Share

53

Author: Mas Author
last update publish date: 2026-04-21 22:52:35

Suasana ruang keluarga yang semula hangat mendadak berubah dingin.

Nayla, Naufal, dan Rianti sama-sama menoleh ke arah Dimas yang berdiri dengan wajah keras.

“Aku nggak setuju Naufal sama gadis kampung itu.”

Ucapan itu membuat Nayla membeku di tempat. Jemarinya yang tadi menggenggam tangan Naufal perlahan menegang.

Rianti langsung berdiri.

“Dimas! Jaga mulutmu!”

Namun Dimas tetap melangkah masuk dengan santai, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.

“Aku cuma bicara jujur, Ma.”

Tatapannya jat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    53

    Suasana ruang keluarga yang semula hangat mendadak berubah dingin.Nayla, Naufal, dan Rianti sama-sama menoleh ke arah Dimas yang berdiri dengan wajah keras.“Aku nggak setuju Naufal sama gadis kampung itu.”Ucapan itu membuat Nayla membeku di tempat. Jemarinya yang tadi menggenggam tangan Naufal perlahan menegang.Rianti langsung berdiri.“Dimas! Jaga mulutmu!”Namun Dimas tetap melangkah masuk dengan santai, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.“Aku cuma bicara jujur, Ma.”Tatapannya jatuh pada Nayla.“Perempuan ini nggak pantas masuk keluarga kita.”Naufal maju satu langkah.“Cukup.”“Belum.” Dimas menatap adiknya dingin. “Selama ini aku diam karena kupikir kamu hanya main-main. Tapi ternyata kamu serius membawa dia ke rumah?”Nayla menunduk. Dadanya mulai sesak.Dimas tertawa kecil.“Aku sudah cari tahu semuanya.”Rianti mengernyit. “Apa maksudmu?”“Aku menyelidiki dia.” Dimas menunjuk Nayla. “Nayla Raharja. Seorang janda. Digugat cerai suaminya karena dianggap tidak bisa mem

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    52

    Pelukan mereka tak langsung lepas.Nayla masih menangis di dada Naufal, sementara pria itu memeluknya erat seolah takut gadis itu menghilang lagi.Angin dari danau berhembus pelan, membawa kelopak bunga harum yang masih jatuh di sekitar mereka.Mereka sudah bertahun-tahun terpisah, dan sudah terlalu lama saling mencari tanpa tahu kalau mereka beberapa kali berada begitu dekat.“Nana,” lirih Nayla dengan suara bergetar.Naufal menunduk dan mengecup puncak kepala Nayla singkat.“Sekarang masih manggil Nana?” godanya pelan. “Padahal aku sudah setampan ini.”Perlahan Nayla mendongak dan menatap kesal, meski matanya masih sedikit basah.“Dasar nggak berubah. Kamu tetap aja nyebelin.”“Berarti benar kalau aku ini Nana,” sahut Naufal tak mau kalah.“Huh! Kamu selalu aja pinter ngeles." Nayla mendengus, lalu kembali memeluk pria itu sebentar. Namun beberapa detik kemudian, tubuhnya mendadak menegang.Ia teringat sesuatu. Wajahnya perlahan berubah. Naufal yang menyadari perubahan itu seketika

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    51. Akhirnya Kita Bertemu Lagi

    Melihat foto yang ditunjukkan oleh Naufal, tatapan mata Nayla segera tertuju ke layar. Dan saat itulah, Tubuh Nayla langsung bergetar hebat. Wajahnya seketika pucat.Ia kenal betul dengan sosok dalam foto itu.Di layar tampak seorang anak laki-laki kecil yang sedang tersenyum sambil memegang setangkai mawar. Dan di sampingnya, berdiri Nayla kecil dengan rambut yang dikepang dua.“Ya Tuhan, ini … ini kan?” Bibir Nayla rasanya bergetar, lidahnya kelu, nyaris tak ada sepatah kata pun yang bisa terucap.Itu foto lama, foto yang tak mungkin ia lupakan sepanjang hidupnya. Tanpa sadar, air mata Nayla jatuh menitik begitu saja. Ia menatap lekat-lekat foto anak kecil itu, lalu mengangkat wajah dan beralih ke Naufal.Ia lihat foto itu sekali lagi, dan kali ini tangisnya benar-benar pecah tanpa bisa ia bendung lagi.“Na ... Nana?” Suara Nayla sesenggukan, ia menangis sampai bahunya berguncang.Ponsel di tangan Naufal perlahan turun. Tatapan pria itu kini tak lagi dingin. Ia menyimpan ponselnya k

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    50. Apakah Masih Menolakku?

    “Aku nggak akan pernah mau jawab!” sentak Nayla dingin.Pagi itu suasana florist kembali panas.Nayla masih berdiri di dekat meja kasir dengan tangan bersedekap di dada, menatap Naufal penuh kesal. Sementara pria itu berdiri santai di depannya, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun karena masuk ke toko orang tanpa izin.“Aku tidak menerima penolakan itu. Aku tanya sekali lagi,” ucap Naufal tenang. “Apa jawabanmu?”“Jawabanku tetap sama.” Nayla mendengus keras.“Kamu belum jawab apa-apa.”“Ya sudah, sekarang aku jawab.” Nayla menatap tajam. “Nggak.”Renata yang berdiri di dekat rak bunga langsung menahan napas melihat kedua orang itu terus berdebat sejak tadi.“Nggak?” Naufal mengangkat satu alis.“Ya, aku nggak mau.” Nayla menunjuk wajah pria itu. “Sampai kapan pun aku nggak akan pernah nikah sama laki-laki gila sepertimu.”“Berarti kamu sudah memikirkannya semalaman.”“Hah?” Nayla tersentak. “Bukan itu maksudku!”Namun Naufal justru tampak puas. Pria itu menarik sebelah sudut bibi

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    49. Menagih Jawabanmu

    Pagi itu langit tampak cerah, tetapi kepala Nayla justru terasa penuh sesak sejak membuka mata.Semalaman ia hampir tidak tidur.Setiap kali memejamkan mata, yang terngiang selalu kalimat Naufal.“Menikahlah denganku.” Kata-kata itu masih terngiang di telinga Nayla.Pria gila itu benar-benar mengatakannya dengan wajah tenang, seolah sedang meminta segelas air.“Dasar dokter mesum, gila! Nyebelin banget,” gerutu Nayla sambil mengikat rambutnya asal.Ia berdiri di depan cermin kamar, sembari menatap pantulan wajah sendiri yang tampak lelah. Ada lingkar samar di bawah mata, dan pipinya masih sedikit panas kalau mengingat kejadian semalam.“Nikah katanya? Amit-amit aku nikah sama laki-laki mesum seperti dia.”Namun anehnya, jantungnya justru berdegup lebih cepat.“Nay! Jadi berangkat nggak?” suara Renata terdengar dari luar rumah.“Iya, sebentar! Bawel!”Beberapa menit kemudian, Nayla sudah duduk di atas motor bersama Renata menuju deretan ruko tempat kantor pemilik bangunan berada.Hari

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    48. Jangan Hina Dia!

    Deg!Tubuh Nayla rasanya membeku total.Matanya melebar sempurna. Napasnya seperti berhenti selama beberapa detik. Otaknya benar-benar gagal memproses kalimat Naufal barusan.“A … apa?”Naufal menatapnya tenang, seolah baru saja mengatakan hal biasa.“Aku bilang, menikahlah denganku. Apa telinga mungilmu itu nggak dengar?” suaranya kali ini lebih jelas, membuat jantung Nayla benar-benar berdetak tak normal.Ia mundur satu langkah secara refleks.“Kamu lagi demam ya?” tanyanya spontan. “Atau obat penenangnya kebanyakan?”Naufal menghela napas tipis. Ia membuang wajah sekilas.“Huft! Aku serius.”“Serius apanya?” Nayla hampir setengah berteriak. “Kita ini tiap ketemu selalu saja bertengkar. Dan kamu ngajak aku nikah? Rasanya nggak mungkin!” Gadis itu menggeleng.“Itu bukan masalah.”“Naufal! Dasar kamu nyebelin!”“Ya, aku tahu.”“Ihh, dasar kamu dokter mesum!” Nayla kesal dan memukul lengan Naufal dengan keras.“Aw! Itu fitnah,” protes Naufal tak terima.“Lihat! Bahkan sekarang pun kamu

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    17. Lanjut Terapi Plus Plus

    Tok! Tok! Tok!Suara ketukan di pintu, membuat Nayla dan Naufal tersentak kaget. Mata Naufal sudah mengembun dipenuhi oleh nafsu. Saking bernafsunya, ia bahkan lupa jika saat ini mereka sedang berada di kamar mandi.“Naufal, apa yang terjadi di sana? Apa Nayla baik-baik saja?" Suara Rianti di luar

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    11. Dia Lagi?

    Nayla tersentak dan berteriak keras. Refleks ia menarik rem secara mendadak. Citt! Ban motornya berdecit keras di aspal, tubuhnya sampai hampir terlempar ke depan. Mobil itu berhenti hanya beberapa senti dari motornya. Jantung Nayla berdegup sangat ken

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    10. Tega Kamu, Mas!

    “Astaga, kalian …?” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Nayla yang bergetar, dan nyaris tak bersuara.Dini tersenyum cerah, dan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Nayla yang mendadak pucat.“Iya, Kak Nay, udah datang. Makasih hampersnya. Uang udah aku transfer kemarin ya, Kak?" Di

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!    30. Fakta Tak Terduga

    Beberapa detik Nayla tidak bergerak, seolah tubuhnya lupa cara bereaksi.Naufal juga tidak langsung menjauh.Bibirnya masih melumat bibir Nayla dengan lembut.Jantung Nayla berdegup kencang, semakin tidak terkontrol. Tangannya yang tadi bertumpu di meja, kini perlahan mengepal.“Naufal,” suaranya h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status