เข้าสู่ระบบTubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.
“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat. Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan. Ia menatap tubuhnya dan menyadari jika dirinya sudah berbaring di atas brankar. Pandangannya beralih pada Dokter Naufal yang kini sedang berdiri di hadapannya. Jas putih dokter itu masih rapi. Tangannya berada di pergelangan tangan Nayla, tengah memeriksa denyut nadi. “Apa yang Dokter lakukan?” Suara Nayla bergetar. “Aku hanya menolongmu. Tadi tekanan darahmu turun,” katanya dengan profesional. “Kamu shock.” “Ahh!" Nayla mencoba bangkit, tapi kepalanya masih berat. Dokter Naufal menahan bahunya dengan cepat. “Jangan dulu. Tarik napas perlahan.” Nayla mengangguk dan menurut. Sentuhan itu rasanya terlalu hangat untuk sekadar sentuhan medis. “Untuk terapi keputihan abnormalmu, ada prosedur stimulasi sirkulasi panggul,” ujar Dokter Naufal pelan. "Biasanya dilakukan oleh tenaga medis wanita, tapi karena Dokter Lusi cuti, maka saya yang akan melakukan terapi. Tapi kalau kamu keberatan, kita bisa tunda.” Nayla ragu dalam diam. Tapi pikirannya masih berputar pada satu fakta besar, bahwa dirinya bukan perempuan rusak. Ia wanita normal. Dan untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memperlakukannya seperti itu. “Iya, Dok. Tidak apa-apa,” suaranya lirih. "Baiklah kalau begitu.” Dokter Naufal mengangguk. Ia membantu Nayla untuk duduk sedikit, lalu menjelaskan dengan nada profesional. Tangannya bergerak hati-hati, menekan titik-titik tertentu di perut bawah dan pinggul luar, masih di atas pakaian. Gerakannya terukur, seperti fisioterapi. Namun bagi Nayla, itu adalah sentuhan intim dari laki-laki pertama seumur hidupnya. Suaminya tak pernah menyentuhnya dengan perhatian seperti ini. Nayla menggigit bibir saat tekanan itu membuat aliran hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. “Apakah terasa sakit?” tanya Dokter Naufal. Nayla menggeleng pelan. Justru sebaliknya. Dadanya naik turun lebih cepat. Ia tidak mengerti kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. Hanya sentuhan terapi di atas kain, tapi tubuhnya seperti menemukan sesuatu yang selama ini tak pernah ia rasakan. “Nayla, buka kakimu seperti kemarin.” suara Dokter Naufal berubah lebih rendah. Nayla menurut, karena kemarin pun Dokter Naufal juga sudah memeriksa bagian intim terdalamnya. Perlahan ia menurunkan celana dalam dan membuka kedua kakinya lebar-lebar. Dokter Naufal membelai bibir kewanitaan Nayla dengan jari tengahnya, membuat gadis itu menggeliat menahan sensasi luar biasa. Nayla semakin menggigit bibirnya kuat, kedua matanya pun terpejam rapat. Tak hanya membelai, tetapi Dokter Naufal pun segera memasukkan jari tengahnya ke dalam gua hangat milik Nayla yang terasa lembab. Ia menggerakkan jarinya keluar masuk beberapa kali. “Ahh, Dokter!" Suara Nayla bergetar lemah, nyaris tak terdengar. Pinggulnya terangkat naik, membuat Dokter Naufal bisa menatap miliknya dengan leluasa. Pria itu tercengang, karena kali ini ia bisa melihat milik Nayla dengan cukup jelas. Area intim gadis itu sangat bersih dan berwarna merah muda. Hanya ada beberapa helai rumput halus yang menghiasi sekitar daerah itu. "Damn!” Dokter Naufal menelan ludahnya yang serasa tersangkut di tenggorokan. Ia merasakan jarinya semakin hangat di dalam sana, bersamaan dengan pinggul Nayla yang menggelinjang dan sesekali bergoyang pelan. Dokter Naufal merasakan tubuhnya mulai panas dingin. Jarinya masih berada di dalam milik Nayla, sesekali ia gunakan ibu jari untuk membelai bibir dan puncak biji mungil milik gadis itu. "Sshh! Mmmhh!” Suara Dokter Naufal tertahan. Ia gigit bibirnya tanpa dilihat sepenuhnya oleh Nayla. Pusakanya di bawah sana terasa menegang dan mengacung keras. Ia menunduk, dan saat itu melihat celananya sudah mulai basah oleh cairan beningnya. “Sialan! Bisa-bisanya aku tegang," batinnya gelisah. “Dokter, apa ini bagian dari terapinya?” bisik Nayla. Tatapannya sayu saat menatap Dokter Naufal. Tatapan mereka bertemu. Dokter Naufal pun gugup dan cepat-cepat menarik tangannya dari lembah hangat milik Nayla. Ia balas menatap Nayla dengan canggung. Ada sesuatu yang berbeda di mata dokter itu sekarang. Bukan lagi sekadar profesionalisme, tapi ada getaran aneh yang tidak bisa diucapkan. Nayla menelan ludah. Jantungnya berdentum keras. Selama sepersekian detik, Dokter Naufal seperti tersadar. Jarak mereka kini terlalu dekat. Napas mereka saling menyentuh. Ia hampir saja membungkuk lebih jauh. Namun suara hatinya lebih dulu menariknya kembali. Dokter Naufal mundur satu langkah. Ia mengusap wajahnya sendiri dengan gusar. “Maaf, Nay,” katanya serak dan kembali terdengar sebagai dokter. “Kita hentikan terapinya sampai di sini.” “Iya, Dok." Nayla mengangguk. Ia menutup kaki dan mulai merapikan pakaiannya kembali. Kini keheningan terasa canggung di antara mereka. Suara detak jam dinding terdengar jauh lebih keras dari biasanya. Dokter Naufal berdiri membelakangi Nayla, seraya merapikan lengan jasnya yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi. Gerakannya kaku dan terlalu gugup. “Terapi hari ini cukup,” katanya akhirnya, nadanya kembali formal. “Kita lanjutkan di sesi berikutnya. Saya akan jadwalkan dengan perawat agar prosedurnya lebih nyaman.” Kata-kata itu membuat pipi Nayla terasa panas. Ia bangkit perlahan dari brankar. Lututnya masih sedikit lemas, entah karena shock tadi atau karena sesuatu yang lain. Ia merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar, berusaha menghindari tatapan dokter itu. Baru beberapa menit lalu, jarak mereka terasa begitu tipis. Sekarang, jarak itu seperti jurang yang memalukan. “Saya … minta maaf kalau tadi terlalu merepotkan,” ucap Nayla pelan. Dokter Naufal menoleh sekilas, lalu mengalihkan pandangan lagi. “Kamu tidak merepotkan.” Jawaban itu terlalu cepat. Nayla menunduk. Jantungnya kembali berdetak tak teratur saat mengingat bagaimana tubuhnya bereaksi. Ia yang selama ini tak pernah disentuh suaminya, justru hampir kehilangan kendali pada sentuhan yang seharusnya hanya terapi. Itu membuatnya takut dan malu pada dirinya sendiri. “Kalau begitu saya permisi, Dok,” katanya buru-buru, hampir seperti melarikan diri. “Silahkan." Nayla meraih tasnya dan membuka pintu tanpa menunggu balasan lebih lanjut. Udara koridor terasa lebih dingin, tapi tidak mampu mendinginkan wajahnya yang memanas. Di dalam ruangan, Dokter Naufal masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya mengepal pelan. Ia hampir saja kelepasan tadi. "Argghh! Naufal, kau ini dokter. Kau harus tahu batasanmu,” geramnya. Tatapannya terlihat gelisah.Nayla tersentak dan berteriak keras. Refleks ia menarik rem secara mendadak. Citt! Ban motornya berdecit keras di aspal, tubuhnya sampai hampir terlempar ke depan. Mobil itu berhenti hanya beberapa senti dari motornya. Jantung Nayla berdegup sangat kencang. Sopir mobil membuka kaca dan berteriak kencang. “Mbak! Kalau bawa motor jangan sambil melamun! Untung saja kamu nggak saya tabrak!” Nayla hanya terdiam dan mengangguk gugup. Tangannya gemetar hebat. Baru kali ini ia benar-benar menyadari betapa cerobohnya tadi. Kalau terlambat satu detik saja, maka habislah dia. Ia menelan ludah. Air matanya berhenti mengalir, berganti dengan rasa takut yang membuat lututnya lemas. “Huh! Hampir aja,” bisiknya lirih. Lampu lalu lintas berubah hijau. Kendaraan di belakang mulai membunyikan klakson tak sabar. Nayla menepi sebentar. Ia mematikan mesin motor
“Astaga, kalian …?” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nayla yang bergetar, dan nyaris tak bersuara.Dini tersenyum cerah, dan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Nayla yang mendadak pucat.“Iya, Kak Nay, udah datang. Makasih hampersnya. Uang udah aku transfer kemarin ya, Kak?" Dini meraih hampers dari tangan Nayla dengan wajah ceria.Nayla tak menjawab dan hanya mengangguk pelan."Oh iya, Kak Nay kenalin,” ucap Dini ringan, sambil menoleh ke pria di depannya. “Ini calon suamiku.”Pria itu berdiri pelan. Dan saat wajahnya terlihat jelas, dunia Nayla benar-benar seperti runtuh dalam satu detik. Napasnya tercekat.“Mas Agung?” suara Nayla bergetar.Pria itu membelalak. Tubuhnya serasa membeku. Mata mereka bertemu, penuh keterkejutan yang sama, tapi dengan makna yang sangat berbeda.Nayla menggeleng pelan. Itu suaminya. Suami yang masih sah secara hukum. Dan kini, dia duduk di hadapan wanita lain, dengan sebutan sebagai calon suami Dini.Ekspresi Agung berubah tegang.“
