LOGINSetelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.
Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu. “Loh, bu?” Ia terkejut karena melihat kursi tempat duduk Bu Tami tadi ternyata sudah kosong. Tasnya pun juga tidak ada. Ia melihat ke sekeliling, tapi tetap saja mertuanya itu tak ada di sana. “Loh, Mbak. Ibu saya dimana?" tanya Nayla pada resepsionis. Resepsionis itu hanya tersenyum sopan dan mengangguk pelan. “Maaf, Nyonya. Ibu yang tadi bilang kalau ada urusan mendadak. Jadi beliau pulang lebih dulu. Katanya Nyonya bisa pulang sendiri.” "Apa?” kaki Nayla rasanya lemas. Ia terdiam, tak menyangka jika mertuanya akan meninggalkannya di sana begitu saja. Rasa kesal mulai naik ke dadanya. Dari tadi ia merasa dipaksa, ditekan, dipermainkan, dan sekarang ditinggalkan tanpa sepatah kata pun. “Ibu benar-benar semakin kelewat batas!" Ia pun memutuskan pulang dengan perasaan campur aduk. Begitu membuka pintu rumah, Nayla dibuat terkejut karena di ruang tamu ia melihat Agung sedang duduk bersandar dengan santai. Sedangkan di sampingnya ada Bu Tami. Keduanya terlihat seperti sedang menunggunya. “Loh, bukannya ibu bilang ke resepsionis kalau tadi ada urusan? Apa ibu sengaja berbohong?” batin Nayla heran, karena ia yakin bahwa ibu mertuanya baru saja berbohong. “Kamu dari mana saja sih?” tanya Agung datar. “Dari klinik,” jawab Nayla pendek. “Oh iya, bukannya Ibu tadi ….” “Ibu sengaja pulang duluan,” potong Bu Tami. “Biar kamu belajar bertanggung jawab dan mandiri. Biar apa-apa tuh nggak harus ibu terus.” Nayla menarik napas panjang, mencoba menahan diri. “Oh iya. Apa yang ibu bicarakan dengan dokter tadi?” tanya Nayla seraya menatap tajam pada Bu Tami. Namun, Agung justru langsung menoleh tajam. “Apa maksud kamu, Nay? Bicara yang sopan sama ibuku ya!” “Aku cuma mau tahu kenapa selalu aku yang disalahkan, Mas!” “Karena memang kamu yang bermasalah kok.” Bu Tami mendecakkan lidah. “Bu!” suara Nayla mulai bergetar. “Hasil pemeriksaan saya normal.” “Normal?” Agung tertawa pendek dan sinis. "Dengan kondisi kamu yang begitu?” Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi Nayla. Ia beralih menatap suaminya. Tatapannya tajam, dan terdapat bara luka di sana. “Maksud kamu apa, Mas?” Agung berdiri dan mendekat satu langkah. Ia berdiri berkacak pinggang tepat di depan Nayla. “Kamu tahu sendiri, Nay. Setiap kali lihat kamu, aku tuh selalu ilfeel dan jijik. Jangankan disuruh nyentuh kamu, mandang kamu aja tuh aku gak sudi. Kamu itu cuma wanita mandul yang dari dulu hobi gonta ganti pasangan." “Mas!" Nayla menatapnya tak percaya. Selama ini Agung bahkan belum pernah berhubungan badan dengannya, tapi dia sudah menjudge istrinya sendiri seperti itu. “Agung!” tegur Bu Tami, tapi nadanya tidak benar-benar marah. “Apa salahku sama kamu sih, Mas?” suara Nayla hampir pecah. “Aku berobat kesana kemari. Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik. Aku juga selalu jaga diri, tapi kamu selalu aja menuduh aku yang bukan-bukan!” “Harusnya kamu itu sadar diri, Nay,” potong Bu Tami dingin. “Agung itu sehat dan kuat. Dari kecil dia nggak pernah sakit-sakitan. Masa iya dia yang salah?” Nayla merasa napasnya tercekat. Ia menggeleng lemah. Rupanya mertuanya itu terlalu pintar berkamuflase. “Kalau seorang istri tidak bisa memberi keturunan, ya introspeksi. Jangan malah menyudutkan suami,” lanjut Bu Tami lagi. Setelah suasana hening beberapa detik, akhirnya Bu Tami berdiri dan merapikan tasnya. “Ibu sudah capek sama kalian berdua. Kalau begitu Ibu pamit dulu. Kalian selesaikan baik-baik masalah ini.” Pintu pun akhirnya tertutup. Tinggallah Nayla dan Agung di sana. Beberapa detik hanya ada suara jam dinding berdetak, tanpa ada obrolan di antara mereka. Namun, tiba-tiba saja Agung mengumpat pelan. “Sialan! Kenapa ibu selalu ikut campur sih?” Agung berjalan ke lemari kecil di sudut ruangan dan mengambil sebuah amplop cokelat. Tangannya menggenggam amplop itu erat, seolah sudah lama disiapkan. Ia kembali ke meja, lalu meletakkannya di hadapan Nayla. Plak. Suara kertas menyentuh meja terdengar jelas. Nayla menatap amplop itu tanpa berani menyentuhnya. “Apa ini?” “Buka saja.” Dengan tangan gemetar, Nayla membuka ujungnya. Seketika matanya membesar. “Ini kan surat gugatan cerai, Mas?” “Ya. Tanggal sidang pertama dua minggu lagi,” kata Agung datar. “Aku sudah daftarkan.” Dunia Nayla seperti runtuh untuk kesekian kalinya. Ia tak berkedip menatap tulisan di map itu. “Aku nggak mau terus hidup begini. Sebenarnya ibu tidak setuju dengan keputusan ini. Dia ingin kita punya anak, tapi bagaimana bisa? Aku bahkan tidak pernah menyentuh kamu, aku aja jijik sama kamu. Tapi bukankah lebih baik selesai sekarang daripada makin lama?” Agung mengatakan setiap kata demi kata dengan begitu ringan, seolah tanpa beban. Nayla tak mampu berkata-kata. Tubuhnya merosot dan terduduk di lantai. Air matanya tak bisa ia tahan lagi, menitik jatuh begitu saja. Ia hancur. Semuanya hancur. Semua kebohongan, tekanan, dan penghinaan yang rela dia terima, kini akan berakhir dengan perceraian. “Bisa-bisanya kamu berniat untuk menceraikan aku, Mas.” Nayla mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. "Asal kamu tau saja, kalau sebenarnya justru kamu yang …."Nayla tersentak dan berteriak keras. Refleks ia menarik rem secara mendadak. Citt! Ban motornya berdecit keras di aspal, tubuhnya sampai hampir terlempar ke depan. Mobil itu berhenti hanya beberapa senti dari motornya. Jantung Nayla berdegup sangat kencang. Sopir mobil membuka kaca dan berteriak kencang. “Mbak! Kalau bawa motor jangan sambil melamun! Untung saja kamu nggak saya tabrak!” Nayla hanya terdiam dan mengangguk gugup. Tangannya gemetar hebat. Baru kali ini ia benar-benar menyadari betapa cerobohnya tadi. Kalau terlambat satu detik saja, maka habislah dia. Ia menelan ludah. Air matanya berhenti mengalir, berganti dengan rasa takut yang membuat lututnya lemas. “Huh! Hampir aja,” bisiknya lirih. Lampu lalu lintas berubah hijau. Kendaraan di belakang mulai membunyikan klakson tak sabar. Nayla menepi sebentar. Ia mematikan mesin motor
“Astaga, kalian …?” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nayla yang bergetar, dan nyaris tak bersuara.Dini tersenyum cerah, dan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Nayla yang mendadak pucat.“Iya, Kak Nay, udah datang. Makasih hampersnya. Uang udah aku transfer kemarin ya, Kak?" Dini meraih hampers dari tangan Nayla dengan wajah ceria.Nayla tak menjawab dan hanya mengangguk pelan."Oh iya, Kak Nay kenalin,” ucap Dini ringan, sambil menoleh ke pria di depannya. “Ini calon suamiku.”Pria itu berdiri pelan. Dan saat wajahnya terlihat jelas, dunia Nayla benar-benar seperti runtuh dalam satu detik. Napasnya tercekat.“Mas Agung?” suara Nayla bergetar.Pria itu membelalak. Tubuhnya serasa membeku. Mata mereka bertemu, penuh keterkejutan yang sama, tapi dengan makna yang sangat berbeda.Nayla menggeleng pelan. Itu suaminya. Suami yang masih sah secara hukum. Dan kini, dia duduk di hadapan wanita lain, dengan sebutan sebagai calon suami Dini.Ekspresi Agung berubah tegang.“
“Ternyata kamu benar. Ini memang buket yang spesial,” kata Dokter Naufal, membuat gadis cantik itu membuka matanya cepat. Dokter Naufal berhenti sejenak, lalu menatap tajam pada Nayla. “Buket ini terlalu spesial … untuk orang yang alergi mawar,” tambahnya datar. "Tapi aku tidak tahu kalau Dokter alergi mawar!” Nayla mulai cemas, kalau-kalau Dokter Naufal akan menuntut dia dan floristnya ke ranah hukum. "Kalau begitu, ambilkan aku buket yang lain. Cepat!” bentak Dokter Naufal. "I … iya." Dengan tergesa-gesa, Nayla mengambilkan buket bunga yang lain. Kali ini bukan mawar, tapi bunga peony yang tak kalah cantik dari mawar tadi. Nayla gemetar, tapi ia memberikan buket itu dengan hati-hati pada Dokter Naufal. “Ini buketnya." Dokter Naufal meraih buket dengan kasar. Ia melihat harga yang tertera di sana. Tanpa berlama-lama, diambilnya beberapa lembar uang seratus ribuan dan ia letakkan di atas meja kasir. “Pelayanan di florist ini sangat buruk. Tempat ini layak dapat rating bin
“Kamu? Dokter Naufal?" Suara Nayla rasanya tercekat di tenggorokan. Matanya membulat lebar. Ia tak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi setelah kejadian di klinik waktu itu. "Hmm, saya ingin pesan buket,” ucap Dokter Naufal dengan nada datar. Pria itu masih sama saja seperti sebelumnya. Ia tetap dingin, acuh, dan bahkan seperti tak mengenal Nayla sama sekali. Entahlah, mungkin karena ia memang menjalankan profesionalitasnya sebagai seorang dokter. Dan baginya, Nayla hanyalah pasien biasa seperti pasien-pasien yang lain. Berbeda dengan Nayla yang selalu deg-degan setiap melihat Dokter Naufal, karena baginya dokter itu adalah yang pertama yang sudah menjamah miliknya. "Apa kamu tidak dengar? Saya mau beli buket.” Ucapan Dokter Naufal dengan nada yang lebih tinggi, membuat Nayla tersentak kaget. Cepat-cepat ia mengangkat wajahnya yang tampak sedikit memucat. "I … iya. Silahkan,” angguk Nayla cepat, ia berusaha menenangkan diri dan mengatur detak jantungnya yang kencang.
“Yang apa, hah?" Suara Agung meninggi. "Kamu jangan kebanyakan bicara ya! Pokoknya aku nggak mau tau. Kamu harus tanda tangani surat cerai itu.” "Mas, aku nggak mau kita cerai!” Nayla menggeleng cepat, air matanya sudah semakin deras. "Aku nggak peduli, Nay. Aku bersyukur karena selama enam bulan nikah, aku nggak pernah sentuh kamu sejak malam pertama. Dan semua gara-gara penyakit kamu yang menjijikkan itu. Ternyata firasatku bener, kamu itu pasti terlalu sering main dan gonta-ganti laki-laki," tuduh Agung sekenanya. Ucapan itu kembali menghantam hati Nayla tanpa ampun. Bulir bening di matanya semakin menggenang. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap wajah suami yang dulu dicintainya, kini seolah berubah menjadi monster paling kejam. “Mas, tuduhan kamu itu semuanya salah. Itu bukan salahku. Aku sakit dan saat ini aku lagi berobat.” Nayla memberanikan diri membalas, meskipun suaranya sudah serak dan bergetar. “Aku nggak yakin kalau dokter rekomendasi ibu itu bisa menyembuhkan kam
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu?”Ia terkejut karena melihat kursi tempat duduk Bu Tami tadi ternyata sudah kosong. Tasnya pun juga tidak ada. Ia melihat ke sekeliling, tapi tetap saja mertuanya itu tak ada di sana.“Loh, Mbak. Ibu saya dimana?" tanya Nayla pada resepsionis.Resepsionis itu hanya tersenyum sopan dan mengangguk pelan.“Maaf, Nyonya. Ibu yang tadi bilang kalau ada urusan mendadak. Jadi beliau pulang lebih dulu. Katanya Nyonya bisa pulang sendiri.”"Apa?” kaki Nayla rasanya lemas.Ia terdiam, tak menyangka jika mertuanya akan meninggalkannya di sana begitu saja. Rasa kesal mulai naik ke dadanya. Dari tadi ia merasa dipaksa, ditekan, dipermainkan, dan sekarang ditinggalkan tanpa sepatah kata pun.“Ibu benar-b