyentuh aku,” harap Nayla seraya mematut diri di depan cermin.

Ia menyisir rambut panjangnya dan memakai parfum mahal di tubuhnya. Penantian selama 6 bulan lamanya, ia berharap akan dituntaskan malam ini juga.

Ceklek!

Pintu kamar terbuka dari luar. Nayla menoleh cepat. Ia bangkit dari tempat duduk dan melangkah menghampiri Agung yang baru saja masuk kamar. Senyum manis terukir di wajah cantik Nayla. Ia membuat gerakan menggoda dengan memainkan ujung rambutnya.

"Mas Agung, malam ini ….”

"Kamu ngapain sih pakai baju seperti ini?” Agung membentak Nayla tiba-tiba.

Mata Agung memicing, menatap penampilan Nayla dari atas sampai bawah.

“Penampilan kamu tuh norak banget tau gak sih? Mendingan sekarang kamu tidur aja. Aku malah pusing sama bau parfum kamu. Sudahlah, aku juga mau tidur.”

Tubuh Nayla terasa membeku saat itu juga. Kakinya mendadak gemetar dan terasa lemas. Kedua matanya berkaca-kaca saat menatap Agung yang buru-buru merebahkan tubuh di atas ranjang.

"Oh iya.” Agung menoleh sebentar pada Nayla.

"Jangan harap kalau aku akan menggauli kamu selama kamu masih punya penyakit menjijikkan itu ya. Aku gak peduli kamu mau dandan secantik apapun, mau kamu telanjang di depan aku sekali pun, aku gak akan pernah menyentuh kamu. Ingat itu!”

Duarr!

Kata-kata Agung itu menyambar jantung Nayla sangat keras. Wajahnya terasa panas, menciptakan genangan bening di pelupuk matanya yang sudah nyaris tak terbendung. Kepalan tangannya semakin kuat, hingga membuatnya bergetar.

“Udah! Ganti baju sana! Kamu tuh nggak pantas pakai baju seperti itu!” usir Agung seraya mengibaskan tangan dengan maksud mengusir Nayla.

Sedangkan ia sendiri kembali asyik bermain ponselnya dengan posisi membelakangi sang istri.

Malam itu perasaan Nayla benar-benar hancur. Ia berbalik badan dan pergi keluar kamar. Langkahnya gontai menuruni tangga. Semua kata-kata hinaan dari Agung barusan, terngiang-ngiang di telinganya.

“Apa aku semenjijikkan itu di mata kamu, Mas?" Air mata Nayla tumpah, dan ia tak peduli pandangannya yang kabur karena itu.

Setiba di lantai bawah, ia berdiri sangat lama di ambang pintu dapur, sembari menghela napas yang terasa berat di dada. Perlahan ia menutup pintu dapur dan bersandar di baliknya.

Tangannya mencengkeram kuat gaun tidur tipisnya yang tadi ia banggakan.

"Benar kata kamu, Mas. Percuma aku pakai baju sebagus apapun, itu nggak akan ngaruh di kamu,” isak Nayla. Ia genggam dan tarik gaunnya kuat-kuat.

Krak!

Gaun merah itu robek. Suara kain yang terkoyak terdengar lirih, seolah menjadi saksi betapa harga dirinya juga ikut terkoyak malam itu.

“Kenapa, Tuhan? Kenapa harus aku yang mengalami hal menjijikkan seperti ini?” tangisnya tertahan, meskipun ia ingin berteriak karena frustasi.

Isaknya pun pecah tanpa suara. Ia menutup mulutnya sendiri agar suara tangisannya tak terdengar. Bahunya berguncang, ia menangis sesenggukan.

Setelah menangis cukup lama, Nayla membasuh wajahnya dan kembali ke kamar. Begitu membuka pintu, dilihatnya Agung masih berbaring dengan ponsel di tangan.

“Udah nangisnya?” tanya pria itu tanpa menoleh.

Nayla hanya diam dan tak merespon. Ia hanya melangkah mendekati ranjang. Mungkin tidur saja lebih baik, daripada ia harus mendengar kata-kata hinaan entah yang keberapa kali hari ini.

“Lagian ini semua tuh salah kamu, Nay. Ibuku itu pingin segera punya cucu, tapi kamunya nggak pernah bisa kasih,” ucap Agung, lalu menoleh sebentar pada Nayla. Hanya sebentar, sebelum ia berfokus pada layar ponselnya lagi.

Semua perkataan Agung itu kembali menghantam dada Nayla lebih keras dari sebelumnya. Amarahnya kini sudah sampai di ubun-ubun. Tapi ia hanya mengepalkan tangan di balik punggungnya. Tidak ada tenaga untuk melawan suaminya, dan tidak ada keberanian untuk membalas.

Dalam diam, ia hanya mematikan lampu dan berbaring membelakangi suaminya. Nayla memejamkan mata rapat, berharap ia akan tertidur. Namun yang ada, hanya air mata yang menitik jatuh membasahi pipinya.

