Share

4. Hamili Menantuku!

Author: Mas Author
last update Last Updated: 2026-03-02 07:28:45

What?

Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.

Dokter Naufal Mahendra?

Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?

Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?

Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali terlintas di benak Nayla. Ia teringat saat dokter itu meminta dirinya membuka kaki, lalu memasukkan jari ke lembah terdalamnya yang bahkan belum dijamah oleh suaminya sendiri.

Sentuhan itu membuat Nayla mendesah dan menggelinjang. Ada hasrat yang nyaris meledak, saat jari pria itu membelai bibir bawahnya dan menusuk masuk beberapa kali.

Oh! Mengingat sensasi itu, membuat jantung Nayla berdebar cepat. Ia menggigit bibir kuat-kuat untuk menyembunyikan perasaan gugupnya.

“Nah, Nay. Kamu dengar kan? Ibu punya rekomendasi dokter yang bagus. Jadi lebih baik kamu nurut dan siap-siap ke dokter itu." Agung menunjuk wajah Nayla seperti tak ada artinya.

“Oh ya? Kenapa nggak Mas Agung saja yang periksa? Bisa saja masalah itu bukan ada di aku. Tapi ada di kamu, Mas." Nayla memberanikan diri. Dia sudah menahan kesal sejak tadi malam.

Mendengar itu, wajah Bu Tami langsung berubah. Apalagi Agung, yang matanya sontak melotot dan wajahnya memerah.

“Nayla, dasar istri kurang ajar kamu ya!" bentak Agung, yang refleks mengangkat tangannya hendak menampar Nayla.

"Akh!” Nayla memekik kecil dan menyembunyikan wajahnya.

Melihat itu, Bu Tami dengan cepat menahan tangan Agung di udara. Ia menghentakkan tangan putranya dengan kasar, lalu menatap tajam pada Nayla.

“Kamu itu tidak tahu balas budi ya, Nayla? Sudah diterima baik-baik di keluarga ini, malah menuduh anak ibu yang aneh-aneh! Harusnya kamu itu bersyukur, karena sampai sekarang Agung tidak menceraikan kamu yang mandul ini!”

“Bukan begitu, Bu. Saya cuma ….”

“Sudah! Jangan banyak alasan. Ikuti saja saran ibu.”

Nayla akhirnya menunduk. Lagi dan lagi, ia terpaksa harus mengalah daripada diserang oleh kedua ibu dan anak itu.

"Maaf, Bu. Kalau begitu saya ikut saja."

“Ya sudah, sekarang kamu siap-siap, terus dandan yang cantik. Nanti siang kita berangkat."

Nayla hanya menurut. Siang itu, ia pun kembali ke klinik Dokter Naufal bersama ibu mertuanya.

Di ruang tunggu, Bu Tami terlihat sangat tenang. Berbeda dengan Nayla yang sangat canggung dan deg-degan. Ia duduk dengan gelisah. Kedua tangannya saling meremas dan berkeringat dingin.

Tak lama setelah mereka menunggu, tiba-tiba dokter tampan itu muncul dari ruangannya. Tubuh tegapnya yang tinggi berbalut jas putih itu sontak membuat mata Nayla memanas. Ia buru-buru mengangguk cepat.

“Nyonya Nayla Raharja!" panggilnya.

Ketika Dokter Naufal memanggil nama Nayla, tiba-tiba Bu Tami lebih dulu berdiri. Nayla hendak bangkit, tapi mertuanya itu memintanya untuk tetap duduk.

"Kamu di sini dulu!”

Wanita paruh baya itu menghampiri Dokter Naufal dan berbicara dengan suara pelan, bahkan nyaris berbisik.

“Dokter, bisa bicara sebentar?”

“Silahkan, Bu."

Mereka pun masuk ke ruang belakang, meninggalkan Nayla yang tengah terheran-heran seorang diri. Tiba-tiba jantungnya berdebar tak karuan.

"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa mereka terkesan sembunyi-sembunyi seperti itu?” Pikiran Nayla berkecamuk kemana-mana.

