Compartilhar

Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!
Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!
Autor: Mas Author

1. Ah, Sakit, Dok!

Autor: Mas Author
last update Última atualização: 2026-03-02 07:25:11

"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!"

Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana.

“Kemana Dokter Lusi? Kenapa belum datang juga?" Ia menunggu Dokter Lusi yang biasanya menangani dia di ruangan ini.

Sudah sekitar 15 menit Nayla menunggu. Ia sudah dalam posisi mengangkang. Kedua kakinya terbuka lebar, karena dia sudah tak tahan lagi dengan penyakitnya. Tubuhnya terasa semakin tidak nyaman, perih dan nyeri yang ia tahan sejak tadi mulai tak tertahankan.

Ketika gadis itu sedang gelisah dan hendak bangkit, tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka. Nayla menoleh cepat, dan refleks menutup kedua kakinya. Ia kembali berbaring dengan gugup.

Suara langkah sepatu mendekat melalui ambang pintu. Siluet seseorang terlihat masuk, membuat Nayla menunggu dengan harap-harap cemas.

"Sudah lama menunggu?”

Suara itu membuat Nayla memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah pintu. Matanya membulat, ketika melihat seseorang masuk dan mendekat ke arahnya.

Bukan Dokter Lusi atau dokter wanita lainnya, tetapi seorang pria yang masih sangat muda. Usianya mungkin baru sekitar 33 tahun.

Nayla pun spontan menegakkan tubuhnya. Tangannya refleks menarik kain penutup hingga menutup pangkal pahanya rapat-rapat. Ketika ia tahu bahwa sang dokter menatap bagian bawahnya, seketika wajah Nayla memanas dan napasnya tak lagi teratur.

“Maaf. Tapi Dokter Lusi ke mana? Biasanya beliau yang periksa saya," kata Nayla dengan suara lirih dan nyaris berbisik.

Pria itu berhenti di sisi ranjang dan menjaga jarak satu langkah penuh. Ia menatap singkat pada Nayla. Tatapannya datar dan dingin seperti kutub utara.

“Dokter Lusi sedang cuti melahirkan,” jawabnya singkat. “Jadi hari ini jadwal pemeriksaan dialihkan ke saya. Saya Dokter Naufal Mahendra. Dan mulai sekarang, saya yang akan menangani kondisi kamu."

“Apa?"

Kata-kata Dokter Naufal meluncur begitu saja tanpa basa-basi. Namun, justru itu yang membuat Nayla semakin canggung.

“A-aku … kalau begitu, saya mau batal pemeriksaan saja,” ucapnya cepat.

Nayla hendak turun dari ranjang, meski kedua kakinya terasa gemetar. Namun, tiba-tiba rasa perih itu kembali menyerang, bahkan kali ini lebih sakit daripada sebelumnya.

“Akhh!"

Sensasi panas menjalar, membuat tubuhnya refleks menegang. Nayla sontak terhenti. Ia menahan napas, berusaha menahan rasa sakit yang membuat sudut matanya kini terasa basah.

Dokter Naufal memperhatikan tingkah gadis itu dari jarak aman. Sikapnya tetap profesional, meski ekspresi di wajahnya sedikit menegang.

“Kondisimu sedang tidak baik. Menunda pemeriksaan justru bisa memperparah keadaanmu," kata sang Dokter, datar.

Lalu, dokter menunjuk ke arah pintu dengan isyarat singkat. “Ruangan ini steril dan privat. Tidak ada orang lain yang akan masuk.”

Kalimat itu semakin tidak menenangkan. Justru membuat Nayla semakin sadar, bahwa kini ia hanya berdua dengan seorang dokter pria. Rasa malu dan trauma yang selama ini ia tahan, kini rasanya benar-benar akan meledak.

Pandangan Nayla perlahan berkabut. Ia menelan saliva yang terasa kering di tenggorokan. Kedua tangannya meremas tepian sprei dengan kuat.

“Keputihan kamu ini sudah masuk kategori abnormal.”

Ucapan Dokter Lusi dulu kembali terngiang jelas di kepalanya. Wanita itu duduk di hadapannya sambil menatap hasil pemeriksaan dengan wajah serius.

“Bukan cuma karena hormon,” lanjut dokter perempuan itu. “Tapi ada peradangan di area dalam. Makanya sering perih, panas, dan sensitif. Kalau dibiarkan, nanti bisa makin parah.”

Saat itu Nayla hanya bisa mengangguk pasrah, menahan rasa malu yang membakar dadanya.

“Kamu terlalu sering berhubungan intim dengan suamimu?”

Suara datar Dokter Naufal membuyarkan lamunannya. Nayla tersentak, dan refleks menggeleng pelan.

“Tidak."