“Sampai kapan rumah tanggaku akan seperti ini terus? Aku juga ingin bahagia seperti wanita lain," batinnya hancur.

Tiba-tiba, Nayla teringat satu kalimat.

Kalimat yang benar-benar membuatnya duduk, merenung, dan merasa bahwa itu satu-satunya cara untuk membuktikan apakah bagian kehormatannya memang semenjijikkan itu dan mengandung penyakit.

Ucapan Dokter Naufal kemaren, 'Satu-satunya cara adalah mencobanya dan aku siap menanggung resikonya.' masih terngiang di benak Nayla.

Ini memang kurang etis.

Ini memang menyalahi aturan profesional.

Namun, istri mana yang tidak frustasi selalu dicap menjijikkan oleh suami sendiri, bahkan suami enggan untuk menyentuh.

Ah, apa salahnya juga dicoba, biar sekalian dia punya bukti bahwa suaminya hanya pilih-pilih wanita!

*

Pagi ini, suara keras seseorang di ruang tamu membuat Nayla terbangun. Ia beranjak, dan melihat Agung yang sudah tak ada di ranjang.

Bergegas ia mencuci muka dan pergi ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Seketika matanya membulat saat melihat sosok wanita paruh baya di sana.

“Ibu?”

Ia terperanjat melihat Bu Tami-mertuanya-yang sudah duduk manis di sofa, lengkap dengan tas tangan mewahnya. Nayla keheranan, karena tak biasanya ibu mertuanya itu datang ke rumah mereka, apalagi pagi-pagi sekali seperti ini.

"Ibu, sudah lama datangnya?” tanya Nayla dengan sopan, dan mencium tangan mertuanya itu.

“Baru saja. Oh iya, bagus karena kamu sudah bangun, Nay. Ibu mau bicara.”

"Mau bicara apa sih, Bu?” tanya Agung yang berdiri di samping ibunya dengan wajah datar.

“Agung, Nayla itu harus periksa lagi ke dokter. Dia nggak bisa begini terus,” ujar Bu Tami tegas.

“Percuma, Bu,” potong Agung dingin. “Dia itu mandul. Nggak bakalan bisa punya anak.”

Degh!

Detak jantung Nayla rasanya berhenti. Kata itu diucapkan Agung dengan sangat ringan, seolah sedang membicarakan sebuah barang rusak.

Nayla refleks menunduk. Matanya bergetar. Ia ingin menangis saat ini juga. Bu Tami menghela napas panjang, seraya menatap Agung dan Nayla secara bergantian.

“Makanya itu harus diperiksa. Ibu nggak mau pernikahan ini cuma jalan di tempat. Sudah enam bulan kalian menikah, tapi belum ada kabar baik. Lihat itu teman-temanmu, Agung. Baru nikah tujuh bulan, tapi sudah pada punya anak.”

"Itu mah hamil duluan, Bu.” Agung memutar bola matanya malas.

"Tapi kan jelas mereka bisa punya anak. Nggak harus nunggu lama seperti kalian.”

“Oh iya, Ibu punya rekomendasi dokter yang cocok buat kalian berdua,” ujar Bu Tami tiba-tiba.

“Siapa?" tanya Nayla lirih.

"Dokter Naufal Mahendra.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    10. Tega Kamu, Mas!

    “Astaga, kalian …?” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nayla yang bergetar, dan nyaris tak bersuara.Dini tersenyum cerah, dan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Nayla yang mendadak pucat.“Iya, Kak Nay, udah datang. Makasih hampersnya. Uang udah aku transfer kemarin ya, Kak?" Dini meraih hampers dari tangan Nayla dengan wajah ceria.Nayla tak menjawab dan hanya mengangguk pelan."Oh iya, Kak Nay kenalin,” ucap Dini ringan, sambil menoleh ke pria di depannya. “Ini calon suamiku.”Pria itu berdiri pelan. Dan saat wajahnya terlihat jelas, dunia Nayla benar-benar seperti runtuh dalam satu detik. Napasnya tercekat.“Mas Agung?” suara Nayla bergetar.Pria itu membelalak. Tubuhnya serasa membeku. Mata mereka bertemu, penuh keterkejutan yang sama, tapi dengan makna yang sangat berbeda.Nayla menggeleng pelan. Itu suaminya. Suami yang masih sah secara hukum. Dan kini, dia duduk di hadapan wanita lain, dengan sebutan sebagai calon suami Dini.Ekspresi Agung berubah tegang.“

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    9. Astaga, Kalian?

