Home / Romansa / Jangan Disini, Dok! / 34. Kenapa Dia Datang?

Share

34. Kenapa Dia Datang?

Author: Mas Author
last update publish date: 2026-04-12 23:49:52
“Astaga! Bagaimana mungkin?” Naufal masih menatap layar ponselnya dengan wajah tegang.

Pesan yang tertera di ponselnya itu sangat singkat dan jelas.

Itu adalah pesan masuk dari pihak rumah sakit. Ada peringatan darurat dari pihak manajemen rumah sakit tempatnya bekerja.

[Terjadi komplikasi serius pada pasien A. Butuh tindakan secepatnya.]

Membaca pesan itu, membuat tubuh Naufal tegang.

Pasien itu adalah salah satu pasien keguguran yang sebelumnya pernah ia tangani. Tetapi kini kondisinya justru
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Disini, Dok!   438. Apakah Masih Bisa Percaya?

    Reza terdiam sejenak. Ia menatap mata Naufal, dimana ada kemarahan di sana.“Fal, kita bicara di luar saja.”“Aku bertanya kepadamu sekarang!” Naufal bangkit dari kursi. “Kenapa istriku bisa sampai pingsan? Kenapa Nayla bisa berada di cafe dan kenapa kamu yang membawanya ke rumah sakit?”“Fal, tolong. Jangan di sini,” cegah Reza. Ia tak ingin jika semua yang ada di ruangan itu mengetahui tentang keadaan Naufal.Naufal menatapnya dengan rahang mengeras. Dia ingin terus mendesak, tetapi melihat Nayla yang masih terbaring membuatnya akhirnya mengikuti Reza keluar kamar. Aldo sempat hendak menyusul, tetapi Dimas menahannya agar mereka bisa mendengar penjelasan tanpa membuat suasana semakin kacau.Begitu berada di koridor rumah sakit itu, Naufal langsung berbalik menghadap Reza.“Sekarang jelaskan semuanya, Za!” sentak Naufal dengan kasar.Reza sedikit menundukkan wajah sembari menghembuskan napas panjang.“Nayla menghubungiku tadi. Dia mengajakku bertemu di kafe, Fal.”“Apa?” mata Naufal

  • Jangan Disini, Dok!   437. Perasaan Itu Masih Ada

    “Apa? Nayla masuk rumah sakit?”Naufal langsung berdiri dari sofa. Wajahnya pucat, sementara tangannya menggenggam ponsel erat-erat. Ternyata Reza yang menghubunginya. Suara sahabatnya di seberang telepon terdengar terburu-buru, membuat pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk.“Aku sekarang di rumah sakit, Fal. Tadi Nayla pingsan di kafe. Dia sedang diperiksa dokter.”“Pingsan?” Suara Naufal meninggi. “Kenapa bisa begitu? Apa yang terjadi sama dia?”“Aku jelaskan nanti. Kamu segera ke sini saja.”Panggilan berakhir. Dengan cemas, Naufal langsung meraih kunci mobil, tetapi Aldo lebih dulu berdiri dan mengambil kunci kendaraannya.“Aldo, ayo kita berangkat sekarang,” ujar Naufal dengan wajah tegang."Baik." Aldo mengangguk patuh.Rianti yang mendengar percakapan mereka segera menghampiri. “Nayla kenapa, Fal? Kenapa sampai dibawa ke rumah sakit?”“Nayla pingsan, Ma.”“Ya Tuhan." Rianti spontan menutup mulutnya. “Kalau begitu, Mama ikut kalian ke rumah sakit ya." "Aku juga ikut,

  • Jangan Disini, Dok!   436. Kejujuran Reza

    “Nayla, aku minta maaf. Aku sebenarnya nggak ingin membuatmu semakin khawatir, tetapi aku juga nggak sanggup terus berbohong kepadamu.”"Katakan, Dokter Reza!" desak Nayla dengan mata berkaca-kaca.Reza akhirnya menghembuskan napas panjang. Melihat Nayla yang terus mendesaknya dengan wajah kecewa, dia tahu tidak mungkin menghindar lebih lama lagi.“Naufal memang punya masalah dengan jantungnya,” ungkap Reza hati-hati. “Tapi kami belum bisa memastikan kondisi sebenarnya sebelum dia menjalani pemeriksaan lanjutan.”"A ... apa?" Tubuh Nayla membeku. Seolah-olah suara di dalam kafe mendadak menghilang, menyisakan kalimat Reza yang terus terngiang di telinganya."Jantung Naufal bermasalah?" Suaminya yang selama ini selalu terlihat kuat, yang masih sempat bercanda setelah pingsan, ternyata menyimpan sesuatu yang begitu menakutkan darinya.“Jadi, selama ini dia benar-benar sakit?” bisik Nayla. “Kenapa dia nggak bilang sama aku?”“Nayla, tenang dulu. Kita belum tahu seberapa serius kondisiny

  • Jangan Disini, Dok!   435. Apa yang Kalian Rahasiakan?

