LOGIN“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar.
"Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga menunggu momen ini. Nayla ragu sejenak. Tapi ia tak punya pilihan lain. Penyakit ini sudah merenggut hidupnya yang menyenangkan, dan ia tak ingin terus dibayangi hal mengerikan itu. Jadi mau tak mau, Nayla terpaksa setuju. "Baiklah kalau begitu. Aku bersedia.” Dengan tangan gemetar, Nayla akhirnya menuruti instruksi itu. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan membuka kedua kakinya. Wajahnya berpaling ke arah dinding, serta matanya terpejam rapat-rapat. Dokter Naufal menghela nafas panjang. Ia kembali menghampiri Nayla dan berdiri di posisi pemeriksaan yang sangat dekat dengan gadis itu. Untuk sesaat, ia tersenyum saat melihat milik Nayla yang ternyata masih sangat ranum, pertanda kalau wanita itu aslinya sehat-sehat aja.Namun, sebagai seorang dokter, ia tidak boleh menunjukkan karakternya sekarang dan harus tetap profesional. Setidaknya, sampai Nayla nyaman dengannya lebih dulu.
Lagipula, Naufal tahu kalau Nayla adalah teman lamanya dulu, dilihat dari tanda yang ada di paha bawah Nayla. Namun, ia tetap berusaha menyembunyikan itu, sengaja agar Nayla nyaman dengan ke-profesionalan ini.
“Saya akan lakukan pemeriksaan manual singkat. Kalau terasa nyeri berlebihan, bilang saja,” katanya tegas, dan hanya dijawab dengan anggukan cepat oleh Nayla. Pria itu mengenakan sarung tangan medis dan mulai memeriksa dengan hati-hati. Ia mulai memasukkan jarinya ke dalam milik Nayla. “Mmhh." Nayla mendesis kecil, ketika jari Dokter Naufal baru saja menyentuh bibir miliknya. "Tetap rileks!” perintah dokter itu lagi, membuat Nayla berusaha untuk diam. Jari-jari Dokter Naufal bergerak perlahan mengikuti prosedur standar. Otot-otot di tubuh Nayla rasanya langsung menegang. Rasa tidak nyaman menjalar, membuatnya refleks menarik napas pendek. “Jangan ditahan,” ujar Dokter Naufal cepat. “Tarik nafas dan hembuskan pelan. Kalau kamu tegang, rasa nyerinya justru makin kuat.” “Akh!" Nayla menggigit bibirnya untuk menahan rasa itu. Ia hampir meminta pemeriksaan itu dihentikan. Tubuhnya bereaksi keras. Bukan hanya karena rasa perih, tapi juga karena rasa canggung. Sebab selama ini miliknya belum pernah dijamah oleh laki-laki mana pun. Melihat ekspresi wajah Nayla, Dokter Naufal menghentikan gerakannya sejenak. “Kita jeda sebentar,” katanya. "Reaksinya menunjukkan otot dasar panggul kamu sangat tegang. Itu bisa karena nyeri kronis atau trauma.” Ia menunggu sampai napas Nayla sedikit lebih teratur, lalu melanjutkan dengan lebih singkat. Wajahnya tampak tegang, dan rahangnya mengeras. Ia jelas berusaha keras menjaga profesionalitasnya. Setelah selesai, ia menarik tangannya dan langsung menjauh. “Kamu bisa tutup kembali,” katanya. Dengan cepat, Nayla segera menutup kakinya dan duduk perlahan. Tangannya terasa berkeringat dingin, dadanya naik turun tidak stabil. Ia merasa tubuhnya benar-benar bermasalah. “Dok,” suaranya bergetar. “Apa saya masih bisa punya anak?” Pertanyaan itu keluar begitu saja. Ia takut jika kemungkinan terburuk itu akan dia alami. Dokter Naufal duduk di kursi berjarak aman darinya. Ia melepas sarung tangan dan membuangnya ke tempat sampah. “Dari pemeriksaan awal, saya curiga ada peradangan yang sudah cukup lama. Bisa karena infeksi bakteri atau jamur yang tidak tertangani tuntas,” katanya pelan dan serius, tanpa menoleh sedikit pun pada Nayla. “Peradangan kronis bisa membuat jaringan menjadi sensitif dan mudah nyeri. Kalau dibiarkan, memang berisiko naik ke organ reproduksi bagian dalam,” lanjutnya lagi. “Artinya?” Nayla menelan ludah. Entah kenapa penjelasan itu terasa sangat menakutkan, meskipun ia belum tahu jelas bagaimana maksudnya. “Artinya kamu butuh pemeriksaan lanjutan. Tes laboratorium, mungkin USG transvaginal, dan pengobatan terarah. Tidak bisa hanya dari obat luar.” Ia menatap Nayla lekat-lekat. “Kita harus pastikan ini belum berdampak ke rahim. Kalau ditangani sekarang, peluang kesuburan itu masih ada.” Nayla terdiam lama. Rasa ragu menguasainya. Tapi dia tak punya pilihan lain kan? “Iya. Aku … aku mau lanjut,” katanya akhirnya dengan suara yang nyaris berbisik. “Baik,” jawab Dokter Naufal singkat. “Saya jadwalkan kontrol dua hari lagi. Kamu bisa datang ke sini.” "Iya, Dok. Terima kasih.” Nayla mengangguk canggung.Namun, belum sempat Nayla bangkit dari ranjang periksa, sang dokter kembali berkata, yang sekaligus membuatnya terkejut bukan main.
"Sebenarnya, ada cara yang lebih mudah, yaitu berhubungan badan langsung. Mengingat suamimu tidak bisa, maka..." Dokter Naufal tidak melanjutkan kalimatnya.
"Maka? Gimana, Dok?" Nayla masih menuntut penjelasan lanjutan. "Dok, katakan saja!"
"Aku siap jadi penggantinya, meski itu beresiko buatku."
Deg!
Nayla hanya bisa ternganga. Pengobatan sudah pasti mahal, apalagi harus terapi beberapa kali, kotnrol lagi dan lagi.
Memang ada cara cepat yang hemat uang. Meski beresiko, dokter tampan di hadapannya mau menerimanya. Namun, apa ini etis?
Karena sudah tidak bisa berpikir jernih, Nayla mengangkat wajah, menatap ke arah Dokter Naufal. Dan tanpa diduga, dokter itu juga sedang melirik ke arahnya.
Pandangan mata mereka saling beradu, membuat keduanya segera memalingkan wajah. Suasana canggung terasa kuat menguasai mereka dan ruangan itu. * Nayla memutuskan segera pulang ke rumah. Sepanjang jalan, ia sudah memikirkan banyak hal. Ia bahkan sudah tak terlalu fokus menatap jalanan yang dilalui oleh motor maticnya. "Aku harus cerita sama Mas Agung tentang hasil pemeriksaan tadi. Bagaimana pun dia harus tau, kalau kondisiku ini murni karena penyakit. Bukan karena aku sering gonta-ganti pasangan seperti yang selama ini dia tuduhkan." Setibanya di rumah, Nayla membuka pintu. Ia melihat Agung, suaminya yang berwajah pas-pasan itu, sedang asyik ngemil sambil memainkan ponselnya di sofa ruang tamu. “Mas, aku mau bicara," ujar Nayla ketika ia telah berdiri di sebelah Agung. "Hm, bicara aja,” sahut Agung tanpa menoleh sedikit pun. Matanya tetap fokus menatap layar ponsel dengan posisi rebahan. "Mas, tadi aku udah periksa ke dokter. Katanya aku harus segera dapat penanganan. Penyakitku ini hanya keputihan abnormal, dan bukan karena gonta-ganti pasangan seperti yang sering kamu tuduhkan itu." “Ya, terus?" “Aku harus tetap rutin menjalani pengobatan ini, Mas. Kalau enggak, kita bakalan susah punya anak.” "Ya.” “Mas, kamu dengar aku nggak sih?" Nayla meraih ponsel milik Agung dengan paksa. Karena ponselnya dirampas, Agung pun emosi. Ia bangkit dari sofa dan kembali merebut paksa hp miliknya. "Nayla, kamu jangan kurang ajar ya! Hp itu privasi! Kamu nggak boleh sembarangan rebut-rebut hp aku seperti ini," bentak Agung murka. “Kamu tuh diajak bicara serius malah cuek, Mas. Kamu malah asyik nonton cewek-cewek Toktok yang lagi pargoy itu!" “Bodo amat! Karena selama ini kamu juga nggak bisa puasin aku, maka jangan salahkan kalau aku cari kepuasan sendiri!"“Astaga, kalian …?” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nayla yang bergetar, dan nyaris tak bersuara.Dini tersenyum cerah, dan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Nayla yang mendadak pucat.“Iya, Kak Nay, udah datang. Makasih hampersnya. Uang udah aku transfer kemarin ya, Kak?" Dini meraih hampers dari tangan Nayla dengan wajah ceria.Nayla tak menjawab dan hanya mengangguk pelan."Oh iya, Kak Nay kenalin,” ucap Dini ringan, sambil menoleh ke pria di depannya. “Ini calon suamiku.”Pria itu berdiri pelan. Dan saat wajahnya terlihat jelas, dunia Nayla benar-benar seperti runtuh dalam satu detik. Napasnya tercekat.“Mas Agung?” suara Nayla bergetar.Pria itu membelalak. Tubuhnya serasa membeku. Mata mereka bertemu, penuh keterkejutan yang sama, tapi dengan makna yang sangat berbeda.Nayla menggeleng pelan. Itu suaminya. Suami yang masih sah secara hukum. Dan kini, dia duduk di hadapan wanita lain, dengan sebutan sebagai calon suami Dini.Ekspresi Agung berubah tegang.“
“Ternyata kamu benar. Ini memang buket yang spesial,” kata Dokter Naufal, membuat gadis cantik itu membuka matanya cepat. Dokter Naufal berhenti sejenak, lalu menatap tajam pada Nayla. “Buket ini terlalu spesial … untuk orang yang alergi mawar,” tambahnya datar. "Tapi aku tidak tahu kalau Dokter alergi mawar!” Nayla mulai cemas, kalau-kalau Dokter Naufal akan menuntut dia dan floristnya ke ranah hukum. "Kalau begitu, ambilkan aku buket yang lain. Cepat!” bentak Dokter Naufal. "I … iya." Dengan tergesa-gesa, Nayla mengambilkan buket bunga yang lain. Kali ini bukan mawar, tapi bunga peony yang tak kalah cantik dari mawar tadi. Nayla gemetar, tapi ia memberikan buket itu dengan hati-hati pada Dokter Naufal. “Ini buketnya." Dokter Naufal meraih buket dengan kasar. Ia melihat harga yang tertera di sana. Tanpa berlama-lama, diambilnya beberapa lembar uang seratus ribuan dan ia letakkan di atas meja kasir. “Pelayanan di florist ini sangat buruk. Tempat ini layak dapat rating bin
