Partager

315. Dimas Lumpuh?

Auteur: Mas Author
last update Date de publication: 2026-08-15 13:13:14

“Iya, benar sekali. Kami memang orang tua kandung Nayla,” angguk Wiratmadja.

Suasana menjadi semakin canggung. Rianti masih diam, pikirannya berkecamuk. Naufal pun segera melangkah ke tengah mereka.

“Sudahlah, Ma. Aku minta maaf karena tidak datang ke rumah sakit dan tidak menghubungi Mama. Aku akan ikut Mama sekarang untuk melihat Dimas. Tapi tolong jangan membuat keributan di rumah ini, apalagi dengan Papa dan Mama Nayla.”

Rianti mendengus pelan. Ia masih kesal, tetapi tidak ingin memperpan
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   414. Jatah Panas (21+)

    “Sayang," panggil Naufal yang ternyata masih belum menyerah. Pria itu masih terus merayu Nayla yang sudah berbaring di sampingnya.“Apa lagi sih, Sayang?” dengus Nayla lirih.“Serius nih aku tidak boleh minta jatah?”"Ya ampun, sayang.” Nayla menghela napas panjang. “Tadi sudah aku bilang, aku masih takut.”“Aku sudah bilang kalau tidak akan menyakiti kamu dan calon bayi kita, Sayang.”“Tapi aku tetap khawatir.”“Dengarkan aku." Naufal mendekat sambil tersenyum. “Aku janji akan hati-hati.”Nayla menatap suaminya dengan wajah pasrah.“Kamu ini benar-benar tidak mau menyerah, ya?”“Tidak.”"Haha." Nayla akhirnya tertawa kecil. “Dasar.”Naufal kembali merengek, membuat Nayla semakin tidak bisa menahan tawanya. Setelah beberapa saat, akhirnya Nayla mengangguk pelan.“Ya sudah karena kamu terus saja maksa. Tapi kamu harus hati-hati ya.”Wajah Naufal seketika berubah cerah. “Benarkah?”“Iya.”Naufal langsung tersenyum lebar. “Terima kasih, Sayang. Aku janji akan hati-hati.Nayla menggeleng

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   413. "Calon Papa Menjenguk Calon Bayi"

    Beberapa saat kemudian, seorang dokter datang untuk memeriksa kondisi Dimas.“Dokter Dimas, sebaiknya kamu kembali ke ruangan. Kami perlu memeriksa kondisi kakimu dan memastikan tidak ada masalah setelah kamu memaksakan diri berjalan tadi,” ujar dokter tersebut."Hah?" Dimas menghela napas. “Sekarang?”“Iya. Kamu juga perlu istirahat agar kondisimu semakin membaik."Dimas terdiam dan melirik ke arah Shella.Gadis itu masih berbaring di atas ranjang, ditemani oleh Sarah dan Yuli. Entah kenapa, ia merasa berat untuk meninggalkan ruangan tersebut.“Apa aku bisa diperiksa di sini saja?” tanyanya."Tidak." Dokter itu menggeleng. “Peralatannya lebih lengkap di ruanganmu.”Dimas kembali melirik Shella.Ia sebenarnya ingin tetap berada di sana. Setelah semua yang terjadi, rasanya ia ingin terus memastikan Shella baik-baik saja. Namun, tentu saja Dimas tidak mungkin mengatakan hal itu.Apalagi jika Shella sampai tahu bahwa dirinya enggan pergi hanya karena ingin berada di dekatnya.Harga dirin

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   412. Semakin Salah Tingkah

    Dimas masih terdiam setelah mendengar ucapan Shella.Pria itu tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Biasanya, ia tidak pernah kesulitan berbicara dengan siapa pun. Namun, entah kenapa, setiap kali berhadapan dengan Shella, semua kata yang ada di kepalanya terasa menghilang begitu saja.Shella memperhatikan wajah Dimas yang terlihat canggung.“Kamu benar-benar aneh hari ini, Dok," katanya sambil tersenyum kecil.Dimas menghela napas. “Aku tidak aneh.”“Terus kenapa dari tadi seperti orang bingung?”“Aku cuma belum terbiasa.”“Belum terbiasa apa?” desak Shella semakin ingin tau.Dimas terdiam lagi. Ia menatap Shella beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.“Aku belum terbiasa melihat kamu seperti ini.”"Hah?" Shella sedikit terkejut. “Seperti ini bagaimana?”“Di rumah sakit. Terluka. Tidak bisa banyak bergerak.” Dimas menjawab dengan suara pelan. “Biasanya kamu selalu terlihat baik-baik saja. Bahkan menemani aku kontrol ke ortopedi juga." "Oh itu." Shella terse

