LOGIN“Iya, aku tau, Sayang," angguk Naufal ringan.“Sejak kapan, Na?”“Sejak aku pergi ke sana bersama mama.”“Terus kenapa kamu nggak bilang aku?” Nayla mengernyit.Naufal terdiam. Ia kemudian menyentuh pelan bahu sang istri, dan menatapnya dalam-dalam.“Aku sengaja nggak bilang karena aku tahu kamu pasti kepikiran.”“Justru aku lebih kesal karena kamu menyembunyikannya, Na!” Nayla melangkah mundur, hingga pegangan Naufal di bahunya terlepas.“Nayla, aku cuma nggak mau kamu ikut terbebani.”“Tapi dia tetap keluarga kamu. Bagaimana pun juga dia tetap kakak iparku.”Naufal menghela napas. “Iya, aku tahu.”“Aku takut Mama Rianti semakin membenciku karena kejadian ini.” Nayla menunduk.Aldo yang sejak tadi diam akhirnya berkata lirih. “Aku rasa itu yang paling kamu khawatirkan.”“Iya, Do." Nayla mengangguk. “Kalau Dimas sampai lumpuh, pasti semua orang akan mencari siapa yang harus disalahkan. Aku takut Mama Rianti menganggap semua ini salahku.”Naufal segera mendekatinya. “Jangan berpikir b
“Uhhh!" Nayla perlahan membuka mata. Pandangannya masih sedikit buram karena baru terbangun dari tidur panjang. Ia menoleh ke samping dan baru menyadari bahwa hari sudah gelap. Cahaya lampu dari luar kamar masuk melalui celah tirai, membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali.“Ya ampun! Udah malam," ujarnya dan refleks bangkit dari posisinya.Ia menunduk, menatap dirinya yang tak berpakaian sehelai pun, dan hanya tertutup sebuah selimut. Sebuah tangan kekar masih terasa berat ketika melingkar di perutnya."Astaga! Dia ini.” Nayla tersenyum, kemudian menoleh kepada pria yang masih tertidur di sebelahnya.Di sana Naufal tampak begitu lelap setelah menghabiskan siang panas bersamanya. Nayla tersenyum kecil, lalu menarik selimut lebih tinggi menutupi tubuh sang suami, sebelum perlahan bangkit dari tempat tidur.Tubuhnya terasa lelah, sehingga ia berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.Entah sudah berapa lama ia berada di dalam sana. Setelah membersihkan diri dan kerama
“Oh! Ahh! Mmphh!” desah Nayla, merasakan liang surgawinya di bawah sana sedang dimainkan dengan lembut oleh sang suami.Ia pun kembali menikmati seluruh milik suaminya yang sudah tegak dan keras itu."Ah, oh, Sayang. Kamu benar-benar luar biasa," desah Naufal yang terus merem melek merasakan betapa nikmat dan hangat rongga mulut Nayla ketika tengah menikmati dan menghisap miliknya layaknya sedang memakan es krim.Nayla hanya tersenyum kecil saat melihat sang suami yang benar-benar sudah ketagihan oleh aksinya. Tak hanya menjilati benda itu dengan lidahnya, tetapi kali ini ia juga memainkan dua buah yang menggantung di bawah pisang besar tersebut.Tak mau menunggu lama lagi, Naufal kemudian merengkuh tubuh seksi sang istri dan langsung melumat bibir wanita itu penuh gairah. Ck, ck, ck, sluurpp!Suara sesapan dan hisapan ketika lidah mereka berdua saling beradu. Naufal terus memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Nayla, mengeksprole kehangatannya dengan begitu bebas dan lihai. Sedang
Nayla menatap suaminya dengan mata membulat. Wajahnya mulai memerah karena bisikan Naufal yang begitu dekat di telinganya.“Jangan macam-macam, Na,” ulangnya, tetapi suaranya tidak lagi terdengar setegas sebelumnya. Justru kedua pipi wanita itu terlihat memerah.Naufal tersenyum kecil. Ia perlahan melonggarkan pelukannya, kemudian menatap wajah istrinya sambil memegang pipi wanita itu.“Lihat, wajah kamu merah," godanya.“Ihh, apaan sih?" Nayla memalingkan wajah, tetapi kembali ditatap oleh sang suami.“Aku tau kalau kamu pasti malu-malu. Sekarang katakan, kenapa tadi kamu mengurung aku di dalam kamar?”“Masih nanya itu lagi. Jelas-jelas karena aku kesel sama kamu,” sungut Nayla, ia melipat kedua tangan di dada.“Sekarang masih kesel?”Nayla terdiam dengan wajah cemberutnya. Tetapi ia menggeleng pelan.“Sudah nggak kok.”“Serius?”“Iya, serius.” Nayla mengangguk.“Oke." Naufal mengusap pipi sang istri. “Berarti aku sudah dimaafkan?" “Iya, sudah.”“Kalau begitu, aku pengen menikmati h
“Hah, kenapa ini?”Naufal kaget karena tiba-tiba pintu tertutup dari luar. Ia terkejut dan spontan menoleh ke belakang.Ia segera mencoba membuka gagang pintu. Tidak bisa. Naufal mengernyit, lalu menariknya sekali lagi dengan sedikit tenaga.“Lho, kok gak bisa?”Pintu itu tetap tidak bergerak. Ia mencoba memutar gagang pintu beberapa kali, tetapi hasilnya sama saja. Pintu itu benar-benar terkunci dari luar. Naufal mulai curiga, apalagi sejak tadi ia tidak melihat Nayla di rumah.“Nayla?” panggilnya.“Jangan panggil aku!”Benar saja. Dari luar terdengar suara perempuan.Naufal langsung membelalak. Ia mengenali suara itu.“Sayang, kamu di luar?”“Iya! Aku di sini. Memangnya kenapa?”“Tapi kenapa pintunya dikunci?”“Biar kamu nggak ke mana-mana!” jawab Nayla dari luar kamar.Naufal terdiam. Ia menatap pintu dengan wajah tidak percaya. Beberapa detik kemudian, barulah ia memahami bahwa istrinya benar-benar sengaja mengurungnya.“Nayla, buka pintunya.”“Nggak mau!”“Kenapa?”“Biar kamu ngg
Setelah sampai di depan ruangannya, Naufal membuka pintu. Sinta yang sejak tadi berjalan di belakangnya ikut berhenti di depan pintu.“Kamu bisa istirahat sekarang, Sin," cegah Naufal dengan halus.“Tapi, Dok. Aku mau memastikan laporan operasi yang tadi sudah …." “Nggak usah, Sin.” Naufal langsung menggeleng. “Kamu bisa langsung pulang saja. Aku mau istirahat sebentar.”Sinta mengerutkan kening. “Tapi aku bisa bantu merapikan laporan.”“Nanti saja. Lagian ada istriku di sini. Aku mau quality time sama istriku.”Kalimat terakhir itu membuat Sinta terdiam. Wajahnya langsung berubah cemberut.“Oh.”“Besok kita lanjut lagi. Kamu juga sudah capek.” Naufal tersenyum tipis.“Iya, Dok.”Sinta akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah berat. Sesekali ia menoleh ke belakang, berharap Naufal berubah pikiran. Namun pria itu sudah masuk ke dalam ruangan.Sebenarnya Naufal memang sengaja mengusir Sinta secara halus agar tak ikut masuk ke ruangannya. Setelah operasi panjang, ia ingin beristirahat
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b