Pertanyaan itu seperti menampar sesuatu yang sudah lama ia pendam. Enam bulan pernikahan, tapi sentuhan dari suaminya tak pernah ia dapatkan. Bahkan tatapan darinya pun sering dihindari.

Ia teringat bagaimana suaminya selalu menjaga jarak. Seolah tubuhnya adalah sesuatu yang kotor dan harus dijauhi.

Penyakit ini jelas bukan karena terlalu sering disentuh. Karena justru ia tak pernah disentuh sama sekali. Namun, penyakit inilah yang perlahan merusak kepercayaan dirinya dan menghancurkan rumah tangganya.

“Baiklah,” ucap Dokter Naufal singkat, seolah mencatat sesuatu dalam pikirannya.

Ia lalu menjelaskan dengan nada tenang dan profesional, tanpa emosi berlebih di wajahnya.

“Keputihan abnormal seperti yang kamu alami tidak selalu sederhana. Kadang hanya infeksi ringan. Tapi ada juga kasus di mana itu merupakan tanda peradangan yang sudah berlangsung lama.”

Tubuh Nayla semakin menegang. Jarinya mencengkeram tepian ranjang dengan kuat.

“Kalau dibiarkan tanpa pemeriksaan lanjutan, maka infeksi bisa menyebar ke bagian dalam. Itu bisa mempengaruhi rahim dan saluran reproduksi.” Ia berhenti sejenak, memastikan kalau Nayla masih mendengarkan.

“Dalam kondisi tertentu, risiko jangka panjangnya adalah gangguan kesuburan. Kamu bisa kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu.”

"Apa?” Kata-kata itu menghantam Nayla, membuat dadanya terasa sesak.

“Dan meskipun jarang, tapi kami juga perlu menyingkirkan kemungkinan infeksi bakteri tertentu yang gejalanya mirip. Termasuk beberapa penyakit yang sering tidak disadari oleh penderitanya.”

“Karena itu, saya tidak bisa menyimpulkan hanya dari keluhan luar. Pemeriksaan ini penting supaya mendapat penanganan yang tepat.” Dokter Naufal menatap Nayla, tetap dengan jarak yang sama seperti tadi.

"Lalu … apa yang harus saya lakukan, Dok? Saya masih ingin bisa jadi seorang ibu.” Nayla menggeleng nyaris frustasi, matanya mendadak mulai basah.

“Keputusan ada di kamu,” kata Dokter Naufal dengan nada dinginnya.

“Tapi kalau kamu mau lanjut, maka …." Ia memberi instruksi singkat.

“Kamu harus buka kakimu.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    10. Tega Kamu, Mas!

    “Astaga, kalian …?” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nayla yang bergetar, dan nyaris tak bersuara.Dini tersenyum cerah, dan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Nayla yang mendadak pucat.“Iya, Kak Nay, udah datang. Makasih hampersnya. Uang udah aku transfer kemarin ya, Kak?" Dini meraih hampers dari tangan Nayla dengan wajah ceria.Nayla tak menjawab dan hanya mengangguk pelan."Oh iya, Kak Nay kenalin,” ucap Dini ringan, sambil menoleh ke pria di depannya. “Ini calon suamiku.”Pria itu berdiri pelan. Dan saat wajahnya terlihat jelas, dunia Nayla benar-benar seperti runtuh dalam satu detik. Napasnya tercekat.“Mas Agung?” suara Nayla bergetar.Pria itu membelalak. Tubuhnya serasa membeku. Mata mereka bertemu, penuh keterkejutan yang sama, tapi dengan makna yang sangat berbeda.Nayla menggeleng pelan. Itu suaminya. Suami yang masih sah secara hukum. Dan kini, dia duduk di hadapan wanita lain, dengan sebutan sebagai calon suami Dini.Ekspresi Agung berubah tegang.“

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    9. Astaga, Kalian?

    “Ternyata kamu benar. Ini memang buket yang spesial,” kata Dokter Naufal, membuat gadis cantik itu membuka matanya cepat. Dokter Naufal berhenti sejenak, lalu menatap tajam pada Nayla. “Buket ini terlalu spesial … untuk orang yang alergi mawar,” tambahnya datar. "Tapi aku tidak tahu kalau Dokter alergi mawar!” Nayla mulai cemas, kalau-kalau Dokter Naufal akan menuntut dia dan floristnya ke ranah hukum. "Kalau begitu, ambilkan aku buket yang lain. Cepat!” bentak Dokter Naufal. "I … iya." Dengan tergesa-gesa, Nayla mengambilkan buket bunga yang lain. Kali ini bukan mawar, tapi bunga peony yang tak kalah cantik dari mawar tadi. Nayla gemetar, tapi ia memberikan buket itu dengan hati-hati pada Dokter Naufal. “Ini buketnya." Dokter Naufal meraih buket dengan kasar. Ia melihat harga yang tertera di sana. Tanpa berlama-lama, diambilnya beberapa lembar uang seratus ribuan dan ia letakkan di atas meja kasir. “Pelayanan di florist ini sangat buruk. Tempat ini layak dapat rating bin