Beberapa menit kemudian, keduanya pun keluar. Bu Tami mendekat dan berbisik di telinga Nayla.

"Kamu ikuti saja prosedurnya. Kalau kamu mau hamil dan menyelamatkan rumah tanggamu, maka kamu harus nurut."

“Maksudnya, Bu?" Nayla mengernyit bingung.

"Udah, diam saja. Pokoknya nurut sama Dokter Naufal. Sudah, kamu masuk sana!” suruh Bu Tami yang setengah mendorong tubuh Nayla agar masuk ke dalam ruangan.

Di dalam ruang periksa, Dokter Naufal berdiri dengan ekspresi jauh lebih tegang dari biasanya. Nayla masuk dengan langkah gemetar, kakinya terasa kaku dan tak bisa digerakkan.

“Duduk! Saya perlu menjelaskan sesuatu,” perintah Dokter Naufal, masih tetap dengan ekspresi wajahnya yang dingin seperti biasa.

Nayla menelan ludahnya yang terasa kering. Ia hanya mengangguk pelan dan duduk di hadapan Dokter Naufal.

“Kamu tau apa yang dibicarakan oleh ibu mertua kamu tadi?" Pria itu melepaskan kacamatanya sebentar, kemudian mengenakannya kembali.

“Tidak, Dok," geleng Nayla.

“Huft!" Dokter Naufal menghela nafas panjang.

“Jadi sebenarnya, ibu mertua kamu meminta saya untuk membuat kamu hamil, tanpa sepengetahuan suami kamu. Itu satu-satunya cara agar kalian tidak bercerai, tapi kamu bisa tetap hamil. Jadi kalian bisa punya anak."

“Apa!?" Nayla refleks berdiri. Matanya melotot tajam pada pria tampan di hadapannya.

"Aku nggak mau, Dok! Itu bukan cara satu-satunya. Ada banyak opsi supaya aku bisa hamil, tanpa kita harus berhubungan badan.”

"Lagipula, Mas Agung bilang kalau aku ini memang mandul. Jadi aku nggak mungkin bisa punya anak.” Nayla menggeleng, air matanya sudah luruh di pipi.

Dokter Naufal terdiam sejenak. Lalu ia mengambil sebuah map cokelat dari atas meja. Ia meletakkan map itu di depan Nayla.

“Baca ini!"

“Apa ini, Dok?"

“Ini hasil pemeriksaan medis yang diberikan ibu mertua kamu.”

Nayla meraih map itu dan membacanya sekilas. Tangannya semakin bergetar.

“Ini … ini hasil pemeriksaan kesuburan suami saya?”

"Ya.” Dokter Naufal mengangguk.

“Kamu tidak mandul. Kondisi reproduksimu normal. Kamu hanya mengalami keputihan abnormal itu, yang bisa membuat kamu sulit untuk punya anak. Tapi kamu akan mendapatkan penanganan agar bisa sembuh, meskipun ibu mertua dan suami kamu tidak tahu kalau kita sudah pernah bertemu. Tenang saja, kamu wanita normal."

“Lalu?” suara Nayla melemah.

“Masalahnya ada pada suamimu. Secara medis, justru suamimu yang infertil.”

"Apa? Dokter serius?” Fakta itu benar-benar membuat Nayla terkejut.

"Ya. Dia mengalami gangguan kesuburan berat dan ada beberapa disfungsi lain. Jadi sebenarnya justru suamimu itu yang mandul.”

“Sudah belagu, mandul, punya dia juga kecil dan susah buat bangun," kata-kata Dokter Naufal lebih seperti menggerutu.

Nayla terduduk lemas mendengar semua itu. Berkas di tangannya ikut bergetar.

“Jadi selama ini .…”

“Ya. Ibu mertuamu ingin agar nama baik keluarganya tetap dijaga. Dia tidak ingin aib ini tersebar. Jadi dia menawarkan kompensasi agar saya membantu skenario tersebut.”

“Dan dokter setuju?”