    “Ternyata kamu benar. Ini memang buket yang spesial,” kata Dokter Naufal, membuat gadis cantik itu membuka matanya cepat. Dokter Naufal berhenti sejenak, lalu menatap tajam pada Nayla. “Buket ini terlalu spesial … untuk orang yang alergi mawar,” tambahnya datar. "Tapi aku tidak tahu kalau Dokter alergi mawar!” Nayla mulai cemas, kalau-kalau Dokter Naufal akan menuntut dia dan floristnya ke ranah hukum. "Kalau begitu, ambilkan aku buket yang lain. Cepat!” bentak Dokter Naufal. "I … iya." Dengan tergesa-gesa, Nayla mengambilkan buket bunga yang lain. Kali ini bukan mawar, tapi bunga peony yang tak kalah cantik dari mawar tadi. Nayla gemetar, tapi ia memberikan buket itu dengan hati-hati pada Dokter Naufal. “Ini buketnya." Dokter Naufal meraih buket dengan kasar. Ia melihat harga yang tertera di sana. Tanpa berlama-lama, diambilnya beberapa lembar uang seratus ribuan dan ia letakkan di atas meja kasir. “Pelayanan di florist ini sangat buruk. Tempat ini layak dapat rating bin

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    8. Ada Perasaan yang Tak Asing

    “Kamu? Dokter Naufal?" Suara Nayla rasanya tercekat di tenggorokan. Matanya membulat lebar. Ia tak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi setelah kejadian di klinik waktu itu. "Hmm, saya ingin pesan buket,” ucap Dokter Naufal dengan nada datar. Pria itu masih sama saja seperti sebelumnya. Ia tetap dingin, acuh, dan bahkan seperti tak mengenal Nayla sama sekali. Entahlah, mungkin karena ia memang menjalankan profesionalitasnya sebagai seorang dokter. Dan baginya, Nayla hanyalah pasien biasa seperti pasien-pasien yang lain. Berbeda dengan Nayla yang selalu deg-degan setiap melihat Dokter Naufal, karena baginya dokter itu adalah yang pertama yang sudah menjamah miliknya. "Apa kamu tidak dengar? Saya mau beli buket.” Ucapan Dokter Naufal dengan nada yang lebih tinggi, membuat Nayla tersentak kaget. Cepat-cepat ia mengangkat wajahnya yang tampak sedikit memucat. "I … iya. Silahkan,” angguk Nayla cepat, ia berusaha menenangkan diri dan mengatur detak jantungnya yang kencang.

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    7. Nayla dan Fantasi Liarnya

    “Yang apa, hah?" Suara Agung meninggi. "Kamu jangan kebanyakan bicara ya! Pokoknya aku nggak mau tau. Kamu harus tanda tangani surat cerai itu.” "Mas, aku nggak mau kita cerai!” Nayla menggeleng cepat, air matanya sudah semakin deras. "Aku nggak peduli, Nay. Aku bersyukur karena selama enam bulan nikah, aku nggak pernah sentuh kamu sejak malam pertama. Dan semua gara-gara penyakit kamu yang menjijikkan itu. Ternyata firasatku bener, kamu itu pasti terlalu sering main dan gonta-ganti laki-laki," tuduh Agung sekenanya. Ucapan itu kembali menghantam hati Nayla tanpa ampun. Bulir bening di matanya semakin menggenang. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap wajah suami yang dulu dicintainya, kini seolah berubah menjadi monster paling kejam. “Mas, tuduhan kamu itu semuanya salah. Itu bukan salahku. Aku sakit dan saat ini aku lagi berobat.” Nayla memberanikan diri membalas, meskipun suaranya sudah serak dan bergetar. “Aku nggak yakin kalau dokter rekomendasi ibu itu bisa menyembuhkan kam

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu?”Ia terkejut karena melihat kursi tempat duduk Bu Tami tadi ternyata sudah kosong. Tasnya pun juga tidak ada. Ia melihat ke sekeliling, tapi tetap saja mertuanya itu tak ada di sana.“Loh, Mbak. Ibu saya dimana?" tanya Nayla pada resepsionis.Resepsionis itu hanya tersenyum sopan dan mengangguk pelan.“Maaf, Nyonya. Ibu yang tadi bilang kalau ada urusan mendadak. Jadi beliau pulang lebih dulu. Katanya Nyonya bisa pulang sendiri.”"Apa?” kaki Nayla rasanya lemas.Ia terdiam, tak menyangka jika mertuanya akan meninggalkannya di sana begitu saja. Rasa kesal mulai naik ke dadanya. Dari tadi ia merasa dipaksa, ditekan, dipermainkan, dan sekarang ditinggalkan tanpa sepatah kata pun.“Ibu benar-b

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhnya dan menyadari jika dirinya sudah berbaring di atas brankar. Pandangannya beralih pada Dokter Naufal yang kini sedang berdiri di hadapannya.Jas putih dokter itu masih rapi. Tangannya berada di pergelangan tangan Nayla, tengah memeriksa denyut nadi.“Apa yang Dokter lakukan?” Suara Nayla bergetar.“Aku hanya menolongmu. Tadi tekanan darahmu turun,” katanya dengan profesional. “Kamu shock.”“Ahh!" Nayla mencoba bangkit, tapi kepalanya masih berat. Dokter Naufal menahan bahunya dengan cepat.“Jangan dulu. Tarik napas perlahan.”Nayla mengangguk dan menurut. Sentuhan itu rasanya terlalu hangat untuk sekadar sentuhan medis.“Untuk terapi keputihan abnormalmu, ada prosedur stimulasi sirkulasi p

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status