Mag-log inSetelah sampai di depan ruangannya, Naufal membuka pintu. Sinta yang sejak tadi berjalan di belakangnya ikut berhenti di depan pintu.“Kamu bisa istirahat sekarang, Sin," cegah Naufal dengan halus.“Tapi, Dok. Aku mau memastikan laporan operasi yang tadi sudah …." “Nggak usah, Sin.” Naufal langsung menggeleng. “Kamu bisa langsung pulang saja. Aku mau istirahat sebentar.”Sinta mengerutkan kening. “Tapi aku bisa bantu merapikan laporan.”“Nanti saja. Lagian ada istriku di sini. Aku mau quality time sama istriku.”Kalimat terakhir itu membuat Sinta terdiam. Wajahnya langsung berubah cemberut.“Oh.”“Besok kita lanjut lagi. Kamu juga sudah capek.” Naufal tersenyum tipis.“Iya, Dok.”Sinta akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah berat. Sesekali ia menoleh ke belakang, berharap Naufal berubah pikiran. Namun pria itu sudah masuk ke dalam ruangan.Sebenarnya Naufal memang sengaja mengusir Sinta secara halus agar tak ikut masuk ke ruangannya. Setelah operasi panjang, ia ingin beristirahat
Suasana rumah sakit yang semula tenang mendadak berubah ketika suara langkah kaki berlarian terdengar dari ujung koridor.“Dokter! Ada pasien masuk!” Seorang perawat berlari menghampiri Naufal sambil membawa berkas.“Ada apa?” Naufal langsung menoleh.“Pasien perempuan, hamil sekitar tiga puluh enam minggu. Korban mengalami kecelakaan lalu lintas. Dia mengalami perdarahan dari jalan lahir dan nyeri perut hebat. Denyut jantung janinnya juga mulai tidak stabil.”“Astaga!" Ekspresi Naufal seketika berubah serius. Ia segera mengambil jas dokternya.“Siapkan ruang operasi. Hubungi dokter anestesi dan tim obstetri. Kita kemungkinan harus melakukan operasi sesar darurat.”“Baik, Dok!”Naufal kemudian menoleh kepada Nayla yang masih berdiri di sampingnya.“Sayang, aku harus menangani pasien. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal dulu?” ia memegang kedua bahu sang istri.“Pergilah, Sayang. Selamatkan nyawa pasienmu. Aku akan tunggu di ruangan kamu.” Nayla mengangguk.“Terima kasih. Jangan k
Naufal terdiam sesaat. Ia sama sekali tidak menyangka Nayla akan menangis seperti itu. Tangannya segera terulur, mengusap rambut dan punggung istrinya dengan lembut.“Kenapa kamu tiba-tiba bilang begitu?” tanyanya cemas. “Ada apa, Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba nangis?”Tangis Nayla berhenti sejenak. Ia terdiam, tak mungkin jika menceritakan tentang hal yang sebenarnya kepada Naufal.“Nggak ada apa-apa kok, Sayang. Aku cuma takut kehilangan kamu.” Nayla menggeleng dalam pelukan suaminya itu.Naufal sedikit menjauh, lalu menatap wajah istrinya yang masih basah oleh air mata. Ia menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.“Kamu nggak akan kehilangan aku kok, Sayang. Sampai kapan pun, aku bakalan tetep ada di samping kamu,” ujar pria itu sungguh-sungguh.“Janji?” Nayla menatapnya dengan mata berkaca-kaca.“Aku janji.” Naufal tersenyum lembut. “Apa pun yang terjadi, aku nggak akan ninggalin kamu. Kita sudah melewati terlalu banyak hal untuk menyerah sekarang.”Nayla kembali memeluknya erat
“Apa?” Nayla dan Reza saling pandang, tetapi dengan cepat keduanya segera membuang muka. Terlihat jelas bahwa mereka sama-sama canggung dan tak nyaman.“Ma, jangan bercanda soal itu,” kata Reza akhirnya. Nada suaranya terdengar lebih serius dari sebelumnya. “Nayla sudah menikah.”Yuli masih tersenyum, seolah tidak melihat perubahan ekspresi putranya. “Mama tahu. Mama cuma teringat masa lalu aja kok.”Nayla sendiri masih terdiam. Ia tidak menyangka percakapan santai tentang Arunika tiba-tiba berubah menjadi pembicaraan tentang dirinya dan Reza. Apalagi setelah mengetahui bahwa dulu kedua ibu mereka pernah bercanda untuk menjodohkan mereka.“Jadi ....” Reza mengusap tengkuknya dengan canggung. “Aku sama Nayla dulu pernah mau dijodohkan ya?”“Iya,” jawab Yuli santai.“Aku benar-benar nggak tahu.” Reza tertawa hambar.Nayla menatapnya sekilas. “Aku juga nggak tahu.”Ada keheningan singkat di antara mereka. Tatapan Reza dan Nayla sempat bertemu, tetapi keduanya sama-sama segera mengalihka
“Marina?” suara Yuli tertahan.Melihat wanita yang datang bersama Nayla, Marina pun turut menoleh. Ia pun sama terkejutnya ketika mengenali wanita yang berdiri di dekat pintu.“Yuli?”Keduanya saling menatap selama beberapa detik sebelum akhirnya Marina bangkit dari sofa.“Ya Tuhan, Yuli! Ini benar-benar kamu?”Marina bergegas menghampiri sahabat lamanya itu dan refleks memeluk Yuli. Mereka berpelukan cukup lama, seolah sedang mengulang kembali kenangan yang sudah bertahun-tahun berlalu.“Aku juga nggak menyangka bisa bertemu kamu di sini,” ujar Yuli setelah melepaskan pelukan. “Maaf, tidak sempat datang ke acara pemakaman Arunika ya. Karena waktu itu aku dan Sarah sedang ke luar negeri. Shella melanjutkan studinya di sana." "Tidak apa-apa, doakan saja yang terbaik untuk Arunika ya. Sarah juga sudah kesini waktu itu.” Marina perlahan melepaskan pelukannya, ia seka air mata yang tiba-tiba menggenang di pelupuk.Mendengar nama kakaknya itu, senyum Nayla pun perlahan memudar. Ia menatap
“Apa? Aku lumpuh?” Dimas membelalak. Wajahnya yang masih pucat seketika berubah tegang.Dokter mengangguk pelan, tetapi buru-buru memberikan penjelasan sebelum Dimas semakin panik. “Untuk sementara, dari pemeriksaan neurologis yang kami lakukan, fungsi motorik pada kedua tungkai Anda memang tidak menunjukkan respons. Namun kami belum bisa menyimpulkan apakah kondisi tersebut permanen hanya berdasarkan pemeriksaan awal.”Dimas menatap kedua kakinya yang masih tertutup selimut. Sebagai seorang dokter, ia memahami betul arti dari penjelasan tersebut. Ia juga tahu bahwa cedera pada sistem saraf tidak bisa dinilai hanya dari kemampuan menggerakkan anggota tubuh sesaat setelah pasien sadar dari koma.“Jadi kita harus melihat lokasi dan tingkat kerusakan sarafnya,” gumam Dimas lebih kepada dirinya sendiri.“Betul, Dokter. Karena itu, hari ini juga kami akan melakukan pemeriksaan pencitraan, seperti CT scan atau MRI, untuk melihat kondisi tulang belakang, jaringan di sekitarnya, dan kemungki
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu







