LOGIN
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!"
Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa belum datang juga?" Ia menunggu Dokter Lusi yang biasanya menangani dia di ruangan ini. Sudah sekitar 15 menit Nayla menunggu. Ia sudah dalam posisi mengangkang. Kedua kakinya terbuka lebar, karena dia sudah tak tahan lagi dengan penyakitnya. Tubuhnya terasa semakin tidak nyaman, perih dan nyeri yang ia tahan sejak tadi mulai tak tertahankan. Ketika gadis itu sedang gelisah dan hendak bangkit, tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka. Nayla menoleh cepat, dan refleks menutup kedua kakinya. Ia kembali berbaring dengan gugup. Suara langkah sepatu mendekat melalui ambang pintu. Siluet seseorang terlihat masuk, membuat Nayla menunggu dengan harap-harap cemas. "Sudah lama menunggu?” Suara itu membuat Nayla memalingkan wajahnya dengan cepat ke arah pintu. Matanya membulat, ketika melihat seseorang masuk dan mendekat ke arahnya. Bukan Dokter Lusi atau dokter wanita lainnya, tetapi seorang pria yang masih sangat muda. Usianya mungkin baru sekitar 33 tahun. Nayla pun spontan menegakkan tubuhnya. Tangannya refleks menarik kain penutup hingga menutup pangkal pahanya rapat-rapat. Ketika ia tahu bahwa sang dokter menatap bagian bawahnya, seketika wajah Nayla memanas dan napasnya tak lagi teratur. “Maaf. Tapi Dokter Lusi ke mana? Biasanya beliau yang periksa saya," kata Nayla dengan suara lirih dan nyaris berbisik. Pria itu berhenti di sisi ranjang dan menjaga jarak satu langkah penuh. Ia menatap singkat pada Nayla. Tatapannya datar dan dingin seperti kutub utara. “Dokter Lusi sedang cuti melahirkan,” jawabnya singkat. “Jadi hari ini jadwal pemeriksaan dialihkan ke saya. Saya Dokter Naufal Mahendra. Dan mulai sekarang, saya yang akan menangani kondisi kamu." “Apa?" Kata-kata Dokter Naufal meluncur begitu saja tanpa basa-basi. Namun, justru itu yang membuat Nayla semakin canggung. “A-aku … kalau begitu, saya mau batal pemeriksaan saja,” ucapnya cepat. Nayla hendak turun dari ranjang, meski kedua kakinya terasa gemetar. Namun, tiba-tiba rasa perih itu kembali menyerang, bahkan kali ini lebih sakit daripada sebelumnya. “Akhh!" Sensasi panas menjalar, membuat tubuhnya refleks menegang. Nayla sontak terhenti. Ia menahan napas, berusaha menahan rasa sakit yang membuat sudut matanya kini terasa basah. Dokter Naufal memperhatikan tingkah gadis itu dari jarak aman. Sikapnya tetap profesional, meski ekspresi di wajahnya sedikit menegang. “Kondisimu sedang tidak baik. Menunda pemeriksaan justru bisa memperparah keadaanmu," kata sang Dokter, datar. Lalu, dokter menunjuk ke arah pintu dengan isyarat singkat. “Ruangan ini steril dan privat. Tidak ada orang lain yang akan masuk.” Kalimat itu semakin tidak menenangkan. Justru membuat Nayla semakin sadar, bahwa kini ia hanya berdua dengan seorang dokter pria. Rasa malu dan trauma yang selama ini ia tahan, kini rasanya benar-benar akan meledak. Pandangan Nayla perlahan berkabut. Ia menelan saliva yang terasa kering di tenggorokan. Kedua tangannya meremas tepian sprei dengan kuat. “Keputihan kamu ini sudah masuk kategori abnormal.” Ucapan Dokter Lusi dulu kembali terngiang jelas di kepalanya. Wanita itu duduk di hadapannya sambil menatap hasil pemeriksaan dengan wajah serius. “Bukan cuma karena hormon,” lanjut dokter perempuan itu. “Tapi ada peradangan di area dalam. Makanya sering perih, panas, dan sensitif. Kalau dibiarkan, nanti bisa makin parah.” Saat itu Nayla hanya bisa mengangguk pasrah, menahan rasa malu yang membakar dadanya. “Kamu terlalu sering berhubungan intim dengan suamimu?” Suara datar Dokter Naufal membuyarkan lamunannya. Nayla tersentak, dan refleks menggeleng pelan. “Tidak." Pertanyaan itu seperti menampar sesuatu yang sudah lama ia pendam. Enam bulan pernikahan, tapi sentuhan dari suaminya tak pernah ia dapatkan. Bahkan tatapan darinya pun sering dihindari. Ia teringat bagaimana suaminya selalu menjaga jarak. Seolah tubuhnya adalah sesuatu yang kotor dan harus dijauhi. Penyakit ini jelas bukan karena terlalu sering disentuh. Karena justru ia tak pernah disentuh sama sekali. Namun, penyakit inilah yang perlahan merusak kepercayaan dirinya dan menghancurkan rumah tangganya. “Baiklah,” ucap Dokter Naufal singkat, seolah mencatat sesuatu dalam pikirannya. Ia lalu menjelaskan dengan nada tenang dan profesional, tanpa emosi berlebih di wajahnya. “Keputihan abnormal seperti yang kamu alami tidak selalu sederhana. Kadang hanya infeksi ringan. Tapi ada juga kasus di mana itu merupakan tanda peradangan yang sudah berlangsung lama.” Tubuh Nayla semakin menegang. Jarinya mencengkeram tepian ranjang dengan kuat. “Kalau dibiarkan tanpa pemeriksaan lanjutan, maka infeksi bisa menyebar ke bagian dalam. Itu bisa mempengaruhi rahim dan saluran reproduksi.” Ia berhenti sejenak, memastikan kalau Nayla masih mendengarkan. “Dalam kondisi tertentu, risiko jangka panjangnya adalah gangguan kesuburan. Kamu bisa kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang ibu.” "Apa?” Kata-kata itu menghantam Nayla, membuat dadanya terasa sesak. “Dan meskipun jarang, tapi kami juga perlu menyingkirkan kemungkinan infeksi bakteri tertentu yang gejalanya mirip. Termasuk beberapa penyakit yang sering tidak disadari oleh penderitanya.” “Karena itu, saya tidak bisa menyimpulkan hanya dari keluhan luar. Pemeriksaan ini penting supaya mendapat penanganan yang tepat.” Dokter Naufal menatap Nayla, tetap dengan jarak yang sama seperti tadi. "Lalu … apa yang harus saya lakukan, Dok? Saya masih ingin bisa jadi seorang ibu.” Nayla menggeleng nyaris frustasi, matanya mendadak mulai basah. “Keputusan ada di kamu,” kata Dokter Naufal dengan nada dinginnya. “Tapi kalau kamu mau lanjut, maka …." Ia memberi instruksi singkat. “Kamu harus buka kakimu.”Dimas masih menatap foto-foto di dalam kotak itu dengan ekspresi tidak percaya. Satu per satu foto tersebut ia lihat kembali. Ada foto ketika dirinya duduk menggunakan kursi roda, foto saat berjalan dengan tongkat, bahkan ada foto ketika ia sedang berbicara dengan Naufal di depan rumah sakit.“Jadi selama ini kamu mengambil semua foto ini?” tanya Dimas seraya mengangkat wajah menatap Shella.“Iya.” Shella mengangguk malu dan memainkan ujung bajunya. “Karena aku suka melihat kamu.”Naufal yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung tertawa. “Gila. Ternyata bukan cuma Dimas yang nekat. Shella juga diam-diam.”“Naufal,” tegur Dimas.“Apa? Aku cuma bilang fakta.”Nayla ikut tertawa. “Aku malah baru tahu kalau Shella ternyata sudah suka sama Kak Dimas sejak lama.”Shella tersenyum kecil. “Aku juga nggak pernah berpikir bakal sampai seperti ini. Awalnya aku cuma kagum. Dimas kelihatan dingin, cuek, keras kepala, dan susah didekati. Tapi setelah aku mengenalnya lebih dekat, aku tahu kalau d
Dimas masih berdiri di hadapan Shella setelah memasangkan cincin itu ke jarinya. Tatapannya beberapa kali jatuh pada cincin tersebut, seolah masih sulit percaya bahwa perempuan yang beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya kini benar-benar menerima lamarannya. Shella juga terus memandangi cincin di jarinya. Air matanya memang belum sepenuhnya kering, tetapi senyum bahagia tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.“Aku masih nggak percaya,” bisik Shella.“Aku juga.” Dimas menatapnya lekat.Shella tertawa kecil. “Kamu yang melamar, tapi malah kamu yang nggak percaya.”“Aku takut kamu berubah pikiran.”“Nggak akan.”Dimas menggenggam tangannya. “Aku serius, Shella.”“Aku juga, Dimas.”Keduanya tersenyum hangat tanpa menyadari bahwa dari balik pintu kaca, Naufal dan Nayla masih berdiri sambil memperhatikan mereka. Naufal bahkan masih belum bisa mencerna keputusan kakaknya yang menurutnya terlalu cepat.“Gila,” gumam Naufal pelan.Nayla menahan tawa. “Jangan bilang gila.”“Dimas itu benar-