    Reza sudah menunggu di salah satu sudut kafe ketika Nayla tiba. Sejak tadi, ia terus meremas jemarinya sendiri yang berkeringat dingin. Kedua kakinya terus gelisah mengetuk lantai, dan sesekali ia tampak salah tingkah ketika membetulkan kerah kemeja dan lengan panjangnya."Mm, kenapa Nayla belum datang juga ya?" gumam Reza gugup, sambil sesekali melirik jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.Beberapa menit berlalu, akhirnya Nayla pun masuk ke cafe. Ia mengenakan pakaian casual, berupa dress sebatas lutut berwarna biru muda. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja, tapi tetap rapi dengan sebuah bando kucing yang menghiasi kepalanya.Begitu melihat perempuan itu masuk, Reza terperanjat. Matanya terpana dan nyaris tak berkedip saat menatap penampilan Nayla yang begitu memukau.Namun, pria itu cepat-cepat menggeleng. Ia pun segera berdiri dan menyambutnya dengan senyuman ramah dan bersahabat.“Nayla, kamu benar-benar datang? Aku sudah pesan minum untuk ….”“Dokter Reza, aku m

  • Jangan Disini, Dok!   434. Aku Ingin Bicara Berdua

    “Halo, Dokter Reza.” Nayla menarik nafas panjang.Sebenarnya ia ingin menelfon Dokter Adrian, tetapi karena tak punya kontaknya, akhirnya ia hanya menghubungi Reza.“Halo, Nayla? Ada apa?” suara Reza terdengar sedikit terkejut di seberang telepon. “Aku mau bicara sama kamu. Bisa kita bertemu?”Reza terdiam sesaat. Rasanya ia masih tak percaya jika Nayla akan menelfonnya setelah sekian lama.“Bertemu? Kapan?”“Nanti aku kabari tempat dan waktunya. Aku cuma ingin membicarakan sesuatu secara langsung.”Reza tidak langsung menjawab. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Namun, setelah menarik napas, dia akhirnya menyetujui permintaan Nayla.“Baiklah. Kabari aku saja nanti.”“Terima kasih, Dokter Reza.”“Sama-sama, Nayla." Panggilan berakhir. Reza masih memandangi ponselnya, kemudian mengusap dadanya yang berdebar tidak karuan. Sudah lama dia berusaha mengubur perasaan yang pernah tumbuh untuk Nayla. Dia tahu perempuan itu adalah istri sahabatnya sendiri, sehingga perasaan

  • Jangan Disini, Dok!   433. Kenapa Kamu Bohong?

    Tangan Nayla gemetar saat kembali membaca lembaran pemeriksaan yang ditemukan di bawah bantal Naufal. Matanya menyusuri setiap baris tulisan di atas kertas itu, berharap dirinya salah memahami sesuatu. Namun, semakin lama dia membaca, semakin sesak pula dadanya. Air matanya jatuh tanpa disadari. Nayla segera mengusap pipinya, tetapi air mata berikutnya kembali mengalir. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, dia ingin membangunkan Naufal dan meminta penjelasan. Namun, di sisi lain, dia takut mendengar jawaban yang mungkin akan menghancurkan ketenangannya. Selama ini, Naufal selalu berusaha terlihat kuat di hadapannya. Bahkan setelah pingsan di rumah sakit, pria itu masih sempat bercanda dan meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Nayla sempat percaya, meskipun jauh di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa janggal. Sekarang, keberadaan kertas itu membuatnya semakin yakin bahwa suaminya memang sedang menyembunyikan sesuatu. Tiba-tiba, Naufal menggeliat di atas ran

  • Jangan Disini, Dok!   6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu

  • Jangan Disini, Dok!   5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny

  • Jangan Disini, Dok!   4. Hamili Menantuku!

    What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter

  • Jangan Disini, Dok!   3. Dokter Rekomendasi Ibu Mertua

    Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status