“Saya menolak. Tapi klinik saya diancam, karena ibu mertua kamu merupakan salah satu orang dengan pengaruh besar di dinas kesehatan. Jadi saya bisa apa? Saya hanya bisa pasrah kan?" Dokter Naufal mengangkat kedua bahunya dan berdecak pelan.

Nayla shock, dan merasa dunia berputar. Tubuhnya mendadak terasa lemas dan seperti tak ada tenaga. Ia merasa lantai di bawah kakinya menghilang.

“Kenapa ibu justru menuduh kalau aku yang …."

Namun, sebelum kata-kata itu selesai terucap, tiba-tiba pandangan Nayla tampak kabur. Tubuhnya limbung.

“Nayla!”

Namun semuanya sudah gelap. Saat kesadarannya setengah terjaga, ia merasakan tubuhnya diangkat. Punggungnya menyentuh sesuatu yang dingin dan keras.

Brankar.

“Akh! Apa ini?”

Ia merasakan sebuah tangan menahan bahunya. Dan suara pintu ruangan yang terkunci terdengar jelas.

Klik.

Dokter Naufal mengunci pintu, di saat hanya ada mereka berdua di dalam? Tapi untuk apa?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    11. Dia Lagi?

    Nayla tersentak dan berteriak keras. Refleks ia menarik rem secara mendadak. Citt! Ban motornya berdecit keras di aspal, tubuhnya sampai hampir terlempar ke depan. Mobil itu berhenti hanya beberapa senti dari motornya. Jantung Nayla berdegup sangat kencang. Sopir mobil membuka kaca dan berteriak kencang. “Mbak! Kalau bawa motor jangan sambil melamun! Untung saja kamu nggak saya tabrak!” Nayla hanya terdiam dan mengangguk gugup. Tangannya gemetar hebat. Baru kali ini ia benar-benar menyadari betapa cerobohnya tadi. Kalau terlambat satu detik saja, maka habislah dia. Ia menelan ludah. Air matanya berhenti mengalir, berganti dengan rasa takut yang membuat lututnya lemas. “Huh! Hampir aja,” bisiknya lirih. Lampu lalu lintas berubah hijau. Kendaraan di belakang mulai membunyikan klakson tak sabar. Nayla menepi sebentar. Ia mematikan mesin motor

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    10. Tega Kamu, Mas!

    “Astaga, kalian …?” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nayla yang bergetar, dan nyaris tak bersuara.Dini tersenyum cerah, dan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Nayla yang mendadak pucat.“Iya, Kak Nay, udah datang. Makasih hampersnya. Uang udah aku transfer kemarin ya, Kak?" Dini meraih hampers dari tangan Nayla dengan wajah ceria.Nayla tak menjawab dan hanya mengangguk pelan."Oh iya, Kak Nay kenalin,” ucap Dini ringan, sambil menoleh ke pria di depannya. “Ini calon suamiku.”Pria itu berdiri pelan. Dan saat wajahnya terlihat jelas, dunia Nayla benar-benar seperti runtuh dalam satu detik. Napasnya tercekat.“Mas Agung?” suara Nayla bergetar.Pria itu membelalak. Tubuhnya serasa membeku. Mata mereka bertemu, penuh keterkejutan yang sama, tapi dengan makna yang sangat berbeda.Nayla menggeleng pelan. Itu suaminya. Suami yang masih sah secara hukum. Dan kini, dia duduk di hadapan wanita lain, dengan sebutan sebagai calon suami Dini.Ekspresi Agung berubah tegang.“

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    9. Astaga, Kalian?

    “Ternyata kamu benar. Ini memang buket yang spesial,” kata Dokter Naufal, membuat gadis cantik itu membuka matanya cepat. Dokter Naufal berhenti sejenak, lalu menatap tajam pada Nayla. “Buket ini terlalu spesial … untuk orang yang alergi mawar,” tambahnya datar. "Tapi aku tidak tahu kalau Dokter alergi mawar!” Nayla mulai cemas, kalau-kalau Dokter Naufal akan menuntut dia dan floristnya ke ranah hukum. "Kalau begitu, ambilkan aku buket yang lain. Cepat!” bentak Dokter Naufal. "I … iya." Dengan tergesa-gesa, Nayla mengambilkan buket bunga yang lain. Kali ini bukan mawar, tapi bunga peony yang tak kalah cantik dari mawar tadi. Nayla gemetar, tapi ia memberikan buket itu dengan hati-hati pada Dokter Naufal. “Ini buketnya." Dokter Naufal meraih buket dengan kasar. Ia melihat harga yang tertera di sana. Tanpa berlama-lama, diambilnya beberapa lembar uang seratus ribuan dan ia letakkan di atas meja kasir. “Pelayanan di florist ini sangat buruk. Tempat ini layak dapat rating bin

