ログインBu Loly mendekat ke arah Roni dengan langkah pelan, matanya menatap pria yang terikat di kursi itu dengan tatapan yang sulit dibaca. Tanpa berkata-kata, ia meraih ujung kemeja Roni dan merobeknya dengan kasar, membuat kain itu terkoyak hingga lepas.SREEEKKK!!! Roni tidak protes. Ia hanya diam, menganggap ini adalah bagian dari permainan yang ia setujui.Bu Loly terus merobek celana Roni, hingga hanya menyisakan celana dalam hitam yang membungkus tubuh bagian bawahnya. Kemudian, ia berjalan ke sudut ruangan, mengambil sebuah ember kecil berisi air, dan kembali mendekati Roni. Tanpa peringatan, ia mengguyurkan air dingin itu ke seluruh tubuh Roni.PYAAARR!!Roni tersentak, tubuhnya menggigil karena air dingin yang mengalir di kulitnya. Ia menatap Bu Loly, "Apa ini bagian dari permainan, Bu Loly?"Bu Loly tersenyum, tapi matanya tajam, "Ini bagian dari hukuman, Roni. Aku tahu kau sedang menyelidiki bisnisku. Mencari tahu tentang pengiriman tenaga kerja ke kota. Tentang orang yang berna
Ia mengikuti Bu Loly menyusuri lorong menuju ruangan yang pernah ia datangi sebelumnya. Begitu pintu tertutup, Bu Loly menunjuk kursi di hadapan mejanya. "Silakan duduk." Ujar Bu Loly. Roni duduk dengan hati-hati, menunggu Bu Loly memulai. Wanita itu duduk di balik meja, menyilangkan tangannya dengan santai. "Aku tahu kau datang ke sini bukan hanya untuk pijat, Roni," kata Bu Loly dengan nada tenang. "Aku curiga kenapa kau memilih terapis jika hanya pijat biasa? Ada sesuatu yang kau cari, dan aku penasaran apa itu?" Roni menatap Bu Loly, berusaha membaca ekspresinya. Wanita ini lebih tajam dari yang ia kira. "Aku hanya mencari informasi, Bu. Tentang masa lalu seseorang." Kata Roni jujur. Bu Loly tersenyum, "Apa yang kau maksud adalah masa lalu Dita?" Roni terdiam, dan Bu Loly melanjutkan, "Aku tahu banyak hal, Roni. Aku tahu kau sedang menyelidiki tentang anak yang dijual di desamu. Dan aku tahu bahwa kau juga menyelidiki tentang penyaluran tenaga kerja wanita di desam
Namun saat ini, ia tidak ingin terburu-buru. Ada waktu untuk itu nanti. Kini, yang ia rasakan hanyalah kehangatan tubuh Dita yang bergerak di atasnya, dan ia memilih untuk menikmati momen ini sepenuhnya. Dita terus bergerak dengan ritme yang semakin cepat, tubuhnya bergoyang liar di atas Roni. Erangan dan desahan mulai keluar dari bibirnya, dan Roni merasakan setiap getaran yang ia hasilkan. "Kau... kau benar-benar membuatku kehilangan kendali, Roni," bisik Dita di antara desahannya. Roni menggenggam pinggangnya, membantunya mengatur irama, "Aku tahu. Dan aku suka melihatmu seperti ini." Dita menunduk, mencium Roni lagi, "Aku tidak pernah menyangka... kau akan sekuat ini." Roni membalas ciumannya, "Aku tahu masa lalumu, Gendhis." Dita mendengar namanya dipanggil, dan ada getaran aneh di hatinya. "Kau... kau memanggilku dengan nama itu lagi," katanya pelan, "seolah-olah kau mengenalku." Roni tersenyum, "Mungkin aku memang mengenalmu. Tapi itu cerita untuk nanti." Ia m
Roni tersenyum mendengar ucapan Dita yang terkesan meremehkan. Dengan gerakan santai, ia menurunkan celana dalamnya, lalu berbaring kembali di ranjang pijat, menatap langit-langit dengan ekspresi tenang. "Baik, Mbak Dita. Aku hanya akan berbaring dan menikmati," katanya dengan nada santai. "Tapi aku yakin, pada akhirnya kau sendiri yang akan meminta agar barang ini masuk ke tubuhmu." Dita mendengus kesal. "Kau terlalu percaya diri. Aku sudah bilang, aku hanya akan mengocoknya dan itu saja. Tidak lebih." Roni tertawa kecil, "Kita lihat saja nanti, Mbak Dita." Dita menggigit bibirnya, merasakan amarah yang bercampur dengan rasa penasaran yang aneh. Ia mulai menggerakkan tangannya di atas batang Roni, mencoba fokus pada tugasnya, tapi kata-kata Roni terus berputar di kepalanya. Roni, di sisi lain, hanya tersenyum puas. Ia tahu, permainan baru saja dimulai. Dita terus menggerakkan tangannya di atas batang Roni, mencoba tetap fokus pada tugasnya. Namun semakin lama, semakin su
Roni merasakan amarah mulai memanas, tapi ia menahan diri. "Aku tidak mau memperpanjang masalah. Kau bisa memijatku, atau aku akan melapor pada Bu Loly bahwa kau menolak melayani pelanggan yang sudah membayar." Dita terdiam, menatap Roni dengan tatapan tajam. Akhirnya, dengan setengah hati, ia berkata, "Baiklah. Buka bajumu." Roni mulai membuka kemeja dan celananya, hanya menyisakan celana dalam. Ia menatap Dita, "Apa aku perlu membuka celana dalam juga?" Dita melemparkan handuk ke arahnya, "Jika kau mau burungmu dipotong, silakan saja." Roni tersenyum, tidak terpengaruh dengan sarkasme Dita. Ia mengambil handuk dan menutupi tubuhnya dengan tenang, siap untuk memulai sesi pijat yang penuh ketegangan ini. Dita menghela napas panjang, lalu mulai menuangkan minyak ke telapak tangannya. Dengan gerakan yang kaku dan tanpa semangat, ia mulai memijat punggung Roni. "Kau tahu," katanya sambil memijat dengan tekanan yang agak keras, "aku tidak suka melayani orang yang sok kaya sep
"Ah... Ron..." desah Bu Arum, kepalanya menengadah, "kau benar-benar berbeda. Aku suka ini." Roni tidak menjawab, ia terus bergerak, menikmati setiap erangan yang keluar dari bibir Bu Arum. Beberapa jam berlalu, dan ketika semuanya selesai, mereka berbaring dalam pelukan. Roni tersenyum puas, sementara Bu Arum menatapnya dengan kagum. "Kau benar-benar pria yang luar biasa, Ron," bisik Bu Arum, "Aku tidak akan pernah bosan denganmu." Roni mencium keningnya, "Aku juga, Bu. Tapi sekarang, aku harus mencari Gendhis." Bu Arum mengangguk, "Semoga kau beruntung, Ron." Roni melangkah keluar dari rumah Bu Arum dengan langkah ringan, masih merasakan kepuasan yang membara. Namun begitu ia mencapai jalan setapak menuju rumahnya, pikirannya tiba-tiba melayang ke malam itu—malam di Royal Relaxation Spa. Roni berhenti, matanya membelalak. Ia teringat jelas wajah salah satu terapis di sana yang memiliki tahi lalat di dagunya. Roni menggenggam erat dagunya, memori itu semakin jelas.