Setelah mendapatkan informasi dari Aldo, Naufal pun bergegas menyusul Dimas ke rumah Shella tanpa menunggu lebih lama. Nayla ikut bersamanya karena ingin memastikan sendiri bahwa kakak iparnya itu benar-benar baik-baik saja. Akhirnya mobil Naufal pun berhenti di depan rumah Shella beberapa saat kemudian. Sepanjang perjalanan, Naufal masih mengomel karena Dimas bisa-bisanya menghilang tanpa kabar dan membuat semua orang panik.“Kalau nanti Dimas bilang cuma mau jalan-jalan, aku benar-benar nggak tahu harus ngomong apa. Akan aku kasih pelajaran dia,” gerutu Naufal sambil turun dari mobil.Nayla menahan senyum. “Yang penting Kak Dimas aman.”“Iya. Tapi tetap aja. Semua orang sudah bingung dan keliling mencarinya.”Aldo yang berdiri tidak jauh dari sana hanya tersenyum kecil. “Kakakmu itu memang begitu, Fal. Sangat keras kepala sama sepertimu.”Naufal menatapnya tajam. “Jangan samakan aku dengan dia!”Aldo hanya terkekeh.Mereka bertiga berjalan menuju pintu rumah. Belum sempat mengetuk
Ruang tengah rumah Rianti sudah berubah seperti pusat pencarian. Naufal mondar-mandir sambil terus memegang ponselnya, sementara Rianti duduk dengan wajah pucat dan Nayla berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sejak tadi tidak ada satu pun kabar mengenai Dimas. Ponselnya tidak bisa dihubungi, mobilnya tidak terlihat di sekitar rumah, dan tempat-tempat yang biasa didatangi Dimas juga tidak memberikan jawaban.Naufal akhirnya berhenti berjalan. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum membuka daftar kontak di ponselnya.“Udah. Aku nggak bisa cuma nunggu.”Nayla menatap suaminya. “Kamu mau ngapain?”“Aku akan hubungi semua orang yang mungkin tahu keberadaan Dimas.”Naufal mulai menelepon satu per satu. Bukan hanya teman sesama dokter, tetapi juga anak buah Dimas, orang-orang yang biasa bekerja dengannya, relasi bisnis keluarga, kenalan di rumah sakit, bahkan beberapa orang yang pernah berhubungan dengan Dimas dalam urusan pekerjaan.“Coba kamu cek apakah Dokter Dimas datang ke sana.”“Belum ad
Perjalanan dari desa menuju kota berlangsung cukup tenang. Nayla masih beberapa kali terdiam sambil memandang keluar jendela. Pikirannya masih tertuju pada Laras dan Hendra yang harus kehilangan ibu tepat setelah pernikahan mereka.“Masih kepikiran Laras?” tanya Naufal.Nayla mengangguk. “Iya. Kasihan Laras. Kemarin dia menikah, hari ini harus kehilangan ibunya.”Naufal menggenggam tangan istrinya. “Setidaknya ibunya sempat melihat Laras menikah. Itu yang paling dia inginkan.”“Aku juga merasa sedikit lega karena itu.” Nayla menarik napas panjang sebelum menyandarkan kepalanya di bahu Naufal. “Semoga mereka benar-benar bisa bahagia.”“Mereka akan baik-baik saja. Laras punya Hendra.”Nayla tersenyum kecil. “Benar juga.”Beberapa saat kemudian, mobil mulai memasuki kawasan kota. Pemandangan pedesaan perlahan berganti menjadi jalan yang lebih ramai. Toko, kendaraan, dan gedung-gedung mulai memenuhi pandangan. Begitu sampai di rumah, Nayla langsung meletakkan tasnya di sofa dan menghela n
Beberapa detik berlalu, tetapi ibu Laras tetap tidak memberikan respons.“Bu...?” Suara Laras bergetar. Tangannya menggenggam tangan ibunya semakin erat.Naufal kembali memeriksa denyut nadi dan pernapasan wanita itu. Wajahnya yang semula serius kini terlihat semakin muram.“Laras, tenang dulu.”“Dok...” Laras menatap Naufal dengan mata penuh air mata. “Ibu kenapa?”Naufal tidak segera menjawab. Ia kembali melakukan pemeriksaan, memastikan kondisi wanita tua itu.Namun, beberapa saat kemudian, Naufal hanya bisa menggeleng pelan.“Laras... Ibu kamu sudah pergi.”Kalimat itu seolah menghentikan seluruh suara di sekitar mereka.Laras terdiam. Matanya menatap wajah ibunya yang kini terlihat begitu tenang.“Enggak...” bisiknya.Hendra segera merangkul tubuh istrinya.“Laras...”“Enggak mungkin, Mas.” Air mata Laras jatuh semakin deras.“Tadi Ibu masih bicara sama aku. Tadi Ibu masih senyum.”Ia mengguncang tangan ibunya perlahan.“Bu... bangun, Bu.”Tidak ada jawaban.“Bu, aku sudah menika
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter