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    8. Ada Perasaan yang Tak Asing

    “Kamu? Dokter Naufal?" Suara Nayla rasanya tercekat di tenggorokan. Matanya membulat lebar. Ia tak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi setelah kejadian di klinik waktu itu. "Hmm, saya ingin pesan buket,” ucap Dokter Naufal dengan nada datar. Pria itu masih sama saja seperti sebelumnya. Ia tetap dingin, acuh, dan bahkan seperti tak mengenal Nayla sama sekali. Entahlah, mungkin karena ia memang menjalankan profesionalitasnya sebagai seorang dokter. Dan baginya, Nayla hanyalah pasien biasa seperti pasien-pasien yang lain. Berbeda dengan Nayla yang selalu deg-degan setiap melihat Dokter Naufal, karena baginya dokter itu adalah yang pertama yang sudah menjamah miliknya. "Apa kamu tidak dengar? Saya mau beli buket.” Ucapan Dokter Naufal dengan nada yang lebih tinggi, membuat Nayla tersentak kaget. Cepat-cepat ia mengangkat wajahnya yang tampak sedikit memucat. "I … iya. Silahkan,” angguk Nayla cepat, ia berusaha menenangkan diri dan mengatur detak jantungnya yang kencang.

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    7. Nayla dan Fantasi Liarnya

    “Yang apa, hah?" Suara Agung meninggi. "Kamu jangan kebanyakan bicara ya! Pokoknya aku nggak mau tau. Kamu harus tanda tangani surat cerai itu.” "Mas, aku nggak mau kita cerai!” Nayla menggeleng cepat, air matanya sudah semakin deras. "Aku nggak peduli, Nay. Aku bersyukur karena selama enam bulan nikah, aku nggak pernah sentuh kamu sejak malam pertama. Dan semua gara-gara penyakit kamu yang menjijikkan itu. Ternyata firasatku bener, kamu itu pasti terlalu sering main dan gonta-ganti laki-laki," tuduh Agung sekenanya. Ucapan itu kembali menghantam hati Nayla tanpa ampun. Bulir bening di matanya semakin menggenang. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap wajah suami yang dulu dicintainya, kini seolah berubah menjadi monster paling kejam. “Mas, tuduhan kamu itu semuanya salah. Itu bukan salahku. Aku sakit dan saat ini aku lagi berobat.” Nayla memberanikan diri membalas, meskipun suaranya sudah serak dan bergetar. “Aku nggak yakin kalau dokter rekomendasi ibu itu bisa menyembuhkan kam

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu?”Ia terkejut karena melihat kursi tempat duduk Bu Tami tadi ternyata sudah kosong. Tasnya pun juga tidak ada. Ia melihat ke sekeliling, tapi tetap saja mertuanya itu tak ada di sana.“Loh, Mbak. Ibu saya dimana?" tanya Nayla pada resepsionis.Resepsionis itu hanya tersenyum sopan dan mengangguk pelan.“Maaf, Nyonya. Ibu yang tadi bilang kalau ada urusan mendadak. Jadi beliau pulang lebih dulu. Katanya Nyonya bisa pulang sendiri.”"Apa?” kaki Nayla rasanya lemas.Ia terdiam, tak menyangka jika mertuanya akan meninggalkannya di sana begitu saja. Rasa kesal mulai naik ke dadanya. Dari tadi ia merasa dipaksa, ditekan, dipermainkan, dan sekarang ditinggalkan tanpa sepatah kata pun.“Ibu benar-b

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhnya dan menyadari jika dirinya sudah berbaring di atas brankar. Pandangannya beralih pada Dokter Naufal yang kini sedang berdiri di hadapannya.Jas putih dokter itu masih rapi. Tangannya berada di pergelangan tangan Nayla, tengah memeriksa denyut nadi.“Apa yang Dokter lakukan?” Suara Nayla bergetar.“Aku hanya menolongmu. Tadi tekanan darahmu turun,” katanya dengan profesional. “Kamu shock.”“Ahh!" Nayla mencoba bangkit, tapi kepalanya masih berat. Dokter Naufal menahan bahunya dengan cepat.“Jangan dulu. Tarik napas perlahan.”Nayla mengangguk dan menurut. Sentuhan itu rasanya terlalu hangat untuk sekadar sentuhan medis.“Untuk terapi keputihan abnormalmu, ada prosedur stimulasi sirkulasi p

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status