MasukReza sudah menunggu di salah satu sudut kafe ketika Nayla tiba. Sejak tadi, ia terus meremas jemarinya sendiri yang berkeringat dingin. Kedua kakinya terus gelisah mengetuk lantai, dan sesekali ia tampak salah tingkah ketika membetulkan kerah kemeja dan lengan panjangnya."Mm, kenapa Nayla belum datang juga ya?" gumam Reza gugup, sambil sesekali melirik jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.Beberapa menit berlalu, akhirnya Nayla pun masuk ke cafe. Ia mengenakan pakaian casual, berupa dress sebatas lutut berwarna biru muda. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja, tapi tetap rapi dengan sebuah bando kucing yang menghiasi kepalanya.Begitu melihat perempuan itu masuk, Reza terperanjat. Matanya terpana dan nyaris tak berkedip saat menatap penampilan Nayla yang begitu memukau.Namun, pria itu cepat-cepat menggeleng. Ia pun segera berdiri dan menyambutnya dengan senyuman ramah dan bersahabat.“Nayla, kamu benar-benar datang? Aku sudah pesan minum untuk ….”“Dokter Reza, aku m
“Halo, Dokter Reza.” Nayla menarik nafas panjang.Sebenarnya ia ingin menelfon Dokter Adrian, tetapi karena tak punya kontaknya, akhirnya ia hanya menghubungi Reza.“Halo, Nayla? Ada apa?” suara Reza terdengar sedikit terkejut di seberang telepon. “Aku mau bicara sama kamu. Bisa kita bertemu?”Reza terdiam sesaat. Rasanya ia masih tak percaya jika Nayla akan menelfonnya setelah sekian lama.“Bertemu? Kapan?”“Nanti aku kabari tempat dan waktunya. Aku cuma ingin membicarakan sesuatu secara langsung.”Reza tidak langsung menjawab. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Namun, setelah menarik napas, dia akhirnya menyetujui permintaan Nayla.“Baiklah. Kabari aku saja nanti.”“Terima kasih, Dokter Reza.”“Sama-sama, Nayla." Panggilan berakhir. Reza masih memandangi ponselnya, kemudian mengusap dadanya yang berdebar tidak karuan. Sudah lama dia berusaha mengubur perasaan yang pernah tumbuh untuk Nayla. Dia tahu perempuan itu adalah istri sahabatnya sendiri, sehingga perasaan
Tangan Nayla gemetar saat kembali membaca lembaran pemeriksaan yang ditemukan di bawah bantal Naufal. Matanya menyusuri setiap baris tulisan di atas kertas itu, berharap dirinya salah memahami sesuatu. Namun, semakin lama dia membaca, semakin sesak pula dadanya. Air matanya jatuh tanpa disadari. Nayla segera mengusap pipinya, tetapi air mata berikutnya kembali mengalir. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, dia ingin membangunkan Naufal dan meminta penjelasan. Namun, di sisi lain, dia takut mendengar jawaban yang mungkin akan menghancurkan ketenangannya. Selama ini, Naufal selalu berusaha terlihat kuat di hadapannya. Bahkan setelah pingsan di rumah sakit, pria itu masih sempat bercanda dan meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Nayla sempat percaya, meskipun jauh di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa janggal. Sekarang, keberadaan kertas itu membuatnya semakin yakin bahwa suaminya memang sedang menyembunyikan sesuatu. Tiba-tiba, Naufal menggeliat di atas ran
“Astaga! Naufal!”Nayla langsung berlari menghampiri suaminya begitu melihat jari Naufal berdarah dan pisau tergeletak di lantai. Tanpa berpikir panjang, dia meraih tangan Naufal, lalu mengisap darah yang keluar dari luka di jarinya.“Aduh, Sayang!” Naufal meringis kesakitan. “Pelan-pelan. Itu jariku, bukan permen!”Nayla segera menjauhkan wajahnya, kemudian menatap Naufal dengan mata membulat. “Kamu masih sempat bercanda? Lihat, tangan kamu berdarah begini!”“Cuma kegores sedikit, kok. Nggak perlu panik begitu.”“Sedikit apanya? Darahnya sampai keluar begitu!”Naufal mengangkat tangannya, memperhatikan luka kecil di jari telunjuknya. “Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu nggak perlu khawatir.”“Mulai sekarang, kamu nggak boleh masak lagi!”Naufal langsung menoleh. “Lho, kenapa?”“Kenapa? Kamu masih tanya kenapa?” Nayla menunjuk jari suaminya. “Tadi di rumah sakit kamu sampai pingsan, sekarang malah melukai diri sendiri saat memasak. Kalau begini terus, aku bisa gila karena khawatir!”“Ak
Adrian mengatupkan rahang begitu mendapat peringatan dari Naufal. Dia benar-benar ingin menjewer telinga sahabatnya itu, tetapi tentu saja tidak mungkin melakukannya di depan Nayla.Akhirnya, pria itu hanya bisa menarik napas panjang.“Baiklah. Kamu boleh pulang, tetapi dengan beberapa syarat.”Naufal langsung tersenyum puas mendengar itu. “Apa saja syaratnya?”“Kamu harus beristirahat. Jangan bekerja, jangan melakukan aktivitas berat, dan jangan mengabaikan keluhan sekecil apa pun. Kalau kamu merasa pusing, nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar tidak biasa, atau merasa akan pingsan lagi, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu sampai keadaanmu memburuk!” tegas Adrian dengan nada sungguh-sungguh.“Siap, Dokter." Naufal mengangguk dengan tertawa kecil.“Dan pemeriksaan lanjutan tetap harus dilakukan. Secepatnya. Aku tidak mau mendengar alasan apa pun darimu.”“Iya, Dokter Adrian yang terhormat.”“Jangan menyindirku!”"Astaga!” Reza menghela napas. “Aku akan memastikan dia t
“Aku mau pulang.”Naufal mengucapkan kalimat itu begitu Adrian selesai memeriksa hasil pemeriksaan awalnya. Dokter spesialis jantung tersebut langsung mengernyit, sementara Reza yang berdiri di dekat ranjang hanya mengembuskan napas panjang.“Pulang ke mana? Kamu masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan, Fal,” tegas Adrian.“Aku sudah merasa lebih baik. Kepalaku juga nggak pusing lagi. Jadi, buat apa aku terus berada di rumah sakit?” Naufal angkat bahunya.“Karena kamu tadi pingsan, Naufal!” Adrian menatapnya tajam. “Kamu pikir kejadian seperti itu bisa dianggap sepele hanya karena sekarang kamu merasa baik-baik saja?”Naufal menyandarkan punggungnya ke ranjang. “Aku nggak bilang kejadian tadi sepele. Aku cuma bilang ingin pulang.”“Dan aku bilang kamu belum boleh pulang.”“Adrian.”“Naufal.”Keduanya saling menatap dengan ekspresi tidak mau mengalah. Reza yang menyaksikan perdebatan itu akhirnya mengusap wajahnya sendiri. Dia sudah mengenal Naufal selama bertahun-tahun. Kalau sahab
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny