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    8. Ada Perasaan yang Tak Asing

    “Kamu? Dokter Naufal?" Suara Nayla rasanya tercekat di tenggorokan. Matanya membulat lebar. Ia tak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi setelah kejadian di klinik waktu itu. "Hmm, saya ingin pesan buket,” ucap Dokter Naufal dengan nada datar. Pria itu masih sama saja seperti sebelumnya. Ia tetap dingin, acuh, dan bahkan seperti tak mengenal Nayla sama sekali. Entahlah, mungkin karena ia memang menjalankan profesionalitasnya sebagai seorang dokter. Dan baginya, Nayla hanyalah pasien biasa seperti pasien-pasien yang lain. Berbeda dengan Nayla yang selalu deg-degan setiap melihat Dokter Naufal, karena baginya dokter itu adalah yang pertama yang sudah menjamah miliknya. "Apa kamu tidak dengar? Saya mau beli buket.” Ucapan Dokter Naufal dengan nada yang lebih tinggi, membuat Nayla tersentak kaget. Cepat-cepat ia mengangkat wajahnya yang tampak sedikit memucat. "I … iya. Silahkan,” angguk Nayla cepat, ia berusaha menenangkan diri dan mengatur detak jantungnya yang kencang.

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    7. Nayla dan Fantasi Liarnya

    “Yang apa, hah?" Suara Agung meninggi. "Kamu jangan kebanyakan bicara ya! Pokoknya aku nggak mau tau. Kamu harus tanda tangani surat cerai itu.” "Mas, aku nggak mau kita cerai!” Nayla menggeleng cepat, air matanya sudah semakin deras. "Aku nggak peduli, Nay. Aku bersyukur karena selama enam bulan nikah, aku nggak pernah sentuh kamu sejak malam pertama. Dan semua gara-gara penyakit kamu yang menjijikkan itu. Ternyata firasatku bener, kamu itu pasti terlalu sering main dan gonta-ganti laki-laki," tuduh Agung sekenanya. Ucapan itu kembali menghantam hati Nayla tanpa ampun. Bulir bening di matanya semakin menggenang. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap wajah suami yang dulu dicintainya, kini seolah berubah menjadi monster paling kejam. “Mas, tuduhan kamu itu semuanya salah. Itu bukan salahku. Aku sakit dan saat ini aku lagi berobat.” Nayla memberanikan diri membalas, meskipun suaranya sudah serak dan bergetar. “Aku nggak yakin kalau dokter rekomendasi ibu itu bisa menyembuhkan kam

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu?”Ia terkejut karena melihat kursi tempat duduk Bu Tami tadi ternyata sudah kosong. Tasnya pun juga tidak ada. Ia melihat ke sekeliling, tapi tetap saja mertuanya itu tak ada di sana.“Loh, Mbak. Ibu saya dimana?" tanya Nayla pada resepsionis.Resepsionis itu hanya tersenyum sopan dan mengangguk pelan.“Maaf, Nyonya. Ibu yang tadi bilang kalau ada urusan mendadak. Jadi beliau pulang lebih dulu. Katanya Nyonya bisa pulang sendiri.”"Apa?” kaki Nayla rasanya lemas.Ia terdiam, tak menyangka jika mertuanya akan meninggalkannya di sana begitu saja. Rasa kesal mulai naik ke dadanya. Dari tadi ia merasa dipaksa, ditekan, dipermainkan, dan sekarang ditinggalkan tanpa sepatah kata pun.“Ibu benar-b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status