“Ternyata kamu benar. Ini memang buket yang spesial,” kata Dokter Naufal, membuat gadis cantik itu membuka matanya cepat. Dokter Naufal berhenti sejenak, lalu menatap tajam pada Nayla. “Buket ini terlalu spesial … untuk orang yang alergi mawar,” tambahnya datar. "Tapi aku tidak tahu kalau Dokter alergi mawar!” Nayla mulai cemas, kalau-kalau Dokter Naufal akan menuntut dia dan floristnya ke ranah hukum. "Kalau begitu, ambilkan aku buket yang lain. Cepat!” bentak Dokter Naufal. "I … iya." Dengan tergesa-gesa, Nayla mengambilkan buket bunga yang lain. Kali ini bukan mawar, tapi bunga peony yang tak kalah cantik dari mawar tadi. Nayla gemetar, tapi ia memberikan buket itu dengan hati-hati pada Dokter Naufal. “Ini buketnya." Dokter Naufal meraih buket dengan kasar. Ia melihat harga yang tertera di sana. Tanpa berlama-lama, diambilnya beberapa lembar uang seratus ribuan dan ia letakkan di atas meja kasir. “Pelayanan di florist ini sangat buruk. Tempat ini layak dapat rating bin
“Kamu? Dokter Naufal?" Suara Nayla rasanya tercekat di tenggorokan. Matanya membulat lebar. Ia tak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi setelah kejadian di klinik waktu itu. "Hmm, saya ingin pesan buket,” ucap Dokter Naufal dengan nada datar. Pria itu masih sama saja seperti sebelumnya. Ia tetap dingin, acuh, dan bahkan seperti tak mengenal Nayla sama sekali. Entahlah, mungkin karena ia memang menjalankan profesionalitasnya sebagai seorang dokter. Dan baginya, Nayla hanyalah pasien biasa seperti pasien-pasien yang lain. Berbeda dengan Nayla yang selalu deg-degan setiap melihat Dokter Naufal, karena baginya dokter itu adalah yang pertama yang sudah menjamah miliknya. "Apa kamu tidak dengar? Saya mau beli buket.” Ucapan Dokter Naufal dengan nada yang lebih tinggi, membuat Nayla tersentak kaget. Cepat-cepat ia mengangkat wajahnya yang tampak sedikit memucat. "I … iya. Silahkan,” angguk Nayla cepat, ia berusaha menenangkan diri dan mengatur detak jantungnya yang kencang.
“Yang apa, hah?" Suara Agung meninggi. "Kamu jangan kebanyakan bicara ya! Pokoknya aku nggak mau tau. Kamu harus tanda tangani surat cerai itu.” "Mas, aku nggak mau kita cerai!” Nayla menggeleng cepat, air matanya sudah semakin deras. "Aku nggak peduli, Nay. Aku bersyukur karena selama enam bulan nikah, aku nggak pernah sentuh kamu sejak malam pertama. Dan semua gara-gara penyakit kamu yang menjijikkan itu. Ternyata firasatku bener, kamu itu pasti terlalu sering main dan gonta-ganti laki-laki," tuduh Agung sekenanya. Ucapan itu kembali menghantam hati Nayla tanpa ampun. Bulir bening di matanya semakin menggenang. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap wajah suami yang dulu dicintainya, kini seolah berubah menjadi monster paling kejam. “Mas, tuduhan kamu itu semuanya salah. Itu bukan salahku. Aku sakit dan saat ini aku lagi berobat.” Nayla memberanikan diri membalas, meskipun suaranya sudah serak dan bergetar. “Aku nggak yakin kalau dokter rekomendasi ibu itu bisa menyembuhkan kam
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu?”Ia terkejut karena melihat kursi tempat duduk Bu Tami tadi ternyata sudah kosong. Tasnya pun juga tidak ada. Ia melihat ke sekeliling, tapi tetap saja mertuanya itu tak ada di sana.“Loh, Mbak. Ibu saya dimana?" tanya Nayla pada resepsionis.Resepsionis itu hanya tersenyum sopan dan mengangguk pelan.“Maaf, Nyonya. Ibu yang tadi bilang kalau ada urusan mendadak. Jadi beliau pulang lebih dulu. Katanya Nyonya bisa pulang sendiri.”"Apa?” kaki Nayla rasanya lemas.Ia terdiam, tak menyangka jika mertuanya akan meninggalkannya di sana begitu saja. Rasa kesal mulai naik ke dadanya. Dari tadi ia merasa dipaksa, ditekan, dipermainkan, dan sekarang ditinggalkan tanpa sepatah kata pun.“Ibu benar-b