“Kamu? Dokter Naufal?" Suara Nayla rasanya tercekat di tenggorokan. Matanya membulat lebar. Ia tak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi setelah kejadian di klinik waktu itu. "Hmm, saya ingin pesan buket,” ucap Dokter Naufal dengan nada datar. Pria itu masih sama saja seperti sebelumnya. Ia tetap dingin, acuh, dan bahkan seperti tak mengenal Nayla sama sekali. Entahlah, mungkin karena ia memang menjalankan profesionalitasnya sebagai seorang dokter. Dan baginya, Nayla hanyalah pasien biasa seperti pasien-pasien yang lain. Berbeda dengan Nayla yang selalu deg-degan setiap melihat Dokter Naufal, karena baginya dokter itu adalah yang pertama yang sudah menjamah miliknya. "Apa kamu tidak dengar? Saya mau beli buket.” Ucapan Dokter Naufal dengan nada yang lebih tinggi, membuat Nayla tersentak kaget. Cepat-cepat ia mengangkat wajahnya yang tampak sedikit memucat. "I … iya. Silahkan,” angguk Nayla cepat, ia berusaha menenangkan diri dan mengatur detak jantungnya yang kencang.
“Yang apa, hah?" Suara Agung meninggi. "Kamu jangan kebanyakan bicara ya! Pokoknya aku nggak mau tau. Kamu harus tanda tangani surat cerai itu.” "Mas, aku nggak mau kita cerai!” Nayla menggeleng cepat, air matanya sudah semakin deras. "Aku nggak peduli, Nay. Aku bersyukur karena selama enam bulan nikah, aku nggak pernah sentuh kamu sejak malam pertama. Dan semua gara-gara penyakit kamu yang menjijikkan itu. Ternyata firasatku bener, kamu itu pasti terlalu sering main dan gonta-ganti laki-laki," tuduh Agung sekenanya. Ucapan itu kembali menghantam hati Nayla tanpa ampun. Bulir bening di matanya semakin menggenang. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap wajah suami yang dulu dicintainya, kini seolah berubah menjadi monster paling kejam. “Mas, tuduhan kamu itu semuanya salah. Itu bukan salahku. Aku sakit dan saat ini aku lagi berobat.” Nayla memberanikan diri membalas, meskipun suaranya sudah serak dan bergetar. “Aku nggak yakin kalau dokter rekomendasi ibu itu bisa menyembuhkan kam
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu?”Ia terkejut karena melihat kursi tempat duduk Bu Tami tadi ternyata sudah kosong. Tasnya pun juga tidak ada. Ia melihat ke sekeliling, tapi tetap saja mertuanya itu tak ada di sana.“Loh, Mbak. Ibu saya dimana?" tanya Nayla pada resepsionis.Resepsionis itu hanya tersenyum sopan dan mengangguk pelan.“Maaf, Nyonya. Ibu yang tadi bilang kalau ada urusan mendadak. Jadi beliau pulang lebih dulu. Katanya Nyonya bisa pulang sendiri.”"Apa?” kaki Nayla rasanya lemas.Ia terdiam, tak menyangka jika mertuanya akan meninggalkannya di sana begitu saja. Rasa kesal mulai naik ke dadanya. Dari tadi ia merasa dipaksa, ditekan, dipermainkan, dan sekarang ditinggalkan tanpa sepatah kata pun.“Ibu benar-b
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhnya dan menyadari jika dirinya sudah berbaring di atas brankar. Pandangannya beralih pada Dokter Naufal yang kini sedang berdiri di hadapannya.Jas putih dokter itu masih rapi. Tangannya berada di pergelangan tangan Nayla, tengah memeriksa denyut nadi.“Apa yang Dokter lakukan?” Suara Nayla bergetar.“Aku hanya menolongmu. Tadi tekanan darahmu turun,” katanya dengan profesional. “Kamu shock.”“Ahh!" Nayla mencoba bangkit, tapi kepalanya masih berat. Dokter Naufal menahan bahunya dengan cepat.“Jangan dulu. Tarik napas perlahan.”Nayla mengangguk dan menurut. Sentuhan itu rasanya terlalu hangat untuk sekadar sentuhan medis.“Untuk terapi keputihan abnormalmu, ada prosedur stimulasi sirkulasi p