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   411. Penasaran Sama Kamu

    “Ya Tuhan! Apa yang terjadi dengan bayi kita?”Naufal benar-benar panik. Ia segera merangkul tubuh Nayla yang mulai terlihat lemas, sementara tangannya yang lain masih menggenggam tangan sang istri dengan erat."Akh! Sakit, Sayang." Nayla sesekali terpejam dan meringis kecil.“Nayla sayang, coba tenang dulu. Jangan takut. Kita periksa sekarang,” ujar Naufal dengan suara tegas, meskipun wajahnya sendiri terlihat sangat cemas.Nayla hanya mengangguk pelan. Rasa sakit di perutnya masih terasa, membuatnya kesulitan untuk berbicara."Fal, kenapa sama Nayla?" Dimas turut merasa cemas."Aku juga nggak tau, Dim. Semoga dia baik-baik saja." Tanpa membuang waktu, Naufal segera menggendong sang istri dan membawanya keluar dari ruangan Shella. Beberapa dokter dan perawat yang melihat kepanikan di wajah Naufal segera menghampiri mereka.“Tolong siapkan satu ruangan untuk pemeriksaan kehamilan. Saya membutuhkan alat USG dan perlengkapan pemeriksaan lainnya,” perintah Naufal.Para dokter dan perawa

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   410. Suasana Haru dan Bahagia

    “Bagaimana pun juga, aku harus tetap ikut untuk melihat keadaan Shella," gumam Dimas panik.Pria itu tetap bersikeras mengikuti mereka semua menuju ke ruangan Shella. Meskipun Naufal sudah beberapa kali memintanya kembali berbaring, tetapi kakaknya itu tidak mau mendengarkan. Ia terus berjalan dengan bantuan tiang infus, menahan rasa sakit yang menjalar dari kakinya yang lumpuh.“Dimas, jangan dipaksakan. Kaki kamu itu belum pulih,” ujar Naufal dengan nada memperingatkan.“Aku tahu,” jawab Dimas pelan. “Tapi aku harus melihat Shella.”“Kak Dimas, setidaknya pelan-pelan,” tambah Nayla yang berjalan di sampingnya.Dimas hanya mengangguk. Wajahnya beberapa kali menahan rasa sakit, tetapi ia tetap melangkah. Setiap kali kakinya terasa semakin berat, ia berhenti sebentar untuk mengatur napas sebelum kembali berjalan. Baginya, rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa takut kehilangan Shella.Sarah dan Yuli sudah lebih dulu berada di depan ruangan. Keduanya menunggu dengan waj

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   409. Ada Apa Dengan Shella?

    Nayla dan Naufal panik melihat tubuh Dimas yang sudah terkulai lemas. Naufal segera memeriksa kondisi kakaknya, sementara beberapa perawat datang membantu. Setelah memastikan Dimas masih sadar meskipun sangat lemah, mereka membawanya kembali ke ruangan tempat Dimas dirawat.“Pak Dimas ini bagaimana sih? Sudah dibilang harus banyak istirahat, malah masih saja memaksakan diri,” tegur salah satu dokter yang memeriksa kondisi Dimas.Dimas hanya diam sambil berbaring di atas ranjang. Wajahnya terlihat kesal karena kembali dipaksa masuk ke ruang perawatan.Naufal yang berdiri di samping ranjang justru tertawa kecil. “Sudah, Dok. Jangan terlalu dipikirkan. Kakakku memang keras kepala dari dulu.”Dimas melirik Naufal dengan wajah cemberut. “Kamu malah meledekku?”“Memangnya salah?” Naufal menahan senyum. “Sudah jelas kondisi tubuh dan kakimu belum pulih, tapi masih saja memaksakan diri keluar kamar. Kalau tadi aku nggak ada, mungkin sekarang kamu sudah terkapar di lantai.”“Aku cuma ingin mem

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   4. Hamili Menantuku!

    What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   3. Dokter Rekomendasi Ibu Mertua

    Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   2. Menggodamu Malam Ini

    “A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   1. Ah, Sakit, Dok!

    "Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status